Selasa, 22 September 2026
  • beranda
  • kontak
  • layanan
  • beriklan
  • privasi
  • perihal
WartakitaID
  • 🏚️
  • ALAM
  • WARTA
    • PEMBELAJARAN
    • HUKUM
    • NUSANTARA
    • OLAHRAGA
    • TEKNOLOGI
    • KULINER
    • OTOMOTIF
    • SEPAK BOLA
    • #CEKFAKTA
  • GAYA
  • MAKASSAR
  • TEKNOLOGI
  • KONTAK
    • Mari Bermitra
    • Tentang Wartakita
    • Tim Redaksi
    • Kebijakan Privasi
    • TRAKTIR KOPI
No Result
View All Result
WartakitaID
  • 🏚️
  • ALAM
  • WARTA
    • PEMBELAJARAN
    • HUKUM
    • NUSANTARA
    • OLAHRAGA
    • TEKNOLOGI
    • KULINER
    • OTOMOTIF
    • SEPAK BOLA
    • #CEKFAKTA
  • GAYA
  • MAKASSAR
  • TEKNOLOGI
  • KONTAK
    • Mari Bermitra
    • Tentang Wartakita
    • Tim Redaksi
    • Kebijakan Privasi
    • TRAKTIR KOPI
No Result
View All Result
WartakitaID
No Result
View All Result
Home Opini

Esai Ramadan #22: Cahaya di Atas Cahaya dan Niat yang Menjadi Bening

by A. Burhany
11/03/2026
in Opini
Reading Time: 5 mins read
A A
utama-22

BACA JUGA:

Penutup Esai Ramadan #30: Satu Hal Saja

Kementerian ESDM Pastikan Keandalan Pasokan Listrik Sulawesi Jelang Ramadan & Idul Fitri 1447 H

Esai Ramadan #29: Menuai Hujan dan Residu yang Tersisa

Ramadan 2026: Hari ini 17 Maret berapa Ramadan?

Esai Ramadan #28: Azan dan Kepulangan yang Sejati

Dua puluh dua hari. Dan saya mulai menyadari bahwa saya tidak lagi bisa membedakan mana yang puasa dan mana yang saya.

Maksud saya begini: di awal Ramadan, puasa adalah sesuatu yang saya lakukan. Kini ia lebih terasa seperti sesuatu yang saya jalani—seperti cuaca, seperti napas, seperti ritme yang sudah menyerap ke dalam tanpa perlu diingat-ingat terus.

Saya tidak tahu apakah ini yang dimaksud dengan niat yang menjadi bening. Tapi rasanya seperti itu.


Puisi yang lahir di Mallengkeri beberapa malam lalu terus mengusik saya: “Akhirnya, kita semua akan berhenti tepat di mana niat kita pertama kali jatuh.”

Di manakah niat saya jatuh?

Saya duduk dengan pertanyaan itu cukup lama. Dan yang saya temukan tidak selalu menyenangkan.


Esai Ramadan #22: Cahaya di Atas Cahaya dan Niat yang Menjadi Bening - image 1

Ada masa-masa di mana saya adalah pedagang parfum di pasar spiritualitas. Mencintai wangi Ramadan, memuja suasana syahdu salat malam, menjual “ingatan tentang mawar” lewat kata-kata bijak—tapi tidak pernah berani menyentuh akarnya. Takut pada tanah yang kotor. Takut pada duri komitmen. Takut pada sunyi yang menuntut perubahan perilaku nyata.

Niat saya waktu itu masih berupa aroma. Belum menjadi akar.

Ada juga masa-masa di mana saya terjebak di sisi lain—memuja luka saya sendiri. Merasa lebih saleh karena lebih menderita, merasa lebih dekat dengan Tuhan karena lebih perih. Sampai suatu titik saya sadar bahwa saya sudah mulai mencintai identitas “orang yang dizalimi” itu lebih dari saya mencintai Sang Pencipta rasa sakit. Luka saya telah menjadi berhala yang lebih nyaman dari pemulihan.

Saya rasa saya tidak sendirian dalam dua jebakan ini.


Di sepuluh malam terakhir ini, ada undangan untuk sesuatu yang berbeda.

Bukan lagi berjalan dengan ego yang tahu ke mana tujuan. Tapi membiarkan diri diperjalankan—rindu yang menarik lebih dari logika yang mendorong. Tidak lagi mengatur Tuhan dengan doa-doa yang panjang dan rinci. Membiarkan Tuhan mengatur kita.

Niat yang sudah teruji lapar, sudah digosok oleh kritik dan muhasabah, sudah dimurnikan oleh pengabdian pada orang-orang yang paling dekat—ia mulai berubah. Seperti cahaya menembus kaca yang bersih: tidak tampak lagi sebagai kaca, hanya tampak sebagai cahaya.

Ini yang dimaksud Cahaya di Atas Cahaya, saya kira. Bukan cahaya yang lebih terang. Tapi cahaya yang sudah tidak menghalangi.


Belum lama ini sebuah kajian lewat di beranda media sosial saya. Seorang penceramah membahas Surah Al-Mu’minun ayat 12-15. Beruntung tausiah dalam bahasa Arab itu dilengkapi teks bahasa Indonesia.

Dengan mata berkaca-kaca ia menjelaskan terjemahan dan tafsiran ayat demi ayat tentang proses penciptaan manusia—proses yang baru diketahui oleh ilmu pengetahuan modern berabad kemudian.

Air matanya jatuh ketika ia menutup terjemahan ayat 15. “Mengapa, setelah menggambarkan proses terciptanya manusia dengan begitu runut dan terperinci, ditutup dengan penegasan tanpa ampun: ‘Kemudian setelah itu, sungguh kamu pasti mati.’? Mengapa tak ada deskripsi lengkap tentang hidup sebagaimana proses kelahiran digambarkan? Mengapa kehidupan duniawi tidak dianggap perlu dijelaskan di surah ini?”

Pikiran dan jiwa saya ikut terguncang dengan fakta telanjang yang dibukanya—fakta yang memaksa saya memeriksa kembali niat saya selama hidup di dunia ini.


Saya memutar ulang kajian itu beberapa kali.

Dan setiap kali saya mendengar pertanyaan itu—mengapa kehidupan tidak dideskripsikan sepanjang dan serinci kelahiran, mengapa setelah proses penciptaan yang begitu ajaib langsung melompat ke kematian—saya menemukan diri saya tidak bisa menjawabnya dengan teologi. Saya hanya bisa menjawabnya dengan perasaan.

Mungkin kehidupan tidak dideskripsikan secara rinci bukan karena ia tidak penting. Tapi karena ia seharusnya tidak perlu dijelaskan—ia seharusnya dijalani. Dan satu-satunya cara menjalaninya dengan benar adalah dengan selalu ingat dari mana kita berasal dan ke mana kita akan kembali.

Niat, akhirnya, adalah tentang arah. Bukan tentang jarak yang sudah ditempuh, bukan tentang bekal yang sudah dikumpulkan. Pedagang parfum salah arah karena ia menuju panggung. Pemuja luka salah arah karena ia menuju cermin. Keduanya sibuk dengan dirinya sendiri—hanya berbeda kostum.

Yang diperjalankan tidak sibuk dengan arah karena ia sudah tahu tujuannya. Dan tujuan itu ternyata sangat sederhana—terlalu sederhana untuk ego yang terbiasa mencari yang rumit.


Niat yang bening tidak lagi mencari wangi dan tidak lagi meratapi perih. Ia hanya ingin satu hal sederhana yang ternyata tidak sesederhana kedengarannya:

Pulang.


Malam ini, saya tidak ingin mengajukan terlalu banyak pertanyaan. Hanya satu: di manakah niat Anda jatuh hari ini—dibandingkan dengan hari pertama Ramadan?

Jawabannya tidak perlu dibagikan ke siapa pun. Cukup duduk dengannya sebentar. Biarkan ia bicara.

Selamat menjadi bening. Selamat diperjalankan oleh cahaya.

"Di Hadapan Pintu Kepulangan"

Akhirnya, kita semua akan berhenti
tepat di mana niat kita pertama kali jatuh.

Kau yang hanya mencintai wangi,
kembalilah ke pasar.
Jadilah pedagang parfum yang paling harum,
juallah botol-botol berisi ingatan tentang mawar,
meski kau sendiri tak pernah berani menyentuh akarnya.

Kau yang jatuh cinta pada perih,
berdirilah di pintu rumah sakit dan kuil.
Jadilah penyembuh yang membawa duri di jari-jarimu,
atau berhati-hatilah, jangan sampai kau memuja luka
lebih dari kau memuja Sang Pencipta rasa sakit.

Dan bagi yang diperjalankan—
yang ditarik oleh rindu tanpa sempat mengikat tali sepatu—
tak ada lagi tempat untuk singgah.

Kita akan terus digoda oleh bayang-bayang fana,
oleh bau tanah setelah hujan, oleh hangat jabat tangan.
Namun justru di sana harganya:
bahwa kita memilih setia pada Yang Tak Terlihat,
di tengah dunia yang begitu bising menawarkan yang terlihat.

Perjalanan ini tak pernah selesai.
Ia hanya berganti rupa.
Dari kaki yang berjalan,
menjadi hati yang diperjalankan.

Mallengkeri, 11/02/2026
Rekomendasikan Wartakita.id
Tags: berbuka puasacahaya di atas cahaya tasawufesai 10 malam terakhir puasaesai Ramadanjebakan spiritualitas egomakna niat ibadah ramadanmakna niat puasaniat puasa Ramadanniat yang tulusRamadanRamadan 2026refleksi kematian dan kehidupanspiritualitas puasatafsir surah al muminun ayat 12-15
Share11Tweet7Send

ARTIKEL TERKAIT

Esai Ramadan #22: Cahaya di Atas Cahaya dan Niat yang Menjadi Bening - Featured

Maulid, Karhutla, dan Kemarahan Publik: Ironi Moral Tanpa Amanah

25/08/2026
Esai Ramadan #22: Cahaya di Atas Cahaya dan Niat yang Menjadi Bening - Featured

Skenario Reformasi: Senjata Coretax 2026 dan Jalan Terang Menuju Pertumbuhan 6%

28/07/2026
Esai Ramadan #22: Cahaya di Atas Cahaya dan Niat yang Menjadi Bening - Featured

Skenario Status Quo: Bayang-Bayang Utang Rp10.000 T dan Ancaman Permanen Middle-Income Trap

28/07/2026
Esai Ramadan #22: Cahaya di Atas Cahaya dan Niat yang Menjadi Bening - Featured

Trajektori 2026-2031: Menuju Indonesia Emas atau Terjebak Krisis Permanen?

28/07/2026
Esai Ramadan #22: Cahaya di Atas Cahaya dan Niat yang Menjadi Bening - Featured

Selamatkan APBN 2026: Redefinisi Anggaran Pendidikan 20% dan Ketegasan BPI Danantara

28/07/2026
Esai Ramadan #22: Cahaya di Atas Cahaya dan Niat yang Menjadi Bening - Featured

Paradoks Desentralisasi 2026: Mengapa Anggaran Daerah Dipangkas demi Program Populis Pusat?

28/07/2026
Esai Ramadan #22: Cahaya di Atas Cahaya dan Niat yang Menjadi Bening - Featured

Siklus Anggaran Politis dan Korupsi Rp279 Triliun: Saat Uang Rakyat Jadi Ongkos ‘Elit’ yang Hidup dalam Siklus 5 Tahunan

28/07/2026
Esai Ramadan #22: Cahaya di Atas Cahaya dan Niat yang Menjadi Bening - Featured

Kualitas Layanan Publik Stagnan: Mengurai Korupsi, Siklus Politis, dan Absennya Keadilan Pajak

28/07/2026

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

I agree to the Terms & Conditions and Privacy Policy.

TERPOPULER-SEPEKAN

  • wisata dan tradisi nyekar di pulau libukang palopo

    Wisata Dan Tradisi Nyekar Di Pulau Libukang Palopo

    191 shares
    Share 76 Tweet 48
  • Misteri Telur Mata Sapi di Gunung Anak Krakatau: Penjelasan Ilmiah Fenomena Unik

    30 shares
    Share 12 Tweet 8
  • Kode CMD Untuk Mempercepat Kinerja Laptop

    797 shares
    Share 319 Tweet 199
  • AXA Financial Indonesia Perkuat Perlindungan Berbasis Syariah dengan Peluncuran AXA Sharia Life Insurance

    19 shares
    Share 8 Tweet 5
  • Grab Akuisisi Atome Financial: Langkah Strategis Perkuat Ekosistem Layanan Keuangan Indonesia

    18 shares
    Share 7 Tweet 5
  • Teras Perwira 2026: Grab & OVO Finansial Bekali Ribuan Mitra UMKM di 10 Kota

    16 shares
    Share 6 Tweet 4
  • Reshuffle Mendadak Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa: Analisis Mendalam Politik dan Anggaran

    18 shares
    Share 7 Tweet 5
  • BMKG Makassar Ingatkan Warga Sulsel: Waspada Cuaca Ekstrem, Angin Kencang, dan Udara Panas di September 2026

    18 shares
    Share 7 Tweet 5
  • Sejarah Lunas: Utang Krisis 1998 Berakhir Agustus 2026, Dibayar Pakai Surplus BI Rp 55 Triliun

    15 shares
    Share 6 Tweet 4
  • Strategi Multidimensi Melawan Dampak Kebakaran Hutan & Lahan di Kalimantan: Respons Komprehensif Melampaui Krisis Asap

    15 shares
    Share 6 Tweet 4
wartakita-id-buku-saku-bencana-bnpb_cr

Unduh Buku Saku “SIAGA BENCANA” dari BNPB

02/11/2023

Buku saku siaga bencana ini tidak menjamin keselamatan Anda. Namun, memberikan pedoman secara umum untuk kesiapsiagaan.

Read moreDetails

WARTAKITA

ilustrasi pria berketombe
Gaya Hidup

Rambut Rontok Parah? Kenali Penyebab dan Solusi Alami

24/11/2025
insta360-go-3s-780x470.jpg
Gadget

Insta360 GO 3S Hadir dengan Video 4K dan Dukungan Apple Find My

25/07/2024
4 rekomendasi parfum anti gerah dan tahan lama di cuaca indonesia_wartakita.id
Fashion & Kecantikan

Parfum Mahal Tapi Cepat Hilang Kena Keringat? 4 Rekomendasi Parfum “Anti-Gerah” Tahan Lama di Cuaca Indonesia

30/11/2025
telegram-bot
Gadget

Labirin Pilihan Smartphone Modern: Dari Fotografi Hingga Gaming

15/11/2025
Alternatif Hair Styler Canggih Mulai 300 Ribuan_wartakita.id
Fashion & Kecantikan

Ingin Rambut ‘Badai’ ala Jisoo Tapi Budget Terbatas? Ini 3 Alternatif Hair Styler Canggih Mulai 300 Ribuan!

29/11/2025
parfum untuk jomblo_wartakita.id
Fashion & Kecantikan

Bosan Jomblo atau Hubungan Terasa Hambar? Pikat dengan 4 Parfum “Date Night” Menggoda Ini

29/11/2025
img 1764471350 26f1c112a772ad44.jpg
Fashion & Kecantikan

Azzaro The Most Wanted: Parfum Pria yang Memikat dengan Aroma Melenakan

14/12/2025
featured 1_tn1
Fashion & Kecantikan

Tren Hijab 2025-2026: 25+ Gaya Fashion Muslim Kekinian

14/11/2025
5 Kebiasaan Buruk WFH_cr_tn1
Gaya Hidup

Ancaman Senyap di Meja Kerja: Hindari 5 Kebiasaan Buruk WFH Ini Demi Kesehatan Anda

21/11/2025
Cara Hidup Anak Kost agar Lebih Tenang di Dapur dan Rumah_cr_tn1
Gaya Hidup

Cara agar Hidup Anak Kost Lebih Tenang di Dapur dan Rumah

22/11/2025
1766621435-7-gadget-traveling-wajib-bawa-buat-liburan-nataru-anti-lowbat.jpg
Gadget

7 Gadget Traveling Wajib Bawa Buat Liburan Nataru (Anti Lowbat)

25/12/2025
vespa gts supertech
Otomotif

Update Harga OTR & Simulasi Kredit Vespa Matic 2025: Dari LX 125 hingga GTS 300 Super Tech

29/11/2025
tips-keselamatan
Alam dan Lingkungan Hidup

Tips Keselamatan Saat Gempa Bumi

23/12/2023

Gempa bumi tidak seperti kejadian alam lainnya yang masih bisa diprediksi jauh-jauh hari dengan lebih akurat.

Read moreDetails
  • beranda
  • kontak
  • layanan
  • beriklan
  • privasi
  • perihal

©2021 wartakita media

  • Login
No Result
View All Result
  • 🏚️
  • ALAM
  • WARTA
    • PEMBELAJARAN
    • HUKUM
    • NUSANTARA
    • OLAHRAGA
    • TEKNOLOGI
    • KULINER
    • OTOMOTIF
    • SEPAK BOLA
    • #CEKFAKTA
  • GAYA
  • MAKASSAR
  • TEKNOLOGI
  • KONTAK
    • Mari Bermitra
    • Tentang Wartakita
    • Tim Redaksi
    • Kebijakan Privasi
    • TRAKTIR KOPI

©2021 wartakita media

wartakita.id menggunakan cookies tanpa mengorbankan privasi pengunjung.