Minggu, 29 Maret 2026
  • beranda
  • kontak
  • layanan
  • beriklan
  • privasi
  • perihal
WartakitaID
  • 🏠
  • ALAM
  • WARTA
    • PEMBELAJARAN
    • HUKUM
    • NUSANTARA
    • OLAHRAGA
    • TEKNOLOGI
    • KULINER
    • OTOMOTIF
    • SEPAK BOLA
    • #CEKFAKTA
  • GAYA
  • MAKASSAR
  • TEKNOLOGI
  • KONTAK
    • Mari Bermitra
    • Tentang Wartakita
    • Tim Redaksi
    • Kebijakan Privasi
    • TRAKTIR KOPI
No Result
View All Result
WartakitaID
  • 🏠
  • ALAM
  • WARTA
    • PEMBELAJARAN
    • HUKUM
    • NUSANTARA
    • OLAHRAGA
    • TEKNOLOGI
    • KULINER
    • OTOMOTIF
    • SEPAK BOLA
    • #CEKFAKTA
  • GAYA
  • MAKASSAR
  • TEKNOLOGI
  • KONTAK
    • Mari Bermitra
    • Tentang Wartakita
    • Tim Redaksi
    • Kebijakan Privasi
    • TRAKTIR KOPI
No Result
View All Result
WartakitaID
No Result
View All Result
Home Arsip 2019

Mengubah “-isme” dan “is Me” Menjadi “is Us”, Mari

by Redaktur
19/11/2019
in Arsip 2019, Opini
Reading Time: 6 mins read
A A
Mengubah “-isme” dan “is Me” Menjadi “is Us”, Mari - Arsip

Sekitar pertengahan tahun 1990 sampai 2005, “Google’ belum mendominasi mesin pencari, alamat surel dominan “Yahoo” berikut Ymessenger, ada mesin pencari “AltaVista”, Astalavista”, “Lycos” dan “Astaga!” buatan Indonesia, dan bila mencari dengan mesin pencari apa pun, menggunakan kata kunci pencarian: “anak sma, abg, anak smp, anak sekolah,” mesin pencari menampilkan indeks pecarian situs merujuk ke halamanweb porni.

Fakta yang meresahkan bagi sebagian orang, sementara sebagian yang lain asyik-asyik saja apatis.

Salah seorang warganet–belum ada istilah netizen atau warganet ketika itu, yang ada warga channel MIRC (Internet Relay Chat, M singkatan nama aplikasinya) via server DALnet, dan warga situs media sosial friendster (pertama sebelum MySpace) pelengkap percakapan di MIRC setelah menanyakan ASL (age, sex, location), diikuti permintaan halaman profil friendster–dia yang resah dan gelisah tersebut, berinisiatif mengubah fakta aktual hasil pencarian mesin pencari untuk “anak sma, abg, anak smp, anak sekolah,” yang memalukan dan membahayakan moral generasi penerus bangsa menjadi fakta tekstual.

Saat anak-anak sekolah (SD, SMP, SMA, S1, S2, S3) mengakses internet kemudian menggunakan mesin pencari dengan kata kunci di atas, pasti terpapar halaman porni tanpa dibentengi pemahaman yang cukup tentang perbedaan antara aktivitas seks sebagai kebutuhan biologis dengan seks sebagai industri dan komoditi.

Seks sebagai industri di tangan pemuda dan pemudi baru puber, sekejap mengubah syahwat sebesar nyamuk jadi lebih besar dari kuda. Sementara citra “anak sma, abg, anak smp, anak sekolah,” di internet oleh mesin pencari dirujuk ke situs-situs porni, berdasarkan algoritma kebiasaan pengguna internet di Indonesia. Demikianlah faktanya kebiasaan pengguna mesin pencari menggunakan kata kunci “anak sma, abg, anak smp, anak sekolah” saat mencari konten porni.

Ide tersebut naif, bodoh, tidak berguna, unfaedah, demikian komentar kaum yang bermasalah dengan solusi. Kaum yang menggunakan perspektif hitam putih (yang kontrasnya tajam dan radikal seperti yang sering kita gunakan menentang radikalisme) biasanya sepasang dengan semangat berkobar-kobar rentan disisipi kebencian dan fanatisme pada kebenaran dan kebaikan (entah mengapa terasa agak menggelitik ketika menambahkan ‘fanatisme’ sebelum ‘kebenaran’ dan ‘kebaikan’), mengapa tidak perang terbuka, membuat down server porni tersebut–melakukan serangan DDoS, ping flood dan semacamnya ke server di luar negeri yang menggunakan leased line minimal berkecepatan 100MBps dari terminal berkoneksi dial-up sekian KBps?–atau membanjiri kolom komentar halaman situs porni dengan kemarahan (komentar tersebut dikoreksi sendiri setelah seseorang yang mengerti ketertinggalan teknologi jejaring internet kita saat itu), atau meminta pemerintah memblokir semua situs porni.

Tentu, saran di atas bisa dilaksanakan, tapi tidak menyelesaikan masalah sampai tuntas.

Lomba tersebut, meminta para blogger menulis artikel dengan menggunakan tag atau label, dan kategori “anak sma, abg, anak smp, anak sekolah,” dengan konten tekstual sesuai kata kunci tadi, bukan hanya menghilangkan gejala, tetapi menyentuh dan mengobati sumber penyakitnya.

Lomba tersebut tidak memicu peperangan tanpa akhir, seperti virus dan anti-virus, teror dan anti-teror. Peperangan yang sebenarnya bisa sekali merupakan komoditi bisnis, seperti hal-hal di dunia yang juga saling berlawanan, tetapi sungguh keterlaluan jika menghamba pada pasar harus sampai menggadaikan moral generasi mendatang yang menjadi target pasar industri seks dan pornigrafi. Lomba unik tersebut berusaha membuka pikiran, wawasan, dan perasaan para pengguna internet yang ingin mencari situs porni menggunakan kata kunci pencarian “anak sma, abg, anak smp, anak sekolah,” membuat algoritma mesin-mesin pencari berhenti menautkan kata kunci pencarian tersebut ke situs porni.

Inisiator lomba tersebut tidak sendirian. Di internet, ide paling naif sekalipun tetap punya peminat atau pendukung, apalagi idenya memang masuk akal dan menyelesaikan masalah.

Internet mulai dibanjiri beragam artikel yang menggunakan tag atau label, dan kategori “anak sma, abg, anak smp, anak sekolah,” namun berisi konten positif. Mulai dari kegiatan ekstra kurikuler anak sekolah dan abg sampai artikel berdedikasi yang isinya menasehati para pencari situs porni dengan kata kunci pencarian “anak sma, abg, anak smp, anak sekolah,” saat terjebak dengan arahan index mesin pencari yang algoritmanya mulai ‘insaf’ dibuat berkunjung ke artikel buatan para peserta lomba dan kegiatan tersebut.

Perlahan tapi pasti, indeks hasil pencarian kata kunci, “anak sma, abg, anak smp, anak sekolah,” dialihkan oleh mesin-mesin pencari ke konten positif. Para penikmat situs pornigrafi online jika ingin memenuhi hasratnya dipaksa jujur mengakses situs porni langsung, kemudian mencari konten porni sesuai seleranya di sana. Fakta aktual akhirnya selaras dengan fakta tekstual. Hore.

Kasus di atas menarik jika menjadi pembanding cara pemerintah, ormas, dan diri kita sendiri dalam memandang (kemudian berusaha mengatasi) “radikalisme”.

Diakui atau tidak, paling mudah membuat orang kita, orang Indonesia, berkerumun, menarik kesimpulan bermodal asumsi, saling bertentangan dan berhadap-hadapan. Karakter tersebut terbawa ke dalam alam bawah sadar, sampai-sampai menjadi standar pemikiran ketika menghadapi perbedaan.

Dengan berasumsi mustahil “radikalisme” termasuk komoditi atau bisnis yang menghasilkan uang, yang lebih mudah jika dilawan dengan cara pebisnis, memutuskan rantai suply and demand misalnya, pikiran kita secara tak sadar langsung menawarkan solusi dalam bentuk ‘perang’ terbuka. Radikalisme harus dilawan dengan anti-radikalisme. “Isme” yang satu harus dilawan dengan “isme” lainnya yang dipandang lebih baik.

Padahal “isme” apa pun sama saja, tidak bertujuan membangun pola pikir yang konstruktif dan adaptif.

Sama-sama tatanan ilusi yang bertujuan mempengaruhi orang banyak agar mau bergerak bersama meraih dan mencapai tujuan dan cita-cita yang dianut oleh “isme” tersebut.

Radikalisme makin subur karena ketidakadilan. Tanpa insentif ekonomi (kabarnya selain jaminan surga, para ‘pengantin’ juga mendapat jaminan ekonomi untuk keluarga yang mereka tinggalkan, yang celakanya tidak bisa mereka pantau dan tuntut jika melanggar kontrak setelah melakukan bom bunuh diri) walau dengan iming-iming jaminan jalan pintas ke surga, tidak ada orang yang tertarik mau menjadi ‘pengantin’ bom bunuh diri jika target pembomannya adalah insitusi, lembaga, ormas, atau individu yang telah memperlakukan dirinya atau kelompoknya dengan adil. Setelah keadilan tercipta, potensi keuntungan politis dan bisnis bagi para oportunis yang sekujur hatinya dipenuhi tato ‘TEGA’ akan kehilangan suply, sekalipun pasar masih memiliki demand yang tinggi.

BACA JUGA:

Kopral Azmiadi dan Kisah Pelayanan Tanpa Batas: Ketika Seragam Melebur dalam Pengabdian Tulus

Benteng Aman Para Pencari Selamat: Saat Kritik dan Perbedaan Pendapat Dilindas Atas Nama Stabilitas

Jolly Roger di Bawah Merah Putih: Perlawanan Simbolik atau Salah Paham Kebangsaan?

Qurban dan Keberanian Melepaskan yang Kita Cintai

#MayDay Bagaimana Digitalisasi Mengubah Nasib Buruh Indonesia: Antara Peluang dan Ancaman

Radikalisme semakin subur bertemu “isme” lain lagi, narsisme yang menjadikan pemahaman yang berbeda dengan mereka sebagai olok-olok pemuas kesombongan, yang mestinya berdialog berdua, bukan di depan umum, seperti nasihat Ali bin Abu Thalib R.A., menasihati itu di ruang tertutup, kalau di tempat umum mempermalukan yang dinasehati (maupun yang menasehati).

Lomba penulisan artikel walaupun bisa disebut perang kata kunci pencarian, mereka tidak ego sentris, tidak melawan fanatisme penikmat porni dengan fanatisme lain yang dipandang lebih baik. Namun, berusaha membuka ruang dialog, meletakkan dasar berpikir konstruktif, memandang kata kunci pencarian “anak sma, abg, anak smp, anak sekolah,” yang ditautkan oleh mesin pencari ke situs porni sebagai kesalahan kita bersama. “Is us” jika tidak peduli generasi mendatang yang kelak bisa sekali menjadi pemimpin kita.

Jangan-jangan masalah “isme” tidak pernah tuntas di muka bumi, karena sifat ego-sentris manusia, dari “isme” kemudian “is me”, belum “is us”.

Tags: Indonesianaisme
Share5Tweet3Send
Diskon Referral 20% Cloud Professional Hostinger Diskon Referral 20% Cloud Professional Hostinger Diskon Referral 20% Cloud Professional Hostinger

ARTIKEL TERKAIT

Mengubah “-isme” dan “is Me” Menjadi “is Us”, Mari - Featured

Selamat Jalan, Pak Umar

23/03/2026
Mengubah “-isme” dan “is Me” Menjadi “is Us”, Mari - Featured

Penutup Esai Ramadan #30: Satu Hal Saja

19/03/2026
Mengubah “-isme” dan “is Me” Menjadi “is Us”, Mari - Featured

Esai Ramadan #29: Menuai Hujan dan Residu yang Tersisa

18/03/2026
Mengubah “-isme” dan “is Me” Menjadi “is Us”, Mari - Featured

Esai Ramadan #28: Azan dan Kepulangan yang Sejati

17/03/2026
Mengubah “-isme” dan “is Me” Menjadi “is Us”, Mari - Featured

Esai Ramadan #27: Jelang Perpisahan dengan Tamu yang Memuliakan

16/03/2026
Mengubah “-isme” dan “is Me” Menjadi “is Us”, Mari - Featured

Esai Ramadan #26: Zakat yang Melampaui Angka

14/03/2026
Mengubah “-isme” dan “is Me” Menjadi “is Us”, Mari - Featured

Esai Ramadan #25: Pulang ke Fitrah dan Laundry Pakaian Jiwa

14/03/2026
Mengubah “-isme” dan “is Me” Menjadi “is Us”, Mari - Featured

Esai Ramadan #24: Oase di Tengah Gurun dan Rahasia Rasa Cukup

13/03/2026

TERPOPULER-SEPEKAN

  • Mengubah “-isme” dan “is Me” Menjadi “is Us”, Mari - Featured

    Selamat Jalan, Pak Umar

    27 shares
    Share 11 Tweet 7
  • Macet Parah GT Parungkuda Tol Bocimi H+3 Idulfitri 2026: Kendaraan Nyaris Tak Bergerak

    21 shares
    Share 8 Tweet 5
  • Ikatek Business Forum 2026: Ratusan Pengusaha Alumni Teknik Unhas Berkumpul di Makassar untuk Sinergi Bisnis

    20 shares
    Share 8 Tweet 5
  • Hindari Puncak Arus Balik Lebaran 2026: Kemenhub Imbau Pemudik Pulang Lebih Awal atau Tunda

    18 shares
    Share 7 Tweet 5
  • Mudik Lebaran 2026: 4,41 Juta Penumpang Terbang, Soekarno-Hatta Paling Sibuk

    17 shares
    Share 7 Tweet 4
  • Mengapa Laptop Lawas, Macbook Pro 2014 13 inch Masih Banyak Dicari

    39 shares
    Share 16 Tweet 10
  • Veda Ega Pratama Ukir Sejarah: Pembalap Indonesia Pertama Podium Moto3 Brasil 2026

    16 shares
    Share 6 Tweet 4
  • Esai Ramadan #29: Menuai Hujan dan Residu yang Tersisa

    26 shares
    Share 10 Tweet 7
  • Makassar dan Yokohama Berkolaborasi Menuju Kota Nol Karbon: Fokus pada Transportasi dan Energi

    21 shares
    Share 8 Tweet 5
  • Tren Hijab 2025-2026: 25+ Gaya Fashion Muslim Kekinian

    103 shares
    Share 41 Tweet 26
Mengubah “-isme” dan “is Me” Menjadi “is Us”, Mari - Featured

Unduh Buku Saku “SIAGA BENCANA” dari BNPB

02/11/2023

Buku saku siaga bencana ini tidak menjamin keselamatan Anda. Namun, memberikan pedoman secara umum untuk kesiapsiagaan.

Read moreDetails

WARTAKITA

Mengubah “-isme” dan “is Me” Menjadi “is Us”, Mari - Featured
Gadget

7 Gadget Traveling Wajib Bawa Buat Liburan Nataru (Anti Lowbat)

25/12/2025
Mengubah “-isme” dan “is Me” Menjadi “is Us”, Mari - Featured
Fashion & Kecantikan

Parfum Mahal Tapi Cepat Hilang Kena Keringat? 4 Rekomendasi Parfum “Anti-Gerah” Tahan Lama di Cuaca Indonesia

30/11/2025
Mengubah “-isme” dan “is Me” Menjadi “is Us”, Mari - Featured
Gaya Hidup

Cara agar Hidup Anak Kost Lebih Tenang di Dapur dan Rumah

22/11/2025
Mengubah “-isme” dan “is Me” Menjadi “is Us”, Mari - Featured
Otomotif

Seni Merawat Vespa Matic: Bebaskan Gredek, Nikmati Perjalanan Halus

06/12/2025
Mengubah “-isme” dan “is Me” Menjadi “is Us”, Mari - Featured
Otomotif

Update Harga OTR & Simulasi Kredit Vespa Matic 2025: Dari LX 125 hingga GTS 300 Super Tech

29/11/2025
Mengubah “-isme” dan “is Me” Menjadi “is Us”, Mari - Featured
Otomotif

Modifikasi Vespa Matic: 10 Aksesoris ‘Proper’ Budget Pelajar-Sultan

04/12/2025
Mengubah “-isme” dan “is Me” Menjadi “is Us”, Mari - Featured
Fashion & Kecantikan

Rahasia Kulit Glowing di Rumah: Spa Mandiri & Perawatan Diri untuk Beauty Besties

23/11/2025
Mengubah “-isme” dan “is Me” Menjadi “is Us”, Mari - Featured
Fashion & Kecantikan

Rahasia Kilau Rambut Jisoo Bukan Cuma Alat Mahal! 4 “Serum Ajaib” Wajib Punya untuk Lindungi Rambut dari Panas

29/11/2025
Mengubah “-isme” dan “is Me” Menjadi “is Us”, Mari - Featured
Fashion & Kecantikan

Bosan Jomblo atau Hubungan Terasa Hambar? Pikat dengan 4 Parfum “Date Night” Menggoda Ini

29/11/2025
Mengubah “-isme” dan “is Me” Menjadi “is Us”, Mari - Featured
Gaya Hidup

Keseimbangan Hidup Optimal: Menjaga Kesehatan dari Dalam dan Luar

24/11/2025
Mengubah “-isme” dan “is Me” Menjadi “is Us”, Mari - Featured
Otomotif

Ancaman Mogok Akibat Aki Lemah di Musim Hujan: Kenapa Perawatan Mandiri Mobil LCGC Jadi Krusial?

16/11/2025
menari bersama misteri nara saluna
Gaya Hidup

Merasa Tertinggal dari Teman Seusiamu? Mari Berdamai dengan “Garis Waktu” Hidup yang Tak Terduga

29/11/2025
Mengubah “-isme” dan “is Me” Menjadi “is Us”, Mari - Featured
Alam dan Lingkungan Hidup

Tips Keselamatan Saat Gempa Bumi

23/12/2023

Gempa bumi tidak seperti kejadian alam lainnya yang masih bisa diprediksi jauh-jauh hari dengan lebih akurat.

Read moreDetails
  • beranda
  • kontak
  • layanan
  • beriklan
  • privasi
  • perihal

©2021 wartakita media

  • Login
No Result
View All Result
  • 🏠
  • ALAM
  • WARTA
    • PEMBELAJARAN
    • HUKUM
    • NUSANTARA
    • OLAHRAGA
    • TEKNOLOGI
    • KULINER
    • OTOMOTIF
    • SEPAK BOLA
    • #CEKFAKTA
  • GAYA
  • MAKASSAR
  • TEKNOLOGI
  • KONTAK
    • Mari Bermitra
    • Tentang Wartakita
    • Tim Redaksi
    • Kebijakan Privasi
    • TRAKTIR KOPI

©2021 wartakita media

wartakita.id menggunakan cookies tanpa mengorbankan privasi pengunjung.