Senin, 13 April 2026
  • beranda
  • kontak
  • layanan
  • beriklan
  • privasi
  • perihal
WartakitaID
  • 🏠
  • ALAM
  • WARTA
    • PEMBELAJARAN
    • HUKUM
    • NUSANTARA
    • OLAHRAGA
    • TEKNOLOGI
    • KULINER
    • OTOMOTIF
    • SEPAK BOLA
    • #CEKFAKTA
  • GAYA
  • MAKASSAR
  • TEKNOLOGI
  • KONTAK
    • Mari Bermitra
    • Tentang Wartakita
    • Tim Redaksi
    • Kebijakan Privasi
    • TRAKTIR KOPI
No Result
View All Result
WartakitaID
  • 🏠
  • ALAM
  • WARTA
    • PEMBELAJARAN
    • HUKUM
    • NUSANTARA
    • OLAHRAGA
    • TEKNOLOGI
    • KULINER
    • OTOMOTIF
    • SEPAK BOLA
    • #CEKFAKTA
  • GAYA
  • MAKASSAR
  • TEKNOLOGI
  • KONTAK
    • Mari Bermitra
    • Tentang Wartakita
    • Tim Redaksi
    • Kebijakan Privasi
    • TRAKTIR KOPI
No Result
View All Result
WartakitaID
No Result
View All Result
Home Opini

Esai Ramadan #15: Mencari Wajah Tuhan dalam Wajah Asing

by A. Burhany
04/03/2026
in Opini
Reading Time: 5 mins read
A A
Esai Ramadan #15: Mencari Wajah Tuhan dalam Wajah Asing - Featured

Empat belas hari ini kita telah banyak menunjuk ke luar—ke pasar hukum, ke birokrasi yang gagal, ke berhala ijazah, ke jurang antara sajadah dan integritas. Kritik-kritik itu perlu. Tapi hari ini, di titik tengah Ramadan, saya ingin mengarahkan telunjuk itu ke dalam.

Karena ada bahaya yang diam-diam mengintai di balik keriuhan kritik sosial: kesombongan spiritual. Sangat mudah bagi kita—manusia yang merasa telah “tercerahkan”—untuk menunjuk hidung para pejabat dan birokrat, sambil lupa bahwa di dalam diri kita sendiri pun terdapat kantor birokrasi yang tak kalah korupnya.


Kita sering mencari Tuhan di tempat-tempat yang nyaman: di dalam keheningan masjid yang ber-AC, di dalam barisan ayat yang kita hafal, di dalam diskusi intelektual yang memuaskan logika.

Tapi bagaimana jika Tuhan sebenarnya lebih sering hadir di tempat yang paling ingin kita hindari? Bagaimana jika Tuhan sedang menatap kita melalui wajah asing yang kita jumpai di trotoar, di balik kemudi ojek daring, atau di mata petugas kebersihan yang kita abaikan saat masuk ke gedung kantor? Bagaimana jika ternyata seeing is believing adalah bentuk kesombongan manusia?

Seorang filsuf pernah berkata bahwa wajah adalah sebuah etika. Saat kita menatap wajah orang lain, kita tidak sedang melihat objek fisik—kita sedang menerima perintah untuk tidak membunuh martabatnya. Bagaimana pun wajahnya dan wajah kita.


Di sinilah muhasabah saya bermula.

Sebagai praktisi infrastruktur IT yang terbiasa dengan efisiensi sistem, saya sering memperlakukan manusia sebagai tiket gangguan yang harus segera diselesaikan, atau data yang harus diolah. Saya menuntut integritas dari para pengambil kebijakan, namun apakah saya sudah memiliki integritas saat menatap mata seorang pengemis di perempatan? Apakah saya melihatnya sebagai manusia yang sedang menguji ketulusan saya—atau hanya sebagai gangguan statistik yang merusak pemandangan?


Ada sebuah ayat yang selama ini saya pahami terlalu sempit: “Ke mana pun kamu menghadap, di situ ada wajah Allah.”

Saya dulu membacanya sebagai pernyataan tentang kiblat—bahwa Tuhan tidak terikat pada satu arah geografis. Tapi di titik tengah Ramadan ini, saya membacanya dengan cara yang berbeda: bahwa Tuhan hadir di setiap arah yang kita hadapi. Termasuk arah yang paling jarang kita pilih—arah ke dalam.

Ke mana pun kamu menghadap, di situ ada wajah Allah. Termasuk saat kamu menghadap cermin.

Tapi wajah apa yang kita temukan di sana? Apakah wajah yang kita lihat adalah wajah seseorang yang sudah cukup lembut untuk menerima kehadiran Tuhan—atau wajah seseorang yang masih terlalu sibuk menghakimi dunia di luar sana untuk sempat melihat ke dalam?

Saya pernah menatap pantulan wajah saya sendiri di saat penuh amarah—dan untuk sesaat, saya tidak mengenalinya. Bukan karena wajahnya berubah secara fisik, tapi karena ekspresi yang ada di sana adalah ekspresi yang tidak ingin saya akui sebagai milik saya. Ekspresi seseorang yang merasa benar secara mutlak. Seseorang yang sedang membangun tembok, bukan jembatan.

Di wajah itulah, justru, Tuhan sedang menunggu untuk ditemukan—bukan untuk dipuja, tapi untuk diakui: bahwa kita masih jauh, bahwa kita masih perlu dibersihkan, bahwa kesombongan spiritual yang kita bicarakan di awal esai ini bukan hanya ada pada orang lain.

Ia ada di wajah yang kita lihat setiap pagi di cermin.


Kita merindukan perjumpaan dengan Tuhan di kehidupan setelah mati. Namun kita sering membuang muka saat Tuhan menjumpai kita dalam wujud orang-orang asing yang membutuhkan perhatian, keadilan, atau sekadar sapaan manusiawi. Dan kita juga membuang muka saat Tuhan menjumpai kita dalam wajah kita sendiri—wajah yang penuh dengan hal-hal yang belum selesai kita bereskan.


Hari ini kita berada tepat di titik tengah—pintu antara fase Maghfirah yang baru kita lewati dan sepuluh hari terakhir yang akan kita masuki. Di sana, kita akan bicara tentang pembebasan. Tapi bagaimana mungkin kita bisa dibebaskan dari api, jika di dalam diri kita masih tersimpan api kebencian, api penghakiman, dan api rasa lebih baik dari sesama?

Lapar di hari ke-15 ini seharusnya tidak hanya mengosongkan perut. Ia juga harus mengosongkan kursi hakim di dalam kepala kita—kursi yang terlalu lama kita duduki dengan nyaman.


Mencari wajah Tuhan dalam wajah asing berarti mengakui bahwa kesalehan kita tidak ada artinya jika ia tidak membuat kita lebih lembut pada manusia lain. Salat kita hambar jika ia tidak membuat kita mampu merasakan getaran penderitaan orang yang bahkan tidak kita kenal namanya.

BACA JUGA:

Penutup Esai Ramadan #30: Satu Hal Saja

Kementerian ESDM Pastikan Keandalan Pasokan Listrik Sulawesi Jelang Ramadan & Idul Fitri 1447 H

Esai Ramadan #29: Menuai Hujan dan Residu yang Tersisa

Ramadan 2026: Hari ini 17 Maret berapa Ramadan?

Esai Ramadan #28: Azan dan Kepulangan yang Sejati

Setiap orang yang kita temui hari ini adalah pesan dari Tuhan. Jika kita gagal membacanya karena terlalu sibuk dengan ego sendiri—terlalu sibuk mengkritik sistem di luar sana—maka seberapa pun banyak rakaat yang kita tegakkan, kita sebenarnya sedang menjauh dari perjumpaan yang sesungguhnya.

Dan setiap kali kita menghadap cermin—dan memilih untuk benar-benar melihat, bukan sekadar merapikan penampilan—kita juga sedang membaca pesan yang sama.


Hari ini, mari kita berhenti sejenak dari kebisingan kritik. Mari kita berlatih untuk benar-benar melihat—ke luar, pada wajah-wajah asing yang menunggu untuk diakui kemanusiaannya. Dan ke dalam, pada wajah kita sendiri yang menunggu untuk jujur diakui kekurangannya.

Selamat memulai perjalanan ke dalam. Mari kita temukan Tuhan di tempat yang paling tidak terduga: dalam ketulusan kita mencintai orang-orang yang tak punya arti apa-apa bagi kepentingan kita—dan dalam keberanian kita menatap wajah kita sendiri tanpa berpaling.

Tags: berbuka puasaempati sosial ramadanesai RamadanEsai Ramadan 2026esai ramadan hari 15esombongan spiritualFilsafat Wajahkritik dirimakna niat puasamemanusiakan manusiamencari wajah tuhanMuhasabahmuhasabah diri pertengahan ramadanniat puasa RamadanRamadanRamadan 2026refleksi cermin dirispiritualitas puasaTitik Tengah Ramadan
Share11Tweet7Send
Diskon Referral 20% Cloud Professional Hostinger Diskon Referral 20% Cloud Professional Hostinger Diskon Referral 20% Cloud Professional Hostinger

ARTIKEL TERKAIT

Esai Ramadan #15: Mencari Wajah Tuhan dalam Wajah Asing - Featured

Selamat Jalan, Pak Umar

23/03/2026
Esai Ramadan #15: Mencari Wajah Tuhan dalam Wajah Asing - Featured

Penutup Esai Ramadan #30: Satu Hal Saja

19/03/2026
Esai Ramadan #15: Mencari Wajah Tuhan dalam Wajah Asing - Featured

Esai Ramadan #29: Menuai Hujan dan Residu yang Tersisa

18/03/2026
Esai Ramadan #15: Mencari Wajah Tuhan dalam Wajah Asing - Featured

Esai Ramadan #28: Azan dan Kepulangan yang Sejati

17/03/2026
Esai Ramadan #15: Mencari Wajah Tuhan dalam Wajah Asing - Featured

Esai Ramadan #27: Jelang Perpisahan dengan Tamu yang Memuliakan

16/03/2026
Esai Ramadan #15: Mencari Wajah Tuhan dalam Wajah Asing - Featured

Esai Ramadan #26: Zakat yang Melampaui Angka

14/03/2026
Esai Ramadan #15: Mencari Wajah Tuhan dalam Wajah Asing - Featured

Esai Ramadan #25: Pulang ke Fitrah dan Laundry Pakaian Jiwa

14/03/2026
Esai Ramadan #15: Mencari Wajah Tuhan dalam Wajah Asing - Featured

Esai Ramadan #24: Oase di Tengah Gurun dan Rahasia Rasa Cukup

13/03/2026

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

I agree to the Terms & Conditions and Privacy Policy.

TERPOPULER-SEPEKAN

  • Esai Ramadan #15: Mencari Wajah Tuhan dalam Wajah Asing - Featured

    Investasi Rp3 Triliun PLTSa Makassar Terkatung-katung: Konsorsium Tuntut Kejelasan dari Pemkot

    23 shares
    Share 9 Tweet 6
  • Sorotan Anggaran: Kontroversi Pengadaan Ribuan Motor Listrik Badan Gizi Nasional

    21 shares
    Share 8 Tweet 5
  • KPK Panggil 10 Saksi Kasus Suap Bupati Rejang Lebong: Perkembangan Terbaru dan Jejak Tersangka

    18 shares
    Share 7 Tweet 5
  • #MayDay Bagaimana Digitalisasi Mengubah Nasib Buruh Indonesia: Antara Peluang dan Ancaman

    31 shares
    Share 12 Tweet 8
  • Gaji ke-13 ASN: Antara Kebutuhan Pendidikan dan Efisiensi Anggaran Pemerintah

    17 shares
    Share 7 Tweet 4
  • 4 Tutorial Pashmina Crinkle: Anti Tembem & Tanpa Jarum!

    17 shares
    Share 7 Tweet 4
  • Wali Kota Makassar dan Komisi V DPR RI Bahas Pembangunan Stadion Internasional

    30 shares
    Share 12 Tweet 8
  • Danny Pomanto Tuntaskan Masalah Anak Putus Sekolah Lewat Lorong Wisata

    20 shares
    Share 8 Tweet 5
  • Potong Rambut Sendiri di Rumah Anti Gagal: Panduan Lengkap ala Beauty Bestie!

    16 shares
    Share 6 Tweet 4
  • 8 Ide OOTD Hijab Nuansa Pink Manis ala Amira Thallya yang Bikin Gemes!

    16 shares
    Share 6 Tweet 4
Esai Ramadan #15: Mencari Wajah Tuhan dalam Wajah Asing - Featured

Unduh Buku Saku “SIAGA BENCANA” dari BNPB

02/11/2023

Buku saku siaga bencana ini tidak menjamin keselamatan Anda. Namun, memberikan pedoman secara umum untuk kesiapsiagaan.

Read moreDetails

WARTAKITA

Esai Ramadan #15: Mencari Wajah Tuhan dalam Wajah Asing - Featured
Gadget

7 Gadget Traveling Wajib Bawa Buat Liburan Nataru (Anti Lowbat)

25/12/2025
Esai Ramadan #15: Mencari Wajah Tuhan dalam Wajah Asing - Featured
Gaya Hidup

Jeda di Tengah Badai: Tiga Kompas Batin untuk Mengarungi Gelombang Hidup

20/11/2025
Esai Ramadan #15: Mencari Wajah Tuhan dalam Wajah Asing - Featured
Otomotif

Update Harga OTR & Simulasi Kredit Vespa Matic 2025: Dari LX 125 hingga GTS 300 Super Tech

29/11/2025
Esai Ramadan #15: Mencari Wajah Tuhan dalam Wajah Asing - Featured
Otomotif

Seni Merawat Vespa Matic: Bebaskan Gredek, Nikmati Perjalanan Halus

06/12/2025
Esai Ramadan #15: Mencari Wajah Tuhan dalam Wajah Asing - Featured
Fashion & Kecantikan

Ingin Dihormati di Kantor? Ini 4 “Power Scent” Pria & Wanita yang Bikin Aura Anda Seperti CEO

29/11/2025
Esai Ramadan #15: Mencari Wajah Tuhan dalam Wajah Asing - Featured
Otomotif

Modifikasi Vespa Matic: 10 Aksesoris ‘Proper’ Budget Pelajar-Sultan

04/12/2025
Esai Ramadan #15: Mencari Wajah Tuhan dalam Wajah Asing - Featured
Fashion & Kecantikan

Ingin Rambut ‘Badai’ ala Jisoo Tapi Budget Terbatas? Ini 3 Alternatif Hair Styler Canggih Mulai 300 Ribuan!

29/11/2025
Esai Ramadan #15: Mencari Wajah Tuhan dalam Wajah Asing - Featured
Gadget

Hacker Gunakan AI Claude Code untuk Serangan Otonomus

14/11/2025
Esai Ramadan #15: Mencari Wajah Tuhan dalam Wajah Asing - Featured
Gaya Hidup

Keseimbangan Hidup Optimal: Menjaga Kesehatan dari Dalam dan Luar

24/11/2025
Esai Ramadan #15: Mencari Wajah Tuhan dalam Wajah Asing - Featured
Gaya Hidup

Parfum Lokal Wangi Sultan: Mirip Niche Eropa, Harga Murah!

04/12/2025
Esai Ramadan #15: Mencari Wajah Tuhan dalam Wajah Asing - Featured
Fashion & Kecantikan

Rahasia Kilau Rambut Jisoo Bukan Cuma Alat Mahal! 4 “Serum Ajaib” Wajib Punya untuk Lindungi Rambut dari Panas

29/11/2025
Esai Ramadan #15: Mencari Wajah Tuhan dalam Wajah Asing - Featured
Otomotif

Vespa Primavera vs. Sprint 2025: Dua Jiwa, Satu Mesin, Pilihan Anda?

30/11/2025
Esai Ramadan #15: Mencari Wajah Tuhan dalam Wajah Asing - Featured
Alam dan Lingkungan Hidup

Tips Keselamatan Saat Gempa Bumi

23/12/2023

Gempa bumi tidak seperti kejadian alam lainnya yang masih bisa diprediksi jauh-jauh hari dengan lebih akurat.

Read moreDetails
  • beranda
  • kontak
  • layanan
  • beriklan
  • privasi
  • perihal

©2021 wartakita media

  • Login
No Result
View All Result
  • 🏠
  • ALAM
  • WARTA
    • PEMBELAJARAN
    • HUKUM
    • NUSANTARA
    • OLAHRAGA
    • TEKNOLOGI
    • KULINER
    • OTOMOTIF
    • SEPAK BOLA
    • #CEKFAKTA
  • GAYA
  • MAKASSAR
  • TEKNOLOGI
  • KONTAK
    • Mari Bermitra
    • Tentang Wartakita
    • Tim Redaksi
    • Kebijakan Privasi
    • TRAKTIR KOPI

©2021 wartakita media

wartakita.id menggunakan cookies tanpa mengorbankan privasi pengunjung.