Jumat, 24 April 2026
  • beranda
  • kontak
  • layanan
  • beriklan
  • privasi
  • perihal
WartakitaID
  • 🏠
  • ALAM
  • WARTA
    • PEMBELAJARAN
    • HUKUM
    • NUSANTARA
    • OLAHRAGA
    • TEKNOLOGI
    • KULINER
    • OTOMOTIF
    • SEPAK BOLA
    • #CEKFAKTA
  • GAYA
  • MAKASSAR
  • TEKNOLOGI
  • KONTAK
    • Mari Bermitra
    • Tentang Wartakita
    • Tim Redaksi
    • Kebijakan Privasi
    • TRAKTIR KOPI
No Result
View All Result
WartakitaID
  • 🏠
  • ALAM
  • WARTA
    • PEMBELAJARAN
    • HUKUM
    • NUSANTARA
    • OLAHRAGA
    • TEKNOLOGI
    • KULINER
    • OTOMOTIF
    • SEPAK BOLA
    • #CEKFAKTA
  • GAYA
  • MAKASSAR
  • TEKNOLOGI
  • KONTAK
    • Mari Bermitra
    • Tentang Wartakita
    • Tim Redaksi
    • Kebijakan Privasi
    • TRAKTIR KOPI
No Result
View All Result
WartakitaID
No Result
View All Result
Home Ekonomi dan Bisnis

Koperasi Desa Merah Putih: Ambisi Ekonomi Rakyat atau Beban Fiskal Baru?

by Pewarta Warga
24/04/2026
in Ekonomi dan Bisnis
Reading Time: 9 mins read
A A
Koperasi Desa Merah Putih: Ambisi Ekonomi Rakyat atau Beban Fiskal Baru? - Featured

Program Koperasi Desa Merah Putih (KDMP) dan Kampung Nelayan Merah Putih (KNMP) memantik harapan baru untuk ekonomi akar rumput. Namun, di balik gemuruh rekrutmen ribuan pengelola, muncul pertanyaan krusial mengenai keberlanjutan finansial dan kesiapan eksekusi program ambisius ini.

Menelisik Ambisi di Balik ‘Merah Putih’

Pemerintah Indonesia tengah menggalakkan program Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih (KDMP) dan Kampung Nelayan Merah Putih (KNMP) sebagai strategi utama untuk memperkuat ketahanan pangan dan memeratakan ekonomi dari tingkat desa. Inisiatif ini berfokus pada pembangunan ribuan unit koperasi yang terintegrasi dari sisi produksi, pengolahan, hingga distribusi pangan.

Titik krusial yang menarik perhatian publik adalah pembukaan rekrutmen massal untuk 35.476 posisi pengelola. Sebanyak 30.000 posisi manajer untuk KDMP berada di bawah naungan PT Agrinas Pangan Nusantara, sementara 5.476 pengelola KNMP dikelola oleh PT Agrinas Jaladira Nusantara. Para kandidat yang lolos seleksi akan berstatus sebagai pegawai Badan Usaha Milik Negara (BUMN) dengan skema Perjanjian Kerja Waktu Tertentu (PKWT) selama dua tahun, sebelum akhirnya dialihkan ke struktur koperasi desa.

Antusiasme masyarakat terhadap program ini terlihat jelas. Tercatat lebih dari 383 ribu pendaftar memperebutkan kuota yang tersedia, menunjukkan tingginya minat dan harapan akan peluang baru. Persyaratan yang ditetapkan, mulai dari jenjang pendidikan D3/S1 (D4 untuk manajer), usia maksimal 35 tahun, IPK minimal 2,75, hingga kesiapan penempatan di daerah terpencil, mengindikasikan upaya untuk mendapatkan tenaga profesional yang siap mengabdi. Pemerintah juga menegaskan komitmen terhadap transparansi seleksi melalui portal resmi, yang seharusnya meminimalisir praktik nepotisme atau “jalur ordal”.

Potensi Ekonomi: Pilar Baru Kemakmuran Desa?

Secara konseptual, KDMP dan KNMP memiliki potensi untuk menjadi motor penggerak ekonomi kerakyatan yang signifikan. Indonesia, dengan mayoritas penduduknya bermata pencaharian di sektor pertanian dan perikanan di lebih dari 70 ribu desa, dapat memanfaatkan koperasi ini sebagai pusat yang menghubungkan produsen dengan pasar secara langsung. Eliminasi peran tengkulak yang sering kali menekan harga jual petani dan nelayan, serta peningkatan nilai tambah produk lokal melalui pengolahan, merupakan tujuan utama yang patut diapresiasi.

Manfaat yang diharapkan dari program ini mencakup:

  • Penciptaan Lapangan Kerja yang Luas: Selain 35 ribu manajer, program ini berpotensi menyerap ratusan ribu tenaga kerja lokal dalam berbagai lini operasional koperasi, mulai dari produksi hingga distribusi. Ini bisa menjadi solusi strategis bagi pengangguran lulusan muda di daerah pedesaan, yang seringkali terpaksa hijrah ke kota besar mencari pekerjaan.
  • Peningkatan Pendapatan Petani dan Nelayan: Dengan manajemen profesional, koperasi dapat melakukan agregasi hasil panen atau tangkapan, melakukan diversifikasi produk melalui pengolahan sederhana (seperti pengeringan, pengemasan, atau pengalengan), serta membuka akses pasar yang lebih luas, termasuk pasar modern dan potensi ekspor. Pengalaman beberapa koperasi primer yang sukses di berbagai daerah menjadi bukti bahwa model ini dapat direplikasi.
  • Penguatan Ketahanan Pangan Nasional: Di tengah ancaman krisis pangan global yang dipicu oleh perubahan iklim dan dinamika geopolitik, program ini menawarkan pendekatan yang sangat relevan. Dengan memberdayakan produksi pangan berbasis desa, ketahanan pangan nasional dapat diperkuat. PT Agrinas sebagai BUMN induk diharapkan berperan memberikan dukungan teknis, inovasi teknologi, dan akses permodalan yang selama ini menjadi kendala bagi koperasi kecil.

Jika program ini berjalan optimal, dampak makroekonominya bisa signifikan. Pengurangan ketergantungan pada impor pangan dan peningkatan kontribusi sektor pertanian terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) yang lebih inklusif adalah target yang realistis. Anggaran cicilan Rp40 triliun per tahun dari Dana Desa, jika dikelola dengan baik, dapat diartikan sebagai investasi jangka panjang yang strategis, bukan sekadar pos belanja rutin.

Namun, vitalnya eksekusi menjadi kunci. Sejarah mencatat banyak program serupa yang gagal akibat manajemen yang buruk, intervensi politik yang berlebihan, praktik korupsi, serta minimnya modal kerja. Saat ini, banyak koperasi desa masih berada dalam status quo, hanya berfungsi sebagai penyalur bantuan program pemerintah tanpa geliat ekonomi yang berarti.

Risiko dan Keraguan: Beban Fiskal yang Mengkhawatirkan?

Di balik potensi yang menjanjikan, program KDMP dan KNMP juga dibayangi oleh sejumlah risiko yang patut diwaspadai, terutama dari aspek sosial dan ekonomi:

  1. Ketidakjelasan Sumber Dana Operasional: Pengakuan Menteri Keuangan, Bapak Purbaya Yudhi Sadewa, yang belum mengetahui secara rinci sumber dana untuk gaji para manajer, menimbulkan pertanyaan serius mengenai kedalaman perencanaan program. Dengan 35 ribu manajer yang digaji setara standar PKWT BUMN, estimasi kebutuhan anggaran tahunan bisa mencapai ratusan miliar hingga triliunan rupiah. Jika tidak bersumber langsung dari APBN, lalu dari mana? Apakah dari Sisa Hasil Usaha (SHU) koperasi yang belum beroperasi penuh? Atau dari pinjaman baru yang berpotensi membebani desa dengan utang jangka panjang? Ini adalah celah perencanaan yang sangat mengkhawatirkan.
  2. Potensi Beban Fiskal yang Berat bagi APBN: Cicilan pembangunan koperasi sebesar Rp40 triliun per tahun selama enam tahun ke depan (total Rp240 triliun) merupakan angka yang sangat signifikan. Di tengah tekanan defisit APBN dan prioritas anggaran lain seperti subsidi energi, kesehatan, dan infrastruktur, program ini berpotensi memperkecil ruang fiskal. Jika koperasi gagal menghasilkan pendapatan yang memadai, cicilan ini bisa menjadi ‘sunk cost’ yang terbuang sia-sia, dibebankan kepada pajak seluruh rakyat.
  3. Risiko Sosial dan Tata Kelola yang Kompleks:
  • Kesenjangan Ekspektasi dan Kekecewaan: Ribuan tenaga profesional muda yang direkrut dengan harapan besar bisa saja kecewa jika koperasi tidak mampu menghasilkan profitabilitas yang diharapkan. Hal ini dapat menimbulkan demotivasi, konflik internal, atau ketegangan dengan masyarakat desa setempat.
  • Potensi Politisasi Program: Skala program yang masif ini rentan disalahgunakan untuk kepentingan politik, terutama dalam hal penempatan tenaga pengelola atau intervensi terhadap keputusan operasional koperasi.
  • Dampak pada Pembangunan Desa: Pengalihan sebagian besar Dana Desa untuk cicilan pembangunan koperasi berisiko mengurangi alokasi anggaran untuk program prioritas desa lainnya seperti perbaikan infrastruktur, pendidikan, dan layanan kesehatan. Masyarakat desa berpotensi kehilangan manfaat langsung jika koperasi tidak segera memberikan kontribusi ekonomi yang nyata.
  • Manajemen Risiko BUMN yang Belum Teruji: PT Agrinas sebagai entitas induk adalah BUMN yang relatif baru. Pengalaman historis menunjukkan bahwa pengelolaan ribuan unit usaha di tingkat akar rumput sering kali terkendala oleh birokrasi yang rumit, potensi korupsi, serta minimnya akuntabilitas yang terukur di tingkat lokal.

Secara keseluruhan, tanpa perencanaan yang matang dan eksekusi yang tepat sasaran, program ambisius ini berisiko mengulang kegagalan program-program berskala besar sebelumnya: optimisme tinggi di awal, eksekusi yang lemah di lapangan, dan akhirnya menjadi beban negara serta masyarakat.

Menuju Koperasi Desa yang Berkelanjutan: Rekomendasi Solusi

Agar program KDMP dan KNMP tidak sekadar menjadi “proyek mercusuar” tanpa dampak jangka panjang, langkah-langkah konkret berikut mutlak diperlukan:

  1. Transparansi dan Akuntabilitas Anggaran yang Komprehensif: Kementerian Keuangan, Kementerian Koperasi, dan Kementerian BUMN harus segera merilis skema pendanaan yang detail. Ini mencakup proyeksi anggaran gaji, sumber dana operasional, dan model bisnis koperasi yang realistis, lengkap dengan target pendapatan dan titik impas (break-even point). Audit independen oleh Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) harus dilakukan sejak tahap awal implementasi.
  2. Peningkatan Kapasitas dan Pelatihan yang Berkelanjutan: Rekrutmen yang berkualitas hanyalah langkah awal. Para manajer perlu mendapatkan pelatihan intensif dalam manajemen koperasi modern, pemanfaatan teknologi digital, analisis pasar, serta strategi pemasaran. Kolaborasi dengan universitas dan koperasi yang telah terbukti sukses di Indonesia, seperti koperasi susu di Jawa Barat atau koperasi nelayan di Jawa Timur, akan sangat berharga sebagai mentor. Periode dua tahun penugasan di BUMN idealnya dimanfaatkan untuk program mentoring yang terstruktur, bukan sekadar “penampungan” tenaga kerja.
  3. Model Bisnis Berbasis Pasar yang Kuat: Koperasi harus didorong untuk mandiri dan tidak bergantung terus-menerus pada subsidi atau Dana Desa. Skema kemitraan dengan sektor swasta (sebagai off-taker produk), penerapan teknologi pertanian presisi (IoT), dan sistem rantai dingin (cold chain) untuk produk perikanan harus menjadi prioritas. Target kemandirian operasional dalam 3-5 tahun ke depan adalah sebuah keharusan.
  4. Partisipasi Aktif dan Pemberdayaan Masyarakat Desa: Manajer yang direkrut dari luar harus mampu membangun sinergi yang kuat dengan pengurus koperasi lokal dan seluruh anggota. Pendekatan top-down yang kaku cenderung gagal. Keterlibatan Badan Usaha Milik Desa (BUMDes) sebagai mitra strategis akan sangat memperkuat pondasi koperasi.
  5. Mekanisme Monitoring dan Evaluasi Berkala yang Transparan: Perlu dibentuk sebuah dashboard publik yang menampilkan progres pembangunan, data rekrutmen, dan kinerja keuangan koperasi secara real-time. Jika dalam kurun waktu satu hingga dua tahun program tidak menunjukkan hasil yang signifikan, pemerintah harus siap untuk melakukan evaluasi mendalam, melakukan penyesuaian strategi (pivot), atau bahkan membatasi skala program.
  6. Diversifikasi Sumber Pendanaan: Selain Dana Desa, perlu dijajaki sumber pendanaan alternatif seperti dana Corporate Social Responsibility (CSR) dari BUMN lain, investasi dari impact fund, atau skema blended finance untuk mengurangi beban tunggal pada APBN.

Kesimpulan: Pertaruhan Antara Harapan dan Realitas

Program Koperasi Desa Merah Putih dan Kampung Nelayan Merah Putih adalah visi yang sangat mulia dalam upaya membangun ekonomi dari akar rumput, memperkuat ketahanan pangan nasional, serta menciptakan lapangan kerja yang inklusif. Tingginya antusiasme dalam rekrutmen pengelola menunjukkan adanya harapan besar dari masyarakat terhadap peluang yang ditawarkan.

Namun, pengakuan dari Menteri Keuangan mengenai ketidakpastian sumber dana operasional menjadi pengingat penting akan perlunya perencanaan yang matang dan terstruktur. Tanpa transparansi anggaran yang menyeluruh, tata kelola yang baik, serta model bisnis yang benar-benar berkelanjutan, potensi besar program ini justru dapat berbalik menjadi risiko sosial (kekecewaan publik dan keraguan terhadap program pemerintah) serta risiko ekonomi (pembengkakan utang negara dan daerah).

Pemerintah perlu segera mengklarifikasi seluruh skema program, melibatkan seluruh pemangku kepentingan secara luas—mulai dari akademisi, praktisi koperasi, hingga masyarakat desa—dan memastikan bahwa program ini benar-benar berorientasi pada pemberdayaan masyarakat, bukan sekadar menjadi beban fiskal baru.

Di era ketidakpastian ekonomi global, Indonesia membutuhkan terobosan dalam model koperasi modern yang adaptif, bukan sekadar replikasi model lama yang terbukti kerap gagal. Keberhasilan program ini akan menjadi tolok ukur kemampuan pemerintah dalam menjalankan agenda pembangunan berskala besar dengan disiplin fiskal dan ketajaman eksekusi. Masyarakat menanti bukan sekadar janji, melainkan hasil nyata yang dapat dirasakan langsung dampaknya.


Koperasi Desa Merah Putih: Ambisi Ekonomi Rakyat atau Beban Fiskal Baru? - image 1

BACA JUGA:

PKL Makassar Diberdayakan: Akses Kredit Usaha Rakyat Jadi Kunci Penataan Ekonomi Baru

Stadion Barombong Makassar: Miliar Rupiah Terbengkalai Akibat Lahan yang Tak Kunjung Tuntas

ASN Hemat Energi: Perjalanan Dinas Dipangkas 70%, WFH Menjadi Kenormalan Baru

PLN UID Sulselrabar Berangkatkan 500 Pemudik Gratis ke Surabaya dan Baubau, Komitmen ‘Mudik Aman Berbagi Harapan’

Ancaman Defisit APBN 3% PDB: Kemenkeu Instruksikan K/L Hitung Ulang Anggaran

Tags: Agrinas Jaladira NusantaraAgrinas Pangan NusantaraAPBNBUMNDana DesaEkonomi RakyatFiskal Indonesiaketahanan panganKoperasi Desa Merah PutihPemberdayaan Ekonomiwartakita
Share5Tweet3Send
Diskon Referral 20% Cloud Professional Hostinger Diskon Referral 20% Cloud Professional Hostinger Diskon Referral 20% Cloud Professional Hostinger

ARTIKEL TERKAIT

Koperasi Desa Merah Putih: Ambisi Ekonomi Rakyat atau Beban Fiskal Baru? - Featured

Harga Buyback Emas Antam Hari Ini, Kamis 23 April 2026: Cek Rinciannya

23/04/2026
Koperasi Desa Merah Putih: Ambisi Ekonomi Rakyat atau Beban Fiskal Baru? - Featured

Kurs Rupiah di Atas Rp 17.000/USD: Amankah? Penjelasan Gubernur BI

23/04/2026
Koperasi Desa Merah Putih: Ambisi Ekonomi Rakyat atau Beban Fiskal Baru? - Featured

Sorotan Anggaran: Kontroversi Pengadaan Ribuan Motor Listrik Badan Gizi Nasional

10/04/2026
Koperasi Desa Merah Putih: Ambisi Ekonomi Rakyat atau Beban Fiskal Baru? - Featured

PNM Menuju Bank UMKM: Harapan Baru Revitalisasi Sektor Mikro, Kecil, dan Menengah Indonesia

10/04/2026
Koperasi Desa Merah Putih: Ambisi Ekonomi Rakyat atau Beban Fiskal Baru? - Featured

Harga Minyak Meroket: Selat Hormuz Terhambat dan Eskalasi Timur Tengah Picu Kekhawatiran Global

09/04/2026
Koperasi Desa Merah Putih: Ambisi Ekonomi Rakyat atau Beban Fiskal Baru? - Featured

Sensus Ekonomi 2026: Kunci Ekspansi Bisnis dan Penguatan Jakarta sebagai Kota Global

09/04/2026
Koperasi Desa Merah Putih: Ambisi Ekonomi Rakyat atau Beban Fiskal Baru? - Featured

Gaji ke-13 ASN: Antara Kebutuhan Pendidikan dan Efisiensi Anggaran Pemerintah

08/04/2026
Koperasi Desa Merah Putih: Ambisi Ekonomi Rakyat atau Beban Fiskal Baru? - Featured

Aturan Baru: Dana Transfer Daerah Kini Bisa Danai Pembangunan Koperasi Merah Putih

06/04/2026

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

I agree to the Terms & Conditions and Privacy Policy.

TERPOPULER-SEPEKAN

  • Koperasi Desa Merah Putih: Ambisi Ekonomi Rakyat atau Beban Fiskal Baru? - Featured

    Kode CMD Untuk Mempercepat Kinerja Laptop

    585 shares
    Share 234 Tweet 146
  • Stadion Barombong Makassar: Miliar Rupiah Terbengkalai Akibat Lahan yang Tak Kunjung Tuntas

    18 shares
    Share 7 Tweet 5
  • PKL Makassar Diberdayakan: Akses Kredit Usaha Rakyat Jadi Kunci Penataan Ekonomi Baru

    17 shares
    Share 7 Tweet 4
  • Prediksi Bayern Munchen vs Atletico Madrid 4 Mei 2016

    34 shares
    Share 14 Tweet 9
  • Indonesia Diguncang Rangkaian Gempa M5+ dalam 48 Jam, BMKG Tegaskan Tak Berpotensi Tsunami

    16 shares
    Share 6 Tweet 4
  • Gempa 7,7 Magnitudo Guncang Jepang Timur Laut: Kronologi, Evakuasi Massal, dan Peringatan Tsunami

    16 shares
    Share 6 Tweet 4
  • Pete-pete Laut Makassar: Konektivitas Baru untuk Pulau, Beroperasi Mei-Juni 2026

    16 shares
    Share 6 Tweet 4
  • Taro Waterpark CitraLand Tallasa City: Sensasi Petualangan Air Terbaru untuk Keluarga Makassar

    16 shares
    Share 6 Tweet 4
  • Tes Keseimbangan Sederhana: Kunci Menjaga Kesehatan dan Memprediksi Umur Panjang

    16 shares
    Share 6 Tweet 4
  • Cara Gunting Layer Rambut Kakak Cantik

    35 shares
    Share 14 Tweet 9
Koperasi Desa Merah Putih: Ambisi Ekonomi Rakyat atau Beban Fiskal Baru? - Featured

Unduh Buku Saku “SIAGA BENCANA” dari BNPB

02/11/2023

Buku saku siaga bencana ini tidak menjamin keselamatan Anda. Namun, memberikan pedoman secara umum untuk kesiapsiagaan.

Read moreDetails

WARTAKITA

Koperasi Desa Merah Putih: Ambisi Ekonomi Rakyat atau Beban Fiskal Baru? - Featured
Otomotif

Update Harga OTR & Simulasi Kredit Vespa Matic 2025: Dari LX 125 hingga GTS 300 Super Tech

29/11/2025
Koperasi Desa Merah Putih: Ambisi Ekonomi Rakyat atau Beban Fiskal Baru? - Featured
Otomotif

Ancaman Mogok Akibat Aki Lemah di Musim Hujan: Kenapa Perawatan Mandiri Mobil LCGC Jadi Krusial?

16/11/2025
img 1764471350 26f1c112a772ad44.jpg
Fashion & Kecantikan

Azzaro The Most Wanted: Parfum Pria yang Memikat dengan Aroma Melenakan

14/12/2025
Koperasi Desa Merah Putih: Ambisi Ekonomi Rakyat atau Beban Fiskal Baru? - Featured
Gadget

Insta360 GO 3S Hadir dengan Video 4K dan Dukungan Apple Find My

25/07/2024
Koperasi Desa Merah Putih: Ambisi Ekonomi Rakyat atau Beban Fiskal Baru? - Featured
Fashion & Kecantikan

Parfum Mahal Tapi Cepat Hilang Kena Keringat? 4 Rekomendasi Parfum “Anti-Gerah” Tahan Lama di Cuaca Indonesia

30/11/2025
Koperasi Desa Merah Putih: Ambisi Ekonomi Rakyat atau Beban Fiskal Baru? - Featured
Gadget

Hacker Gunakan AI Claude Code untuk Serangan Otonomus

14/11/2025
menari bersama misteri nara saluna
Gaya Hidup

Merasa Tertinggal dari Teman Seusiamu? Mari Berdamai dengan “Garis Waktu” Hidup yang Tak Terduga

29/11/2025
Koperasi Desa Merah Putih: Ambisi Ekonomi Rakyat atau Beban Fiskal Baru? - Featured
Fashion & Kecantikan

Bosan Jomblo atau Hubungan Terasa Hambar? Pikat dengan 4 Parfum “Date Night” Menggoda Ini

29/11/2025
skincare kulit kering 2 e1766181785188.jpg
Fashion & Kecantikan

7 Jurus Pilih Pelembap Bikin Glowing Sehat

20/12/2025
Koperasi Desa Merah Putih: Ambisi Ekonomi Rakyat atau Beban Fiskal Baru? - Featured
Fashion & Kecantikan

Rahasia Kilau Rambut Jisoo Bukan Cuma Alat Mahal! 4 “Serum Ajaib” Wajib Punya untuk Lindungi Rambut dari Panas

29/11/2025
Koperasi Desa Merah Putih: Ambisi Ekonomi Rakyat atau Beban Fiskal Baru? - Featured
Gadget

Labirin Pilihan Smartphone Modern: Dari Fotografi Hingga Gaming

15/11/2025
Koperasi Desa Merah Putih: Ambisi Ekonomi Rakyat atau Beban Fiskal Baru? - Featured
Gaya Hidup

Ancaman Senyap di Meja Kerja: Hindari 5 Kebiasaan Buruk WFH Ini Demi Kesehatan Anda

21/11/2025
Koperasi Desa Merah Putih: Ambisi Ekonomi Rakyat atau Beban Fiskal Baru? - Featured
Alam dan Lingkungan Hidup

Tips Keselamatan Saat Gempa Bumi

23/12/2023

Gempa bumi tidak seperti kejadian alam lainnya yang masih bisa diprediksi jauh-jauh hari dengan lebih akurat.

Read moreDetails
  • beranda
  • kontak
  • layanan
  • beriklan
  • privasi
  • perihal

©2021 wartakita media

  • Login
No Result
View All Result
  • 🏠
  • ALAM
  • WARTA
    • PEMBELAJARAN
    • HUKUM
    • NUSANTARA
    • OLAHRAGA
    • TEKNOLOGI
    • KULINER
    • OTOMOTIF
    • SEPAK BOLA
    • #CEKFAKTA
  • GAYA
  • MAKASSAR
  • TEKNOLOGI
  • KONTAK
    • Mari Bermitra
    • Tentang Wartakita
    • Tim Redaksi
    • Kebijakan Privasi
    • TRAKTIR KOPI

©2021 wartakita media

wartakita.id menggunakan cookies tanpa mengorbankan privasi pengunjung.