Minggu, 26 Juli 2026
  • beranda
  • kontak
  • layanan
  • beriklan
  • privasi
  • perihal
WartakitaID
  • 🏚️
  • ALAM
  • WARTA
    • PEMBELAJARAN
    • HUKUM
    • NUSANTARA
    • OLAHRAGA
    • TEKNOLOGI
    • KULINER
    • OTOMOTIF
    • SEPAK BOLA
    • #CEKFAKTA
  • GAYA
  • MAKASSAR
  • TEKNOLOGI
  • KONTAK
    • Mari Bermitra
    • Tentang Wartakita
    • Tim Redaksi
    • Kebijakan Privasi
    • TRAKTIR KOPI
No Result
View All Result
WartakitaID
  • 🏚️
  • ALAM
  • WARTA
    • PEMBELAJARAN
    • HUKUM
    • NUSANTARA
    • OLAHRAGA
    • TEKNOLOGI
    • KULINER
    • OTOMOTIF
    • SEPAK BOLA
    • #CEKFAKTA
  • GAYA
  • MAKASSAR
  • TEKNOLOGI
  • KONTAK
    • Mari Bermitra
    • Tentang Wartakita
    • Tim Redaksi
    • Kebijakan Privasi
    • TRAKTIR KOPI
No Result
View All Result
WartakitaID
No Result
View All Result
Home Opini

Mens Rea, Pandji, dan Kita yang Lebih Memuja Sopan Santun Ketimbang Kebenaran

by A. Burhany
08/01/2026
in Opini
Reading Time: 6 mins read
A A
mens-rea

Wartakita.id, MAKASSAR — Rabu, 7 Januari 2026, menjadi hari yang sibuk di depan kantor Komdigi. Bukan karena ada skandal korupsi triliunan rupiah yang baru terungkap, melainkan karena sekelompok aktivis muda dari dua ormas Islam terbesar di negeri ini menuntut “evaluasi” atas sebuah tayangan komedi.

Objek kemarahannya? Mens Rea, pertunjukan spesial Pandji Pragiwaksono di Netflix yang dirilis akhir tahun lalu. Alasannya klasik: dianggap memicu polarisasi, merendahkan kelompok tertentu, dan tidak sesuai dengan “adat ketimuran”.

Fenomena ini menarik, bukan karena materi Pandji yang memang dikenal brutal dalam menyerang kemapanan (termasuk dinasti politik dan ormas), tapi karena respons kita terhadapnya.

Protes ini mengonfirmasi tesis menyedihkan tentang wajah bangsa kita hari ini:

  1. Kita adalah bangsa yang lebih menghargai kemasan daripada isi.
  2. Kita lebih memuja sopan santun ketimbang kebenaran.

Etika vs Etiket: Salah Kaprah Nasional

Ada kerancuan fatal dalam logika publik kita mengenai “etika”. Kita sering mencampuradukkan Etika (filsafat moral tentang baik/buruk dan kebenaran) dengan Etiket (tata krama, sopan santun, dan kepantasan sosial).

Dalam filsafat, etika itu tegak lurus pada kebenaran (truth). Kebenaran itu seringkali “telanjang”, mentah, kasar, dan tidak enak dilihat. Sementara etiket adalah soal kemasan; soal bagaimana agar orang lain tidak tersinggung, soal menjaga harmoni semu.

Masalahnya, di Indonesia, etiket seringkali membunuh etika.

  • Seorang pejabat yang korupsi bansos tapi bicaranya santun, murah senyum, dan agamis, seringkali lebih dimaafkan daripada seorang komika yang bicara kasar, menyumpah-serapah, tapi menelanjangi fakta ketidakadilan.

  • Kita marah pada Pandji yang menyindir “balas budi tambang”, tapi kita diam (atau memaklumi) pada act bagi-bagi tambang itu sendiri asalkan dilakukan dengan prosedur birokrasi yang “sopan”.

Alergi Fakta Telanjang

Demonstrasi menuntut Mens Rea dievaluasi adalah gejala bahwa mayoritas kita memang belum siap dengan fakta telanjang. Kita butuh filter. Kita butuh “kemasan blink-blink”.

Ketika Pandji, dalam Mens Rea (yang secara harfiah berarti “niat jahat” atau guilty mind dalam hukum), menunjuk hidung kekuasaan dan kemunafikan sosial tanpa tedeng aling-aling, imunitas mental kita shock.

“Wah, ini kasar!”

“Wah, ini memecah belah!”

Padahal, fungsi satire politik dalam demokrasi—seperti kata filsuf Voltaire atau komika George Carlin—memang untuk mengganggu kenyamanan. Jika sebuah lelucon politik terasa “sopan” dan “nyaman”, kemungkinan besar itu bukan satire, itu humas pemerintah.

Netizen yang kontra dengan aksi demo kemarin menyuarakan ironi yang tepat: Mengapa energi yang sama tidak dikerahkan untuk mendemo korupsi dana haji? Jawabannya kembali ke poin awal: Korupsi itu seringkali dilakukan dengan “sopan” dan tertutup rapi, sementara joke Pandji dilakukan dengan “kasar” dan terbuka.

Filosofi Biji Kedondong: Sebuah Refleksi

Namun, saya harus adil. Jangan kira menelan kebenaran itu mudah. Jika secara psikologis atau batin Anda belum homogen dengan hidangan kebenaran yang tersaji, rasanya seperti menelan biji kedondong. Tersangkut di tenggorokan, tajam, dan menyakitkan.

Kami pun pernah mengalaminya secara personal. Bukan di panggung politik, tapi di sebuah warung kopi kecil di Jalan Percetakan Negara, Jakarta, beberapa tahun silam.

Saat itu, istri seorang sahabat bertanya dengan nada yang menohok kepada saya. “Atas dasar apa Anda merasa mampu menyatukan kembali kami yang sudah sepakat bercerai? Anda sama sekali tidak memiliki kompetensi tersebut. Anda belum pernah berumah tangga.”

BACA JUGA:

Tragedi Latsarmil KDMP: Mengapa Bisnis Modern Butuh Adaptasi, Bukan Struktur Komando Militer

Bongkar Mesin “Ekonomi Zombie”: Cetak Biru Penyelamatan Kelas Menengah dari Meja Pengambil Kebijakan

Mengapa Ekonomi Kita Belum Ambruk? Membedah “Ekonomi Zombie” dan Ilusi Ketahanan Kelas Menengah

Menko Yusril sebut tak ada larangan nobar Film Pesta Babi

Kontroversi Film “Pesta Babi”: Narasi Pembangunan, Hak Adat Papua, dan Lingkaran Kekuasaan

Pertanyaan itu dilontarkan oleh seorang wanita berpendidikan tinggi yang sedang menuntaskan S2 di Washington DC. Bagi ego saya yang sedikit terluka, pertanyaan itu terasa tidak sopan. Dianggap tidak kompeten oleh sosok yang 20 tahun lebih lambat hadir ke dunia, rasanya meremehkan.

Itulah “biji kedondong” saya malam itu. Kebenaran (bahwa saya belum menikah) disampaikan dengan etiket yang “buruk” (menyinggung ego).

Saya punya dua pilihan saat itu:

  1. Marah (Mendewakan Etiket): Mengusir mereka karena merasa tidak dihargai, membela diri, dan membiarkan mereka bercerai.

  2. Menelan Ego (Mendewakan Etika): Menerima rasa sakit itu, dan fokus pada substansi masalah.

Saya memilih yang kedua. Sambil menarik napas dengan pola 7-8-9 untuk meredam gemuruh di dada, saya menjawab tenang: “Benar. Saya juga heran mengapa harus duduk diapit sepasang suami-isteri yang sudah sepakat bercerai. Sungguh, saya tidak berniat menyatukan kalian kembali… Saya hanya ingin mendengarkan tanpa mengomentari.”

Malam itu, ego saya mati, tapi empati lahir.

Silih berganti sepasang suami-istri itu menumpahkan isi hati dan kepalanya. Dari pukul 10 malam hingga pukul 3 pagi. Warung kopi kami tutup setelah azan subuh berkumandang, dan tahukah Anda akhirnya? Mereka sepakat rujuk, memulai kembali dari nol.

Penutup: Belajar Menelan Rasa Sakit

Kisah di Percetakan Negara itu adalah mikrokosmos dari apa yang sedang dihadapi bangsa ini lewat kasus Mens Rea.

Kritik Pandji Pragiwaksono mungkin terasa seperti pertanyaan istri sahabat saya tadi: Tidak sopan, menyakitkan ego, dan meremehkan “otoritas”.

Tapi, jika pemerintah, ormas, dan kita semua memilih untuk bereaksi seperti saya yang tersinggung—sibuk membela diri dan menuntut permintaan maaf—maka kita akan kehilangan kesempatan untuk “rujuk” dengan akal sehat. Kita akan bercerai dengan kemajuan.

Sebaliknya, jika kita mampu menelan “biji kedondong” itu—mengabaikan rasa sakit akibat gaya bahasa Pandji yang kasar dan fokus pada substansi kritik yang ia sampaikan—mungkin, hanya mungkin, kita bisa memperbaiki apa yang rusak di negeri ini.

Sudah saatnya kita berhenti menjadi bangsa yang manja, yang hanya mau menelan obat jika rasanya manis.

Jika yang dia katakan adalah kebenaran—betapapun kasarnya—maka secara etika filsafat, nilainya jauh lebih tinggi daripada kebohongan yang dibungkus dengan senyum manis dan tutur kata halus di podium kekuasaan.

Sudah saatnya kita belajar menelan “fakta telanjang” tanpa tersedak. Karena jika kita terus-menerus minta disuapi kebenaran dengan kemasan manis, jangan heran jika yang kita telan nantinya bukan obat, tapi racun yang dilapisi gula.

Kolom ini adalah rubrik Nalar Warga yang memuat opini dan analisis mendalam dari perspektif pembaca.

Add wartakita.id as a preferred source on Google

Tags: Budaya SungkanDemo NU MuhammadiyahesaiEtika vs EtiketKebebasan BerpendapatKritik SosialMens Reanalar wargaOpini RedaksiPandji PragiwaksonoRedaksianaSatire Politik
Share23Tweet15Send

ARTIKEL TERKAIT

ekonom-1a

Bongkar Mesin “Ekonomi Zombie”: Cetak Biru Penyelamatan Kelas Menengah dari Meja Pengambil Kebijakan

11/06/2026
ekonomi-1-jpg

Mengapa Ekonomi Kita Belum Ambruk? Membedah “Ekonomi Zombie” dan Ilusi Ketahanan Kelas Menengah

11/06/2026
pesta-babi

Kontroversi Film “Pesta Babi”: Narasi Pembangunan, Hak Adat Papua, dan Lingkaran Kekuasaan

12/05/2026
Prof-Dr-H-Umar-Shihab-BW

Selamat Jalan, Pak Umar

23/03/2026
utama-30

Penutup Esai Ramadan #30: Satu Hal Saja

19/03/2026
utama-29

Esai Ramadan #29: Menuai Hujan dan Residu yang Tersisa

18/03/2026
sisipan-28

Esai Ramadan #28: Azan dan Kepulangan yang Sejati

17/03/2026
utama-27

Esai Ramadan #27: Jelang Perpisahan dengan Tamu yang Memuliakan

16/03/2026

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

I agree to the Terms & Conditions and Privacy Policy.

TERPOPULER-SEPEKAN

  • Mens Rea, Pandji, dan Kita yang Lebih Memuja Sopan Santun Ketimbang Kebenaran - Featured

    Kalla Toyota Palopo Hadirkan KIDDO ART-venture: Dealer Berubah Jadi Taman Bermain & Belajar Anak

    49 shares
    Share 20 Tweet 12
  • Wisata Dan Tradisi Nyekar Di Pulau Libukang Palopo

    175 shares
    Share 70 Tweet 44
  • PTUN Bandung Perintahkan Gubernur Jabar Pecat Bupati Bogor, Ada Apa?

    35 shares
    Share 14 Tweet 9
  • Tren Hijab 2025-2026: 25+ Gaya Fashion Muslim Kekinian

    267 shares
    Share 107 Tweet 67
  • 7 Ide Potongan Rambut Pria dengan Aksen Garis (Line Up) Keren

    81 shares
    Share 32 Tweet 20
  • Kode CMD Untuk Mempercepat Kinerja Laptop

    700 shares
    Share 280 Tweet 175
  • 5 Rekomendasi Potongan Rambut Pria saat Melamar Kerja, Rapi, Simpel dan Stylish

    496 shares
    Share 198 Tweet 124
  • APBN 2026: Mengurai Mitos Ketergantungan Pajak, Menelisik Jalan Kemakmuran Berkelanjutan

    183 shares
    Share 73 Tweet 46
  • Hore! Markas PSM Makassar Stadion BJ Habibie Parepare Akan Direnovasi

    73 shares
    Share 29 Tweet 18
  • Panggung K-Pop dengan Estetika Imut Idol Jepang yang Bikin Gemas!

    33 shares
    Share 13 Tweet 8
wartakita-id-buku-saku-bencana-bnpb_cr

Unduh Buku Saku “SIAGA BENCANA” dari BNPB

02/11/2023

Buku saku siaga bencana ini tidak menjamin keselamatan Anda. Namun, memberikan pedoman secara umum untuk kesiapsiagaan.

Read moreDetails

WARTAKITA

1763889026-rahasia-kulit-glowing-di-rumah-spa-mandiri-perawatan-diri.jpg
Fashion & Kecantikan

Rahasia Kulit Glowing di Rumah: Spa Mandiri & Perawatan Diri untuk Beauty Besties

23/11/2025
insta360-go-3s-780x470.jpg
Gadget

Insta360 GO 3S Hadir dengan Video 4K dan Dukungan Apple Find My

25/07/2024
Jisoo+Dyson
Gadget

Jisoo BLACKPINK dan Dyson: Rahasia Rambut Sehat Berkilau

21/11/2025
vespa gts supertech
Otomotif

Update Harga OTR & Simulasi Kredit Vespa Matic 2025: Dari LX 125 hingga GTS 300 Super Tech

29/11/2025
1766621435-7-gadget-traveling-wajib-bawa-buat-liburan-nataru-anti-lowbat.jpg
Gadget

7 Gadget Traveling Wajib Bawa Buat Liburan Nataru (Anti Lowbat)

25/12/2025
img-1764777491-e442ac7fe1f792b9
Gaya Hidup

Parfum Lokal Wangi Sultan: Mirip Niche Eropa, Harga Murah!

04/12/2025
3 kompas batin wartakita_tn1
Gaya Hidup

Jeda di Tengah Badai: Tiga Kompas Batin untuk Mengarungi Gelombang Hidup

20/11/2025
vespa 2026_cr_tn1
Otomotif

Bukan Sekadar Skuter: Panduan Memilih Vespa Impian Anda di Tahun 2026

23/11/2025
Cara Hidup Anak Kost agar Lebih Tenang di Dapur dan Rumah_cr_tn1
Gaya Hidup

Cara agar Hidup Anak Kost Lebih Tenang di Dapur dan Rumah

22/11/2025
4 rekomendasi parfum anti gerah dan tahan lama di cuaca indonesia_wartakita.id
Fashion & Kecantikan

Parfum Mahal Tapi Cepat Hilang Kena Keringat? 4 Rekomendasi Parfum “Anti-Gerah” Tahan Lama di Cuaca Indonesia

30/11/2025
Mug CIVAGO dengan lapisan keramik & insulasi vakum tahan 12 jam 1-salwasalon
Gaya Hidup

Aroma Kopi Pagi Anda, Tetap Hangat Sempurna Hingga Siang

06/12/2025
hidup sehat dan seimbang_cr_tn1
Gaya Hidup

Keseimbangan Hidup Optimal: Menjaga Kesehatan dari Dalam dan Luar

24/11/2025
tips-keselamatan
Alam dan Lingkungan Hidup

Tips Keselamatan Saat Gempa Bumi

23/12/2023

Gempa bumi tidak seperti kejadian alam lainnya yang masih bisa diprediksi jauh-jauh hari dengan lebih akurat.

Read moreDetails
  • beranda
  • kontak
  • layanan
  • beriklan
  • privasi
  • perihal

©2021 wartakita media

  • Login
No Result
View All Result
  • 🏚️
  • ALAM
  • WARTA
    • PEMBELAJARAN
    • HUKUM
    • NUSANTARA
    • OLAHRAGA
    • TEKNOLOGI
    • KULINER
    • OTOMOTIF
    • SEPAK BOLA
    • #CEKFAKTA
  • GAYA
  • MAKASSAR
  • TEKNOLOGI
  • KONTAK
    • Mari Bermitra
    • Tentang Wartakita
    • Tim Redaksi
    • Kebijakan Privasi
    • TRAKTIR KOPI

©2021 wartakita media

wartakita.id menggunakan cookies tanpa mengorbankan privasi pengunjung.