Jumat, 12 Juni 2026
  • beranda
  • kontak
  • layanan
  • beriklan
  • privasi
  • perihal
WartakitaID
  • 🏠
  • ALAM
  • WARTA
    • PEMBELAJARAN
    • HUKUM
    • NUSANTARA
    • OLAHRAGA
    • TEKNOLOGI
    • KULINER
    • OTOMOTIF
    • SEPAK BOLA
    • #CEKFAKTA
  • GAYA
  • MAKASSAR
  • TEKNOLOGI
  • KONTAK
    • Mari Bermitra
    • Tentang Wartakita
    • Tim Redaksi
    • Kebijakan Privasi
    • TRAKTIR KOPI
No Result
View All Result
WartakitaID
  • 🏠
  • ALAM
  • WARTA
    • PEMBELAJARAN
    • HUKUM
    • NUSANTARA
    • OLAHRAGA
    • TEKNOLOGI
    • KULINER
    • OTOMOTIF
    • SEPAK BOLA
    • #CEKFAKTA
  • GAYA
  • MAKASSAR
  • TEKNOLOGI
  • KONTAK
    • Mari Bermitra
    • Tentang Wartakita
    • Tim Redaksi
    • Kebijakan Privasi
    • TRAKTIR KOPI
No Result
View All Result
WartakitaID
No Result
View All Result
Home Opini

Selamat Jalan, Pak Umar

by A. Burhany
23/03/2026
in Opini
Reading Time: 5 mins read
A A
Selamat Jalan, Pak Umar - Featured

Pak Umar Shihab wafat pada Jumat, 20 Maret 2026—hari ke-30 Ramadan 1447 H. Hari Jumat. Bulan Ramadan. Akhir bulan yang paling mulia. Orang-orang yang mengenalnya mengatakan itu adalah tanda. Saya yang mengenalnya, meski dari jarak yang tidak selalu dekat, percaya itu bukan kebetulan.

Beliau pergi pada usia 86 tahun. Tapi yang saya ingat bukan angkanya—yang saya ingat adalah tawa beliau yang meledak berbarengan dengan tawa Tante Cici, di meja makan di rumah Jalan Batu Putih Makassar, suatu sore di antara tahun 1989 dan 1991.


Antara tahun-tahun itu, rumah Pak Umar sudah seperti rumah kami juga. Kami berkawan akrab dengan ketiga anaknya—terutama Adi Iktimal, putra sulung beliau yang seumuran dengan kami.

Kami datang dan pergi dengan bebas, seperti yang hanya bisa terjadi di rumah orang-orang yang memang terbuka pintunya—bukan hanya secara harfiah, tapi secara jiwa.

Di meja makan itulah saya mengenal Pak Umar yang sesungguhnya. Bukan sebagai cendekiawan, bukan sebagai pejabat kampus, bukan sebagai tokoh MUI yang namanya akan tercetak di koran-koran nanti.

Namun sebagai suami yang tertawa berbarengan dengan istrinya saat bernostalgia, sebagai tuan rumah yang membuat anak-anak muda merasa betah, sebagai orang yang kebaikannya tidak perlu diumumkan karena ia hidup di dalam gestur-gestur kecil yang tidak bisa dipalsukan.


Tante Cici—almarhumah, istri beliau—setiap habis makan suka menceritakan masa-masa ketika mereka tinggal sehotel dengan kedua orang tua kami, di Hotel Siswa Makassar tahun 1960-an. Mereka semua pendatang baru, terikat ikatan dinas untuk mengembangkan IAIN Alauddin, menunggu penempatan sambil mencari tempat tinggal permanen.

Suatu sore, sambil mengupas apel untuk kami makan sebagai pencuci mulut, Tante Cici bercerita:

“Kalau ada Mamamu di hotel, kita semua yang pendatang baru merasa aman.”

“Kenapa bisa, Tante?” tanya saya penasaran.

Pak Umar dan Tante Cici tertawa berbarengan. “Makassar waktu itu masih banyak gerombolan dan preman. Kalau kami pergi mengajar dan Mamamu ada di rumah, tidak perlu khawatir. Tidak ada penjahat yang berani mendekat. Mamamu tidak segan mengusir mereka dengan balok kayu palang pintu.”

Saya pulang malam itu membawa tawa itu di dalam dada—dan juga sesuatu yang lebih berat: rasa syukur bahwa dua keluarga yang tidak saling memilih bisa saling menopang dengan cara yang sederhana dan nyata seperti itu.


Ada satu momen lain yang selalu saya ingat—momen yang kecil secara duniawi tapi besar secara karakter.

Ketika Pak Umar menjabat Wakil Rektor I dan ayah kami Wakil Rektor II di IAIN Alauddin, entah bagaimana pihak kampus mengatur pembagian mobil dinas. Ayah kami mendapat sedan Toyota Corolla Twin Cam 1600. Pak Umar mendapat Kijang Super.

Suatu hari, saat saya sedang memutar keping CD Rick Astley di kamar Adi, Pak Umar masuk dan berkata santai:

“An, bilang sama Papamu—saya mau tukaran. Sedan dengan kijang. Kau banyak bersaudara, kami di sini cuma berlima.”

Sesampai di rumah, pesan itu saya sampaikan ke ayah.

“Ah! Ternyata Pak Umar sudah tahu isi hatiku,” jawab ayah, sambil tersenyum.

BACA JUGA:

Mens Rea, Pandji, dan Kita yang Lebih Memuja Sopan Santun Ketimbang Kebenaran

Merawat Indonesia: Bukan dengan Menangkap Pengibar Bendera, Tapi Nyalakan Dapur Rakyat

TAJUK RENCANA: Melampaui Teks Buku, Menjawab Dunia dengan Contoh Nyata

Palu Keadilan yang Mengorbankan Pahlawan: Tragedi Abdul Muis dan Gagalnya Hati Nurani dalam Sistem Hukum Kita

Antasari Azhar dan Gema Palu Hakim yang Tak Pernah Padam

Dua orang yang tidak perlu berunding panjang untuk saling memberi ruang. Dua orang yang kebaikannya tidak saling menunggu untuk dimulai.


Dan ada satu momen Ramadan yang tidak pernah saya lupakan.

Pernah sekali waktu, salat tarawih berjamaah di rumah beliau. Pak Umar yang menjadi imam. Doanya panjang, banyak, dan selalu dimulai dengan “Allahumma…”—saya mengaminkan tanpa tahu sepenuhnya apa yang sedang saya aminkan.

Usai salat, saya bertanya. Dengan sabar beliau menjelaskan satu per satu. Dan menutup penjelasannya dengan satu wasiat Baginda Nabi SAW.:

“Doa terbaik adalah rasa syukur. Karena dengan bersyukur, nikmat yang kita syukuri akan ditambah, bahkan tanpa meminta.”

Saya membawa kalimat itu pulang. Dan ternyata, tanpa saya sadari, saya masih membawanya hingga hari ini.


Prof. Dr. H. Umar Shihab lahir pada 2 Juli 1939 di Sidenreng Rappang, Sulawesi Selatan. Kakak kandung dari Prof. Dr. M. Quraish Shihab. Mantan Ketua Komisi Ukhuwah Islamiyah MUI. Anggota Pembina Yayasan Wakaf Universitas Muslim Indonesia. Ulama, cendekiawan, penggerak persaudaraan.

Tapi bagi saya, ia adalah orang yang tahu isi hati tetangganya sebelum diminta. Yang mengupas apel untuk anak-anak muda yang bukan anaknya. Yang doanya panjang di malam Ramadan, dan dengan sabar menjelaskan artinya satu per satu.

Orang baik. Baik sekali.


Setelah sekeluarga pindah ke Jakarta, hampir tidak ada kontak lagi—baik dengan putranya maupun dengan beliau. Kunjungan terakhir ke rumah Batu Putih adalah saat Tante Cici berpulang. Dan ada satu ikhtiar yang pernah kami niatkan untuk menjadi bagian dari keluarga besar beliau—namun Allah Ta’ala, melalui mendiang ibu kami, menakdirkan tidak.

Takdir yang kini saya baca ulang dengan cara yang berbeda: mungkin kami memang tidak ditakdirkan menjadi keluarga. Kami hanya ditakdirkan untuk menjadi saksi—bahwa ada orang-orang seperti Pak Umar yang lewat dalam hidup kita, meninggalkan sesuatu yang tidak ikut pergi bersama kepergiannya.


Pak Umar pergi di hari yang paling baik, di bulan yang paling mulia, pada usia yang panjang dan penuh.

Kami bersaksi: beliau orang baik. Dan beliau membaikkan sesama.

Innalillahi wa inna ilaihi raji’un. Al-Fatihah.

Tags: esaiObituariUmar Shihab
Share13Tweet8Send
Diskon Referral 20% Cloud Professional Hostinger Diskon Referral 20% Cloud Professional Hostinger Diskon Referral 20% Cloud Professional Hostinger

ARTIKEL TERKAIT

Selamat Jalan, Pak Umar - Featured

Kontroversi Film “Pesta Babi”: Narasi Pembangunan, Hak Adat Papua, dan Lingkaran Kekuasaan

12/05/2026
Selamat Jalan, Pak Umar - Featured

Penutup Esai Ramadan #30: Satu Hal Saja

19/03/2026
Selamat Jalan, Pak Umar - Featured

Esai Ramadan #29: Menuai Hujan dan Residu yang Tersisa

18/03/2026
Selamat Jalan, Pak Umar - Featured

Esai Ramadan #28: Azan dan Kepulangan yang Sejati

17/03/2026
Selamat Jalan, Pak Umar - Featured

Esai Ramadan #27: Jelang Perpisahan dengan Tamu yang Memuliakan

16/03/2026
Selamat Jalan, Pak Umar - Featured

Esai Ramadan #26: Zakat yang Melampaui Angka

14/03/2026
Selamat Jalan, Pak Umar - Featured

Esai Ramadan #25: Pulang ke Fitrah dan Laundry Pakaian Jiwa

14/03/2026
Selamat Jalan, Pak Umar - Featured

Esai Ramadan #24: Oase di Tengah Gurun dan Rahasia Rasa Cukup

13/03/2026

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

I agree to the Terms & Conditions and Privacy Policy.

TERPOPULER-SEPEKAN

  • Selamat Jalan, Pak Umar - Featured

    Cara Mendapatkan Bantuan Hukum Gratis di Indonesia: Panduan Lengkap untuk Masyarakat Tidak Mampu

    149 shares
    Share 60 Tweet 37
  • Mengapa Ekonomi Kita Belum Ambruk? Membedah “Ekonomi Zombie” dan Ilusi Ketahanan Kelas Menengah

    22 shares
    Share 9 Tweet 6
  • Gempa M 7,7 Filipina Selatan Picu Potensi Tsunami di Sejumlah Wilayah Indonesia: Analisis BMKG dan Imbauan Kewaspadaan

    19 shares
    Share 8 Tweet 5
  • Bebas Denda 100% & Diskon Pokok 50% Pajak Kendaraan di Sulsel: Peluang Emas Wajib Pajak Manfaatkan Hingga 30 Juni 2026

    19 shares
    Share 8 Tweet 5
  • Gubernur Sulsel Pimpin Penanaman 1.000 Mangrove di Selayar: Investasi Hijau untuk Hari Lingkungan Hidup Dunia 2026

    19 shares
    Share 8 Tweet 5
  • Bongkar Mesin “Ekonomi Zombie”: Cetak Biru Penyelamatan Kelas Menengah dari Meja Pengambil Kebijakan

    18 shares
    Share 7 Tweet 5
  • Pemkot Makassar Tawarkan Rp100 Juta: Warga Makassar, Ini Kriteria RT Pengelola Sampah Terbaik Anda!

    18 shares
    Share 7 Tweet 5
  • Musisi Internasional Ramaikan Pembukaan Piala Dunia 2026 di Amerika Serikat, Kanada, dan Meksiko

    18 shares
    Share 7 Tweet 5
  • CFD Rasuna Said Diharapkan Rutin, Gubernur Ajak Cinta Laura Kampanyekan Pilah Sampah di Jakarta

    18 shares
    Share 7 Tweet 5
  • KPK Akui Selidiki Dugaan Korupsi Program Makan Bergizi Gratis, Tunggu Koordinasi dengan Kejaksaan Agung

    17 shares
    Share 7 Tweet 4
Selamat Jalan, Pak Umar - Featured

Unduh Buku Saku “SIAGA BENCANA” dari BNPB

02/11/2023

Buku saku siaga bencana ini tidak menjamin keselamatan Anda. Namun, memberikan pedoman secara umum untuk kesiapsiagaan.

Read moreDetails

WARTAKITA

Selamat Jalan, Pak Umar - Featured
Fashion & Kecantikan

Parfum Mahal Tapi Cepat Hilang Kena Keringat? 4 Rekomendasi Parfum “Anti-Gerah” Tahan Lama di Cuaca Indonesia

30/11/2025
Selamat Jalan, Pak Umar - Featured
Fashion & Kecantikan

Rahasia Kilau Rambut Jisoo Bukan Cuma Alat Mahal! 4 “Serum Ajaib” Wajib Punya untuk Lindungi Rambut dari Panas

29/11/2025
Selamat Jalan, Pak Umar - Featured
Fashion & Kecantikan

Bosan Jomblo atau Hubungan Terasa Hambar? Pikat dengan 4 Parfum “Date Night” Menggoda Ini

29/11/2025
Selamat Jalan, Pak Umar - Featured
Gaya Hidup

Keseimbangan Hidup Optimal: Menjaga Kesehatan dari Dalam dan Luar

24/11/2025
Selamat Jalan, Pak Umar - Featured
Gadget

Hacker Gunakan AI Claude Code untuk Serangan Otonomus

14/11/2025
Selamat Jalan, Pak Umar - Featured
Gaya Hidup

Jeda di Tengah Badai: Tiga Kompas Batin untuk Mengarungi Gelombang Hidup

20/11/2025
Selamat Jalan, Pak Umar - Featured
Gadget

7 Gadget Traveling Wajib Bawa Buat Liburan Nataru (Anti Lowbat)

25/12/2025
Selamat Jalan, Pak Umar - Featured
Otomotif

Update Harga OTR & Simulasi Kredit Vespa Matic 2025: Dari LX 125 hingga GTS 300 Super Tech

29/11/2025
Selamat Jalan, Pak Umar - Featured
Gaya Hidup

Cara agar Hidup Anak Kost Lebih Tenang di Dapur dan Rumah

22/11/2025
Selamat Jalan, Pak Umar - Featured
Otomotif

Vespa Primavera vs. Sprint 2025: Dua Jiwa, Satu Mesin, Pilihan Anda?

30/11/2025
Selamat Jalan, Pak Umar - Featured
Fashion & Kecantikan

Tren Hijab 2025-2026: 25+ Gaya Fashion Muslim Kekinian

14/11/2025
Selamat Jalan, Pak Umar - Featured
Gadget

Jisoo BLACKPINK dan Dyson: Rahasia Rambut Sehat Berkilau

21/11/2025
Selamat Jalan, Pak Umar - Featured
Alam dan Lingkungan Hidup

Tips Keselamatan Saat Gempa Bumi

23/12/2023

Gempa bumi tidak seperti kejadian alam lainnya yang masih bisa diprediksi jauh-jauh hari dengan lebih akurat.

Read moreDetails
  • beranda
  • kontak
  • layanan
  • beriklan
  • privasi
  • perihal

©2021 wartakita media

  • Login
No Result
View All Result
  • 🏠
  • ALAM
  • WARTA
    • PEMBELAJARAN
    • HUKUM
    • NUSANTARA
    • OLAHRAGA
    • TEKNOLOGI
    • KULINER
    • OTOMOTIF
    • SEPAK BOLA
    • #CEKFAKTA
  • GAYA
  • MAKASSAR
  • TEKNOLOGI
  • KONTAK
    • Mari Bermitra
    • Tentang Wartakita
    • Tim Redaksi
    • Kebijakan Privasi
    • TRAKTIR KOPI

©2021 wartakita media

wartakita.id menggunakan cookies tanpa mengorbankan privasi pengunjung.