Senin, 10 Agustus 2026
  • beranda
  • kontak
  • layanan
  • beriklan
  • privasi
  • perihal
WartakitaID
  • 🏚️
  • ALAM
  • WARTA
    • PEMBELAJARAN
    • HUKUM
    • NUSANTARA
    • OLAHRAGA
    • TEKNOLOGI
    • KULINER
    • OTOMOTIF
    • SEPAK BOLA
    • #CEKFAKTA
  • GAYA
  • MAKASSAR
  • TEKNOLOGI
  • KONTAK
    • Mari Bermitra
    • Tentang Wartakita
    • Tim Redaksi
    • Kebijakan Privasi
    • TRAKTIR KOPI
No Result
View All Result
WartakitaID
  • 🏚️
  • ALAM
  • WARTA
    • PEMBELAJARAN
    • HUKUM
    • NUSANTARA
    • OLAHRAGA
    • TEKNOLOGI
    • KULINER
    • OTOMOTIF
    • SEPAK BOLA
    • #CEKFAKTA
  • GAYA
  • MAKASSAR
  • TEKNOLOGI
  • KONTAK
    • Mari Bermitra
    • Tentang Wartakita
    • Tim Redaksi
    • Kebijakan Privasi
    • TRAKTIR KOPI
No Result
View All Result
WartakitaID
No Result
View All Result
Home Opini

Esai Ramadan #22: Cahaya di Atas Cahaya dan Niat yang Menjadi Bening

by A. Burhany
11/03/2026
in Opini
Reading Time: 5 mins read
A A
utama-22

Dua puluh dua hari. Dan saya mulai menyadari bahwa saya tidak lagi bisa membedakan mana yang puasa dan mana yang saya.

Maksud saya begini: di awal Ramadan, puasa adalah sesuatu yang saya lakukan. Kini ia lebih terasa seperti sesuatu yang saya jalani—seperti cuaca, seperti napas, seperti ritme yang sudah menyerap ke dalam tanpa perlu diingat-ingat terus.

Saya tidak tahu apakah ini yang dimaksud dengan niat yang menjadi bening. Tapi rasanya seperti itu.


Puisi yang lahir di Mallengkeri beberapa malam lalu terus mengusik saya: “Akhirnya, kita semua akan berhenti tepat di mana niat kita pertama kali jatuh.”

Di manakah niat saya jatuh?

Saya duduk dengan pertanyaan itu cukup lama. Dan yang saya temukan tidak selalu menyenangkan.


Esai Ramadan #22: Cahaya di Atas Cahaya dan Niat yang Menjadi Bening - image 1

Ada masa-masa di mana saya adalah pedagang parfum di pasar spiritualitas. Mencintai wangi Ramadan, memuja suasana syahdu salat malam, menjual “ingatan tentang mawar” lewat kata-kata bijak—tapi tidak pernah berani menyentuh akarnya. Takut pada tanah yang kotor. Takut pada duri komitmen. Takut pada sunyi yang menuntut perubahan perilaku nyata.

Niat saya waktu itu masih berupa aroma. Belum menjadi akar.

Ada juga masa-masa di mana saya terjebak di sisi lain—memuja luka saya sendiri. Merasa lebih saleh karena lebih menderita, merasa lebih dekat dengan Tuhan karena lebih perih. Sampai suatu titik saya sadar bahwa saya sudah mulai mencintai identitas “orang yang dizalimi” itu lebih dari saya mencintai Sang Pencipta rasa sakit. Luka saya telah menjadi berhala yang lebih nyaman dari pemulihan.

Saya rasa saya tidak sendirian dalam dua jebakan ini.


Di sepuluh malam terakhir ini, ada undangan untuk sesuatu yang berbeda.

Bukan lagi berjalan dengan ego yang tahu ke mana tujuan. Tapi membiarkan diri diperjalankan—rindu yang menarik lebih dari logika yang mendorong. Tidak lagi mengatur Tuhan dengan doa-doa yang panjang dan rinci. Membiarkan Tuhan mengatur kita.

Niat yang sudah teruji lapar, sudah digosok oleh kritik dan muhasabah, sudah dimurnikan oleh pengabdian pada orang-orang yang paling dekat—ia mulai berubah. Seperti cahaya menembus kaca yang bersih: tidak tampak lagi sebagai kaca, hanya tampak sebagai cahaya.

Ini yang dimaksud Cahaya di Atas Cahaya, saya kira. Bukan cahaya yang lebih terang. Tapi cahaya yang sudah tidak menghalangi.


Belum lama ini sebuah kajian lewat di beranda media sosial saya. Seorang penceramah membahas Surah Al-Mu’minun ayat 12-15. Beruntung tausiah dalam bahasa Arab itu dilengkapi teks bahasa Indonesia.

Dengan mata berkaca-kaca ia menjelaskan terjemahan dan tafsiran ayat demi ayat tentang proses penciptaan manusia—proses yang baru diketahui oleh ilmu pengetahuan modern berabad kemudian.

Air matanya jatuh ketika ia menutup terjemahan ayat 15. “Mengapa, setelah menggambarkan proses terciptanya manusia dengan begitu runut dan terperinci, ditutup dengan penegasan tanpa ampun: ‘Kemudian setelah itu, sungguh kamu pasti mati.’? Mengapa tak ada deskripsi lengkap tentang hidup sebagaimana proses kelahiran digambarkan? Mengapa kehidupan duniawi tidak dianggap perlu dijelaskan di surah ini?”

BACA JUGA:

Penutup Esai Ramadan #30: Satu Hal Saja

Kementerian ESDM Pastikan Keandalan Pasokan Listrik Sulawesi Jelang Ramadan & Idul Fitri 1447 H

Esai Ramadan #29: Menuai Hujan dan Residu yang Tersisa

Ramadan 2026: Hari ini 17 Maret berapa Ramadan?

Esai Ramadan #28: Azan dan Kepulangan yang Sejati

Pikiran dan jiwa saya ikut terguncang dengan fakta telanjang yang dibukanya—fakta yang memaksa saya memeriksa kembali niat saya selama hidup di dunia ini.


Saya memutar ulang kajian itu beberapa kali.

Dan setiap kali saya mendengar pertanyaan itu—mengapa kehidupan tidak dideskripsikan sepanjang dan serinci kelahiran, mengapa setelah proses penciptaan yang begitu ajaib langsung melompat ke kematian—saya menemukan diri saya tidak bisa menjawabnya dengan teologi. Saya hanya bisa menjawabnya dengan perasaan.

Mungkin kehidupan tidak dideskripsikan secara rinci bukan karena ia tidak penting. Tapi karena ia seharusnya tidak perlu dijelaskan—ia seharusnya dijalani. Dan satu-satunya cara menjalaninya dengan benar adalah dengan selalu ingat dari mana kita berasal dan ke mana kita akan kembali.

Niat, akhirnya, adalah tentang arah. Bukan tentang jarak yang sudah ditempuh, bukan tentang bekal yang sudah dikumpulkan. Pedagang parfum salah arah karena ia menuju panggung. Pemuja luka salah arah karena ia menuju cermin. Keduanya sibuk dengan dirinya sendiri—hanya berbeda kostum.

Yang diperjalankan tidak sibuk dengan arah karena ia sudah tahu tujuannya. Dan tujuan itu ternyata sangat sederhana—terlalu sederhana untuk ego yang terbiasa mencari yang rumit.


Niat yang bening tidak lagi mencari wangi dan tidak lagi meratapi perih. Ia hanya ingin satu hal sederhana yang ternyata tidak sesederhana kedengarannya:

Pulang.


Malam ini, saya tidak ingin mengajukan terlalu banyak pertanyaan. Hanya satu: di manakah niat Anda jatuh hari ini—dibandingkan dengan hari pertama Ramadan?

Jawabannya tidak perlu dibagikan ke siapa pun. Cukup duduk dengannya sebentar. Biarkan ia bicara.

Selamat menjadi bening. Selamat diperjalankan oleh cahaya.

"Di Hadapan Pintu Kepulangan"

Akhirnya, kita semua akan berhenti
tepat di mana niat kita pertama kali jatuh.

Kau yang hanya mencintai wangi,
kembalilah ke pasar.
Jadilah pedagang parfum yang paling harum,
juallah botol-botol berisi ingatan tentang mawar,
meski kau sendiri tak pernah berani menyentuh akarnya.

Kau yang jatuh cinta pada perih,
berdirilah di pintu rumah sakit dan kuil.
Jadilah penyembuh yang membawa duri di jari-jarimu,
atau berhati-hatilah, jangan sampai kau memuja luka
lebih dari kau memuja Sang Pencipta rasa sakit.

Dan bagi yang diperjalankan—
yang ditarik oleh rindu tanpa sempat mengikat tali sepatu—
tak ada lagi tempat untuk singgah.

Kita akan terus digoda oleh bayang-bayang fana,
oleh bau tanah setelah hujan, oleh hangat jabat tangan.
Namun justru di sana harganya:
bahwa kita memilih setia pada Yang Tak Terlihat,
di tengah dunia yang begitu bising menawarkan yang terlihat.

Perjalanan ini tak pernah selesai.
Ia hanya berganti rupa.
Dari kaki yang berjalan,
menjadi hati yang diperjalankan.

Mallengkeri, 11/02/2026
Add wartakita.id as a preferred source on Google

Tags: berbuka puasacahaya di atas cahaya tasawufesai 10 malam terakhir puasaesai Ramadanjebakan spiritualitas egomakna niat ibadah ramadanmakna niat puasaniat puasa Ramadanniat yang tulusRamadanRamadan 2026refleksi kematian dan kehidupanspiritualitas puasatafsir surah al muminun ayat 12-15
Share11Tweet7Send

ARTIKEL TERKAIT

Esai Ramadan #22: Cahaya di Atas Cahaya dan Niat yang Menjadi Bening - Featured

Skenario Reformasi: Senjata Coretax 2026 dan Jalan Terang Menuju Pertumbuhan 6%

28/07/2026
Esai Ramadan #22: Cahaya di Atas Cahaya dan Niat yang Menjadi Bening - Featured

Skenario Status Quo: Bayang-Bayang Utang Rp10.000 T dan Ancaman Permanen Middle-Income Trap

28/07/2026
Esai Ramadan #22: Cahaya di Atas Cahaya dan Niat yang Menjadi Bening - Featured

Trajektori 2026-2031: Menuju Indonesia Emas atau Terjebak Krisis Permanen?

28/07/2026
Esai Ramadan #22: Cahaya di Atas Cahaya dan Niat yang Menjadi Bening - Featured

Selamatkan APBN 2026: Redefinisi Anggaran Pendidikan 20% dan Ketegasan BPI Danantara

28/07/2026
Esai Ramadan #22: Cahaya di Atas Cahaya dan Niat yang Menjadi Bening - Featured

Paradoks Desentralisasi 2026: Mengapa Anggaran Daerah Dipangkas demi Program Populis Pusat?

28/07/2026
Esai Ramadan #22: Cahaya di Atas Cahaya dan Niat yang Menjadi Bening - Featured

Siklus Anggaran Politis dan Korupsi Rp279 Triliun: Saat Uang Rakyat Jadi Ongkos ‘Elit’ yang Hidup dalam Siklus 5 Tahunan

28/07/2026
Esai Ramadan #22: Cahaya di Atas Cahaya dan Niat yang Menjadi Bening - Featured

Kualitas Layanan Publik Stagnan: Mengurai Korupsi, Siklus Politis, dan Absennya Keadilan Pajak

28/07/2026
Esai Ramadan #22: Cahaya di Atas Cahaya dan Niat yang Menjadi Bening - Featured

Pendarahan Cukai Rp60 Triliun: Siapa yang Diuntungkan dari Sindikat Rokok Ilegal?

27/07/2026

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

I agree to the Terms & Conditions and Privacy Policy.

TERPOPULER-SEPEKAN

  • wisata dan tradisi nyekar di pulau libukang palopo

    Wisata Dan Tradisi Nyekar Di Pulau Libukang Palopo

    422 shares
    Share 169 Tweet 106
  • Malaysia & Indonesia Blokir Grok AI: Respons Cepat atas Ancaman Deepfake Seksual dan Langkah xAI Terkini

    42 shares
    Share 17 Tweet 11
  • Benteng Aman Para Pencari Selamat: Saat Kritik dan Perbedaan Pendapat Dilindas Atas Nama Stabilitas

    75 shares
    Share 30 Tweet 19
  • Kode CMD Untuk Mempercepat Kinerja Laptop

    722 shares
    Share 289 Tweet 181
  • Aksi Lingkungan dan Sosial Gerakan Rakyat Sulsel: 100 Bibit Pohon dan Ratusan Takjil Jelang HUT Pertama

    52 shares
    Share 21 Tweet 13
  • Presiden Prabowo Alokasikan Rp 20,5 T untuk 490 Pemda yang Terlilit Masalah Keuangan

    19 shares
    Share 8 Tweet 5
  • Jebakan Bunga Utang Rp599 Triliun: Mengapa SBN Mematikan Akses Kredit Swasta dan UMKM?

    31 shares
    Share 12 Tweet 8
  • Makassar Akan Terangi Kota dengan Energi dari Sampah: Proyek PSEL Rp 3 Triliun di TPA Tamangapa

    36 shares
    Share 14 Tweet 9
  • Hujan, Nasi Goreng, dan Proposal: Hari Pertama Konser BLACKPINK di GBK yang Literally Nggak Terlupakan

    340 shares
    Share 143 Tweet 89
  • Tips Merawat Kulit Sekitar Mata, Mencegah Kerutan dan Mata Panda

    24 shares
    Share 10 Tweet 6
wartakita-id-buku-saku-bencana-bnpb_cr

Unduh Buku Saku “SIAGA BENCANA” dari BNPB

02/11/2023

Buku saku siaga bencana ini tidak menjamin keselamatan Anda. Namun, memberikan pedoman secara umum untuk kesiapsiagaan.

Read moreDetails

WARTAKITA

featured 1_tn1
Fashion & Kecantikan

Tren Hijab 2025-2026: 25+ Gaya Fashion Muslim Kekinian

14/11/2025
Jisoo+Dyson
Gadget

Jisoo BLACKPINK dan Dyson: Rahasia Rambut Sehat Berkilau

21/11/2025
telegram-bot
Gadget

Labirin Pilihan Smartphone Modern: Dari Fotografi Hingga Gaming

15/11/2025
parfum dengan kharisma sejati 1_cr
Fashion & Kecantikan

Kenapa Parfum Anda Tidak Meninggalkan Kesan? (Dan Cara Mengatasinya)

16/11/2025
Alternatif Hair Styler Canggih Mulai 300 Ribuan_wartakita.id
Fashion & Kecantikan

Ingin Rambut ‘Badai’ ala Jisoo Tapi Budget Terbatas? Ini 3 Alternatif Hair Styler Canggih Mulai 300 Ribuan!

29/11/2025
4 rekomendasi parfum anti gerah dan tahan lama di cuaca indonesia_wartakita.id
Fashion & Kecantikan

Parfum Mahal Tapi Cepat Hilang Kena Keringat? 4 Rekomendasi Parfum “Anti-Gerah” Tahan Lama di Cuaca Indonesia

30/11/2025
Seni Merawat Vespa Matic_wartakita.id
Otomotif

Seni Merawat Vespa Matic: Bebaskan Gredek, Nikmati Perjalanan Halus

06/12/2025
5 Kebiasaan Buruk WFH_cr_tn1
Gaya Hidup

Ancaman Senyap di Meja Kerja: Hindari 5 Kebiasaan Buruk WFH Ini Demi Kesehatan Anda

21/11/2025
menari bersama misteri nara saluna
Gaya Hidup

Merasa Tertinggal dari Teman Seusiamu? Mari Berdamai dengan “Garis Waktu” Hidup yang Tak Terduga

29/11/2025
insta360-go-3s-780x470.jpg
Gadget

Insta360 GO 3S Hadir dengan Video 4K dan Dukungan Apple Find My

25/07/2024
1763287827_Smoothing-vs-Rebonding-vs-Keratin-Mana-yang-Terbaik-untuk-Rambutmu.jpg
Fashion & Kecantikan

Smoothing vs Rebonding vs Keratin: Mana yang Terbaik untuk Rambutmu?

16/11/2025
merawat-aki-mobil-dimusim-hujan-2_cr
Otomotif

Ancaman Mogok Akibat Aki Lemah di Musim Hujan: Kenapa Perawatan Mandiri Mobil LCGC Jadi Krusial?

16/11/2025
tips-keselamatan
Alam dan Lingkungan Hidup

Tips Keselamatan Saat Gempa Bumi

23/12/2023

Gempa bumi tidak seperti kejadian alam lainnya yang masih bisa diprediksi jauh-jauh hari dengan lebih akurat.

Read moreDetails
  • beranda
  • kontak
  • layanan
  • beriklan
  • privasi
  • perihal

©2021 wartakita media

  • Login
No Result
View All Result
  • 🏚️
  • ALAM
  • WARTA
    • PEMBELAJARAN
    • HUKUM
    • NUSANTARA
    • OLAHRAGA
    • TEKNOLOGI
    • KULINER
    • OTOMOTIF
    • SEPAK BOLA
    • #CEKFAKTA
  • GAYA
  • MAKASSAR
  • TEKNOLOGI
  • KONTAK
    • Mari Bermitra
    • Tentang Wartakita
    • Tim Redaksi
    • Kebijakan Privasi
    • TRAKTIR KOPI

©2021 wartakita media

wartakita.id menggunakan cookies tanpa mengorbankan privasi pengunjung.