Rabu, 20 Mei 2026
  • beranda
  • kontak
  • layanan
  • beriklan
  • privasi
  • perihal
WartakitaID
  • 🏠
  • ALAM
  • WARTA
    • PEMBELAJARAN
    • HUKUM
    • NUSANTARA
    • OLAHRAGA
    • TEKNOLOGI
    • KULINER
    • OTOMOTIF
    • SEPAK BOLA
    • #CEKFAKTA
  • GAYA
  • MAKASSAR
  • TEKNOLOGI
  • KONTAK
    • Mari Bermitra
    • Tentang Wartakita
    • Tim Redaksi
    • Kebijakan Privasi
    • TRAKTIR KOPI
No Result
View All Result
WartakitaID
  • 🏠
  • ALAM
  • WARTA
    • PEMBELAJARAN
    • HUKUM
    • NUSANTARA
    • OLAHRAGA
    • TEKNOLOGI
    • KULINER
    • OTOMOTIF
    • SEPAK BOLA
    • #CEKFAKTA
  • GAYA
  • MAKASSAR
  • TEKNOLOGI
  • KONTAK
    • Mari Bermitra
    • Tentang Wartakita
    • Tim Redaksi
    • Kebijakan Privasi
    • TRAKTIR KOPI
No Result
View All Result
WartakitaID
No Result
View All Result
Home Arsip 2019

Mengubah “-isme” dan “is Me” Menjadi “is Us”, Mari

by Redaktur
19/11/2019
in Arsip 2019, Opini
Reading Time: 6 mins read
A A
Mengubah “-isme” dan “is Me” Menjadi “is Us”, Mari - Arsip

Sekitar pertengahan tahun 1990 sampai 2005, “Google’ belum mendominasi mesin pencari, alamat surel dominan “Yahoo” berikut Ymessenger, ada mesin pencari “AltaVista”, Astalavista”, “Lycos” dan “Astaga!” buatan Indonesia, dan bila mencari dengan mesin pencari apa pun, menggunakan kata kunci pencarian: “anak sma, abg, anak smp, anak sekolah,” mesin pencari menampilkan indeks pecarian situs merujuk ke halamanweb porni.

Fakta yang meresahkan bagi sebagian orang, sementara sebagian yang lain asyik-asyik saja apatis.

Salah seorang warganet–belum ada istilah netizen atau warganet ketika itu, yang ada warga channel MIRC (Internet Relay Chat, M singkatan nama aplikasinya) via server DALnet, dan warga situs media sosial friendster (pertama sebelum MySpace) pelengkap percakapan di MIRC setelah menanyakan ASL (age, sex, location), diikuti permintaan halaman profil friendster–dia yang resah dan gelisah tersebut, berinisiatif mengubah fakta aktual hasil pencarian mesin pencari untuk “anak sma, abg, anak smp, anak sekolah,” yang memalukan dan membahayakan moral generasi penerus bangsa menjadi fakta tekstual.

Saat anak-anak sekolah (SD, SMP, SMA, S1, S2, S3) mengakses internet kemudian menggunakan mesin pencari dengan kata kunci di atas, pasti terpapar halaman porni tanpa dibentengi pemahaman yang cukup tentang perbedaan antara aktivitas seks sebagai kebutuhan biologis dengan seks sebagai industri dan komoditi.

Seks sebagai industri di tangan pemuda dan pemudi baru puber, sekejap mengubah syahwat sebesar nyamuk jadi lebih besar dari kuda. Sementara citra “anak sma, abg, anak smp, anak sekolah,” di internet oleh mesin pencari dirujuk ke situs-situs porni, berdasarkan algoritma kebiasaan pengguna internet di Indonesia. Demikianlah faktanya kebiasaan pengguna mesin pencari menggunakan kata kunci “anak sma, abg, anak smp, anak sekolah” saat mencari konten porni.

Ide tersebut naif, bodoh, tidak berguna, unfaedah, demikian komentar kaum yang bermasalah dengan solusi. Kaum yang menggunakan perspektif hitam putih (yang kontrasnya tajam dan radikal seperti yang sering kita gunakan menentang radikalisme) biasanya sepasang dengan semangat berkobar-kobar rentan disisipi kebencian dan fanatisme pada kebenaran dan kebaikan (entah mengapa terasa agak menggelitik ketika menambahkan ‘fanatisme’ sebelum ‘kebenaran’ dan ‘kebaikan’), mengapa tidak perang terbuka, membuat down server porni tersebut–melakukan serangan DDoS, ping flood dan semacamnya ke server di luar negeri yang menggunakan leased line minimal berkecepatan 100MBps dari terminal berkoneksi dial-up sekian KBps?–atau membanjiri kolom komentar halaman situs porni dengan kemarahan (komentar tersebut dikoreksi sendiri setelah seseorang yang mengerti ketertinggalan teknologi jejaring internet kita saat itu), atau meminta pemerintah memblokir semua situs porni.

Tentu, saran di atas bisa dilaksanakan, tapi tidak menyelesaikan masalah sampai tuntas.

Lomba tersebut, meminta para blogger menulis artikel dengan menggunakan tag atau label, dan kategori “anak sma, abg, anak smp, anak sekolah,” dengan konten tekstual sesuai kata kunci tadi, bukan hanya menghilangkan gejala, tetapi menyentuh dan mengobati sumber penyakitnya.

Lomba tersebut tidak memicu peperangan tanpa akhir, seperti virus dan anti-virus, teror dan anti-teror. Peperangan yang sebenarnya bisa sekali merupakan komoditi bisnis, seperti hal-hal di dunia yang juga saling berlawanan, tetapi sungguh keterlaluan jika menghamba pada pasar harus sampai menggadaikan moral generasi mendatang yang menjadi target pasar industri seks dan pornigrafi. Lomba unik tersebut berusaha membuka pikiran, wawasan, dan perasaan para pengguna internet yang ingin mencari situs porni menggunakan kata kunci pencarian “anak sma, abg, anak smp, anak sekolah,” membuat algoritma mesin-mesin pencari berhenti menautkan kata kunci pencarian tersebut ke situs porni.

Inisiator lomba tersebut tidak sendirian. Di internet, ide paling naif sekalipun tetap punya peminat atau pendukung, apalagi idenya memang masuk akal dan menyelesaikan masalah.

Internet mulai dibanjiri beragam artikel yang menggunakan tag atau label, dan kategori “anak sma, abg, anak smp, anak sekolah,” namun berisi konten positif. Mulai dari kegiatan ekstra kurikuler anak sekolah dan abg sampai artikel berdedikasi yang isinya menasehati para pencari situs porni dengan kata kunci pencarian “anak sma, abg, anak smp, anak sekolah,” saat terjebak dengan arahan index mesin pencari yang algoritmanya mulai ‘insaf’ dibuat berkunjung ke artikel buatan para peserta lomba dan kegiatan tersebut.

Perlahan tapi pasti, indeks hasil pencarian kata kunci, “anak sma, abg, anak smp, anak sekolah,” dialihkan oleh mesin-mesin pencari ke konten positif. Para penikmat situs pornigrafi online jika ingin memenuhi hasratnya dipaksa jujur mengakses situs porni langsung, kemudian mencari konten porni sesuai seleranya di sana. Fakta aktual akhirnya selaras dengan fakta tekstual. Hore.

Kasus di atas menarik jika menjadi pembanding cara pemerintah, ormas, dan diri kita sendiri dalam memandang (kemudian berusaha mengatasi) “radikalisme”.

Diakui atau tidak, paling mudah membuat orang kita, orang Indonesia, berkerumun, menarik kesimpulan bermodal asumsi, saling bertentangan dan berhadap-hadapan. Karakter tersebut terbawa ke dalam alam bawah sadar, sampai-sampai menjadi standar pemikiran ketika menghadapi perbedaan.

Dengan berasumsi mustahil “radikalisme” termasuk komoditi atau bisnis yang menghasilkan uang, yang lebih mudah jika dilawan dengan cara pebisnis, memutuskan rantai suply and demand misalnya, pikiran kita secara tak sadar langsung menawarkan solusi dalam bentuk ‘perang’ terbuka. Radikalisme harus dilawan dengan anti-radikalisme. “Isme” yang satu harus dilawan dengan “isme” lainnya yang dipandang lebih baik.

Padahal “isme” apa pun sama saja, tidak bertujuan membangun pola pikir yang konstruktif dan adaptif.

Sama-sama tatanan ilusi yang bertujuan mempengaruhi orang banyak agar mau bergerak bersama meraih dan mencapai tujuan dan cita-cita yang dianut oleh “isme” tersebut.

Radikalisme makin subur karena ketidakadilan. Tanpa insentif ekonomi (kabarnya selain jaminan surga, para ‘pengantin’ juga mendapat jaminan ekonomi untuk keluarga yang mereka tinggalkan, yang celakanya tidak bisa mereka pantau dan tuntut jika melanggar kontrak setelah melakukan bom bunuh diri) walau dengan iming-iming jaminan jalan pintas ke surga, tidak ada orang yang tertarik mau menjadi ‘pengantin’ bom bunuh diri jika target pembomannya adalah insitusi, lembaga, ormas, atau individu yang telah memperlakukan dirinya atau kelompoknya dengan adil. Setelah keadilan tercipta, potensi keuntungan politis dan bisnis bagi para oportunis yang sekujur hatinya dipenuhi tato ‘TEGA’ akan kehilangan suply, sekalipun pasar masih memiliki demand yang tinggi.

BACA JUGA:

Kopral Azmiadi dan Kisah Pelayanan Tanpa Batas: Ketika Seragam Melebur dalam Pengabdian Tulus

Benteng Aman Para Pencari Selamat: Saat Kritik dan Perbedaan Pendapat Dilindas Atas Nama Stabilitas

Jolly Roger di Bawah Merah Putih: Perlawanan Simbolik atau Salah Paham Kebangsaan?

Qurban dan Keberanian Melepaskan yang Kita Cintai

#MayDay Bagaimana Digitalisasi Mengubah Nasib Buruh Indonesia: Antara Peluang dan Ancaman

Radikalisme semakin subur bertemu “isme” lain lagi, narsisme yang menjadikan pemahaman yang berbeda dengan mereka sebagai olok-olok pemuas kesombongan, yang mestinya berdialog berdua, bukan di depan umum, seperti nasihat Ali bin Abu Thalib R.A., menasihati itu di ruang tertutup, kalau di tempat umum mempermalukan yang dinasehati (maupun yang menasehati).

Lomba penulisan artikel walaupun bisa disebut perang kata kunci pencarian, mereka tidak ego sentris, tidak melawan fanatisme penikmat porni dengan fanatisme lain yang dipandang lebih baik. Namun, berusaha membuka ruang dialog, meletakkan dasar berpikir konstruktif, memandang kata kunci pencarian “anak sma, abg, anak smp, anak sekolah,” yang ditautkan oleh mesin pencari ke situs porni sebagai kesalahan kita bersama. “Is us” jika tidak peduli generasi mendatang yang kelak bisa sekali menjadi pemimpin kita.

Jangan-jangan masalah “isme” tidak pernah tuntas di muka bumi, karena sifat ego-sentris manusia, dari “isme” kemudian “is me”, belum “is us”.

Tags: Indonesianaisme
Share5Tweet3Send
Diskon Referral 20% Cloud Professional Hostinger Diskon Referral 20% Cloud Professional Hostinger Diskon Referral 20% Cloud Professional Hostinger

ARTIKEL TERKAIT

Mengubah “-isme” dan “is Me” Menjadi “is Us”, Mari - Featured

Kontroversi Film “Pesta Babi”: Narasi Pembangunan, Hak Adat Papua, dan Lingkaran Kekuasaan

12/05/2026
Mengubah “-isme” dan “is Me” Menjadi “is Us”, Mari - Featured

Selamat Jalan, Pak Umar

23/03/2026
Mengubah “-isme” dan “is Me” Menjadi “is Us”, Mari - Featured

Penutup Esai Ramadan #30: Satu Hal Saja

19/03/2026
Mengubah “-isme” dan “is Me” Menjadi “is Us”, Mari - Featured

Esai Ramadan #29: Menuai Hujan dan Residu yang Tersisa

18/03/2026
Mengubah “-isme” dan “is Me” Menjadi “is Us”, Mari - Featured

Esai Ramadan #28: Azan dan Kepulangan yang Sejati

17/03/2026
Mengubah “-isme” dan “is Me” Menjadi “is Us”, Mari - Featured

Esai Ramadan #27: Jelang Perpisahan dengan Tamu yang Memuliakan

16/03/2026
Mengubah “-isme” dan “is Me” Menjadi “is Us”, Mari - Featured

Esai Ramadan #26: Zakat yang Melampaui Angka

14/03/2026
Mengubah “-isme” dan “is Me” Menjadi “is Us”, Mari - Featured

Esai Ramadan #25: Pulang ke Fitrah dan Laundry Pakaian Jiwa

14/03/2026

TERPOPULER-SEPEKAN

  • Mengubah “-isme” dan “is Me” Menjadi “is Us”, Mari - Featured

    Dekranasda Kota Makassar Meriahkan Parade Budaya di Solo dengan Pesona Kuliner

    135 shares
    Share 54 Tweet 34
  • Daftar Rumah Sakit dan Bidan Penerima Vaksin Palsu

    121 shares
    Share 48 Tweet 30
  • Simak Petunjuk BNPB Saat Puting Beliung

    132 shares
    Share 53 Tweet 33
  • NIKKOR Z 35mm f/1.4: Cahaya Berlimpah dengan Harga Terjangkau

    105 shares
    Share 42 Tweet 26
  • Pocari Sweat Run Edisi 10 Tahun Ukir Sejarah Baru

    110 shares
    Share 44 Tweet 28
  • Tantangan dalam Membangun Smart City: Antara Teknologi dan Realita

    130 shares
    Share 52 Tweet 33
  • Review Samsung Galaxy S20 FE, Lebih Murah dari Galaxy S20

    101 shares
    Share 40 Tweet 25
  • Pelindo IV Gelar Jalan Sehat Dan Nonton Bareng

    101 shares
    Share 40 Tweet 25
  • Telemedicine: Masa Depan Layanan Kesehatan di Era Digital

    89 shares
    Share 36 Tweet 22
  • Dani Olmo: Pahlawan Spanyol yang Menggagalkan Gol Inggris di Menit 90

    93 shares
    Share 37 Tweet 23
Mengubah “-isme” dan “is Me” Menjadi “is Us”, Mari - Featured

Unduh Buku Saku “SIAGA BENCANA” dari BNPB

02/11/2023

Buku saku siaga bencana ini tidak menjamin keselamatan Anda. Namun, memberikan pedoman secara umum untuk kesiapsiagaan.

Read moreDetails

WARTAKITA

Mengubah “-isme” dan “is Me” Menjadi “is Us”, Mari - Featured
Gaya Hidup

Aroma yang Tak Terlupakan: Rahasia Kepercayaan Diri Pria Modern

02/12/2025
Mengubah “-isme” dan “is Me” Menjadi “is Us”, Mari - Featured
Otomotif

Vespa Primavera vs. Sprint 2025: Dua Jiwa, Satu Mesin, Pilihan Anda?

30/11/2025
Mengubah “-isme” dan “is Me” Menjadi “is Us”, Mari - Featured
Fashion & Kecantikan

Ingin Rambut ‘Badai’ ala Jisoo Tapi Budget Terbatas? Ini 3 Alternatif Hair Styler Canggih Mulai 300 Ribuan!

29/11/2025
Mengubah “-isme” dan “is Me” Menjadi “is Us”, Mari - Featured
Gaya Hidup

Ancaman Senyap di Meja Kerja: Hindari 5 Kebiasaan Buruk WFH Ini Demi Kesehatan Anda

21/11/2025
Mengubah “-isme” dan “is Me” Menjadi “is Us”, Mari - Featured
Otomotif

Modifikasi Vespa Matic: 10 Aksesoris ‘Proper’ Budget Pelajar-Sultan

04/12/2025
Mengubah “-isme” dan “is Me” Menjadi “is Us”, Mari - Featured
Fashion & Kecantikan

Rahasia Kilau Rambut Jisoo Bukan Cuma Alat Mahal! 4 “Serum Ajaib” Wajib Punya untuk Lindungi Rambut dari Panas

29/11/2025
Mengubah “-isme” dan “is Me” Menjadi “is Us”, Mari - Featured
Fashion & Kecantikan

Smoothing vs Rebonding vs Keratin: Mana yang Terbaik untuk Rambutmu?

16/11/2025
Mengubah “-isme” dan “is Me” Menjadi “is Us”, Mari - Featured
Fashion & Kecantikan

Tren Hijab 2025-2026: 25+ Gaya Fashion Muslim Kekinian

14/11/2025
Mengubah “-isme” dan “is Me” Menjadi “is Us”, Mari - Featured
Gadget

Hacker Gunakan AI Claude Code untuk Serangan Otonomus

14/11/2025
Mengubah “-isme” dan “is Me” Menjadi “is Us”, Mari - Featured
Gaya Hidup

Jeda di Tengah Badai: Tiga Kompas Batin untuk Mengarungi Gelombang Hidup

20/11/2025
Mengubah “-isme” dan “is Me” Menjadi “is Us”, Mari - Featured
Gadget

Insta360 GO 3S Hadir dengan Video 4K dan Dukungan Apple Find My

25/07/2024
Mengubah “-isme” dan “is Me” Menjadi “is Us”, Mari - Featured
Gadget

Jisoo BLACKPINK dan Dyson: Rahasia Rambut Sehat Berkilau

21/11/2025
Mengubah “-isme” dan “is Me” Menjadi “is Us”, Mari - Featured
Alam dan Lingkungan Hidup

Tips Keselamatan Saat Gempa Bumi

23/12/2023

Gempa bumi tidak seperti kejadian alam lainnya yang masih bisa diprediksi jauh-jauh hari dengan lebih akurat.

Read moreDetails
  • beranda
  • kontak
  • layanan
  • beriklan
  • privasi
  • perihal

©2021 wartakita media

  • Login
No Result
View All Result
  • 🏠
  • ALAM
  • WARTA
    • PEMBELAJARAN
    • HUKUM
    • NUSANTARA
    • OLAHRAGA
    • TEKNOLOGI
    • KULINER
    • OTOMOTIF
    • SEPAK BOLA
    • #CEKFAKTA
  • GAYA
  • MAKASSAR
  • TEKNOLOGI
  • KONTAK
    • Mari Bermitra
    • Tentang Wartakita
    • Tim Redaksi
    • Kebijakan Privasi
    • TRAKTIR KOPI

©2021 wartakita media

wartakita.id menggunakan cookies tanpa mengorbankan privasi pengunjung.