Senin, 17 Agustus 2026
  • beranda
  • kontak
  • layanan
  • beriklan
  • privasi
  • perihal
WartakitaID
  • 🏚️
  • ALAM
  • WARTA
    • PEMBELAJARAN
    • HUKUM
    • NUSANTARA
    • OLAHRAGA
    • TEKNOLOGI
    • KULINER
    • OTOMOTIF
    • SEPAK BOLA
    • #CEKFAKTA
  • GAYA
  • MAKASSAR
  • TEKNOLOGI
  • KONTAK
    • Mari Bermitra
    • Tentang Wartakita
    • Tim Redaksi
    • Kebijakan Privasi
    • TRAKTIR KOPI
No Result
View All Result
WartakitaID
  • 🏚️
  • ALAM
  • WARTA
    • PEMBELAJARAN
    • HUKUM
    • NUSANTARA
    • OLAHRAGA
    • TEKNOLOGI
    • KULINER
    • OTOMOTIF
    • SEPAK BOLA
    • #CEKFAKTA
  • GAYA
  • MAKASSAR
  • TEKNOLOGI
  • KONTAK
    • Mari Bermitra
    • Tentang Wartakita
    • Tim Redaksi
    • Kebijakan Privasi
    • TRAKTIR KOPI
No Result
View All Result
WartakitaID
No Result
View All Result
Home Opini

Benteng Aman Para Pencari Selamat: Saat Kritik dan Perbedaan Pendapat Dilindas Atas Nama Stabilitas

Zona nyaman para 'Pemancing di Air Keruh' yang kita ciptakan sendiri

by A. Burhany
02/09/2025
in Opini
Reading Time: 6 mins read
A A
Image00002

Ada sebuah pemandangan yang tak akan pernah saya lupakan selama beberapa tahun diupah sebagai tenaga ahli IT di sebuah balai kota. Pemandangan itu bukanlah tentang kerumitan coding sistem e-budgeting, melainkan sorot mata para pegawai honorer saat pengumuman hasil tes CPNS dibagikan. Ada yang sujud syukur, ada yang lunglai. Bagi mereka, selembar SK Pegawai Negeri Sipil adalah tiket emas menuju dunia yang “aman dan nyaman”.

Dari balik meja saya, saya menyadari sebuah kebenaran fundamental. Pilar-pilar demokrasi yang kita agung-agungkan—Eksekutif, Legislatif, Yudikatif, bahkan Media—ternyata diisi oleh manusia-manusia yang lahir dari rahim perjuangan hidup yang keras. Manusia yang memandang posisi bukan sebagai amanah pelayanan, melainkan sebagai puncak pencapaian pribadi setelah berjuang mati-matian.

Dan di sinilah, saya pikir, sumber dari segala patologi sistemik yang kita hadapi hari ini bermula.

Dari Perjuangan Hidup ke Logika “Cari Aman”

Kita sering geram dengan budaya “Asal Bapak Senang” (ABS) yang membuat laporan di atas kertas selalu hijau dan wangi, sementara kenyataan di lapangan busuk dan penuh masalah. Namun, perilaku ini bukanlah lahir dari kejahatan, melainkan dari logika bertahan hidup. Akibatnya, banyak program-program dan proyek-proyek yang berbasis citra semata, sibuk membangun monumen prestasi pribadi dan institusi, yang tidak menyelesaikan masalah nyata. Menanam citra untuk bertahan dalam benteng, dan atau untuk kembali lagi dalam siklus lima tahunan.

Bayangkan Anda adalah seorang anak desa yang orang tuanya menjual sawah untuk menyekolahkan Anda. Setelah akhirnya berhasil menembus “benteng” dan menjadi seorang ASN, apakah Anda akan mengambil risiko dengan melaporkan bahwa proyek atasan Anda kemungkinan besar akan gagal?

Jawabannya kemungkinan besar tidak. Mengakui kesalahan adalah sebuah kemewahan. Prinsip utamanya adalah: utamakan selamat, bukan utamakan perbaikan. Logika “cari aman” ini menjadi penyakit, menyebar hingga menjadi budaya institusional. Hasilnya? Sebuah pemerintahan yang sibuk dengan manajemen persepsi, bukan manajemen kinerja. Sebuah sistem yang alergi terhadap data yang jujur dan kritik yang membangun.

Empat Pilar Sebagai Benteng Pertahanan Status Quo

Penyakit ini merasuk ke semua lini. Di Eksekutif, ia menjadi standar operasional. Di Legislatif, kursi parlemen yang diraih dengan biaya miliaran harus diamankan, sehingga fungsi pengawasan menjadi sekadar formalitas demi menjaga stabilitas koalisi. Di Yudikatif, karier aparat seringkali bergantung pada kemampuan untuk tidak menciptakan kontroversi, sehingga impunitas institusional menjadi lumrah.

Lalu bagaimana dengan pilar keempat, sang “anjing penjaga”? Seorang kawan jurnalis pernah berkata getir, “Media itu, Mas, pada dasarnya adalah entitas bisnis yang berusaha berdamai dengan idealisme.” Terlalu keras mengkritik berarti siap kehilangan kue iklan dari pemerintah dan akses liputan. Maka, kompromi pun dilakukan. Kesalahan pemerintah seringkali dibingkai sebagai “kekurangan yang perlu dimaklumi”.

Harga yang Kita Bayar: Darah di Balik Stabilitas Semu

Benteng Aman Para Pencari Selamat: Saat Kritik dan Perbedaan Pendapat Dilindas Atas Nama Stabilitas - image 1

Ketika setiap pilar diisi oleh para “pencari selamat”, kita sebagai sebuah bangsa membayar harga yang sangat mahal. Kita mendapatkan stabilitas semu, mengorbankan dinamika belajar dari kesalahan yang mutlak dibutuhkan untuk bertumbuh dan berkemajuan. Negara terlihat tenang, data-data statistik resmi menunjukkan keberhasilan. Namun di bawah permukaan, masalah-masalah fundamental terus bernanah tanpa pernah diobati.

Dan sesekali, nanah itu pecah. Meledak menjadi amarah kolektif di jalanan.

Kita semua menyaksikannya baru-baru ini. Ketika ribuan orang turun ke jalan, membawa tuntutan konkret 17+8 yang lahir dari akumulasi kekecewaan. Jalanan yang tadinya abu-abu kini diwarnai simbol-simbol perlawanan: biru resisten pada ikat kepala mahasiswa, pink lembut jilbab Ibu Ana yang orasinya menggetarkan di hadapan barikade aparat, dan tentu saja, hijau yang paling menyayat hati. Hijau warna jaket ojek online milik Affan, seorang pemuda yang datang untuk bersuara, namun pulang tak bernyawa setelah tubuh ringkihnya digilas roda-roda baja kendaraan taktis.

Peristiwa itu adalah manifestasi paling brutal dari jurang antara “fakta resmi” dan fakta di lapangan. Di dalam benteng-benteng kekuasaan, laporan ABS terus menumpuk, mengklaim kebijakan pro-rakyat dan penyerapan anggaran yang sukses. Namun di jalanan, Affan dan ribuan lainnya merasakan kenyataan yang berbeda—kenyataan yang membuat mereka merasa perlu meninggalkan nafkah sehari-hari untuk berteriak di depan istana.

Lalu, apa respons dari puncak pilar eksekutif setelah nyawa melayang dan fasilitas publik rusak?

Kita mendengar sebuah pidato yang familier. Presiden muncul di layar kaca, dengan wajah prihatin, mengucapkan “duka cita yang mendalam atas jatuhnya korban”. Namun, kalimat berikutnya adalah sebuah manuver klasik untuk menyelamatkan benteng: “Pemerintah sangat menyayangkan aksi anarkistis dan perusakan fasilitas umum yang vital bagi masyarakat. Diduga kuat aksi ini telah ditunggangi oleh oknum-oknum yang ingin menciptakan kekacauan.” Di akhir, sebuah perintah normatif diberikan, “Saya telah memerintahkan aparat untuk mengusut tuntas pelaku kerusuhan sesuai prosedur hukum yang berlaku, dan mengimbau masyarakat untuk tenang serta tidak terprovokasi.”

Dengarkan baik-baik apa yang tidak dikatakan dalam pidato itu. Tidak ada pengakuan sedikit pun bahwa demonstrasi itu adalah akibat dari kebijakan yang gagal dan statemen-statemen nir-empati para pejabat dan wakil rakyat (katanya) sambil flexing kehedonan. Tidak ada pembahasan mengenai akar masalah dari tuntutan 17+8 itu. Tidak ada introspeksi.

Narasi resmi telah diciptakan: Affan bukan korban kegagalan negara dalam mendengar aspirasi, melainkan korban dari “kerusuhan”.

Ibu Ana bukan representasi suara ibu pertiwi yang terluka, melainkan bagian dari “massa yang terprovokasi”.

BACA JUGA:

Skenario Reformasi: Senjata Coretax 2026 dan Jalan Terang Menuju Pertumbuhan 6%

Skenario Status Quo: Bayang-Bayang Utang Rp10.000 T dan Ancaman Permanen Middle-Income Trap

Trajektori 2026-2031: Menuju Indonesia Emas atau Terjebak Krisis Permanen?

Selamatkan APBN 2026: Redefinisi Anggaran Pendidikan 20% dan Ketegasan BPI Danantara

Paradoks Desentralisasi 2026: Mengapa Anggaran Daerah Dipangkas demi Program Populis Pusat?

Tuntutan mereka yang konkret direduksi menjadi “aksi anarkistis”.

Ini adalah puncak dari keengganan mengakui kesalahan—sebuah mekanisme pertahanan diri yang mengorbankan kebenaran demi menjaga citra “aman dan terkendali”.

Saatnya Merobohkan Benteng Keamanan dan Kenyamanan Semu Masing-Masing

Benteng Aman Para Pencari Selamat: Saat Kritik dan Perbedaan Pendapat Dilindas Atas Nama Stabilitas - image 2

Sebagai seorang praktisi IT, saya tahu betapa berbahayanya sistem yang tidak memiliki mekanisme error reporting. Sistem seperti itu akan terus berjalan memproses data sampah, hingga suatu saat ia akan crash dan menyebabkan kerusakan total. Negara kita saat ini berjalan seperti itu.

Kematian Affan dan warna-warni perlawanan di jalanan bukanlah “gangguan keamanan”. Ia adalah sebuah fatal error message yang dikirimkan oleh rakyat. Pesan bahwa sistem yang dibangun di atas logika “cari aman” para penghuninya sudah tidak lagi bisa menopang dirinya sendiri.

Lantas, apakah kita harus menyalahkan individu-individu di dalam benteng itu? Mungkin tidak sepenuhnya. Mereka adalah produk dari sebuah sistem sosial-ekonomi yang menjadikan posisi di pemerintahan sebagai satu-satunya tiket menuju kehidupan yang terjamin.

Jalan keluarnya pun bukan sekadar meneriakkan slogan. Kita perlu membangun sebuah ekosistem di mana kesejahteraan dan rasa aman tidak hanya terkonsentrasi di dalam pilar-pilar demokrasi.

Hanya dengan begitu, posisi di dalam pemerintahan bisa kembali ke fitrahnya: bukan sebagai tempat mencari selamat, melainkan sebagai ladang pengabdian. Sampai hari itu tiba, benteng-benteng itu akan tetap kokoh berdiri, menara gading yang tuli. Dan di luarnya, akan selalu ada jaket-jaket hijau lain yang siap menjadi martir, menagih janji kemajuan yang tak kunjung tiba.

Add wartakita.id as a preferred source on Google

Tags: Birokrasi IndonesiaBudaya ABSBudaya Cari AmanDemokrasi IndonesiaesaiFungsi PengawasanIndonesianaKeengganan Mengakui KesalahanKepercayaan PublikKritik Pemerintahnalar wargaOpini PolitikPilar DemokrasiRedaksianaStabilitas Semuwartakita
Share30Tweet19Send

ARTIKEL TERKAIT

Benteng Aman Para Pencari Selamat: Saat Kritik dan Perbedaan Pendapat Dilindas Atas Nama Stabilitas - Featured

Skenario Reformasi: Senjata Coretax 2026 dan Jalan Terang Menuju Pertumbuhan 6%

28/07/2026
Benteng Aman Para Pencari Selamat: Saat Kritik dan Perbedaan Pendapat Dilindas Atas Nama Stabilitas - Featured

Skenario Status Quo: Bayang-Bayang Utang Rp10.000 T dan Ancaman Permanen Middle-Income Trap

28/07/2026
Benteng Aman Para Pencari Selamat: Saat Kritik dan Perbedaan Pendapat Dilindas Atas Nama Stabilitas - Featured

Trajektori 2026-2031: Menuju Indonesia Emas atau Terjebak Krisis Permanen?

28/07/2026
Benteng Aman Para Pencari Selamat: Saat Kritik dan Perbedaan Pendapat Dilindas Atas Nama Stabilitas - Featured

Selamatkan APBN 2026: Redefinisi Anggaran Pendidikan 20% dan Ketegasan BPI Danantara

28/07/2026
Benteng Aman Para Pencari Selamat: Saat Kritik dan Perbedaan Pendapat Dilindas Atas Nama Stabilitas - Featured

Paradoks Desentralisasi 2026: Mengapa Anggaran Daerah Dipangkas demi Program Populis Pusat?

28/07/2026
Benteng Aman Para Pencari Selamat: Saat Kritik dan Perbedaan Pendapat Dilindas Atas Nama Stabilitas - Featured

Siklus Anggaran Politis dan Korupsi Rp279 Triliun: Saat Uang Rakyat Jadi Ongkos ‘Elit’ yang Hidup dalam Siklus 5 Tahunan

28/07/2026
Benteng Aman Para Pencari Selamat: Saat Kritik dan Perbedaan Pendapat Dilindas Atas Nama Stabilitas - Featured

Kualitas Layanan Publik Stagnan: Mengurai Korupsi, Siklus Politis, dan Absennya Keadilan Pajak

28/07/2026
Benteng Aman Para Pencari Selamat: Saat Kritik dan Perbedaan Pendapat Dilindas Atas Nama Stabilitas - Featured

Pendarahan Cukai Rp60 Triliun: Siapa yang Diuntungkan dari Sindikat Rokok Ilegal?

27/07/2026

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

I agree to the Terms & Conditions and Privacy Policy.

TERPOPULER-SEPEKAN

  • wisata dan tradisi nyekar di pulau libukang palopo

    Wisata Dan Tradisi Nyekar Di Pulau Libukang Palopo

    581 shares
    Share 232 Tweet 145
  • Perbandingan Ekosistem Teknologi: Kelebihan dan Kekurangan Apple, Google, Microsoft

    131 shares
    Share 52 Tweet 33
  • Gempa Magnitudo 7,7 Guncang Nagekeo NTT, BMKG Keluarkan Peringatan Dini Tsunami untuk NTT, NTB, Sulsel & Sultra

    56 shares
    Share 22 Tweet 14
  • Gempa Bumi 15 Agustus 2026: M7,7 Guncang NTT, Ratusan Aftershock & Gempa M6,4 di Simalungun

    45 shares
    Share 18 Tweet 11
  • Anatomi Kebocoran Triliunan Rupiah: Saat Negara Gagal Memajaki Oligarki dan Sektor Ekstraktif

    34 shares
    Share 14 Tweet 9
  • Gempa Magnitudo 7,4 Guncang Kolombia 10 Agustus 2026: Episentrum di Chocó, Kerusakan Parah di Beberapa Kota dan Korban Jiwa

    21 shares
    Share 8 Tweet 5
  • Ini 2 Titik Masuk Ke Lokasi F8 Nanti Sore

    24 shares
    Share 10 Tweet 6
  • Merek Mobil Paling Laris Bulan Februari 2021

    32 shares
    Share 13 Tweet 8
  • Koordinasi APIK Dinas PU Makassar & Dinas PU Provinsi Sulsel

    20 shares
    Share 8 Tweet 5
  • Bea Cukai Berbenah: Djaka Budi Utama Ungkap Upaya Perbaikan Pasca Ancaman Pembekuan

    17 shares
    Share 7 Tweet 4
wartakita-id-buku-saku-bencana-bnpb_cr

Unduh Buku Saku “SIAGA BENCANA” dari BNPB

02/11/2023

Buku saku siaga bencana ini tidak menjamin keselamatan Anda. Namun, memberikan pedoman secara umum untuk kesiapsiagaan.

Read moreDetails

WARTAKITA

ilustrasi pria berketombe
Gaya Hidup

Rambut Rontok Parah? Kenali Penyebab dan Solusi Alami

24/11/2025
hidup sehat dan seimbang_cr_tn1
Gaya Hidup

Keseimbangan Hidup Optimal: Menjaga Kesehatan dari Dalam dan Luar

24/11/2025
parfum untuk jomblo_wartakita.id
Fashion & Kecantikan

Bosan Jomblo atau Hubungan Terasa Hambar? Pikat dengan 4 Parfum “Date Night” Menggoda Ini

29/11/2025
parfum di tempat kerja_wartakita.id
Fashion & Kecantikan

Ingin Dihormati di Kantor? Ini 4 “Power Scent” Pria & Wanita yang Bikin Aura Anda Seperti CEO

29/11/2025
parfum dengan kharisma sejati 1_cr
Fashion & Kecantikan

Kenapa Parfum Anda Tidak Meninggalkan Kesan? (Dan Cara Mengatasinya)

16/11/2025
1763889026-rahasia-kulit-glowing-di-rumah-spa-mandiri-perawatan-diri.jpg
Fashion & Kecantikan

Rahasia Kulit Glowing di Rumah: Spa Mandiri & Perawatan Diri untuk Beauty Besties

23/11/2025
1766621435-7-gadget-traveling-wajib-bawa-buat-liburan-nataru-anti-lowbat.jpg
Gadget

7 Gadget Traveling Wajib Bawa Buat Liburan Nataru (Anti Lowbat)

25/12/2025
4 rekomendasi parfum anti gerah dan tahan lama di cuaca indonesia_wartakita.id
Fashion & Kecantikan

Parfum Mahal Tapi Cepat Hilang Kena Keringat? 4 Rekomendasi Parfum “Anti-Gerah” Tahan Lama di Cuaca Indonesia

30/11/2025
vespa gts supertech
Otomotif

Update Harga OTR & Simulasi Kredit Vespa Matic 2025: Dari LX 125 hingga GTS 300 Super Tech

29/11/2025
Alternatif Hair Styler Canggih Mulai 300 Ribuan_wartakita.id
Fashion & Kecantikan

Ingin Rambut ‘Badai’ ala Jisoo Tapi Budget Terbatas? Ini 3 Alternatif Hair Styler Canggih Mulai 300 Ribuan!

29/11/2025
img-1764775654-b12300608d9039ae
Otomotif

Modifikasi Vespa Matic: 10 Aksesoris ‘Proper’ Budget Pelajar-Sultan

04/12/2025
crew-cut-fade_tn
Gaya Hidup

Aroma yang Tak Terlupakan: Rahasia Kepercayaan Diri Pria Modern

02/12/2025
tips-keselamatan
Alam dan Lingkungan Hidup

Tips Keselamatan Saat Gempa Bumi

23/12/2023

Gempa bumi tidak seperti kejadian alam lainnya yang masih bisa diprediksi jauh-jauh hari dengan lebih akurat.

Read moreDetails
  • beranda
  • kontak
  • layanan
  • beriklan
  • privasi
  • perihal

©2021 wartakita media

  • Login
No Result
View All Result
  • 🏚️
  • ALAM
  • WARTA
    • PEMBELAJARAN
    • HUKUM
    • NUSANTARA
    • OLAHRAGA
    • TEKNOLOGI
    • KULINER
    • OTOMOTIF
    • SEPAK BOLA
    • #CEKFAKTA
  • GAYA
  • MAKASSAR
  • TEKNOLOGI
  • KONTAK
    • Mari Bermitra
    • Tentang Wartakita
    • Tim Redaksi
    • Kebijakan Privasi
    • TRAKTIR KOPI

©2021 wartakita media

wartakita.id menggunakan cookies tanpa mengorbankan privasi pengunjung.