Selasa, 7 Juli 2026
  • beranda
  • kontak
  • layanan
  • beriklan
  • privasi
  • perihal
WartakitaID
  • 🏚️
  • ALAM
  • WARTA
    • PEMBELAJARAN
    • HUKUM
    • NUSANTARA
    • OLAHRAGA
    • TEKNOLOGI
    • KULINER
    • OTOMOTIF
    • SEPAK BOLA
    • #CEKFAKTA
  • GAYA
  • MAKASSAR
  • TEKNOLOGI
  • KONTAK
    • Mari Bermitra
    • Tentang Wartakita
    • Tim Redaksi
    • Kebijakan Privasi
    • TRAKTIR KOPI
No Result
View All Result
WartakitaID
  • 🏚️
  • ALAM
  • WARTA
    • PEMBELAJARAN
    • HUKUM
    • NUSANTARA
    • OLAHRAGA
    • TEKNOLOGI
    • KULINER
    • OTOMOTIF
    • SEPAK BOLA
    • #CEKFAKTA
  • GAYA
  • MAKASSAR
  • TEKNOLOGI
  • KONTAK
    • Mari Bermitra
    • Tentang Wartakita
    • Tim Redaksi
    • Kebijakan Privasi
    • TRAKTIR KOPI
No Result
View All Result
WartakitaID
No Result
View All Result
Home Opini

Merawat Indonesia: Bukan dengan Menangkap Pengibar Bendera, Tapi Nyalakan Dapur Rakyat

by A. Burhany
28/12/2025
in Opini
Reading Time: 6 mins read
A A
merawat indonesia 9

Di Lhokseumawe, Aceh, pada malam yang basah setelah banjir, sebuah insiden kembali menguji nalar berbangsa kita. Konvoi bantuan kemanusiaan dicegat, bendera bulan bintang diturunkan, dan kekerasan fisik tak terhindarkan.

Di permukaan, ini tampak seperti episode klasik: aparat keamanan versus separatis. Namun, jika kita berani melihat lebih dalam—melampaui laporan situasi harian dan metrik keberhasilan operasi—kita akan menemukan pola sejarah yang berulang dengan mengerikan karena terus diabaikan.

Insiden 25 Desember 2025 ini bukanlah peristiwa yang berdiri sendiri. Ia adalah gejala dari penyakit lama yang tak kunjung sembuh di tubuh republik ini: ketidakadilan yang meradang menjadi perlawanan.

Benang Merah “Luka Keadilan”

World Cup 2026
World Cup 2026

Sejarah Indonesia mencatat bahwa pemberontakan jarang sekali dimulai dari ideologi murni. Dari ujung barat hingga timur, tarikan garis sejarah membuktikan bahwa perlawanan lahir dari “perut yang lapar” dan “harga diri yang diinjak”.

Lihatlah Aceh di masa lalu. Gerakan yang kita labeli separatisme itu tidak tumbuh semata-mata karena keinginan mendirikan negara agama. Ia membesar di tahun 1970-an, ketika ladang gas Arun ditemukan dan ribuan triliun rupiah kekayaan alam disedot ke pusat, sementara rakyat di sekitar kilang tetap miskin. Kekecewaan ekonomi itulah penyakit aslinya. Ketika Jakarta menjawabnya dengan Operasi Militer (DOM), kekecewaan itu bermutasi menjadi dendam darah.

Hari ini, pola itu berulang: warga kecewa karena bantuan banjir lambat (ketidakadilan penanganan), bendera putih yang mereka kibarkan ‘cuma’ dianggap noise, bukan voice, lalu mereka mengibarkan bendera lama sebagai simbol protes. Simbol itu hanyalah teriakan; akarnya adalah rasa diabaikan.

Lihatlah Papua. Di balik label OPM atau KKB, terdapat luka batin akibat kekayaan alam yang dikeruk tanpa menyisakan kesejahteraan setara, ditambah dengan pendegradasian rasial yang membuat mereka merasa tidak “dimanusiakan” dalam sistem sosial kita. Pembangunan infrastruktur fisik hanyalah obat pereda nyeri yang memadamkan gejala ketertinggalan, namun tidak menyentuh sel kanker ketidakadilan itu.

Bahkan mundur ke era PRRI/Permesta di tahun 1950-an, pemberontakan para perwira di Sumatera dan Sulawesi adalah koreksi atas pembangunan yang Jawa-sentris. Ketika tuntutan pemerataan (koreksi) dianggap makar, senjata pun bicara.

Jebakan Sindrom “KPI”

Sayangnya, respons negara sering kali terjebak pada sindrom “KPI” (Key Performance Indicator) yang dangkal.

Dalam kasus Aceh kemarin, keberhasilan mungkin diukur dari narasi: “Massa bubar”, “Bendera turun”, “Senjata disita”. Secara metrik keamanan, itu adalah sukses.

Namun secara penyelesaian masalah bangsa, itu adalah kegagalan total. Mengapa? Karena rasa lapar dan kecewa korban banjir belum terobati.

Besok lusa, bendera itu—atau simbol perlawanan lainnya—akan naik lagi karena “penyakitnya” (ketidakadilan distribusi) masih ada.

Aparat di lapangan, yang juga adalah anak-anak bangsa, sering kali hanya menjalankan tugas dalam koridor komando yang kaku: “Jaga NKRI Harga Mati”.

Tanpa panduan kemanusiaan yang spesifik di daerah bencana, kelelahan fisik dan mental membuat mereka merespons simbol perlawanan warga sebagai ancaman militer, bukan sebagai jeritan putus asa.

Video yang beredar memperlihatkan ketegangan antara aparat dan warga, popor senjata yang melayang, dan bendera bulan bintang yang disita. Namun, di balik riuh rendah saling tuding soal “separatisme” versus “pelanggaran HAM”, ada satu kenyataan senyap yang luput kita bicarakan: Kelelahan Kolektif.

Mari kita lepaskan sejenak kacamata politik dan mengenakan kacamata kemanusiaan dalam melihat peristiwa ini.

BACA JUGA:

25 Juni: Habibie Factor, Jejak Perang Korea, Buku Harian Anne Frank, dan Kepergian Michael Jackson

Sejarah Hari Ini 21 Juni: Pelarian Louis XVI hingga Fajar Komputer Modern

15 Juni: Dari Magna Carta hingga Kelahiran Sriwijaya, Jejak Sejarah yang Mengukir Peradaban Modern

Blackout Sumatera 22 Mei 2026: Akar Masalah Teknis Transmisi dan Misteri Suara Helikopter Sebelum Gelap

Menko Yusril sebut tak ada larangan nobar Film Pesta Babi

Di satu sisi, kita melihat prajurit TNI. Mereka adalah anak-anak bangsa yang didoktrin untuk patuh pada komando. Tanpa instruksi spesifik yang memandu detail gerak-gerik kemanusiaan di lapangan, naluri dasar mereka adalah menjaga kedaulatan—”NKRI Harga Mati”. Ketika kelelahan fisik mendera pasca-operasi bencana, dan dihadapkan pada provokasi simbolik, batas kesabaran itu runtuh.

Reaksi represif yang muncul mungkin bukan karena kebencian, melainkan karena absennya panduan teknis untuk “mematikan” mode tempur dan menyalakan mode pengayom di situasi krisis.

Di sisi lain, kita melihat rakyat jelata yang terluka. Bukan hanya oleh bencana alam, tapi oleh rasa ketidakadilan yang menumpuk. Ketika bantuan terlambat dan perut lapar, logika “menang atau kalah” tidak lagi berlaku.

Pengibaran bendera atau simbol perlawanan bukanlah strategi militer untuk makar; itu adalah jeritan putus asa. Itu adalah bentuk perlawanan dari mereka yang merasa tidak punya pilihan lain untuk didengar. Mereka melawan bukan karena yakin akan menang, tapi karena diam bukan lagi pilihan.

Kesalahan terbesar kita hari ini adalah melabeli salah satu pihak sebagai “Lawan”.

Tidak ada lawan di Aceh hari ini. Tidak ada musuh negara di tenda pengungsian. Yang ada hanyalah sesama saudara sebangsa yang sama-sama lelah fisik, lelah mental, dan mulai kehilangan harapan.

Konflik ini tidak akan selesai dengan membakar bendera “lawan”, karena sesungguhnya tidak ada bendera yang perlu dimusuhi selain bendera kemiskinan dan ketidakadilan. Konflik ini hanya bisa diredam jika para pemangku kepentingan (stakeholders) mampu hadir bukan sekadar sebagai komandan yang memberi perintah makro, tapi sebagai teladan yang ikut mengerjakan instruksinya.

Ketika keteladanan kecil itu hadir, rasa curiga akan luruh.

Tidak Ada Musuh, Hanya Kelelahan

Sudah saatnya kita mengubah kacamata. Tidak ada “lawan” di Aceh, di Papua, atau di daerah konflik lainnya. Yang ada adalah sesama saudara yang sedang lelah. Lelah berharap akan keadilan dan pemerataan.

Rakyat lelah menanti keadilan dan bantuan yang tak kunjung tiba. Aparat lelah menjaga stabilitas tanpa dukungan kebijakan yang menyentuh akar masalah. Statemen-statemen tanpa empati dan logika keluar dari para pejabat ikut memperburuk situasi. Ketika dua pihak yang kelelahan ini berbenturan, yang terjadi adalah tragedi, bukan kemenangan salah satu pihak.

Gerakan perlawanan di Indonesia sejatinya adalah “Language of the Unheard”—bahasa mereka yang tidak didengar. Mereka berteriak minta adil soal ekonomi, pusat mengirim pasukan. Mereka berteriak minta dihormati hak asasinya, pusat mengirim beton dan aspal.

Menyalakan Dapur Rakyat

Merawat Indonesia: Bukan dengan Menangkap Pengibar Bendera, Tapi Nyalakan Dapur Rakyat - image 3

Merawat Indonesia tidak bisa lagi hanya dengan narasi “NKRI Harga Mati” yang buta tuli. Narasi itu harus dibarengi dengan “Keadilan Harga Mati”. Tanpa keadilan, persatuan hanya menjadi sangkar besi yang membelenggu, bukan rumah yang nyaman untuk berteduh.

Kita tidak bisa memadamkan api separatisme dengan menangkan dan membakar bendera yang dikibarkan. Kita hanya bisa memadamkannya dengan “menyalakan dapur rakyat”. Pastikan bantuan banjir tiba tepat waktu, pastikan kue pembangunan terbagi rata, dan pastikan setiap warga negara—apa pun etnis dan latar belakangnya—merasa dimanusiakan oleh negaranya sendiri.

Hanya dengan itulah, bendera perlawanan akan turun dengan sendirinya, digantikan oleh rasa memiliki yang tulus terhadap Republik ini.

Add wartakita.id as a preferred source on Google

Tags: AcehBangsaesaihumanioraHumanismeKeadilan SosialKemanusiaanRedaksianaResolusi KonflikSejarahSejarah Bangsa
Share16Tweet10Send
World Cup 2026

ARTIKEL TERKAIT

ekonom-1a

Bongkar Mesin “Ekonomi Zombie”: Cetak Biru Penyelamatan Kelas Menengah dari Meja Pengambil Kebijakan

11/06/2026
ekonomi-1-jpg

Mengapa Ekonomi Kita Belum Ambruk? Membedah “Ekonomi Zombie” dan Ilusi Ketahanan Kelas Menengah

11/06/2026
pesta-babi

Kontroversi Film “Pesta Babi”: Narasi Pembangunan, Hak Adat Papua, dan Lingkaran Kekuasaan

12/05/2026
Prof-Dr-H-Umar-Shihab-BW

Selamat Jalan, Pak Umar

23/03/2026
utama-30

Penutup Esai Ramadan #30: Satu Hal Saja

19/03/2026
utama-29

Esai Ramadan #29: Menuai Hujan dan Residu yang Tersisa

18/03/2026
sisipan-28

Esai Ramadan #28: Azan dan Kepulangan yang Sejati

17/03/2026
utama-27

Esai Ramadan #27: Jelang Perpisahan dengan Tamu yang Memuliakan

16/03/2026

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

I agree to the Terms & Conditions and Privacy Policy.

TERPOPULER-SEPEKAN

  • wisata dan tradisi nyekar di pulau libukang palopo

    Wisata Dan Tradisi Nyekar Di Pulau Libukang Palopo

    142 shares
    Share 57 Tweet 36
  • Anggaran Rp 30 Juta per Orang untuk Latihan Militer Calon Manajer Kopdes, Hasanuddin Usulkan Penghapusan

    23 shares
    Share 9 Tweet 6
  • APBN 2026: Mengurai Mitos Ketergantungan Pajak, Menelisik Jalan Kemakmuran Berkelanjutan

    160 shares
    Share 64 Tweet 40
  • Pajak E-Commerce Mulai 1 Juli 2026: Skema Baru dan Ketentuan Penting untuk Pedagang Online Indonesia

    16 shares
    Share 6 Tweet 4
  • Windows 12 Lite: Sang Penyelamat Perangkat Keras Jadul? Mengupas Tuntas Potensi OS Ringan Microsoft

    16 shares
    Share 6 Tweet 4
  • Kiper Paraguay Kritik Kylian Mbappé: Tuduhan Perilaku Tidak Sportif Usai Laga Prancis

    15 shares
    Share 6 Tweet 4
  • Pajak JHT: Aturan, Polemik Aturan, dan Rekomendasi Solusi Keadilan

    15 shares
    Share 6 Tweet 4
  • Prabowo Soroti Arus Modal Keluar Rp51,8 Triliun, Fokus Bentuk Satgas Atasi Hambatan Investasi

    43 shares
    Share 17 Tweet 11
  • RS Kemenkes Makassar Resmi Beroperasi: Pusat Kesehatan Internasional untuk Indonesia (Timur)

    153 shares
    Share 61 Tweet 38
  • Piala Dunia 2026 Berlanjut ke 16 Besar, Siapa Saja yang Lolos?

    14 shares
    Share 6 Tweet 4
wartakita-id-buku-saku-bencana-bnpb_cr

Unduh Buku Saku “SIAGA BENCANA” dari BNPB

02/11/2023

Buku saku siaga bencana ini tidak menjamin keselamatan Anda. Namun, memberikan pedoman secara umum untuk kesiapsiagaan.

Read moreDetails

WARTAKITA

parfum untuk jomblo_wartakita.id
Fashion & Kecantikan

Bosan Jomblo atau Hubungan Terasa Hambar? Pikat dengan 4 Parfum “Date Night” Menggoda Ini

29/11/2025
1766621435-7-gadget-traveling-wajib-bawa-buat-liburan-nataru-anti-lowbat.jpg
Gadget

7 Gadget Traveling Wajib Bawa Buat Liburan Nataru (Anti Lowbat)

25/12/2025
Alternatif Hair Styler Canggih Mulai 300 Ribuan_wartakita.id
Fashion & Kecantikan

Ingin Rambut ‘Badai’ ala Jisoo Tapi Budget Terbatas? Ini 3 Alternatif Hair Styler Canggih Mulai 300 Ribuan!

29/11/2025
Jisoo+Dyson
Gadget

Jisoo BLACKPINK dan Dyson: Rahasia Rambut Sehat Berkilau

21/11/2025
Hacker-Gunakan-AI-Claude-Code-untuk-Serangan-Otonomus-–-Repiw.jpg
Gadget

Hacker Gunakan AI Claude Code untuk Serangan Otonomus

14/11/2025
featured 1_tn1
Fashion & Kecantikan

Tren Hijab 2025-2026: 25+ Gaya Fashion Muslim Kekinian

14/11/2025
Seni Merawat Vespa Matic_wartakita.id
Otomotif

Seni Merawat Vespa Matic: Bebaskan Gredek, Nikmati Perjalanan Halus

06/12/2025
telegram-bot
Gadget

Labirin Pilihan Smartphone Modern: Dari Fotografi Hingga Gaming

15/11/2025
insta360-go-3s-780x470.jpg
Gadget

Insta360 GO 3S Hadir dengan Video 4K dan Dukungan Apple Find My

25/07/2024
Ini 4 Serum Ajaib Wajib Punya untuk Melindungi Rambut dari Panas_wartakita.id
Fashion & Kecantikan

Rahasia Kilau Rambut Jisoo Bukan Cuma Alat Mahal! 4 “Serum Ajaib” Wajib Punya untuk Lindungi Rambut dari Panas

29/11/2025
parfum di tempat kerja_wartakita.id
Fashion & Kecantikan

Ingin Dihormati di Kantor? Ini 4 “Power Scent” Pria & Wanita yang Bikin Aura Anda Seperti CEO

29/11/2025
ilustrasi pria berketombe
Gaya Hidup

Rambut Rontok Parah? Kenali Penyebab dan Solusi Alami

24/11/2025
tips-keselamatan
Alam dan Lingkungan Hidup

Tips Keselamatan Saat Gempa Bumi

23/12/2023

Gempa bumi tidak seperti kejadian alam lainnya yang masih bisa diprediksi jauh-jauh hari dengan lebih akurat.

Read moreDetails
  • beranda
  • kontak
  • layanan
  • beriklan
  • privasi
  • perihal

©2021 wartakita media

  • Login
No Result
View All Result
  • 🏚️
  • ALAM
  • WARTA
    • PEMBELAJARAN
    • HUKUM
    • NUSANTARA
    • OLAHRAGA
    • TEKNOLOGI
    • KULINER
    • OTOMOTIF
    • SEPAK BOLA
    • #CEKFAKTA
  • GAYA
  • MAKASSAR
  • TEKNOLOGI
  • KONTAK
    • Mari Bermitra
    • Tentang Wartakita
    • Tim Redaksi
    • Kebijakan Privasi
    • TRAKTIR KOPI

©2021 wartakita media

wartakita.id menggunakan cookies tanpa mengorbankan privasi pengunjung.