Pak Umar Shihab wafat pada Jumat, 20 Maret 2026—hari ke-30 Ramadan 1447 H. Hari Jumat. Bulan Ramadan. Akhir bulan yang paling mulia. Orang-orang yang mengenalnya mengatakan itu adalah tanda. Saya yang mengenalnya, meski dari jarak yang tidak selalu dekat, percaya itu bukan kebetulan.
Beliau pergi pada usia 86 tahun. Tapi yang saya ingat bukan angkanya—yang saya ingat adalah tawa beliau yang meledak berbarengan dengan tawa Tante Cici, di meja makan di rumah Jalan Batu Putih Makassar, suatu sore di antara tahun 1989 dan 1991.
Antara tahun-tahun itu, rumah Pak Umar sudah seperti rumah kami juga. Kami berkawan akrab dengan ketiga anaknya—terutama Adi Iktimal, putra sulung beliau yang seumuran dengan kami.
Kami datang dan pergi dengan bebas, seperti yang hanya bisa terjadi di rumah orang-orang yang memang terbuka pintunya—bukan hanya secara harfiah, tapi secara jiwa.
Di meja makan itulah saya mengenal Pak Umar yang sesungguhnya. Bukan sebagai cendekiawan, bukan sebagai pejabat kampus, bukan sebagai tokoh MUI yang namanya akan tercetak di koran-koran nanti.
Namun sebagai suami yang tertawa berbarengan dengan istrinya saat bernostalgia, sebagai tuan rumah yang membuat anak-anak muda merasa betah, sebagai orang yang kebaikannya tidak perlu diumumkan karena ia hidup di dalam gestur-gestur kecil yang tidak bisa dipalsukan.
Tante Cici—almarhumah, istri beliau—setiap habis makan suka menceritakan masa-masa ketika mereka tinggal sehotel dengan kedua orang tua kami, di Hotel Siswa Makassar tahun 1960-an. Mereka semua pendatang baru, terikat ikatan dinas untuk mengembangkan IAIN Alauddin, menunggu penempatan sambil mencari tempat tinggal permanen.
Suatu sore, sambil mengupas apel untuk kami makan sebagai pencuci mulut, Tante Cici bercerita:
“Kalau ada Mamamu di hotel, kita semua yang pendatang baru merasa aman.”
“Kenapa bisa, Tante?” tanya saya penasaran.
Pak Umar dan Tante Cici tertawa berbarengan. “Makassar waktu itu masih banyak gerombolan dan preman. Kalau kami pergi mengajar dan Mamamu ada di rumah, tidak perlu khawatir. Tidak ada penjahat yang berani mendekat. Mamamu tidak segan mengusir mereka dengan balok kayu palang pintu.”
Saya pulang malam itu membawa tawa itu di dalam dada—dan juga sesuatu yang lebih berat: rasa syukur bahwa dua keluarga yang tidak saling memilih bisa saling menopang dengan cara yang sederhana dan nyata seperti itu.
Ada satu momen lain yang selalu saya ingat—momen yang kecil secara duniawi tapi besar secara karakter.
Ketika Pak Umar menjabat Wakil Rektor I dan ayah kami Wakil Rektor II di IAIN Alauddin, entah bagaimana pihak kampus mengatur pembagian mobil dinas. Ayah kami mendapat sedan Toyota Corolla Twin Cam 1600. Pak Umar mendapat Kijang Super.
Suatu hari, saat saya sedang memutar keping CD Rick Astley di kamar Adi, Pak Umar masuk dan berkata santai:
“An, bilang sama Papamu—saya mau tukaran. Sedan dengan kijang. Kau banyak bersaudara, kami di sini cuma berlima.”
Sesampai di rumah, pesan itu saya sampaikan ke ayah.
“Ah! Ternyata Pak Umar sudah tahu isi hatiku,” jawab ayah, sambil tersenyum.
Dua orang yang tidak perlu berunding panjang untuk saling memberi ruang. Dua orang yang kebaikannya tidak saling menunggu untuk dimulai.
Dan ada satu momen Ramadan yang tidak pernah saya lupakan.
Pernah sekali waktu, salat tarawih berjamaah di rumah beliau. Pak Umar yang menjadi imam. Doanya panjang, banyak, dan selalu dimulai dengan “Allahumma…”—saya mengaminkan tanpa tahu sepenuhnya apa yang sedang saya aminkan.
Usai salat, saya bertanya. Dengan sabar beliau menjelaskan satu per satu. Dan menutup penjelasannya dengan satu wasiat Baginda Nabi SAW.:
“Doa terbaik adalah rasa syukur. Karena dengan bersyukur, nikmat yang kita syukuri akan ditambah, bahkan tanpa meminta.”
Saya membawa kalimat itu pulang. Dan ternyata, tanpa saya sadari, saya masih membawanya hingga hari ini.
Prof. Dr. H. Umar Shihab lahir pada 2 Juli 1939 di Sidenreng Rappang, Sulawesi Selatan. Kakak kandung dari Prof. Dr. M. Quraish Shihab. Mantan Ketua Komisi Ukhuwah Islamiyah MUI. Anggota Pembina Yayasan Wakaf Universitas Muslim Indonesia. Ulama, cendekiawan, penggerak persaudaraan.
Tapi bagi saya, ia adalah orang yang tahu isi hati tetangganya sebelum diminta. Yang mengupas apel untuk anak-anak muda yang bukan anaknya. Yang doanya panjang di malam Ramadan, dan dengan sabar menjelaskan artinya satu per satu.
Orang baik. Baik sekali.
Setelah sekeluarga pindah ke Jakarta, hampir tidak ada kontak lagi—baik dengan putranya maupun dengan beliau. Kunjungan terakhir ke rumah Batu Putih adalah saat Tante Cici berpulang. Dan ada satu ikhtiar yang pernah kami niatkan untuk menjadi bagian dari keluarga besar beliau—namun Allah Ta’ala, melalui mendiang ibu kami, menakdirkan tidak.
Takdir yang kini saya baca ulang dengan cara yang berbeda: mungkin kami memang tidak ditakdirkan menjadi keluarga. Kami hanya ditakdirkan untuk menjadi saksi—bahwa ada orang-orang seperti Pak Umar yang lewat dalam hidup kita, meninggalkan sesuatu yang tidak ikut pergi bersama kepergiannya.
Pak Umar pergi di hari yang paling baik, di bulan yang paling mulia, pada usia yang panjang dan penuh.
Kami bersaksi: beliau orang baik. Dan beliau membaikkan sesama.
Innalillahi wa inna ilaihi raji’un. Al-Fatihah.























