Sabtu, 17 Oktober 2026
  • beranda
  • kontak
  • layanan
  • beriklan
  • privasi
  • perihal
WartakitaID
  • 🏚️
  • ALAM
  • WARTA
    • PEMBELAJARAN
    • HUKUM
    • NUSANTARA
    • OLAHRAGA
    • TEKNOLOGI
    • KULINER
    • OTOMOTIF
    • SEPAK BOLA
    • #CEKFAKTA
  • GAYA
  • MAKASSAR
  • TEKNOLOGI
  • KONTAK
    • Mari Bermitra
    • Tentang Wartakita
    • Tim Redaksi
    • Kebijakan Privasi
    • TRAKTIR KOPI
No Result
View All Result
WartakitaID
  • 🏚️
  • ALAM
  • WARTA
    • PEMBELAJARAN
    • HUKUM
    • NUSANTARA
    • OLAHRAGA
    • TEKNOLOGI
    • KULINER
    • OTOMOTIF
    • SEPAK BOLA
    • #CEKFAKTA
  • GAYA
  • MAKASSAR
  • TEKNOLOGI
  • KONTAK
    • Mari Bermitra
    • Tentang Wartakita
    • Tim Redaksi
    • Kebijakan Privasi
    • TRAKTIR KOPI
No Result
View All Result
WartakitaID
No Result
View All Result
Home Opini

Mens Rea, Pandji, dan Kita yang Lebih Memuja Sopan Santun Ketimbang Kebenaran

by A. Burhany
08/01/2026
in Opini
Reading Time: 6 mins read
A A
mens-rea

Wartakita.id, MAKASSAR — Rabu, 7 Januari 2026, menjadi hari yang sibuk di depan kantor Komdigi. Bukan karena ada skandal korupsi triliunan rupiah yang baru terungkap, melainkan karena sekelompok aktivis muda dari dua ormas Islam terbesar di negeri ini menuntut “evaluasi” atas sebuah tayangan komedi.

Objek kemarahannya? Mens Rea, pertunjukan spesial Pandji Pragiwaksono di Netflix yang dirilis akhir tahun lalu. Alasannya klasik: dianggap memicu polarisasi, merendahkan kelompok tertentu, dan tidak sesuai dengan “adat ketimuran”.

Fenomena ini menarik, bukan karena materi Pandji yang memang dikenal brutal dalam menyerang kemapanan (termasuk dinasti politik dan ormas), tapi karena respons kita terhadapnya.

Protes ini mengonfirmasi tesis menyedihkan tentang wajah bangsa kita hari ini:

  1. Kita adalah bangsa yang lebih menghargai kemasan daripada isi.
  2. Kita lebih memuja sopan santun ketimbang kebenaran.

Etika vs Etiket: Salah Kaprah Nasional

Ada kerancuan fatal dalam logika publik kita mengenai “etika”. Kita sering mencampuradukkan Etika (filsafat moral tentang baik/buruk dan kebenaran) dengan Etiket (tata krama, sopan santun, dan kepantasan sosial).

Dalam filsafat, etika itu tegak lurus pada kebenaran (truth). Kebenaran itu seringkali “telanjang”, mentah, kasar, dan tidak enak dilihat. Sementara etiket adalah soal kemasan; soal bagaimana agar orang lain tidak tersinggung, soal menjaga harmoni semu.

Masalahnya, di Indonesia, etiket seringkali membunuh etika.

  • Seorang pejabat yang korupsi bansos tapi bicaranya santun, murah senyum, dan agamis, seringkali lebih dimaafkan daripada seorang komika yang bicara kasar, menyumpah-serapah, tapi menelanjangi fakta ketidakadilan.

  • Kita marah pada Pandji yang menyindir “balas budi tambang”, tapi kita diam (atau memaklumi) pada act bagi-bagi tambang itu sendiri asalkan dilakukan dengan prosedur birokrasi yang “sopan”.

Alergi Fakta Telanjang

Demonstrasi menuntut Mens Rea dievaluasi adalah gejala bahwa mayoritas kita memang belum siap dengan fakta telanjang. Kita butuh filter. Kita butuh “kemasan blink-blink”.

Ketika Pandji, dalam Mens Rea (yang secara harfiah berarti “niat jahat” atau guilty mind dalam hukum), menunjuk hidung kekuasaan dan kemunafikan sosial tanpa tedeng aling-aling, imunitas mental kita shock.

“Wah, ini kasar!”

“Wah, ini memecah belah!”

Padahal, fungsi satire politik dalam demokrasi—seperti kata filsuf Voltaire atau komika George Carlin—memang untuk mengganggu kenyamanan. Jika sebuah lelucon politik terasa “sopan” dan “nyaman”, kemungkinan besar itu bukan satire, itu humas pemerintah.

Netizen yang kontra dengan aksi demo kemarin menyuarakan ironi yang tepat: Mengapa energi yang sama tidak dikerahkan untuk mendemo korupsi dana haji? Jawabannya kembali ke poin awal: Korupsi itu seringkali dilakukan dengan “sopan” dan tertutup rapi, sementara joke Pandji dilakukan dengan “kasar” dan terbuka.

Filosofi Biji Kedondong: Sebuah Refleksi

Namun, saya harus adil. Jangan kira menelan kebenaran itu mudah. Jika secara psikologis atau batin Anda belum homogen dengan hidangan kebenaran yang tersaji, rasanya seperti menelan biji kedondong. Tersangkut di tenggorokan, tajam, dan menyakitkan.

Kami pun pernah mengalaminya secara personal. Bukan di panggung politik, tapi di sebuah warung kopi kecil di Jalan Percetakan Negara, Jakarta, beberapa tahun silam.

Saat itu, istri seorang sahabat bertanya dengan nada yang menohok kepada saya. “Atas dasar apa Anda merasa mampu menyatukan kembali kami yang sudah sepakat bercerai? Anda sama sekali tidak memiliki kompetensi tersebut. Anda belum pernah berumah tangga.”

BACA JUGA:

1.425 Personel Gabungan Siaga Amankan Aksi 27 Agustus 2026 di Jakarta demi Kamtibmas Kondusif

Maulid, Karhutla, dan Kemarahan Publik: Ironi Moral Tanpa Amanah

Sikap Pemerintah Terhadap Demonstrasi: Antara Hak Demokrasi dan Batas Hukum

Skenario Reformasi: Senjata Coretax 2026 dan Jalan Terang Menuju Pertumbuhan 6%

Skenario Status Quo: Bayang-Bayang Utang Rp10.000 T dan Ancaman Permanen Middle-Income Trap

Pertanyaan itu dilontarkan oleh seorang wanita berpendidikan tinggi yang sedang menuntaskan S2 di Washington DC. Bagi ego saya yang sedikit terluka, pertanyaan itu terasa tidak sopan. Dianggap tidak kompeten oleh sosok yang 20 tahun lebih lambat hadir ke dunia, rasanya meremehkan.

Itulah “biji kedondong” saya malam itu. Kebenaran (bahwa saya belum menikah) disampaikan dengan etiket yang “buruk” (menyinggung ego).

Saya punya dua pilihan saat itu:

  1. Marah (Mendewakan Etiket): Mengusir mereka karena merasa tidak dihargai, membela diri, dan membiarkan mereka bercerai.

  2. Menelan Ego (Mendewakan Etika): Menerima rasa sakit itu, dan fokus pada substansi masalah.

Saya memilih yang kedua. Sambil menarik napas dengan pola 7-8-9 untuk meredam gemuruh di dada, saya menjawab tenang: “Benar. Saya juga heran mengapa harus duduk diapit sepasang suami-isteri yang sudah sepakat bercerai. Sungguh, saya tidak berniat menyatukan kalian kembali… Saya hanya ingin mendengarkan tanpa mengomentari.”

Malam itu, ego saya mati, tapi empati lahir.

Silih berganti sepasang suami-istri itu menumpahkan isi hati dan kepalanya. Dari pukul 10 malam hingga pukul 3 pagi. Warung kopi kami tutup setelah azan subuh berkumandang, dan tahukah Anda akhirnya? Mereka sepakat rujuk, memulai kembali dari nol.

Penutup: Belajar Menelan Rasa Sakit

Kisah di Percetakan Negara itu adalah mikrokosmos dari apa yang sedang dihadapi bangsa ini lewat kasus Mens Rea.

Kritik Pandji Pragiwaksono mungkin terasa seperti pertanyaan istri sahabat saya tadi: Tidak sopan, menyakitkan ego, dan meremehkan “otoritas”.

Tapi, jika pemerintah, ormas, dan kita semua memilih untuk bereaksi seperti saya yang tersinggung—sibuk membela diri dan menuntut permintaan maaf—maka kita akan kehilangan kesempatan untuk “rujuk” dengan akal sehat. Kita akan bercerai dengan kemajuan.

Sebaliknya, jika kita mampu menelan “biji kedondong” itu—mengabaikan rasa sakit akibat gaya bahasa Pandji yang kasar dan fokus pada substansi kritik yang ia sampaikan—mungkin, hanya mungkin, kita bisa memperbaiki apa yang rusak di negeri ini.

Sudah saatnya kita berhenti menjadi bangsa yang manja, yang hanya mau menelan obat jika rasanya manis.

Jika yang dia katakan adalah kebenaran—betapapun kasarnya—maka secara etika filsafat, nilainya jauh lebih tinggi daripada kebohongan yang dibungkus dengan senyum manis dan tutur kata halus di podium kekuasaan.

Sudah saatnya kita belajar menelan “fakta telanjang” tanpa tersedak. Karena jika kita terus-menerus minta disuapi kebenaran dengan kemasan manis, jangan heran jika yang kita telan nantinya bukan obat, tapi racun yang dilapisi gula.

Kolom ini adalah rubrik Nalar Warga yang memuat opini dan analisis mendalam dari perspektif pembaca.

Rekomendasikan Wartakita.id
Tags: Budaya SungkanDemo NU MuhammadiyahesaiEtika vs EtiketKebebasan BerpendapatKritik SosialMens Reanalar wargaOpini RedaksiPandji PragiwaksonoRedaksianaSatire Politik
Share25Tweet16Send

ARTIKEL TERKAIT

Mens Rea, Pandji, dan Kita yang Lebih Memuja Sopan Santun Ketimbang Kebenaran - Featured

Maulid, Karhutla, dan Kemarahan Publik: Ironi Moral Tanpa Amanah

25/08/2026
Mens Rea, Pandji, dan Kita yang Lebih Memuja Sopan Santun Ketimbang Kebenaran - Featured

Skenario Reformasi: Senjata Coretax 2026 dan Jalan Terang Menuju Pertumbuhan 6%

28/07/2026
Mens Rea, Pandji, dan Kita yang Lebih Memuja Sopan Santun Ketimbang Kebenaran - Featured

Skenario Status Quo: Bayang-Bayang Utang Rp10.000 T dan Ancaman Permanen Middle-Income Trap

28/07/2026
Mens Rea, Pandji, dan Kita yang Lebih Memuja Sopan Santun Ketimbang Kebenaran - Featured

Trajektori 2026-2031: Menuju Indonesia Emas atau Terjebak Krisis Permanen?

28/07/2026
Mens Rea, Pandji, dan Kita yang Lebih Memuja Sopan Santun Ketimbang Kebenaran - Featured

Selamatkan APBN 2026: Redefinisi Anggaran Pendidikan 20% dan Ketegasan BPI Danantara

28/07/2026
Mens Rea, Pandji, dan Kita yang Lebih Memuja Sopan Santun Ketimbang Kebenaran - Featured

Paradoks Desentralisasi 2026: Mengapa Anggaran Daerah Dipangkas demi Program Populis Pusat?

28/07/2026
Mens Rea, Pandji, dan Kita yang Lebih Memuja Sopan Santun Ketimbang Kebenaran - Featured

Siklus Anggaran Politis dan Korupsi Rp279 Triliun: Saat Uang Rakyat Jadi Ongkos ‘Elit’ yang Hidup dalam Siklus 5 Tahunan

28/07/2026
Mens Rea, Pandji, dan Kita yang Lebih Memuja Sopan Santun Ketimbang Kebenaran - Featured

Kualitas Layanan Publik Stagnan: Mengurai Korupsi, Siklus Politis, dan Absennya Keadilan Pajak

28/07/2026

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

I agree to the Terms & Conditions and Privacy Policy.

TERPOPULER-SEPEKAN

  • Mens Rea, Pandji, dan Kita yang Lebih Memuja Sopan Santun Ketimbang Kebenaran - Featured

    Kalla Toyota Palopo Sukses Rebut Hati Komunitas Lewat “Padel with Toyota Hybrid”

    111 shares
    Share 44 Tweet 28
  • Kode CMD Untuk Mempercepat Kinerja Laptop

    852 shares
    Share 341 Tweet 213
  • Kelangkaan BBM Berulang: Antrean Mengular, Warga Bermalam di SPBU, Stok Nasional Diklaim Aman

    30 shares
    Share 12 Tweet 8
  • Kualitas Udara Sulsel Masih Tidak Sehat, BMKG Prediksi Perbaikan 15 Oktober

    22 shares
    Share 9 Tweet 6
  • OJK Denda Tiga Emiten Konglomerat Rp 2,1 Triliun

    20 shares
    Share 8 Tweet 5
  • Pemerintah Jaga Harga Solar dan Pertalite Meski Kenaikan Minyak Dunia

    20 shares
    Share 8 Tweet 5
  • Siswi SMP di Sidrap Sulsel Korban Perundungan 10 Temannya, Ortu Laporkan Polisi

    20 shares
    Share 8 Tweet 5
  • Fakta Menarik Perpres Nomor 27 Tahun 2026 tentang Transportasi Berbasis Platform Digital

    19 shares
    Share 8 Tweet 5
  • Kabut Asap Maros Terparah, PM 2,5 Tertinggi di Sulsel

    18 shares
    Share 7 Tweet 5
  • Eddy Soeparno: Kepastian Investasi Kunci Transisi Energi Menuju Energi Bersih

    18 shares
    Share 7 Tweet 5
wartakita-id-buku-saku-bencana-bnpb_cr

Unduh Buku Saku “SIAGA BENCANA” dari BNPB

02/11/2023

Buku saku siaga bencana ini tidak menjamin keselamatan Anda. Namun, memberikan pedoman secara umum untuk kesiapsiagaan.

Read moreDetails

WARTAKITA

Alternatif Hair Styler Canggih Mulai 300 Ribuan_wartakita.id
Fashion & Kecantikan

Ingin Rambut ‘Badai’ ala Jisoo Tapi Budget Terbatas? Ini 3 Alternatif Hair Styler Canggih Mulai 300 Ribuan!

29/11/2025
Cara Hidup Anak Kost agar Lebih Tenang di Dapur dan Rumah_cr_tn1
Gaya Hidup

Cara agar Hidup Anak Kost Lebih Tenang di Dapur dan Rumah

22/11/2025
parfum di tempat kerja_wartakita.id
Fashion & Kecantikan

Ingin Dihormati di Kantor? Ini 4 “Power Scent” Pria & Wanita yang Bikin Aura Anda Seperti CEO

29/11/2025
vespa sprint atau primavera_wartakita.id
Otomotif

Vespa Primavera vs. Sprint 2025: Dua Jiwa, Satu Mesin, Pilihan Anda?

30/11/2025
5 Kebiasaan Buruk WFH_cr_tn1
Gaya Hidup

Ancaman Senyap di Meja Kerja: Hindari 5 Kebiasaan Buruk WFH Ini Demi Kesehatan Anda

21/11/2025
3 kompas batin wartakita_tn1
Gaya Hidup

Jeda di Tengah Badai: Tiga Kompas Batin untuk Mengarungi Gelombang Hidup

20/11/2025
merawat-aki-mobil-dimusim-hujan-2_cr
Otomotif

Ancaman Mogok Akibat Aki Lemah di Musim Hujan: Kenapa Perawatan Mandiri Mobil LCGC Jadi Krusial?

16/11/2025
ilustrasi pria berketombe
Gaya Hidup

Rambut Rontok Parah? Kenali Penyebab dan Solusi Alami

24/11/2025
Ini 4 Serum Ajaib Wajib Punya untuk Melindungi Rambut dari Panas_wartakita.id
Fashion & Kecantikan

Rahasia Kilau Rambut Jisoo Bukan Cuma Alat Mahal! 4 “Serum Ajaib” Wajib Punya untuk Lindungi Rambut dari Panas

29/11/2025
vespa gts supertech
Otomotif

Update Harga OTR & Simulasi Kredit Vespa Matic 2025: Dari LX 125 hingga GTS 300 Super Tech

29/11/2025
1763889026-rahasia-kulit-glowing-di-rumah-spa-mandiri-perawatan-diri.jpg
Fashion & Kecantikan

Rahasia Kulit Glowing di Rumah: Spa Mandiri & Perawatan Diri untuk Beauty Besties

23/11/2025
1763287827_Smoothing-vs-Rebonding-vs-Keratin-Mana-yang-Terbaik-untuk-Rambutmu.jpg
Fashion & Kecantikan

Smoothing vs Rebonding vs Keratin: Mana yang Terbaik untuk Rambutmu?

16/11/2025
tips-keselamatan
Alam dan Lingkungan Hidup

Tips Keselamatan Saat Gempa Bumi

23/12/2023

Gempa bumi tidak seperti kejadian alam lainnya yang masih bisa diprediksi jauh-jauh hari dengan lebih akurat.

Read moreDetails
  • beranda
  • kontak
  • layanan
  • beriklan
  • privasi
  • perihal

©2021 wartakita media

  • Login
No Result
View All Result
  • 🏚️
  • ALAM
  • WARTA
    • PEMBELAJARAN
    • HUKUM
    • NUSANTARA
    • OLAHRAGA
    • TEKNOLOGI
    • KULINER
    • OTOMOTIF
    • SEPAK BOLA
    • #CEKFAKTA
  • GAYA
  • MAKASSAR
  • TEKNOLOGI
  • KONTAK
    • Mari Bermitra
    • Tentang Wartakita
    • Tim Redaksi
    • Kebijakan Privasi
    • TRAKTIR KOPI

©2021 wartakita media

wartakita.id menggunakan cookies tanpa mengorbankan privasi pengunjung.