Kamis, 23 April 2026
  • beranda
  • kontak
  • layanan
  • beriklan
  • privasi
  • perihal
WartakitaID
  • 🏠
  • ALAM
  • WARTA
    • PEMBELAJARAN
    • HUKUM
    • NUSANTARA
    • OLAHRAGA
    • TEKNOLOGI
    • KULINER
    • OTOMOTIF
    • SEPAK BOLA
    • #CEKFAKTA
  • GAYA
  • MAKASSAR
  • TEKNOLOGI
  • KONTAK
    • Mari Bermitra
    • Tentang Wartakita
    • Tim Redaksi
    • Kebijakan Privasi
    • TRAKTIR KOPI
No Result
View All Result
WartakitaID
  • 🏠
  • ALAM
  • WARTA
    • PEMBELAJARAN
    • HUKUM
    • NUSANTARA
    • OLAHRAGA
    • TEKNOLOGI
    • KULINER
    • OTOMOTIF
    • SEPAK BOLA
    • #CEKFAKTA
  • GAYA
  • MAKASSAR
  • TEKNOLOGI
  • KONTAK
    • Mari Bermitra
    • Tentang Wartakita
    • Tim Redaksi
    • Kebijakan Privasi
    • TRAKTIR KOPI
No Result
View All Result
WartakitaID
No Result
View All Result
Home Opini

Esai Ramadan #2: Menunggu Berbuka, Menunggu Tuhan

by A. Burhany
20/02/2026
in Opini
Reading Time: 3 mins read
A A
Esai Ramadan #2: Menunggu Berbuka, Menunggu Tuhan - Featured

Di Jakarta dan kota-kota besar lainnya tempat saya pernah menumpang hidup, kesunyian adalah barang mewah. Harganya jauh lebih mahal dari secangkir kopi artisan.

Kita dikepung dari segala penjuru: knalpot kendaraan, notifikasi yang berdentang di saku celana setiap beberapa menit, dan yang paling melelahkan—riuhnya percakapan di dalam kepala kita sendiri.

Kita hidup dalam kecepatan yang gila. Berhenti sejenak sering dianggap kerapuhan, bahkan kekalahan. Lalu Ramadan datang, dan seperti ada tangan tak kasat mata yang menekan tombol mute pada seluruh rutinitas kita.

Memang, atmosfer Ramadan di kota besar tidak sekental di kampung-kampung. Kesibukan di jam kerja nyaris tak berubah. Tapi ada sesuatu yang diam-diam berbeda—sesuatu yang terjadi di dalam, bukan di luar.

Di hari kedua ini, saya teringat seorang petani di lereng desa yang jauh dari jangkauan sinyal 4G.

Di kota, kita mengeluh karena harus menahan lapar selama tiga belas jam. Tapi bagi petani itu, hidup memang selalu tentang menunggu yang jauh lebih panjang: menunggu musim berganti, menunggu hujan turun, menunggu benih yang ia tanam untuk akhirnya bicara pada tanah.

Ada kontras yang tajam di sana. Tapi ada akar yang sama.

Esai Ramadan #2: Menunggu Berbuka, Menunggu Tuhan - image 1

Eksekutif di kawasan SCBD yang menahan lapar di sela rapat Zoom, dan petani yang menyeka keringat di bawah pohon kelapa—keduanya sedang berada dalam frekuensi yang sama. Mereka sedang belajar sesuatu yang mulai punah di abad ini: seni menunggu dengan bermartabat. Menunggu tanpa mendikte apa atau siapa yang harus datang.

Kita sudah lama kehilangan otot itu.

Dalam kehidupan modern, hampir setiap keinginan bisa dipenuhi saat itu juga. Lapar? Buka aplikasi, makanan datang dalam tiga puluh menit. Haus? Ada dispenser di sudut ruangan. Nafsu fisik jarang dibiarkan menunggu terlalu lama. Kita terbiasa menjadi tuan atas keinginan kita sendiri—dan justru di situlah kita mulai lemah.

Puasa memulangkan kita pada fitrah petani. Ia mengingatkan bahwa ada hal-hal di dunia ini yang tidak bisa dibeli atau dipercepat. Kita boleh punya uang untuk membeli seluruh menu restoran paling mahal di kota. Tapi di hadapan waktu—di hadapan detik-detik menuju Magrib—kita semua sama-sama tak berdaya. Kita semua adalah penunggu.

Dan menjadi penunggu, ternyata, adalah salah satu latihan kemanusiaan yang paling jujur.

Bagi Anda yang mungkin tidak menjalani ritual ini secara religius, esensi ini tetap relevan. Puasa adalah mindfulness dalam bentuknya yang paling radikal: mengosongkan diri dari kebisingan luar supaya kita bisa mendengar suara dari dalam yang selama ini tenggelam.

Ada kerinduan purba yang menyatukan kita semua. Petani merindukan hujan karena hujan adalah perjumpaannya dengan keberlangsungan hidup. Kita merindukan Magrib karena di sana ada perjumpaan dengan diri kita yang paling jujur—diri yang sudah cukup lama kita abaikan.

Jika kemarin kita bicara tentang niat sebagai arsitektur, maka hari ini kita bicara tentang kesunyian sebagai ruang tamunya. Ruang di mana kita akhirnya bisa duduk, diam, dan mendengar.

Dalam lapar dan haus yang kita rasakan hari ini, coba jangan terburu-buru mengutuk teriknya matahari atau lambatnya jarum jam. Coba dengarkan suara dari kekosongan itu. Di pedesaan, kesunyian adalah guru. Di kota, kesunyian adalah obat.

Entah Anda sedang menatap kemacetan dari balik kaca jendela kantor, atau menatap cakrawala di tepi sawah—kita sedang melakukan hal yang sama: merawat rindu.

BACA JUGA:

Penutup Esai Ramadan #30: Satu Hal Saja

Kementerian ESDM Pastikan Keandalan Pasokan Listrik Sulawesi Jelang Ramadan & Idul Fitri 1447 H

Esai Ramadan #29: Menuai Hujan dan Residu yang Tersisa

Ramadan 2026: Hari ini 17 Maret berapa Ramadan?

Esai Ramadan #28: Azan dan Kepulangan yang Sejati

Sebab hanya mereka yang berani menanggung haus yang benar-benar mengerti betapa sucinya rasa seteguk air. Dan hanya mereka yang sabar dalam penantian yang akan merasakan—ketika perjumpaan itu akhirnya tiba—bahwa menunggu itu sendiri adalah bagian dari hadiah.

Selamat merawat sunyi di tengah bisingnya dunia.

Tags: berbuka puasaesai Ramadanmakna puasapuasa RamadanRamadanRamadan 2026spiritualitas puasa
Share10Tweet7Send
Diskon Referral 20% Cloud Professional Hostinger Diskon Referral 20% Cloud Professional Hostinger Diskon Referral 20% Cloud Professional Hostinger

ARTIKEL TERKAIT

Esai Ramadan #2: Menunggu Berbuka, Menunggu Tuhan - Featured

Selamat Jalan, Pak Umar

23/03/2026
Esai Ramadan #2: Menunggu Berbuka, Menunggu Tuhan - Featured

Penutup Esai Ramadan #30: Satu Hal Saja

19/03/2026
Esai Ramadan #2: Menunggu Berbuka, Menunggu Tuhan - Featured

Esai Ramadan #29: Menuai Hujan dan Residu yang Tersisa

18/03/2026
Esai Ramadan #2: Menunggu Berbuka, Menunggu Tuhan - Featured

Esai Ramadan #28: Azan dan Kepulangan yang Sejati

17/03/2026
Esai Ramadan #2: Menunggu Berbuka, Menunggu Tuhan - Featured

Esai Ramadan #27: Jelang Perpisahan dengan Tamu yang Memuliakan

16/03/2026
Esai Ramadan #2: Menunggu Berbuka, Menunggu Tuhan - Featured

Esai Ramadan #26: Zakat yang Melampaui Angka

14/03/2026
Esai Ramadan #2: Menunggu Berbuka, Menunggu Tuhan - Featured

Esai Ramadan #25: Pulang ke Fitrah dan Laundry Pakaian Jiwa

14/03/2026
Esai Ramadan #2: Menunggu Berbuka, Menunggu Tuhan - Featured

Esai Ramadan #24: Oase di Tengah Gurun dan Rahasia Rasa Cukup

13/03/2026

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

I agree to the Terms & Conditions and Privacy Policy.

TERPOPULER-SEPEKAN

  • Esai Ramadan #2: Menunggu Berbuka, Menunggu Tuhan - Featured

    Kode CMD Untuk Mempercepat Kinerja Laptop

    582 shares
    Share 233 Tweet 146
  • Stadion Barombong Makassar: Miliar Rupiah Terbengkalai Akibat Lahan yang Tak Kunjung Tuntas

    18 shares
    Share 7 Tweet 5
  • Prediksi Bayern Munchen vs Atletico Madrid 4 Mei 2016

    33 shares
    Share 13 Tweet 8
  • Indonesia Diguncang Rangkaian Gempa M5+ dalam 48 Jam, BMKG Tegaskan Tak Berpotensi Tsunami

    16 shares
    Share 6 Tweet 4
  • PKL Makassar Diberdayakan: Akses Kredit Usaha Rakyat Jadi Kunci Penataan Ekonomi Baru

    16 shares
    Share 6 Tweet 4
  • Gempa 7,7 Magnitudo Guncang Jepang Timur Laut: Kronologi, Evakuasi Massal, dan Peringatan Tsunami

    16 shares
    Share 6 Tweet 4
  • Pete-pete Laut Makassar: Konektivitas Baru untuk Pulau, Beroperasi Mei-Juni 2026

    16 shares
    Share 6 Tweet 4
  • Taro Waterpark CitraLand Tallasa City: Sensasi Petualangan Air Terbaru untuk Keluarga Makassar

    16 shares
    Share 6 Tweet 4
  • Tes Keseimbangan Sederhana: Kunci Menjaga Kesehatan dan Memprediksi Umur Panjang

    16 shares
    Share 6 Tweet 4
  • 16 Model Rambut Pria yang Terbukti Disukai Wanita, Keren dan Stylish! (Update 2026)

    85 shares
    Share 34 Tweet 21
Esai Ramadan #2: Menunggu Berbuka, Menunggu Tuhan - Featured

Unduh Buku Saku “SIAGA BENCANA” dari BNPB

02/11/2023

Buku saku siaga bencana ini tidak menjamin keselamatan Anda. Namun, memberikan pedoman secara umum untuk kesiapsiagaan.

Read moreDetails

WARTAKITA

Esai Ramadan #2: Menunggu Berbuka, Menunggu Tuhan - Featured
Gadget

Labirin Pilihan Smartphone Modern: Dari Fotografi Hingga Gaming

15/11/2025
Esai Ramadan #2: Menunggu Berbuka, Menunggu Tuhan - Featured
Otomotif

Modifikasi Vespa Matic: 10 Aksesoris ‘Proper’ Budget Pelajar-Sultan

04/12/2025
Esai Ramadan #2: Menunggu Berbuka, Menunggu Tuhan - Featured
Gaya Hidup

Rambut Rontok Parah? Kenali Penyebab dan Solusi Alami

24/11/2025
Esai Ramadan #2: Menunggu Berbuka, Menunggu Tuhan - Featured
Gaya Hidup

Keseimbangan Hidup Optimal: Menjaga Kesehatan dari Dalam dan Luar

24/11/2025
Esai Ramadan #2: Menunggu Berbuka, Menunggu Tuhan - Featured
Otomotif

Update Harga OTR & Simulasi Kredit Vespa Matic 2025: Dari LX 125 hingga GTS 300 Super Tech

29/11/2025
Esai Ramadan #2: Menunggu Berbuka, Menunggu Tuhan - Featured
Fashion & Kecantikan

Ingin Rambut ‘Badai’ ala Jisoo Tapi Budget Terbatas? Ini 3 Alternatif Hair Styler Canggih Mulai 300 Ribuan!

29/11/2025
Esai Ramadan #2: Menunggu Berbuka, Menunggu Tuhan - Featured
Gadget

Jisoo BLACKPINK dan Dyson: Rahasia Rambut Sehat Berkilau

21/11/2025
Esai Ramadan #2: Menunggu Berbuka, Menunggu Tuhan - Featured
Otomotif

Ancaman Mogok Akibat Aki Lemah di Musim Hujan: Kenapa Perawatan Mandiri Mobil LCGC Jadi Krusial?

16/11/2025
Esai Ramadan #2: Menunggu Berbuka, Menunggu Tuhan - Featured
Fashion & Kecantikan

Parfum Mahal Tapi Cepat Hilang Kena Keringat? 4 Rekomendasi Parfum “Anti-Gerah” Tahan Lama di Cuaca Indonesia

30/11/2025
Esai Ramadan #2: Menunggu Berbuka, Menunggu Tuhan - Featured
Gaya Hidup

Jeda di Tengah Badai: Tiga Kompas Batin untuk Mengarungi Gelombang Hidup

20/11/2025
Esai Ramadan #2: Menunggu Berbuka, Menunggu Tuhan - Featured
Gadget

7 Gadget Traveling Wajib Bawa Buat Liburan Nataru (Anti Lowbat)

25/12/2025
Esai Ramadan #2: Menunggu Berbuka, Menunggu Tuhan - Featured
Gadget

Hacker Gunakan AI Claude Code untuk Serangan Otonomus

14/11/2025
Esai Ramadan #2: Menunggu Berbuka, Menunggu Tuhan - Featured
Alam dan Lingkungan Hidup

Tips Keselamatan Saat Gempa Bumi

23/12/2023

Gempa bumi tidak seperti kejadian alam lainnya yang masih bisa diprediksi jauh-jauh hari dengan lebih akurat.

Read moreDetails
  • beranda
  • kontak
  • layanan
  • beriklan
  • privasi
  • perihal

©2021 wartakita media

  • Login
No Result
View All Result
  • 🏠
  • ALAM
  • WARTA
    • PEMBELAJARAN
    • HUKUM
    • NUSANTARA
    • OLAHRAGA
    • TEKNOLOGI
    • KULINER
    • OTOMOTIF
    • SEPAK BOLA
    • #CEKFAKTA
  • GAYA
  • MAKASSAR
  • TEKNOLOGI
  • KONTAK
    • Mari Bermitra
    • Tentang Wartakita
    • Tim Redaksi
    • Kebijakan Privasi
    • TRAKTIR KOPI

©2021 wartakita media

wartakita.id menggunakan cookies tanpa mengorbankan privasi pengunjung.