Nilai tukar Rupiah kembali menunjukkan pelemahan signifikan pada penutupan perdagangan Selasa, 2 Juni 2026, terperosok ke level Rp 17.839 per Dolar Amerika Serikat. Pelemahan ini menandai penurunan sebesar 34 poin dibandingkan hari sebelumnya, menambah kekhawatiran pasar terhadap stabilitas mata uang nasional di tengah gejolak ekonomi global dan isu geopolitik yang memanas. Kondisi ini diperkirakan akan terus berlanjut dengan volatilitas tinggi di hari-hari mendatang, dipengaruhi oleh sentimen negatif dari berbagai sumber.
- Rupiah Melemah: Penutupan perdagangan Selasa, 2 Juni 2026, Rupiah berada di level Rp 17.839 per USD, terdepresiasi 34 poin.
- Prediksi Volatilitas: Analis memprediksi Rupiah akan bergerak fluktuatif dengan potensi ditutup melemah di rentang Rp 17.840-Rp 17.900 per USD.
- Faktor Eksternal: Ketegangan di Timur Tengah, terutama antara Iran dan Amerika Serikat, serta konflik Israel-Hizbullah menjadi pemicu utama pelemahan Dolar AS.
- Faktor Internal: Data inflasi Mei 2026 sebesar 3,08% (yoy) dan pergerakan Indeks Harga Konsumen (IHK) juga turut memengaruhi sentimen pasar domestik.
- Sektor Manufaktur: Indikator PMI Manufaktur Indonesia kembali ke zona ekspansi pada Mei 2026, menunjukkan potensi pemulihan industri.
Wartakita.id – Mata uang Rupiah kembali berada di bawah tekanan pada penutupan perdagangan sesi Selasa, 2 Juni 2026, mencatat rekor pelemahan di angka Rp 17.839 per Dolar Amerika Serikat. Angka ini menunjukkan penurunan tajam sebesar 34 poin dibandingkan dengan posisi penutupan pada hari sebelumnya, mengindikasikan tren pelemahan yang terus berlanjut dan mengikis nilai tukar mata uang Garuda. Pergerakan Rupiah yang kian merosot ini menjadi perhatian serius bagi para pelaku pasar, pelaku bisnis, dan pembuat kebijakan ekonomi.
Direktur PT Traze Andalan Futures, Ibrahim Assuabi, dalam analisis rutinnya pada Selasa, 2 Juni 2026, memberikan proyeksi mengenai pergerakan Rupiah untuk sesi perdagangan mendatang. “Saya memprediksi Rupiah bakal bergerak fluktuatif pada perdagangan besok. Namun, secara keseluruhan, mata uang kita diperkirakan akan ditutup melemah di rentang Rp 17.840 hingga Rp 17.900 per dolar AS,” ujar Ibrahim. Prediksi ini menyoroti ketidakpastian yang terus membayangi pergerakan Rupiah, yang sangat dipengaruhi oleh dinamika pasar global maupun domestik.
Analisis Data Kurs dan Sentimen Pasar
Data resmi dari Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (Jisdor) yang dirilis oleh Bank Indonesia pada Selasa, 2 Juni 2026, mencatat nilai tukar Rupiah terhadap Dolar AS berada di level Rp 17.863. Angka ini sedikit berbeda dengan kurs transaksi jual beli Dolar AS yang ditetapkan oleh Bank Indonesia di hari yang sama, yaitu sebesar Rp 17.972. Perbedaan ini mengindikasikan adanya variasi dalam penetapan kurs di pasar antarbank dan pasar ritel, namun secara umum menunjukkan tren pelemahan yang konsisten.
Faktor Geopolitik Global Memicu Pelemahan Rupiah
Pelemahan Rupiah ini tidak terlepas dari penguatan nilai tukar Dolar AS di pasar global. Menurut Ibrahim Assuabi, salah satu faktor utama yang memengaruhi pergerakan kurs mata uang secara global saat ini adalah eskalasi ketegangan di kawasan Timur Tengah. Situasi ini semakin memanas dengan pernyataan Presiden Amerika Serikat Donald Trump yang mengindikasikan adanya pembicaraan yang masih berlangsung dengan Iran. Namun, di sisi lain, Teheran dilaporkan telah menangguhkan negosiasi tidak langsung dengan Washington, menambah ketidakpastian.
Di samping itu, konflik yang terus berkecamuk antara Israel dan kelompok Hizbullah di Lebanon berpotensi besar untuk meluas dan menimbulkan ketidakstabilan regional yang lebih parah. Iran sendiri sempat melontarkan ancaman untuk menghentikan negosiasi dengan Amerika Serikat dan mengambil tindakan tegas apabila Israel terus melanjutkan serangan di wilayah Lebanon. Ancaman tersebut menciptakan iklim ketidakpastian yang tinggi, mendorong investor untuk beralih ke aset yang dianggap lebih aman seperti Dolar AS, sehingga memperkuat mata uang Paman Sam terhadap mata uang negara berkembang, termasuk Rupiah.
Dampak Data Ekonomi Domestik terhadap Stabilitas Rupiah
Sementara gejolak geopolitik internasional menjadi sorotan utama, kondisi domestik juga memberikan sentimen yang perlu dicermati. Badan Pusat Statistik (BPS) baru saja merilis data inflasi Indonesia untuk periode Mei 2026. Tercatat, inflasi tahunan (year on year/yoy) berada di angka 3,08 persen. Indeks Harga Konsumen (IHK) mengalami sedikit kenaikan menjadi 111,40, dibandingkan dengan bulan sebelumnya (April 2026) yang tercatat sebesar 111,09. Angka inflasi tahun kalender atau year-to-date (ytd) mencapai 1,35 persen, sementara inflasi bulanan tercatat sebesar 0,28 persen.
Sektor Manufaktur Menunjukkan Sinyal Pemulihan
Di tengah kekhawatiran pelemahan Rupiah dan inflasi, terdapat kabar positif dari sektor manufaktur Indonesia. Berdasarkan laporan terbaru dari S&P Global, Purchasing Managers’ Index (PMI) Manufaktur Indonesia untuk bulan Mei 2026 menunjukkan tren perbaikan yang signifikan. PMI Manufaktur Indonesia berhasil naik ke level 50,0, yang menandakan kembali masuknya sektor manufaktur ke dalam zona ekspansi. Angka ini merupakan perbaikan yang cukup berarti setelah sebelumnya terkontraksi di angka 49,1 pada bulan April 2026.
Kembalinya PMI Manufaktur ke zona ekspansi ini dapat diartikan sebagai sinyal positif bagi perekonomian Indonesia. Hal ini menunjukkan adanya peningkatan dalam aktivitas produksi, pesanan baru, dan penyerapan tenaga kerja di sektor manufaktur. Pemulihan ini, meskipun belum cukup kuat untuk sepenuhnya menahan pelemahan Rupiah, setidaknya memberikan sedikit optimisme terhadap prospek pertumbuhan ekonomi nasional di masa mendatang. Keberlanjutan tren positif di sektor manufaktur ini akan sangat bergantung pada stabilitas makroekonomi dan efektivitas kebijakan pemerintah dalam menghadapi tantangan global.























