Selasa, 13 Januari 2026
  • beranda
  • kontak
  • layanan
  • beriklan
  • privasi
  • perihal
WartakitaID
  • 🏠
  • ALAM
  • WARTA
    • PEMBELAJARAN
    • HUKUM
    • NUSANTARA
    • OLAHRAGA
    • TEKNOLOGI
    • KULINER
    • OTOMOTIF
    • SEPAK BOLA
    • #CEKFAKTA
  • GAYA
  • MAKASSAR
  • TEKNOLOGI
  • KONTAK
    • Mari Bermitra
    • Tentang Wartakita
    • Tim Redaksi
    • Kebijakan Privasi
    • TRAKTIR KOPI
No Result
View All Result
WartakitaID
  • 🏠
  • ALAM
  • WARTA
    • PEMBELAJARAN
    • HUKUM
    • NUSANTARA
    • OLAHRAGA
    • TEKNOLOGI
    • KULINER
    • OTOMOTIF
    • SEPAK BOLA
    • #CEKFAKTA
  • GAYA
  • MAKASSAR
  • TEKNOLOGI
  • KONTAK
    • Mari Bermitra
    • Tentang Wartakita
    • Tim Redaksi
    • Kebijakan Privasi
    • TRAKTIR KOPI
No Result
View All Result
WartakitaID
No Result
View All Result
Home Opini

Mens Rea, Pandji, dan Kita yang Lebih Memuja Sopan Santun Ketimbang Kebenaran

by A. Burhany
08/01/2026
in Opini
Reading Time: 6 mins read
A A
Mens Rea, Pandji, dan Kita yang Lebih Memuja Sopan Santun Ketimbang Kebenaran - Utama

Wartakita.id, MAKASSAR — Rabu, 7 Januari 2026, menjadi hari yang sibuk di depan kantor Komdigi. Bukan karena ada skandal korupsi triliunan rupiah yang baru terungkap, melainkan karena sekelompok aktivis muda dari dua ormas Islam terbesar di negeri ini menuntut “evaluasi” atas sebuah tayangan komedi.

Objek kemarahannya? Mens Rea, pertunjukan spesial Pandji Pragiwaksono di Netflix yang dirilis akhir tahun lalu. Alasannya klasik: dianggap memicu polarisasi, merendahkan kelompok tertentu, dan tidak sesuai dengan “adat ketimuran”.

Fenomena ini menarik, bukan karena materi Pandji yang memang dikenal brutal dalam menyerang kemapanan (termasuk dinasti politik dan ormas), tapi karena respons kita terhadapnya.

Protes ini mengonfirmasi tesis menyedihkan tentang wajah bangsa kita hari ini:

  1. Kita adalah bangsa yang lebih menghargai kemasan daripada isi.
  2. Kita lebih memuja sopan santun ketimbang kebenaran.

Etika vs Etiket: Salah Kaprah Nasional

Ada kerancuan fatal dalam logika publik kita mengenai “etika”. Kita sering mencampuradukkan Etika (filsafat moral tentang baik/buruk dan kebenaran) dengan Etiket (tata krama, sopan santun, dan kepantasan sosial).

Dalam filsafat, etika itu tegak lurus pada kebenaran (truth). Kebenaran itu seringkali “telanjang”, mentah, kasar, dan tidak enak dilihat. Sementara etiket adalah soal kemasan; soal bagaimana agar orang lain tidak tersinggung, soal menjaga harmoni semu.

Masalahnya, di Indonesia, etiket seringkali membunuh etika.

  • Seorang pejabat yang korupsi bansos tapi bicaranya santun, murah senyum, dan agamis, seringkali lebih dimaafkan daripada seorang komika yang bicara kasar, menyumpah-serapah, tapi menelanjangi fakta ketidakadilan.

  • Kita marah pada Pandji yang menyindir “balas budi tambang”, tapi kita diam (atau memaklumi) pada act bagi-bagi tambang itu sendiri asalkan dilakukan dengan prosedur birokrasi yang “sopan”.

Alergi Fakta Telanjang

Demonstrasi menuntut Mens Rea dievaluasi adalah gejala bahwa mayoritas kita memang belum siap dengan fakta telanjang. Kita butuh filter. Kita butuh “kemasan blink-blink”.

Ketika Pandji, dalam Mens Rea (yang secara harfiah berarti “niat jahat” atau guilty mind dalam hukum), menunjuk hidung kekuasaan dan kemunafikan sosial tanpa tedeng aling-aling, imunitas mental kita shock.

“Wah, ini kasar!”

“Wah, ini memecah belah!”

Padahal, fungsi satire politik dalam demokrasi—seperti kata filsuf Voltaire atau komika George Carlin—memang untuk mengganggu kenyamanan. Jika sebuah lelucon politik terasa “sopan” dan “nyaman”, kemungkinan besar itu bukan satire, itu humas pemerintah.

Netizen yang kontra dengan aksi demo kemarin menyuarakan ironi yang tepat: Mengapa energi yang sama tidak dikerahkan untuk mendemo korupsi dana haji? Jawabannya kembali ke poin awal: Korupsi itu seringkali dilakukan dengan “sopan” dan tertutup rapi, sementara joke Pandji dilakukan dengan “kasar” dan terbuka.

Filosofi Biji Kedondong: Sebuah Refleksi

Namun, saya harus adil. Jangan kira menelan kebenaran itu mudah. Jika secara psikologis atau batin Anda belum homogen dengan hidangan kebenaran yang tersaji, rasanya seperti menelan biji kedondong. Tersangkut di tenggorokan, tajam, dan menyakitkan.

Kami pun pernah mengalaminya secara personal. Bukan di panggung politik, tapi di sebuah warung kopi kecil di Jalan Percetakan Negara, Jakarta, beberapa tahun silam.

Saat itu, istri seorang sahabat bertanya dengan nada yang menohok kepada saya. “Atas dasar apa Anda merasa mampu menyatukan kembali kami yang sudah sepakat bercerai? Anda sama sekali tidak memiliki kompetensi tersebut. Anda belum pernah berumah tangga.”

BACA JUGA:

Wrap-Up Sepekan: Skandal Kuota Haji Eks Menag Yaqut, Kritik Pandji, dan Duka Banjir Nasional

Merawat Indonesia: Bukan dengan Menangkap Pengibar Bendera, Tapi Nyalakan Dapur Rakyat

TAJUK RENCANA: Melampaui Teks Buku, Menjawab Dunia dengan Contoh Nyata

“Pejabat Anti-Kritik” dalam Data: Membedah Garis Batas Antara Masukan, Hinaan, dan Ancaman Pidana

Di Balik Curah Hujan 400mm: Menguji Logika “Sawit Tak Bisa Disalahkan” dalam Banjir Sumatera

Pertanyaan itu dilontarkan oleh seorang wanita berpendidikan tinggi yang sedang menuntaskan S2 di Washington DC. Bagi ego saya yang sedikit terluka, pertanyaan itu terasa tidak sopan. Dianggap tidak kompeten oleh sosok yang 20 tahun lebih lambat hadir ke dunia, rasanya meremehkan.

Itulah “biji kedondong” saya malam itu. Kebenaran (bahwa saya belum menikah) disampaikan dengan etiket yang “buruk” (menyinggung ego).

Saya punya dua pilihan saat itu:

  1. Marah (Mendewakan Etiket): Mengusir mereka karena merasa tidak dihargai, membela diri, dan membiarkan mereka bercerai.

  2. Menelan Ego (Mendewakan Etika): Menerima rasa sakit itu, dan fokus pada substansi masalah.

Saya memilih yang kedua. Sambil menarik napas dengan pola 7-8-9 untuk meredam gemuruh di dada, saya menjawab tenang: “Benar. Saya juga heran mengapa harus duduk diapit sepasang suami-isteri yang sudah sepakat bercerai. Sungguh, saya tidak berniat menyatukan kalian kembali… Saya hanya ingin mendengarkan tanpa mengomentari.”

Malam itu, ego saya mati, tapi empati lahir.

Silih berganti sepasang suami-istri itu menumpahkan isi hati dan kepalanya. Dari pukul 10 malam hingga pukul 3 pagi. Warung kopi kami tutup setelah azan subuh berkumandang, dan tahukah Anda akhirnya? Mereka sepakat rujuk, memulai kembali dari nol.

Penutup: Belajar Menelan Rasa Sakit

Kisah di Percetakan Negara itu adalah mikrokosmos dari apa yang sedang dihadapi bangsa ini lewat kasus Mens Rea.

Kritik Pandji Pragiwaksono mungkin terasa seperti pertanyaan istri sahabat saya tadi: Tidak sopan, menyakitkan ego, dan meremehkan “otoritas”.

Tapi, jika pemerintah, ormas, dan kita semua memilih untuk bereaksi seperti saya yang tersinggung—sibuk membela diri dan menuntut permintaan maaf—maka kita akan kehilangan kesempatan untuk “rujuk” dengan akal sehat. Kita akan bercerai dengan kemajuan.

Sebaliknya, jika kita mampu menelan “biji kedondong” itu—mengabaikan rasa sakit akibat gaya bahasa Pandji yang kasar dan fokus pada substansi kritik yang ia sampaikan—mungkin, hanya mungkin, kita bisa memperbaiki apa yang rusak di negeri ini.

Sudah saatnya kita berhenti menjadi bangsa yang manja, yang hanya mau menelan obat jika rasanya manis.

Jika yang dia katakan adalah kebenaran—betapapun kasarnya—maka secara etika filsafat, nilainya jauh lebih tinggi daripada kebohongan yang dibungkus dengan senyum manis dan tutur kata halus di podium kekuasaan.

Sudah saatnya kita belajar menelan “fakta telanjang” tanpa tersedak. Karena jika kita terus-menerus minta disuapi kebenaran dengan kemasan manis, jangan heran jika yang kita telan nantinya bukan obat, tapi racun yang dilapisi gula.

Kolom ini adalah rubrik Nalar Warga yang memuat opini dan analisis mendalam dari perspektif pembaca.

Tags: Budaya SungkanDemo NU MuhammadiyahesaiEtika vs EtiketKebebasan BerpendapatKritik SosialMens Reanalar wargaOpini RedaksiPandji PragiwaksonoRedaksianaSatire Politik
Share16Tweet10Send
Diskon Referral 20% Cloud Professional Hostinger Diskon Referral 20% Cloud Professional Hostinger Diskon Referral 20% Cloud Professional Hostinger

ARTIKEL TERKAIT

Merawat Indonesia: Bukan dengan Menangkap Pengibar Bendera, Tapi Nyalakan Dapur Rakyat - Utama

Merawat Indonesia: Bukan dengan Menangkap Pengibar Bendera, Tapi Nyalakan Dapur Rakyat

28/12/2025
TAJUK RENCANA: Melampaui Teks Buku, Menjawab Dunia dengan Contoh Nyata - Utama

TAJUK RENCANA: Melampaui Teks Buku, Menjawab Dunia dengan Contoh Nyata

26/12/2025
di balik curah hujan 400mm

Di Balik Curah Hujan 400mm: Menguji Logika “Sawit Tak Bisa Disalahkan” dalam Banjir Sumatera

08/12/2025
menyewa hutan 3

Membajak “Senjata” Korporasi: Mengapa Pandawara Harus Berhenti Ingin ‘Membeli’ dan Mulai ‘Menyewa’ Hutan

08/12/2025
preventif atau reaktif antisipatif

Rp 51,8 Triliun untuk Pemulihan: Sebuah Kalkulasi Jujur Andai Dana Bencana Sumatera untuk Pencegahan

08/12/2025
inisiatif pandawara group patungan beli hutan wartakita.id

Patungan Beli Hutan: Mimpi Liar Pandawara Group Jadi Gerakan Nasional

07/12/2025
Status Bencana Nasional dan Ironi Izin Konsesi: Ketika Alam Menagih Tunai Segala Risiko Pada Rakyat Setempat - Utama

Status Bencana Nasional dan Ironi Izin Konsesi: Ketika Alam Menagih Tunai Segala Risiko Pada Rakyat Setempat

04/12/2025
Tragedi Siklon Senyar: Birokrasi Gagap, Relawan Tumbang, Pejabat dan Wakil Rakyatnya Sibuk Ngonten - Utama

Tragedi Siklon Senyar: Birokrasi Gagap, Relawan Tumbang, Pejabat dan Wakil Rakyatnya Sibuk Ngonten

03/12/2025

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

I agree to the Terms & Conditions and Privacy Policy.

TERPOPULER-SEPEKAN

  • Fenomena Cahaya Biru dan Gempa Beruntun di Aceh: Kronologi dan Penjelasan Ilmiah - Utama

    Fenomena Cahaya Biru dan Gempa Beruntun di Aceh: Kronologi dan Penjelasan Ilmiah

    81 shares
    Share 32 Tweet 20
  • Mens Rea, Pandji, dan Kita yang Lebih Memuja Sopan Santun Ketimbang Kebenaran

    39 shares
    Share 16 Tweet 10
  • Banjir Bandang dan Longsor Terjang Halmahera Barat Maluku Utara, 2 Warga Tewas dan Puluhan Rumah Rusak

    34 shares
    Share 14 Tweet 9
  • Sistem Pertahanan Rusia Gagal Total di Venezuela, Kata Menhan AS

    29 shares
    Share 12 Tweet 7
  • Heboh Sumur Bor di Bangkalan Keluarkan Cairan Diduga Minyak Mentah, Warga Berbondong-bondong Melihat

    28 shares
    Share 11 Tweet 7
  • 10 Model Rambut Pria yang Cocok Untuk Menutupi Pipi Chubby 💈✂️

    3824 shares
    Share 1530 Tweet 956
  • Gugatan Lahan GOR Sudiang Makassar: Proyek Stadion Rp 674 M Terancam?

    23 shares
    Share 9 Tweet 6
  • Banjir Melanda Indonesia 12 Januari 2026: Daftar Wilayah Terdampak dan Dampaknya

    22 shares
    Share 9 Tweet 6
  • 47 Gempa Guncang Indonesia dalam 10 Jam pada 11 Januari 2026: Laporan Lengkap BMKG

    22 shares
    Share 9 Tweet 6
  • Vonis Bebas Driver Ojol Setelah 6 Bulan Dipenjara: Keadilan yang Tertunda dan Tuntutan Ganti Rugi

    22 shares
    Share 9 Tweet 6
Unduh Buku Saku “SIAGA BENCANA” dari BNPB - Utama

Unduh Buku Saku “SIAGA BENCANA” dari BNPB

02/11/2023

Buku saku siaga bencana ini tidak menjamin keselamatan Anda. Namun, memberikan pedoman secara umum untuk kesiapsiagaan.

Read moreDetails

WARTAKITA

Keseimbangan Hidup Optimal: Menjaga Kesehatan dari Dalam dan Luar - Utama
Gaya Hidup

Keseimbangan Hidup Optimal: Menjaga Kesehatan dari Dalam dan Luar

24/11/2025
Ingin Rambut ‘Badai’ ala Jisoo Tapi Budget Terbatas? Ini 3 Alternatif Hair Styler Canggih Mulai 300 Ribuan! - Utama
Fashion & Kecantikan

Ingin Rambut ‘Badai’ ala Jisoo Tapi Budget Terbatas? Ini 3 Alternatif Hair Styler Canggih Mulai 300 Ribuan!

29/11/2025
Ancaman Senyap di Meja Kerja: Hindari 5 Kebiasaan Buruk WFH Ini Demi Kesehatan Anda - Utama
Gaya Hidup

Ancaman Senyap di Meja Kerja: Hindari 5 Kebiasaan Buruk WFH Ini Demi Kesehatan Anda

21/11/2025
Seni Merawat Vespa Matic: Bebaskan Gredek, Nikmati Perjalanan Halus - Utama
Otomotif

Seni Merawat Vespa Matic: Bebaskan Gredek, Nikmati Perjalanan Halus

06/12/2025
skincare kulit kering 2 e1766181785188.jpg
Fashion & Kecantikan

7 Jurus Pilih Pelembap Bikin Glowing Sehat

20/12/2025
Rambut Rontok Parah? Kenali Penyebab dan Solusi Alami - Utama
Gaya Hidup

Rambut Rontok Parah? Kenali Penyebab dan Solusi Alami

24/11/2025
Jisoo BLACKPINK dan Dyson: Rahasia Rambut Sehat Berkilau - Utama
Gadget

Jisoo BLACKPINK dan Dyson: Rahasia Rambut Sehat Berkilau

21/11/2025
Parfum Mahal Tapi Cepat Hilang Kena Keringat? 4 Rekomendasi Parfum “Anti-Gerah” Tahan Lama di Cuaca Indonesia - Utama
Fashion & Kecantikan

Parfum Mahal Tapi Cepat Hilang Kena Keringat? 4 Rekomendasi Parfum “Anti-Gerah” Tahan Lama di Cuaca Indonesia

30/11/2025
Rahasia Kulit Glowing di Rumah: Spa Mandiri & Perawatan Diri untuk Beauty Besties - Utama
Fashion & Kecantikan

Rahasia Kulit Glowing di Rumah: Spa Mandiri & Perawatan Diri untuk Beauty Besties

23/11/2025
Ancaman Mogok Akibat Aki Lemah di Musim Hujan: Kenapa Perawatan Mandiri Mobil LCGC Jadi Krusial? - Utama
Otomotif

Ancaman Mogok Akibat Aki Lemah di Musim Hujan: Kenapa Perawatan Mandiri Mobil LCGC Jadi Krusial?

16/11/2025
Bosan Jomblo atau Hubungan Terasa Hambar? Pikat dengan 4 Parfum “Date Night” Menggoda Ini - Utama
Fashion & Kecantikan

Bosan Jomblo atau Hubungan Terasa Hambar? Pikat dengan 4 Parfum “Date Night” Menggoda Ini

29/11/2025
Hacker Gunakan AI Claude Code untuk Serangan Otonomus - Utama
Gadget

Hacker Gunakan AI Claude Code untuk Serangan Otonomus

14/11/2025
tips keselamatan saat gempa bumi
Alam dan Lingkungan Hidup

Tips Keselamatan Saat Gempa Bumi

23/12/2015

Gempa bumi tidak seperti kejadian alam lainnya yang masih bisa diprediksi jauh-jauh hari dengan lebih akurat.

Read moreDetails
  • beranda
  • kontak
  • layanan
  • beriklan
  • privasi
  • perihal

©2021 wartakita media

  • Login
No Result
View All Result
  • 🏠
  • ALAM
  • WARTA
    • PEMBELAJARAN
    • HUKUM
    • NUSANTARA
    • OLAHRAGA
    • TEKNOLOGI
    • KULINER
    • OTOMOTIF
    • SEPAK BOLA
    • #CEKFAKTA
  • GAYA
  • MAKASSAR
  • TEKNOLOGI
  • KONTAK
    • Mari Bermitra
    • Tentang Wartakita
    • Tim Redaksi
    • Kebijakan Privasi
    • TRAKTIR KOPI

©2021 wartakita media

wartakita.id menggunakan cookies tanpa mengorbankan privasi pengunjung.