Kamis, 14 Mei 2026
  • beranda
  • kontak
  • layanan
  • beriklan
  • privasi
  • perihal
WartakitaID
  • 🏠
  • ALAM
  • WARTA
    • PEMBELAJARAN
    • HUKUM
    • NUSANTARA
    • OLAHRAGA
    • TEKNOLOGI
    • KULINER
    • OTOMOTIF
    • SEPAK BOLA
    • #CEKFAKTA
  • GAYA
  • MAKASSAR
  • TEKNOLOGI
  • KONTAK
    • Mari Bermitra
    • Tentang Wartakita
    • Tim Redaksi
    • Kebijakan Privasi
    • TRAKTIR KOPI
No Result
View All Result
WartakitaID
  • 🏠
  • ALAM
  • WARTA
    • PEMBELAJARAN
    • HUKUM
    • NUSANTARA
    • OLAHRAGA
    • TEKNOLOGI
    • KULINER
    • OTOMOTIF
    • SEPAK BOLA
    • #CEKFAKTA
  • GAYA
  • MAKASSAR
  • TEKNOLOGI
  • KONTAK
    • Mari Bermitra
    • Tentang Wartakita
    • Tim Redaksi
    • Kebijakan Privasi
    • TRAKTIR KOPI
No Result
View All Result
WartakitaID
No Result
View All Result
Home Opini

Esai Ramadan #22: Cahaya di Atas Cahaya dan Niat yang Menjadi Bening

by A. Burhany
11/03/2026
in Opini
Reading Time: 5 mins read
A A
Esai Ramadan #22: Cahaya di Atas Cahaya dan Niat yang Menjadi Bening - Featured

Dua puluh dua hari. Dan saya mulai menyadari bahwa saya tidak lagi bisa membedakan mana yang puasa dan mana yang saya.

Maksud saya begini: di awal Ramadan, puasa adalah sesuatu yang saya lakukan. Kini ia lebih terasa seperti sesuatu yang saya jalani—seperti cuaca, seperti napas, seperti ritme yang sudah menyerap ke dalam tanpa perlu diingat-ingat terus.

Saya tidak tahu apakah ini yang dimaksud dengan niat yang menjadi bening. Tapi rasanya seperti itu.


Puisi yang lahir di Mallengkeri beberapa malam lalu terus mengusik saya: “Akhirnya, kita semua akan berhenti tepat di mana niat kita pertama kali jatuh.”

Di manakah niat saya jatuh?

Saya duduk dengan pertanyaan itu cukup lama. Dan yang saya temukan tidak selalu menyenangkan.


Esai Ramadan #22: Cahaya di Atas Cahaya dan Niat yang Menjadi Bening - image 1

Ada masa-masa di mana saya adalah pedagang parfum di pasar spiritualitas. Mencintai wangi Ramadan, memuja suasana syahdu salat malam, menjual “ingatan tentang mawar” lewat kata-kata bijak—tapi tidak pernah berani menyentuh akarnya. Takut pada tanah yang kotor. Takut pada duri komitmen. Takut pada sunyi yang menuntut perubahan perilaku nyata.

Niat saya waktu itu masih berupa aroma. Belum menjadi akar.

Ada juga masa-masa di mana saya terjebak di sisi lain—memuja luka saya sendiri. Merasa lebih saleh karena lebih menderita, merasa lebih dekat dengan Tuhan karena lebih perih. Sampai suatu titik saya sadar bahwa saya sudah mulai mencintai identitas “orang yang dizalimi” itu lebih dari saya mencintai Sang Pencipta rasa sakit. Luka saya telah menjadi berhala yang lebih nyaman dari pemulihan.

Saya rasa saya tidak sendirian dalam dua jebakan ini.


Di sepuluh malam terakhir ini, ada undangan untuk sesuatu yang berbeda.

Bukan lagi berjalan dengan ego yang tahu ke mana tujuan. Tapi membiarkan diri diperjalankan—rindu yang menarik lebih dari logika yang mendorong. Tidak lagi mengatur Tuhan dengan doa-doa yang panjang dan rinci. Membiarkan Tuhan mengatur kita.

Niat yang sudah teruji lapar, sudah digosok oleh kritik dan muhasabah, sudah dimurnikan oleh pengabdian pada orang-orang yang paling dekat—ia mulai berubah. Seperti cahaya menembus kaca yang bersih: tidak tampak lagi sebagai kaca, hanya tampak sebagai cahaya.

Ini yang dimaksud Cahaya di Atas Cahaya, saya kira. Bukan cahaya yang lebih terang. Tapi cahaya yang sudah tidak menghalangi.


Belum lama ini sebuah kajian lewat di beranda media sosial saya. Seorang penceramah membahas Surah Al-Mu’minun ayat 12-15. Beruntung tausiah dalam bahasa Arab itu dilengkapi teks bahasa Indonesia.

Dengan mata berkaca-kaca ia menjelaskan terjemahan dan tafsiran ayat demi ayat tentang proses penciptaan manusia—proses yang baru diketahui oleh ilmu pengetahuan modern berabad kemudian.

Air matanya jatuh ketika ia menutup terjemahan ayat 15. “Mengapa, setelah menggambarkan proses terciptanya manusia dengan begitu runut dan terperinci, ditutup dengan penegasan tanpa ampun: ‘Kemudian setelah itu, sungguh kamu pasti mati.’? Mengapa tak ada deskripsi lengkap tentang hidup sebagaimana proses kelahiran digambarkan? Mengapa kehidupan duniawi tidak dianggap perlu dijelaskan di surah ini?”

BACA JUGA:

Penutup Esai Ramadan #30: Satu Hal Saja

Kementerian ESDM Pastikan Keandalan Pasokan Listrik Sulawesi Jelang Ramadan & Idul Fitri 1447 H

Esai Ramadan #29: Menuai Hujan dan Residu yang Tersisa

Ramadan 2026: Hari ini 17 Maret berapa Ramadan?

Esai Ramadan #28: Azan dan Kepulangan yang Sejati

Pikiran dan jiwa saya ikut terguncang dengan fakta telanjang yang dibukanya—fakta yang memaksa saya memeriksa kembali niat saya selama hidup di dunia ini.


Saya memutar ulang kajian itu beberapa kali.

Dan setiap kali saya mendengar pertanyaan itu—mengapa kehidupan tidak dideskripsikan sepanjang dan serinci kelahiran, mengapa setelah proses penciptaan yang begitu ajaib langsung melompat ke kematian—saya menemukan diri saya tidak bisa menjawabnya dengan teologi. Saya hanya bisa menjawabnya dengan perasaan.

Mungkin kehidupan tidak dideskripsikan secara rinci bukan karena ia tidak penting. Tapi karena ia seharusnya tidak perlu dijelaskan—ia seharusnya dijalani. Dan satu-satunya cara menjalaninya dengan benar adalah dengan selalu ingat dari mana kita berasal dan ke mana kita akan kembali.

Niat, akhirnya, adalah tentang arah. Bukan tentang jarak yang sudah ditempuh, bukan tentang bekal yang sudah dikumpulkan. Pedagang parfum salah arah karena ia menuju panggung. Pemuja luka salah arah karena ia menuju cermin. Keduanya sibuk dengan dirinya sendiri—hanya berbeda kostum.

Yang diperjalankan tidak sibuk dengan arah karena ia sudah tahu tujuannya. Dan tujuan itu ternyata sangat sederhana—terlalu sederhana untuk ego yang terbiasa mencari yang rumit.


Niat yang bening tidak lagi mencari wangi dan tidak lagi meratapi perih. Ia hanya ingin satu hal sederhana yang ternyata tidak sesederhana kedengarannya:

Pulang.


Malam ini, saya tidak ingin mengajukan terlalu banyak pertanyaan. Hanya satu: di manakah niat Anda jatuh hari ini—dibandingkan dengan hari pertama Ramadan?

Jawabannya tidak perlu dibagikan ke siapa pun. Cukup duduk dengannya sebentar. Biarkan ia bicara.

Selamat menjadi bening. Selamat diperjalankan oleh cahaya.

"Di Hadapan Pintu Kepulangan"

Akhirnya, kita semua akan berhenti
tepat di mana niat kita pertama kali jatuh.

Kau yang hanya mencintai wangi,
kembalilah ke pasar.
Jadilah pedagang parfum yang paling harum,
juallah botol-botol berisi ingatan tentang mawar,
meski kau sendiri tak pernah berani menyentuh akarnya.

Kau yang jatuh cinta pada perih,
berdirilah di pintu rumah sakit dan kuil.
Jadilah penyembuh yang membawa duri di jari-jarimu,
atau berhati-hatilah, jangan sampai kau memuja luka
lebih dari kau memuja Sang Pencipta rasa sakit.

Dan bagi yang diperjalankan—
yang ditarik oleh rindu tanpa sempat mengikat tali sepatu—
tak ada lagi tempat untuk singgah.

Kita akan terus digoda oleh bayang-bayang fana,
oleh bau tanah setelah hujan, oleh hangat jabat tangan.
Namun justru di sana harganya:
bahwa kita memilih setia pada Yang Tak Terlihat,
di tengah dunia yang begitu bising menawarkan yang terlihat.

Perjalanan ini tak pernah selesai.
Ia hanya berganti rupa.
Dari kaki yang berjalan,
menjadi hati yang diperjalankan.

Mallengkeri, 11/02/2026
Tags: berbuka puasacahaya di atas cahaya tasawufesai 10 malam terakhir puasaesai Ramadanjebakan spiritualitas egomakna niat ibadah ramadanmakna niat puasaniat puasa Ramadanniat yang tulusRamadanRamadan 2026refleksi kematian dan kehidupanspiritualitas puasatafsir surah al muminun ayat 12-15
Share10Tweet7Send
Diskon Referral 20% Cloud Professional Hostinger Diskon Referral 20% Cloud Professional Hostinger Diskon Referral 20% Cloud Professional Hostinger

ARTIKEL TERKAIT

Esai Ramadan #22: Cahaya di Atas Cahaya dan Niat yang Menjadi Bening - Featured

Kontroversi Film “Pesta Babi”: Narasi Pembangunan, Hak Adat Papua, dan Lingkaran Kekuasaan

12/05/2026
Esai Ramadan #22: Cahaya di Atas Cahaya dan Niat yang Menjadi Bening - Featured

Selamat Jalan, Pak Umar

23/03/2026
Esai Ramadan #22: Cahaya di Atas Cahaya dan Niat yang Menjadi Bening - Featured

Penutup Esai Ramadan #30: Satu Hal Saja

19/03/2026
Esai Ramadan #22: Cahaya di Atas Cahaya dan Niat yang Menjadi Bening - Featured

Esai Ramadan #29: Menuai Hujan dan Residu yang Tersisa

18/03/2026
Esai Ramadan #22: Cahaya di Atas Cahaya dan Niat yang Menjadi Bening - Featured

Esai Ramadan #28: Azan dan Kepulangan yang Sejati

17/03/2026
Esai Ramadan #22: Cahaya di Atas Cahaya dan Niat yang Menjadi Bening - Featured

Esai Ramadan #27: Jelang Perpisahan dengan Tamu yang Memuliakan

16/03/2026
Esai Ramadan #22: Cahaya di Atas Cahaya dan Niat yang Menjadi Bening - Featured

Esai Ramadan #26: Zakat yang Melampaui Angka

14/03/2026
Esai Ramadan #22: Cahaya di Atas Cahaya dan Niat yang Menjadi Bening - Featured

Esai Ramadan #25: Pulang ke Fitrah dan Laundry Pakaian Jiwa

14/03/2026

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

I agree to the Terms & Conditions and Privacy Policy.

TERPOPULER-SEPEKAN

  • ‘Beauty Is A Wound’ Eka Kurniawan Menangi ‘World Readers Award’ - Arsip

    ‘Beauty Is A Wound’ Eka Kurniawan Menangi ‘World Readers Award’

    49 shares
    Share 20 Tweet 12
  • Ambisi John Herdman: Timnas Indonesia Wajib Taklukkan Thailand di Piala Asia 2027

    37 shares
    Share 15 Tweet 9
  • #CekFakta Nama AstraZeneca Memiliki Arti ‘Senjata yang Mematikan’

    43 shares
    Share 17 Tweet 11
  • Panduan Makeup Natural untuk Kencan Pertama yang Berkesan

    44 shares
    Share 18 Tweet 11
  • AS dan Iran Saling Serang: Eskalasi Ketegangan di Selat Hormuz

    33 shares
    Share 13 Tweet 8
  • Hari Kartini 2026: Anggota DPRD Makassar Dorong Perempuan Lebih Aktif di Kancah Politik

    37 shares
    Share 15 Tweet 9
  • PLN Tantang Mahasiswa Rancang Gokart Listrik, Dorong Inovasi Kendaraan Ramah Lingkungan

    56 shares
    Share 22 Tweet 14
  • MU Melawan Galatasaray di Liga Champions: Jadwal, Prediksi, dan Harapan

    32 shares
    Share 13 Tweet 8
  • Kontroversi Film “Pesta Babi”: Narasi Pembangunan, Hak Adat Papua, dan Lingkaran Kekuasaan

    30 shares
    Share 12 Tweet 8
  • Update Tarif Listrik Mei 2026: Harga Token dan Pascabayar Tetap

    29 shares
    Share 12 Tweet 7
Esai Ramadan #22: Cahaya di Atas Cahaya dan Niat yang Menjadi Bening - Featured

Unduh Buku Saku “SIAGA BENCANA” dari BNPB

02/11/2023

Buku saku siaga bencana ini tidak menjamin keselamatan Anda. Namun, memberikan pedoman secara umum untuk kesiapsiagaan.

Read moreDetails

WARTAKITA

Esai Ramadan #22: Cahaya di Atas Cahaya dan Niat yang Menjadi Bening - Featured
Otomotif

Vespa Primavera vs. Sprint 2025: Dua Jiwa, Satu Mesin, Pilihan Anda?

30/11/2025
Esai Ramadan #22: Cahaya di Atas Cahaya dan Niat yang Menjadi Bening - Featured
Fashion & Kecantikan

Rahasia Kulit Glowing di Rumah: Spa Mandiri & Perawatan Diri untuk Beauty Besties

23/11/2025
Esai Ramadan #22: Cahaya di Atas Cahaya dan Niat yang Menjadi Bening - Featured
Gadget

Hacker Gunakan AI Claude Code untuk Serangan Otonomus

14/11/2025
Esai Ramadan #22: Cahaya di Atas Cahaya dan Niat yang Menjadi Bening - Featured
Gaya Hidup

Jeda di Tengah Badai: Tiga Kompas Batin untuk Mengarungi Gelombang Hidup

20/11/2025
Esai Ramadan #22: Cahaya di Atas Cahaya dan Niat yang Menjadi Bening - Featured
Otomotif

Ancaman Mogok Akibat Aki Lemah di Musim Hujan: Kenapa Perawatan Mandiri Mobil LCGC Jadi Krusial?

16/11/2025
Esai Ramadan #22: Cahaya di Atas Cahaya dan Niat yang Menjadi Bening - Featured
Gadget

Jisoo BLACKPINK dan Dyson: Rahasia Rambut Sehat Berkilau

21/11/2025
Esai Ramadan #22: Cahaya di Atas Cahaya dan Niat yang Menjadi Bening - Featured
Gaya Hidup

Ancaman Senyap di Meja Kerja: Hindari 5 Kebiasaan Buruk WFH Ini Demi Kesehatan Anda

21/11/2025
Esai Ramadan #22: Cahaya di Atas Cahaya dan Niat yang Menjadi Bening - Featured
Gaya Hidup

Keseimbangan Hidup Optimal: Menjaga Kesehatan dari Dalam dan Luar

24/11/2025
menari bersama misteri nara saluna
Gaya Hidup

Merasa Tertinggal dari Teman Seusiamu? Mari Berdamai dengan “Garis Waktu” Hidup yang Tak Terduga

29/11/2025
Esai Ramadan #22: Cahaya di Atas Cahaya dan Niat yang Menjadi Bening - Featured
Otomotif

Bukan Sekadar Skuter: Panduan Memilih Vespa Impian Anda di Tahun 2026

23/11/2025
Esai Ramadan #22: Cahaya di Atas Cahaya dan Niat yang Menjadi Bening - Featured
Gaya Hidup

Cara agar Hidup Anak Kost Lebih Tenang di Dapur dan Rumah

22/11/2025
skincare kulit kering 2 e1766181785188.jpg
Fashion & Kecantikan

7 Jurus Pilih Pelembap Bikin Glowing Sehat

20/12/2025
Esai Ramadan #22: Cahaya di Atas Cahaya dan Niat yang Menjadi Bening - Featured
Alam dan Lingkungan Hidup

Tips Keselamatan Saat Gempa Bumi

23/12/2023

Gempa bumi tidak seperti kejadian alam lainnya yang masih bisa diprediksi jauh-jauh hari dengan lebih akurat.

Read moreDetails
  • beranda
  • kontak
  • layanan
  • beriklan
  • privasi
  • perihal

©2021 wartakita media

  • Login
No Result
View All Result
  • 🏠
  • ALAM
  • WARTA
    • PEMBELAJARAN
    • HUKUM
    • NUSANTARA
    • OLAHRAGA
    • TEKNOLOGI
    • KULINER
    • OTOMOTIF
    • SEPAK BOLA
    • #CEKFAKTA
  • GAYA
  • MAKASSAR
  • TEKNOLOGI
  • KONTAK
    • Mari Bermitra
    • Tentang Wartakita
    • Tim Redaksi
    • Kebijakan Privasi
    • TRAKTIR KOPI

©2021 wartakita media

wartakita.id menggunakan cookies tanpa mengorbankan privasi pengunjung.