Jumat, 6 November 2026
  • beranda
  • kontak
  • layanan
  • beriklan
  • privasi
  • perihal
WartakitaID
  • 🏚️
  • ALAM
  • WARTA
    • PEMBELAJARAN
    • HUKUM
    • NUSANTARA
    • OLAHRAGA
    • TEKNOLOGI
    • KULINER
    • OTOMOTIF
    • SEPAK BOLA
    • #CEKFAKTA
  • GAYA
  • MAKASSAR
  • TEKNOLOGI
  • KONTAK
    • Mari Bermitra
    • Tentang Wartakita
    • Tim Redaksi
    • Kebijakan Privasi
    • TRAKTIR KOPI
No Result
View All Result
WartakitaID
  • 🏚️
  • ALAM
  • WARTA
    • PEMBELAJARAN
    • HUKUM
    • NUSANTARA
    • OLAHRAGA
    • TEKNOLOGI
    • KULINER
    • OTOMOTIF
    • SEPAK BOLA
    • #CEKFAKTA
  • GAYA
  • MAKASSAR
  • TEKNOLOGI
  • KONTAK
    • Mari Bermitra
    • Tentang Wartakita
    • Tim Redaksi
    • Kebijakan Privasi
    • TRAKTIR KOPI
No Result
View All Result
WartakitaID
No Result
View All Result
Home Opini

Benteng Aman Para Pencari Selamat: Saat Kritik dan Perbedaan Pendapat Dilindas Atas Nama Stabilitas

Zona nyaman para 'Pemancing di Air Keruh' yang kita ciptakan sendiri

by A. Burhany
02/09/2025
in Opini
Reading Time: 6 mins read
A A
Image00002

BACA JUGA:

Batu Bara Transit Singapura: Mengurai Menguapnya SDA Kita

Falsafah Siri na Pacce vs Bushido: Krisis Malu Pejabat Publik & Tokoh Figur Kita

Kelangkaan BBM Berulang: Antrean Mengular, Warga Bermalam di SPBU, Stok Nasional Diklaim Aman

Gempa Dalam M6.5 Utara Jakarta: Mengungkap Misteri Guncangan Meluas di Jawa dan Sumatera

Maulid, Karhutla, dan Kemarahan Publik: Ironi Moral Tanpa Amanah

Ada sebuah pemandangan yang tak akan pernah saya lupakan selama beberapa tahun diupah sebagai tenaga ahli IT di sebuah balai kota. Pemandangan itu bukanlah tentang kerumitan coding sistem e-budgeting, melainkan sorot mata para pegawai honorer saat pengumuman hasil tes CPNS dibagikan. Ada yang sujud syukur, ada yang lunglai. Bagi mereka, selembar SK Pegawai Negeri Sipil adalah tiket emas menuju dunia yang “aman dan nyaman”.

Dari balik meja saya, saya menyadari sebuah kebenaran fundamental. Pilar-pilar demokrasi yang kita agung-agungkan—Eksekutif, Legislatif, Yudikatif, bahkan Media—ternyata diisi oleh manusia-manusia yang lahir dari rahim perjuangan hidup yang keras. Manusia yang memandang posisi bukan sebagai amanah pelayanan, melainkan sebagai puncak pencapaian pribadi setelah berjuang mati-matian.

Dan di sinilah, saya pikir, sumber dari segala patologi sistemik yang kita hadapi hari ini bermula.

Dari Perjuangan Hidup ke Logika “Cari Aman”

Kita sering geram dengan budaya “Asal Bapak Senang” (ABS) yang membuat laporan di atas kertas selalu hijau dan wangi, sementara kenyataan di lapangan busuk dan penuh masalah. Namun, perilaku ini bukanlah lahir dari kejahatan, melainkan dari logika bertahan hidup. Akibatnya, banyak program-program dan proyek-proyek yang berbasis citra semata, sibuk membangun monumen prestasi pribadi dan institusi, yang tidak menyelesaikan masalah nyata. Menanam citra untuk bertahan dalam benteng, dan atau untuk kembali lagi dalam siklus lima tahunan.

Bayangkan Anda adalah seorang anak desa yang orang tuanya menjual sawah untuk menyekolahkan Anda. Setelah akhirnya berhasil menembus “benteng” dan menjadi seorang ASN, apakah Anda akan mengambil risiko dengan melaporkan bahwa proyek atasan Anda kemungkinan besar akan gagal?

Jawabannya kemungkinan besar tidak. Mengakui kesalahan adalah sebuah kemewahan. Prinsip utamanya adalah: utamakan selamat, bukan utamakan perbaikan. Logika “cari aman” ini menjadi penyakit, menyebar hingga menjadi budaya institusional. Hasilnya? Sebuah pemerintahan yang sibuk dengan manajemen persepsi, bukan manajemen kinerja. Sebuah sistem yang alergi terhadap data yang jujur dan kritik yang membangun.

Empat Pilar Sebagai Benteng Pertahanan Status Quo

Penyakit ini merasuk ke semua lini. Di Eksekutif, ia menjadi standar operasional. Di Legislatif, kursi parlemen yang diraih dengan biaya miliaran harus diamankan, sehingga fungsi pengawasan menjadi sekadar formalitas demi menjaga stabilitas koalisi. Di Yudikatif, karier aparat seringkali bergantung pada kemampuan untuk tidak menciptakan kontroversi, sehingga impunitas institusional menjadi lumrah.

Lalu bagaimana dengan pilar keempat, sang “anjing penjaga”? Seorang kawan jurnalis pernah berkata getir, “Media itu, Mas, pada dasarnya adalah entitas bisnis yang berusaha berdamai dengan idealisme.” Terlalu keras mengkritik berarti siap kehilangan kue iklan dari pemerintah dan akses liputan. Maka, kompromi pun dilakukan. Kesalahan pemerintah seringkali dibingkai sebagai “kekurangan yang perlu dimaklumi”.

Harga yang Kita Bayar: Darah di Balik Stabilitas Semu

Benteng Aman Para Pencari Selamat: Saat Kritik dan Perbedaan Pendapat Dilindas Atas Nama Stabilitas - image 1

Ketika setiap pilar diisi oleh para “pencari selamat”, kita sebagai sebuah bangsa membayar harga yang sangat mahal. Kita mendapatkan stabilitas semu, mengorbankan dinamika belajar dari kesalahan yang mutlak dibutuhkan untuk bertumbuh dan berkemajuan. Negara terlihat tenang, data-data statistik resmi menunjukkan keberhasilan. Namun di bawah permukaan, masalah-masalah fundamental terus bernanah tanpa pernah diobati.

Dan sesekali, nanah itu pecah. Meledak menjadi amarah kolektif di jalanan.

Kita semua menyaksikannya baru-baru ini. Ketika ribuan orang turun ke jalan, membawa tuntutan konkret 17+8 yang lahir dari akumulasi kekecewaan. Jalanan yang tadinya abu-abu kini diwarnai simbol-simbol perlawanan: biru resisten pada ikat kepala mahasiswa, pink lembut jilbab Ibu Ana yang orasinya menggetarkan di hadapan barikade aparat, dan tentu saja, hijau yang paling menyayat hati. Hijau warna jaket ojek online milik Affan, seorang pemuda yang datang untuk bersuara, namun pulang tak bernyawa setelah tubuh ringkihnya digilas roda-roda baja kendaraan taktis.

Peristiwa itu adalah manifestasi paling brutal dari jurang antara “fakta resmi” dan fakta di lapangan. Di dalam benteng-benteng kekuasaan, laporan ABS terus menumpuk, mengklaim kebijakan pro-rakyat dan penyerapan anggaran yang sukses. Namun di jalanan, Affan dan ribuan lainnya merasakan kenyataan yang berbeda—kenyataan yang membuat mereka merasa perlu meninggalkan nafkah sehari-hari untuk berteriak di depan istana.

Lalu, apa respons dari puncak pilar eksekutif setelah nyawa melayang dan fasilitas publik rusak?

Kita mendengar sebuah pidato yang familier. Presiden muncul di layar kaca, dengan wajah prihatin, mengucapkan “duka cita yang mendalam atas jatuhnya korban”. Namun, kalimat berikutnya adalah sebuah manuver klasik untuk menyelamatkan benteng: “Pemerintah sangat menyayangkan aksi anarkistis dan perusakan fasilitas umum yang vital bagi masyarakat. Diduga kuat aksi ini telah ditunggangi oleh oknum-oknum yang ingin menciptakan kekacauan.” Di akhir, sebuah perintah normatif diberikan, “Saya telah memerintahkan aparat untuk mengusut tuntas pelaku kerusuhan sesuai prosedur hukum yang berlaku, dan mengimbau masyarakat untuk tenang serta tidak terprovokasi.”

Dengarkan baik-baik apa yang tidak dikatakan dalam pidato itu. Tidak ada pengakuan sedikit pun bahwa demonstrasi itu adalah akibat dari kebijakan yang gagal dan statemen-statemen nir-empati para pejabat dan wakil rakyat (katanya) sambil flexing kehedonan. Tidak ada pembahasan mengenai akar masalah dari tuntutan 17+8 itu. Tidak ada introspeksi.

Narasi resmi telah diciptakan: Affan bukan korban kegagalan negara dalam mendengar aspirasi, melainkan korban dari “kerusuhan”.

Ibu Ana bukan representasi suara ibu pertiwi yang terluka, melainkan bagian dari “massa yang terprovokasi”.

Tuntutan mereka yang konkret direduksi menjadi “aksi anarkistis”.

Ini adalah puncak dari keengganan mengakui kesalahan—sebuah mekanisme pertahanan diri yang mengorbankan kebenaran demi menjaga citra “aman dan terkendali”.

Saatnya Merobohkan Benteng Keamanan dan Kenyamanan Semu Masing-Masing

Benteng Aman Para Pencari Selamat: Saat Kritik dan Perbedaan Pendapat Dilindas Atas Nama Stabilitas - image 2

Sebagai seorang praktisi IT, saya tahu betapa berbahayanya sistem yang tidak memiliki mekanisme error reporting. Sistem seperti itu akan terus berjalan memproses data sampah, hingga suatu saat ia akan crash dan menyebabkan kerusakan total. Negara kita saat ini berjalan seperti itu.

Kematian Affan dan warna-warni perlawanan di jalanan bukanlah “gangguan keamanan”. Ia adalah sebuah fatal error message yang dikirimkan oleh rakyat. Pesan bahwa sistem yang dibangun di atas logika “cari aman” para penghuninya sudah tidak lagi bisa menopang dirinya sendiri.

Lantas, apakah kita harus menyalahkan individu-individu di dalam benteng itu? Mungkin tidak sepenuhnya. Mereka adalah produk dari sebuah sistem sosial-ekonomi yang menjadikan posisi di pemerintahan sebagai satu-satunya tiket menuju kehidupan yang terjamin.

Jalan keluarnya pun bukan sekadar meneriakkan slogan. Kita perlu membangun sebuah ekosistem di mana kesejahteraan dan rasa aman tidak hanya terkonsentrasi di dalam pilar-pilar demokrasi.

Hanya dengan begitu, posisi di dalam pemerintahan bisa kembali ke fitrahnya: bukan sebagai tempat mencari selamat, melainkan sebagai ladang pengabdian. Sampai hari itu tiba, benteng-benteng itu akan tetap kokoh berdiri, menara gading yang tuli. Dan di luarnya, akan selalu ada jaket-jaket hijau lain yang siap menjadi martir, menagih janji kemajuan yang tak kunjung tiba.

Rekomendasikan Wartakita.id
Tags: Birokrasi IndonesiaBudaya ABSBudaya Cari AmanDemokrasi IndonesiaesaiFungsi PengawasanIndonesianaKeengganan Mengakui KesalahanKepercayaan PublikKritik Pemerintahnalar wargaOpini PolitikPilar DemokrasiRedaksianaStabilitas Semuwartakita
Share30Tweet19Send

ARTIKEL TERKAIT

Benteng Aman Para Pencari Selamat: Saat Kritik dan Perbedaan Pendapat Dilindas Atas Nama Stabilitas - Featured

Batu Bara Transit Singapura: Mengurai Menguapnya SDA Kita

04/11/2026
Benteng Aman Para Pencari Selamat: Saat Kritik dan Perbedaan Pendapat Dilindas Atas Nama Stabilitas - Featured

Falsafah Siri na Pacce vs Bushido: Krisis Malu Pejabat Publik & Tokoh Figur Kita

29/10/2026
Benteng Aman Para Pencari Selamat: Saat Kritik dan Perbedaan Pendapat Dilindas Atas Nama Stabilitas - Featured

Maulid, Karhutla, dan Kemarahan Publik: Ironi Moral Tanpa Amanah

25/08/2026
Benteng Aman Para Pencari Selamat: Saat Kritik dan Perbedaan Pendapat Dilindas Atas Nama Stabilitas - Featured

Skenario Reformasi: Senjata Coretax 2026 dan Jalan Terang Menuju Pertumbuhan 6%

28/07/2026
Benteng Aman Para Pencari Selamat: Saat Kritik dan Perbedaan Pendapat Dilindas Atas Nama Stabilitas - Featured

Skenario Status Quo: Bayang-Bayang Utang Rp10.000 T dan Ancaman Permanen Middle-Income Trap

28/07/2026
Benteng Aman Para Pencari Selamat: Saat Kritik dan Perbedaan Pendapat Dilindas Atas Nama Stabilitas - Featured

Trajektori 2026-2031: Menuju Indonesia Emas atau Terjebak Krisis Permanen?

28/07/2026
Benteng Aman Para Pencari Selamat: Saat Kritik dan Perbedaan Pendapat Dilindas Atas Nama Stabilitas - Featured

Selamatkan APBN 2026: Redefinisi Anggaran Pendidikan 20% dan Ketegasan BPI Danantara

28/07/2026
Benteng Aman Para Pencari Selamat: Saat Kritik dan Perbedaan Pendapat Dilindas Atas Nama Stabilitas - Featured

Paradoks Desentralisasi 2026: Mengapa Anggaran Daerah Dipangkas demi Program Populis Pusat?

28/07/2026

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

I agree to the Terms & Conditions and Privacy Policy.

TERPOPULER-SEPEKAN

  • Benteng Aman Para Pencari Selamat: Saat Kritik dan Perbedaan Pendapat Dilindas Atas Nama Stabilitas - Featured

    Panduan Beasiswa Daerah Pemprov Sulsel dan Pendaftaran Kuliah RPL Makassar 2026

    29 shares
    Share 12 Tweet 7
  • Smoothing dan Coloring Bersamaan Bisa Merusak Rambut?

    3581 shares
    Share 1432 Tweet 895
  • Nusron Wahid Penuhi Panggilan KPK Terkait Dugaan Setoran Rutin di Kementerian ATR/BPN

    24 shares
    Share 10 Tweet 6
  • Jadwal Pemutihan Pajak Kendaraan Sulsel dan Biaya Balik Nama di Makassar 2026

    23 shares
    Share 9 Tweet 6
  • Pemerintah Bentuk Satgas Gabungan dengan Singapura Atasi Laba Perusahaan ke Tax Haven

    21 shares
    Share 8 Tweet 5
  • Batu Bara Transit Singapura: Mengurai Menguapnya SDA Kita

    20 shares
    Share 8 Tweet 5
  • Presiden Prabowo dan Sejumlah Pejabat Diduga Disadap Sejak 2025

    19 shares
    Share 8 Tweet 5
  • PSM Makassar Kalah 0-1 dari Madura United Akibat Penalti Gagal di Kandang

    19 shares
    Share 8 Tweet 5
  • Pengiriman Smartphone Global Anjlok 20%, Samsung Tetap Dominan

    19 shares
    Share 8 Tweet 5
  • APBN 2026: Mengurai Mitos Ketergantungan Pajak, Menelisik Jalan Kemakmuran Berkelanjutan

    256 shares
    Share 102 Tweet 64
wartakita-id-buku-saku-bencana-bnpb_cr

Unduh Buku Saku “SIAGA BENCANA” dari BNPB

02/11/2023

Buku saku siaga bencana ini tidak menjamin keselamatan Anda. Namun, memberikan pedoman secara umum untuk kesiapsiagaan.

Read moreDetails

WARTAKITA

img-1764775654-b12300608d9039ae
Otomotif

Modifikasi Vespa Matic: 10 Aksesoris ‘Proper’ Budget Pelajar-Sultan

04/12/2025
crew-cut-fade_tn
Gaya Hidup

Aroma yang Tak Terlupakan: Rahasia Kepercayaan Diri Pria Modern

02/12/2025
img-1764777491-e442ac7fe1f792b9
Gaya Hidup

Parfum Lokal Wangi Sultan: Mirip Niche Eropa, Harga Murah!

04/12/2025
parfum dengan kharisma sejati 1_cr
Fashion & Kecantikan

Kenapa Parfum Anda Tidak Meninggalkan Kesan? (Dan Cara Mengatasinya)

16/11/2025
vespa sprint atau primavera_wartakita.id
Otomotif

Vespa Primavera vs. Sprint 2025: Dua Jiwa, Satu Mesin, Pilihan Anda?

30/11/2025
parfum di tempat kerja_wartakita.id
Fashion & Kecantikan

Ingin Dihormati di Kantor? Ini 4 “Power Scent” Pria & Wanita yang Bikin Aura Anda Seperti CEO

29/11/2025
Mug CIVAGO dengan lapisan keramik & insulasi vakum tahan 12 jam 1-salwasalon
Gaya Hidup

Aroma Kopi Pagi Anda, Tetap Hangat Sempurna Hingga Siang

06/12/2025
Cara Hidup Anak Kost agar Lebih Tenang di Dapur dan Rumah_cr_tn1
Gaya Hidup

Cara agar Hidup Anak Kost Lebih Tenang di Dapur dan Rumah

22/11/2025
merawat-aki-mobil-dimusim-hujan-2_cr
Otomotif

Ancaman Mogok Akibat Aki Lemah di Musim Hujan: Kenapa Perawatan Mandiri Mobil LCGC Jadi Krusial?

16/11/2025
1763287827_Smoothing-vs-Rebonding-vs-Keratin-Mana-yang-Terbaik-untuk-Rambutmu.jpg
Fashion & Kecantikan

Smoothing vs Rebonding vs Keratin: Mana yang Terbaik untuk Rambutmu?

16/11/2025
1763889026-rahasia-kulit-glowing-di-rumah-spa-mandiri-perawatan-diri.jpg
Fashion & Kecantikan

Rahasia Kulit Glowing di Rumah: Spa Mandiri & Perawatan Diri untuk Beauty Besties

23/11/2025
1766621435-7-gadget-traveling-wajib-bawa-buat-liburan-nataru-anti-lowbat.jpg
Gadget

7 Gadget Traveling Wajib Bawa Buat Liburan Nataru (Anti Lowbat)

25/12/2025
tips-keselamatan
Alam dan Lingkungan Hidup

Tips Keselamatan Saat Gempa Bumi

23/12/2023

Gempa bumi tidak seperti kejadian alam lainnya yang masih bisa diprediksi jauh-jauh hari dengan lebih akurat.

Read moreDetails
  • beranda
  • kontak
  • layanan
  • beriklan
  • privasi
  • perihal

©2021 wartakita media

  • Login
No Result
View All Result
  • 🏚️
  • ALAM
  • WARTA
    • PEMBELAJARAN
    • HUKUM
    • NUSANTARA
    • OLAHRAGA
    • TEKNOLOGI
    • KULINER
    • OTOMOTIF
    • SEPAK BOLA
    • #CEKFAKTA
  • GAYA
  • MAKASSAR
  • TEKNOLOGI
  • KONTAK
    • Mari Bermitra
    • Tentang Wartakita
    • Tim Redaksi
    • Kebijakan Privasi
    • TRAKTIR KOPI

©2021 wartakita media

wartakita.id menggunakan cookies tanpa mengorbankan privasi pengunjung.