Bank Indonesia (BI) akhirnya buka suara mengenai penyebab pelemahan tajam nilai tukar Rupiah yang sempat menembus level psikologis 17.900 per Dolar Amerika Serikat (USD) selama periode libur Idul Adha dan berlanjut hingga perdagangan terkini. Tekanan terhadap mata uang Garuda ini merupakan kombinasi kompleks dari faktor eksternal dan domestik.
- Rupiah sempat menyentuh rekor terendah sepanjang sejarah di angka 17.900 per USD pada perdagangan pasar spot saat libur Idul Adha.
- Pelemahan berlanjut pada perdagangan hari ini, ditutup di level 17.880 per USD setelah sempat menguat tipis di pembukaan.
- BI mengidentifikasi ketidakpastian global akibat konflik Timur Tengah yang berlanjut sebagai pemicu utama.
- Lonjakan permintaan valuta asing secara musiman untuk pembayaran utang luar negeri (ULN) dan repatriasi dividen juga turut menekan rupiah.
- BI menegaskan komitmennya untuk terus hadir di pasar melalui intervensi agresif guna menjaga stabilitas rupiah.
Penyebab Ganda Pelemahan Rupiah: Dari Timur Tengah hingga Kebutuhan Dolar Domestik
Mengutip keterangan Kepala Departemen Komunikasi BI, Ramdan Denny Prakoso, pelemahan rupiah tidak lepas dari bayang-bayang ketidakpastian global yang masih membayangi. Berlanjutnya konflik di kawasan Timur Tengah menjadi sorotan utama yang memicu sentimen negatif di pasar keuangan global.
“Tekanan terhadap nilai tukar Rupiah masih dipengaruhi oleh berlanjutnya ketidakpastian global akibat perkembangan konflik di Timur Tengah,” ujar Ramdan dalam keterangannya, Jumat (29/5).
Faktor eksternal ini diperparah oleh dinamika di dalam negeri. BI mencatat adanya peningkatan kebutuhan valuta asing secara musiman menjelang pertengahan tahun. Kebutuhan ini didominasi oleh pembayaran utang luar negeri perusahaan dan repatriasi dividen oleh korporasi asing yang beroperasi di Indonesia.
“Di samping itu, terdapat peningkatan kebutuhan valas secara musiman, antara lain untuk pembayaran ULN dan repatriasi dividen, di tengah arus masuk dolar AS yang terbatas,” jelas Ramdan.
BI Pastikan Intervensi Agresif dan Penguatan Kebijakan
Menghadapi tekanan yang signifikan, Bank Indonesia menegaskan komitmennya untuk tidak tinggal diam. Bank sentral memastikan akan terus hadir di pasar valuta asing (valas) untuk menjaga stabilitas nilai tukar rupiah.
Ramdan Prakoso memaparkan bahwa BI telah dan akan terus melakukan intervensi pasar valas secara agresif. Intervensi ini mencakup pasar domestik maupun pasar offshore, dengan berbagai instrumen seperti transaksi Non-Deliverable Forward (NDF) di pasar global, transaksi spot dan Domestic Non-Deliverable Forward (DNDF) di dalam negeri, hingga pembelian Surat Berharga Negara (SBN) di pasar sekunder.
Selain intervensi langsung, BI juga mengoptimalkan bauran kebijakan moneternya dengan memperkuat struktur suku bunga instrumen moneter yang dirancang lebih pro-market. Langkah ini bertujuan menjaga daya tarik aset keuangan domestik serta mendorong masuknya aliran modal asing di tengah gejolak global.
Untuk mengendalikan sisi permintaan dolar AS, BI juga mengambil langkah pengetatan regulasi. Mulai Juni 2026, pembelian tunai valas terhadap rupiah tanpa underlying transaction yang jelas akan dibatasi maksimal US$25.000 per pelaku per bulan.
BI juga akan memperketat pengawasan bersama otoritas terkait terhadap aktivitas pembelian dolar AS yang tinggi oleh bank maupun korporasi. Bank sentral akan terus mencermati perkembangan pasar keuangan global dan domestik, serta siap mengambil langkah kebijakan tambahan jika diperlukan untuk menstabilkan rupiah.























