Rabu, 21 Oktober 2026
  • beranda
  • kontak
  • layanan
  • beriklan
  • privasi
  • perihal
WartakitaID
  • 🏚️
  • ALAM
  • WARTA
    • PEMBELAJARAN
    • HUKUM
    • NUSANTARA
    • OLAHRAGA
    • TEKNOLOGI
    • KULINER
    • OTOMOTIF
    • SEPAK BOLA
    • #CEKFAKTA
  • GAYA
  • MAKASSAR
  • TEKNOLOGI
  • KONTAK
    • Mari Bermitra
    • Tentang Wartakita
    • Tim Redaksi
    • Kebijakan Privasi
    • TRAKTIR KOPI
No Result
View All Result
WartakitaID
  • 🏚️
  • ALAM
  • WARTA
    • PEMBELAJARAN
    • HUKUM
    • NUSANTARA
    • OLAHRAGA
    • TEKNOLOGI
    • KULINER
    • OTOMOTIF
    • SEPAK BOLA
    • #CEKFAKTA
  • GAYA
  • MAKASSAR
  • TEKNOLOGI
  • KONTAK
    • Mari Bermitra
    • Tentang Wartakita
    • Tim Redaksi
    • Kebijakan Privasi
    • TRAKTIR KOPI
No Result
View All Result
WartakitaID
No Result
View All Result
Home Opini

Merawat Indonesia: Bukan dengan Menangkap Pengibar Bendera, Tapi Nyalakan Dapur Rakyat

by A. Burhany
28/12/2025
in Opini
Reading Time: 6 mins read
A A
merawat indonesia 9

BACA JUGA:

BMKG Peringatkan Hujan Lebat di Aceh Besok, Perhatikan Wilayah Ini

BMKG Ungkap: Kabut Asap di Aceh Disebabkan Asap Kiriman dari Kalimantan dan Sumatera

Prioritas Kesehatan Warga Binaan di Lembaga Pemasyarakatan

Perundungan Siswi Pramuka di Bogor: Kekecewaan Sekolah dan Penyelesaian Kekeluargaan

Bagaimana Norwegia ‘Menampar’ FIFA dengan Diplomasi Keberanian di Panggung Global

Di Lhokseumawe, Aceh, pada malam yang basah setelah banjir, sebuah insiden kembali menguji nalar berbangsa kita. Konvoi bantuan kemanusiaan dicegat, bendera bulan bintang diturunkan, dan kekerasan fisik tak terhindarkan.

Di permukaan, ini tampak seperti episode klasik: aparat keamanan versus separatis. Namun, jika kita berani melihat lebih dalam—melampaui laporan situasi harian dan metrik keberhasilan operasi—kita akan menemukan pola sejarah yang berulang dengan mengerikan karena terus diabaikan.

Insiden 25 Desember 2025 ini bukanlah peristiwa yang berdiri sendiri. Ia adalah gejala dari penyakit lama yang tak kunjung sembuh di tubuh republik ini: ketidakadilan yang meradang menjadi perlawanan.

Benang Merah “Luka Keadilan”

Sejarah Indonesia mencatat bahwa pemberontakan jarang sekali dimulai dari ideologi murni. Dari ujung barat hingga timur, tarikan garis sejarah membuktikan bahwa perlawanan lahir dari “perut yang lapar” dan “harga diri yang diinjak”.

Lihatlah Aceh di masa lalu. Gerakan yang kita labeli separatisme itu tidak tumbuh semata-mata karena keinginan mendirikan negara agama. Ia membesar di tahun 1970-an, ketika ladang gas Arun ditemukan dan ribuan triliun rupiah kekayaan alam disedot ke pusat, sementara rakyat di sekitar kilang tetap miskin. Kekecewaan ekonomi itulah penyakit aslinya. Ketika Jakarta menjawabnya dengan Operasi Militer (DOM), kekecewaan itu bermutasi menjadi dendam darah.

Hari ini, pola itu berulang: warga kecewa karena bantuan banjir lambat (ketidakadilan penanganan), bendera putih yang mereka kibarkan ‘cuma’ dianggap noise, bukan voice, lalu mereka mengibarkan bendera lama sebagai simbol protes. Simbol itu hanyalah teriakan; akarnya adalah rasa diabaikan.

Lihatlah Papua. Di balik label OPM atau KKB, terdapat luka batin akibat kekayaan alam yang dikeruk tanpa menyisakan kesejahteraan setara, ditambah dengan pendegradasian rasial yang membuat mereka merasa tidak “dimanusiakan” dalam sistem sosial kita. Pembangunan infrastruktur fisik hanyalah obat pereda nyeri yang memadamkan gejala ketertinggalan, namun tidak menyentuh sel kanker ketidakadilan itu.

Bahkan mundur ke era PRRI/Permesta di tahun 1950-an, pemberontakan para perwira di Sumatera dan Sulawesi adalah koreksi atas pembangunan yang Jawa-sentris. Ketika tuntutan pemerataan (koreksi) dianggap makar, senjata pun bicara.

Jebakan Sindrom “KPI”

Sayangnya, respons negara sering kali terjebak pada sindrom “KPI” (Key Performance Indicator) yang dangkal.

Dalam kasus Aceh kemarin, keberhasilan mungkin diukur dari narasi: “Massa bubar”, “Bendera turun”, “Senjata disita”. Secara metrik keamanan, itu adalah sukses.

Namun secara penyelesaian masalah bangsa, itu adalah kegagalan total. Mengapa? Karena rasa lapar dan kecewa korban banjir belum terobati.

Besok lusa, bendera itu—atau simbol perlawanan lainnya—akan naik lagi karena “penyakitnya” (ketidakadilan distribusi) masih ada.

Aparat di lapangan, yang juga adalah anak-anak bangsa, sering kali hanya menjalankan tugas dalam koridor komando yang kaku: “Jaga NKRI Harga Mati”.

Tanpa panduan kemanusiaan yang spesifik di daerah bencana, kelelahan fisik dan mental membuat mereka merespons simbol perlawanan warga sebagai ancaman militer, bukan sebagai jeritan putus asa.

Video yang beredar memperlihatkan ketegangan antara aparat dan warga, popor senjata yang melayang, dan bendera bulan bintang yang disita. Namun, di balik riuh rendah saling tuding soal “separatisme” versus “pelanggaran HAM”, ada satu kenyataan senyap yang luput kita bicarakan: Kelelahan Kolektif.

Mari kita lepaskan sejenak kacamata politik dan mengenakan kacamata kemanusiaan dalam melihat peristiwa ini.

Di satu sisi, kita melihat prajurit TNI. Mereka adalah anak-anak bangsa yang didoktrin untuk patuh pada komando. Tanpa instruksi spesifik yang memandu detail gerak-gerik kemanusiaan di lapangan, naluri dasar mereka adalah menjaga kedaulatan—”NKRI Harga Mati”. Ketika kelelahan fisik mendera pasca-operasi bencana, dan dihadapkan pada provokasi simbolik, batas kesabaran itu runtuh.

Reaksi represif yang muncul mungkin bukan karena kebencian, melainkan karena absennya panduan teknis untuk “mematikan” mode tempur dan menyalakan mode pengayom di situasi krisis.

Di sisi lain, kita melihat rakyat jelata yang terluka. Bukan hanya oleh bencana alam, tapi oleh rasa ketidakadilan yang menumpuk. Ketika bantuan terlambat dan perut lapar, logika “menang atau kalah” tidak lagi berlaku.

Pengibaran bendera atau simbol perlawanan bukanlah strategi militer untuk makar; itu adalah jeritan putus asa. Itu adalah bentuk perlawanan dari mereka yang merasa tidak punya pilihan lain untuk didengar. Mereka melawan bukan karena yakin akan menang, tapi karena diam bukan lagi pilihan.

Kesalahan terbesar kita hari ini adalah melabeli salah satu pihak sebagai “Lawan”.

Tidak ada lawan di Aceh hari ini. Tidak ada musuh negara di tenda pengungsian. Yang ada hanyalah sesama saudara sebangsa yang sama-sama lelah fisik, lelah mental, dan mulai kehilangan harapan.

Konflik ini tidak akan selesai dengan membakar bendera “lawan”, karena sesungguhnya tidak ada bendera yang perlu dimusuhi selain bendera kemiskinan dan ketidakadilan. Konflik ini hanya bisa diredam jika para pemangku kepentingan (stakeholders) mampu hadir bukan sekadar sebagai komandan yang memberi perintah makro, tapi sebagai teladan yang ikut mengerjakan instruksinya.

Ketika keteladanan kecil itu hadir, rasa curiga akan luruh.

Tidak Ada Musuh, Hanya Kelelahan

Sudah saatnya kita mengubah kacamata. Tidak ada “lawan” di Aceh, di Papua, atau di daerah konflik lainnya. Yang ada adalah sesama saudara yang sedang lelah. Lelah berharap akan keadilan dan pemerataan.

Rakyat lelah menanti keadilan dan bantuan yang tak kunjung tiba. Aparat lelah menjaga stabilitas tanpa dukungan kebijakan yang menyentuh akar masalah. Statemen-statemen tanpa empati dan logika keluar dari para pejabat ikut memperburuk situasi. Ketika dua pihak yang kelelahan ini berbenturan, yang terjadi adalah tragedi, bukan kemenangan salah satu pihak.

Gerakan perlawanan di Indonesia sejatinya adalah “Language of the Unheard”—bahasa mereka yang tidak didengar. Mereka berteriak minta adil soal ekonomi, pusat mengirim pasukan. Mereka berteriak minta dihormati hak asasinya, pusat mengirim beton dan aspal.

Menyalakan Dapur Rakyat

Merawat Indonesia: Bukan dengan Menangkap Pengibar Bendera, Tapi Nyalakan Dapur Rakyat - image 1

Merawat Indonesia tidak bisa lagi hanya dengan narasi “NKRI Harga Mati” yang buta tuli. Narasi itu harus dibarengi dengan “Keadilan Harga Mati”. Tanpa keadilan, persatuan hanya menjadi sangkar besi yang membelenggu, bukan rumah yang nyaman untuk berteduh.

Kita tidak bisa memadamkan api separatisme dengan menangkan dan membakar bendera yang dikibarkan. Kita hanya bisa memadamkannya dengan “menyalakan dapur rakyat”. Pastikan bantuan banjir tiba tepat waktu, pastikan kue pembangunan terbagi rata, dan pastikan setiap warga negara—apa pun etnis dan latar belakangnya—merasa dimanusiakan oleh negaranya sendiri.

Hanya dengan itulah, bendera perlawanan akan turun dengan sendirinya, digantikan oleh rasa memiliki yang tulus terhadap Republik ini.

Rekomendasikan Wartakita.id
Tags: AcehBangsaesaihumanioraHumanismeKeadilan SosialKemanusiaanRedaksianaResolusi KonflikSejarahSejarah Bangsa
Share16Tweet10Send

ARTIKEL TERKAIT

Merawat Indonesia: Bukan dengan Menangkap Pengibar Bendera, Tapi Nyalakan Dapur Rakyat - Featured

Maulid, Karhutla, dan Kemarahan Publik: Ironi Moral Tanpa Amanah

25/08/2026
Merawat Indonesia: Bukan dengan Menangkap Pengibar Bendera, Tapi Nyalakan Dapur Rakyat - Featured

Skenario Reformasi: Senjata Coretax 2026 dan Jalan Terang Menuju Pertumbuhan 6%

28/07/2026
Merawat Indonesia: Bukan dengan Menangkap Pengibar Bendera, Tapi Nyalakan Dapur Rakyat - Featured

Skenario Status Quo: Bayang-Bayang Utang Rp10.000 T dan Ancaman Permanen Middle-Income Trap

28/07/2026
Merawat Indonesia: Bukan dengan Menangkap Pengibar Bendera, Tapi Nyalakan Dapur Rakyat - Featured

Trajektori 2026-2031: Menuju Indonesia Emas atau Terjebak Krisis Permanen?

28/07/2026
Merawat Indonesia: Bukan dengan Menangkap Pengibar Bendera, Tapi Nyalakan Dapur Rakyat - Featured

Selamatkan APBN 2026: Redefinisi Anggaran Pendidikan 20% dan Ketegasan BPI Danantara

28/07/2026
Merawat Indonesia: Bukan dengan Menangkap Pengibar Bendera, Tapi Nyalakan Dapur Rakyat - Featured

Paradoks Desentralisasi 2026: Mengapa Anggaran Daerah Dipangkas demi Program Populis Pusat?

28/07/2026
Merawat Indonesia: Bukan dengan Menangkap Pengibar Bendera, Tapi Nyalakan Dapur Rakyat - Featured

Siklus Anggaran Politis dan Korupsi Rp279 Triliun: Saat Uang Rakyat Jadi Ongkos ‘Elit’ yang Hidup dalam Siklus 5 Tahunan

28/07/2026
Merawat Indonesia: Bukan dengan Menangkap Pengibar Bendera, Tapi Nyalakan Dapur Rakyat - Featured

Kualitas Layanan Publik Stagnan: Mengurai Korupsi, Siklus Politis, dan Absennya Keadilan Pajak

28/07/2026

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

I agree to the Terms & Conditions and Privacy Policy.

TERPOPULER-SEPEKAN

  • Sebuah ponsel pintar modern dengan desain ramping dan ringan. Layar ponsel berwarna cerah dan diletakkan di latar putih minimalis. Di depan, ada kapsul transparan kecil yang berisi partikel partikel s

    Baterai Silicon Carbon: Solusi Inovatif untuk Kapasitas HP Tanpa Bodi Tebal

    44 shares
    Share 18 Tweet 11
  • Kelangkaan BBM Berulang: Antrean Mengular, Warga Bermalam di SPBU, Stok Nasional Diklaim Aman

    35 shares
    Share 14 Tweet 9
  • Kode CMD Untuk Mempercepat Kinerja Laptop

    862 shares
    Share 345 Tweet 216
  • OJK Periksa Underwriter dan Direksi Sekuritas Terkait Dugaan Pidana Pasar Modal

    29 shares
    Share 12 Tweet 7
  • Siap-Siap Jatuh Cinta: Deretan Film Romantis Paling Dinanti di Tahun 2026

    69 shares
    Share 28 Tweet 17
  • OJK Denda Tiga Emiten Konglomerat Rp 2,1 Triliun

    24 shares
    Share 10 Tweet 6
  • Ratusan Warga Kaltim Tebar Benih di Lahan Sisa Karhutla untuk Cegah Perkebunan Sawit

    23 shares
    Share 9 Tweet 6
  • Irjen Pol (Purn) Napoleon Bonaparte Meninggal Dunia

    23 shares
    Share 9 Tweet 6
  • Banjir Bandang Koto Tangah Padang: 498 Jiwa Terdampak, Tak Ada Korban Jiwa

    23 shares
    Share 9 Tweet 6
  • Menlu Sambut Sekjen PBB di Bandara, Momen Diplomatik Indonesia

    22 shares
    Share 9 Tweet 6
wartakita-id-buku-saku-bencana-bnpb_cr

Unduh Buku Saku “SIAGA BENCANA” dari BNPB

02/11/2023

Buku saku siaga bencana ini tidak menjamin keselamatan Anda. Namun, memberikan pedoman secara umum untuk kesiapsiagaan.

Read moreDetails

WARTAKITA

1766621435-7-gadget-traveling-wajib-bawa-buat-liburan-nataru-anti-lowbat.jpg
Gadget

7 Gadget Traveling Wajib Bawa Buat Liburan Nataru (Anti Lowbat)

25/12/2025
vespa sprint atau primavera_wartakita.id
Otomotif

Vespa Primavera vs. Sprint 2025: Dua Jiwa, Satu Mesin, Pilihan Anda?

30/11/2025
1763287827_Smoothing-vs-Rebonding-vs-Keratin-Mana-yang-Terbaik-untuk-Rambutmu.jpg
Fashion & Kecantikan

Smoothing vs Rebonding vs Keratin: Mana yang Terbaik untuk Rambutmu?

16/11/2025
insta360-go-3s-780x470.jpg
Gadget

Insta360 GO 3S Hadir dengan Video 4K dan Dukungan Apple Find My

25/07/2024
4 rekomendasi parfum anti gerah dan tahan lama di cuaca indonesia_wartakita.id
Fashion & Kecantikan

Parfum Mahal Tapi Cepat Hilang Kena Keringat? 4 Rekomendasi Parfum “Anti-Gerah” Tahan Lama di Cuaca Indonesia

30/11/2025
Mug CIVAGO dengan lapisan keramik & insulasi vakum tahan 12 jam 1-salwasalon
Gaya Hidup

Aroma Kopi Pagi Anda, Tetap Hangat Sempurna Hingga Siang

06/12/2025
parfum dengan kharisma sejati 1_cr
Fashion & Kecantikan

Kenapa Parfum Anda Tidak Meninggalkan Kesan? (Dan Cara Mengatasinya)

16/11/2025
vespa 2026_cr_tn1
Otomotif

Bukan Sekadar Skuter: Panduan Memilih Vespa Impian Anda di Tahun 2026

23/11/2025
3 kompas batin wartakita_tn1
Gaya Hidup

Jeda di Tengah Badai: Tiga Kompas Batin untuk Mengarungi Gelombang Hidup

20/11/2025
img-1764775654-b12300608d9039ae
Otomotif

Modifikasi Vespa Matic: 10 Aksesoris ‘Proper’ Budget Pelajar-Sultan

04/12/2025
5 Kebiasaan Buruk WFH_cr_tn1
Gaya Hidup

Ancaman Senyap di Meja Kerja: Hindari 5 Kebiasaan Buruk WFH Ini Demi Kesehatan Anda

21/11/2025
Ini 4 Serum Ajaib Wajib Punya untuk Melindungi Rambut dari Panas_wartakita.id
Fashion & Kecantikan

Rahasia Kilau Rambut Jisoo Bukan Cuma Alat Mahal! 4 “Serum Ajaib” Wajib Punya untuk Lindungi Rambut dari Panas

29/11/2025
tips-keselamatan
Alam dan Lingkungan Hidup

Tips Keselamatan Saat Gempa Bumi

23/12/2023

Gempa bumi tidak seperti kejadian alam lainnya yang masih bisa diprediksi jauh-jauh hari dengan lebih akurat.

Read moreDetails
  • beranda
  • kontak
  • layanan
  • beriklan
  • privasi
  • perihal

©2021 wartakita media

  • Login
No Result
View All Result
  • 🏚️
  • ALAM
  • WARTA
    • PEMBELAJARAN
    • HUKUM
    • NUSANTARA
    • OLAHRAGA
    • TEKNOLOGI
    • KULINER
    • OTOMOTIF
    • SEPAK BOLA
    • #CEKFAKTA
  • GAYA
  • MAKASSAR
  • TEKNOLOGI
  • KONTAK
    • Mari Bermitra
    • Tentang Wartakita
    • Tim Redaksi
    • Kebijakan Privasi
    • TRAKTIR KOPI

©2021 wartakita media

wartakita.id menggunakan cookies tanpa mengorbankan privasi pengunjung.