Sabtu, 8 Agustus 2026
  • beranda
  • kontak
  • layanan
  • beriklan
  • privasi
  • perihal
WartakitaID
  • 🏚️
  • ALAM
  • WARTA
    • PEMBELAJARAN
    • HUKUM
    • NUSANTARA
    • OLAHRAGA
    • TEKNOLOGI
    • KULINER
    • OTOMOTIF
    • SEPAK BOLA
    • #CEKFAKTA
  • GAYA
  • MAKASSAR
  • TEKNOLOGI
  • KONTAK
    • Mari Bermitra
    • Tentang Wartakita
    • Tim Redaksi
    • Kebijakan Privasi
    • TRAKTIR KOPI
No Result
View All Result
WartakitaID
  • 🏚️
  • ALAM
  • WARTA
    • PEMBELAJARAN
    • HUKUM
    • NUSANTARA
    • OLAHRAGA
    • TEKNOLOGI
    • KULINER
    • OTOMOTIF
    • SEPAK BOLA
    • #CEKFAKTA
  • GAYA
  • MAKASSAR
  • TEKNOLOGI
  • KONTAK
    • Mari Bermitra
    • Tentang Wartakita
    • Tim Redaksi
    • Kebijakan Privasi
    • TRAKTIR KOPI
No Result
View All Result
WartakitaID
No Result
View All Result
Home Opini

Esai Ramadan #15: Mencari Wajah Tuhan dalam Wajah Asing

by A. Burhany
04/03/2026
in Opini
Reading Time: 5 mins read
A A
sisipan-15

Empat belas hari ini kita telah banyak menunjuk ke luar—ke pasar hukum, ke birokrasi yang gagal, ke berhala ijazah, ke jurang antara sajadah dan integritas. Kritik-kritik itu perlu. Tapi hari ini, di titik tengah Ramadan, saya ingin mengarahkan telunjuk itu ke dalam.

Karena ada bahaya yang diam-diam mengintai di balik keriuhan kritik sosial: kesombongan spiritual. Sangat mudah bagi kita—manusia yang merasa telah “tercerahkan”—untuk menunjuk hidung para pejabat dan birokrat, sambil lupa bahwa di dalam diri kita sendiri pun terdapat kantor birokrasi yang tak kalah korupnya.


Kita sering mencari Tuhan di tempat-tempat yang nyaman: di dalam keheningan masjid yang ber-AC, di dalam barisan ayat yang kita hafal, di dalam diskusi intelektual yang memuaskan logika.

Tapi bagaimana jika Tuhan sebenarnya lebih sering hadir di tempat yang paling ingin kita hindari? Bagaimana jika Tuhan sedang menatap kita melalui wajah asing yang kita jumpai di trotoar, di balik kemudi ojek daring, atau di mata petugas kebersihan yang kita abaikan saat masuk ke gedung kantor? Bagaimana jika ternyata seeing is believing adalah bentuk kesombongan manusia?

Seorang filsuf pernah berkata bahwa wajah adalah sebuah etika. Saat kita menatap wajah orang lain, kita tidak sedang melihat objek fisik—kita sedang menerima perintah untuk tidak membunuh martabatnya. Bagaimana pun wajahnya dan wajah kita.


Di sinilah muhasabah saya bermula.

Sebagai praktisi infrastruktur IT yang terbiasa dengan efisiensi sistem, saya sering memperlakukan manusia sebagai tiket gangguan yang harus segera diselesaikan, atau data yang harus diolah. Saya menuntut integritas dari para pengambil kebijakan, namun apakah saya sudah memiliki integritas saat menatap mata seorang pengemis di perempatan? Apakah saya melihatnya sebagai manusia yang sedang menguji ketulusan saya—atau hanya sebagai gangguan statistik yang merusak pemandangan?


Ada sebuah ayat yang selama ini saya pahami terlalu sempit: “Ke mana pun kamu menghadap, di situ ada wajah Allah.”

Saya dulu membacanya sebagai pernyataan tentang kiblat—bahwa Tuhan tidak terikat pada satu arah geografis. Tapi di titik tengah Ramadan ini, saya membacanya dengan cara yang berbeda: bahwa Tuhan hadir di setiap arah yang kita hadapi. Termasuk arah yang paling jarang kita pilih—arah ke dalam.

Ke mana pun kamu menghadap, di situ ada wajah Allah. Termasuk saat kamu menghadap cermin.

Tapi wajah apa yang kita temukan di sana? Apakah wajah yang kita lihat adalah wajah seseorang yang sudah cukup lembut untuk menerima kehadiran Tuhan—atau wajah seseorang yang masih terlalu sibuk menghakimi dunia di luar sana untuk sempat melihat ke dalam?

Saya pernah menatap pantulan wajah saya sendiri di saat penuh amarah—dan untuk sesaat, saya tidak mengenalinya. Bukan karena wajahnya berubah secara fisik, tapi karena ekspresi yang ada di sana adalah ekspresi yang tidak ingin saya akui sebagai milik saya. Ekspresi seseorang yang merasa benar secara mutlak. Seseorang yang sedang membangun tembok, bukan jembatan.

Di wajah itulah, justru, Tuhan sedang menunggu untuk ditemukan—bukan untuk dipuja, tapi untuk diakui: bahwa kita masih jauh, bahwa kita masih perlu dibersihkan, bahwa kesombongan spiritual yang kita bicarakan di awal esai ini bukan hanya ada pada orang lain.

Ia ada di wajah yang kita lihat setiap pagi di cermin.


Kita merindukan perjumpaan dengan Tuhan di kehidupan setelah mati. Namun kita sering membuang muka saat Tuhan menjumpai kita dalam wujud orang-orang asing yang membutuhkan perhatian, keadilan, atau sekadar sapaan manusiawi. Dan kita juga membuang muka saat Tuhan menjumpai kita dalam wajah kita sendiri—wajah yang penuh dengan hal-hal yang belum selesai kita bereskan.


Hari ini kita berada tepat di titik tengah—pintu antara fase Maghfirah yang baru kita lewati dan sepuluh hari terakhir yang akan kita masuki. Di sana, kita akan bicara tentang pembebasan. Tapi bagaimana mungkin kita bisa dibebaskan dari api, jika di dalam diri kita masih tersimpan api kebencian, api penghakiman, dan api rasa lebih baik dari sesama?

Lapar di hari ke-15 ini seharusnya tidak hanya mengosongkan perut. Ia juga harus mengosongkan kursi hakim di dalam kepala kita—kursi yang terlalu lama kita duduki dengan nyaman.


Mencari wajah Tuhan dalam wajah asing berarti mengakui bahwa kesalehan kita tidak ada artinya jika ia tidak membuat kita lebih lembut pada manusia lain. Salat kita hambar jika ia tidak membuat kita mampu merasakan getaran penderitaan orang yang bahkan tidak kita kenal namanya.

BACA JUGA:

Penutup Esai Ramadan #30: Satu Hal Saja

Kementerian ESDM Pastikan Keandalan Pasokan Listrik Sulawesi Jelang Ramadan & Idul Fitri 1447 H

Esai Ramadan #29: Menuai Hujan dan Residu yang Tersisa

Ramadan 2026: Hari ini 17 Maret berapa Ramadan?

Esai Ramadan #28: Azan dan Kepulangan yang Sejati

Setiap orang yang kita temui hari ini adalah pesan dari Tuhan. Jika kita gagal membacanya karena terlalu sibuk dengan ego sendiri—terlalu sibuk mengkritik sistem di luar sana—maka seberapa pun banyak rakaat yang kita tegakkan, kita sebenarnya sedang menjauh dari perjumpaan yang sesungguhnya.

Dan setiap kali kita menghadap cermin—dan memilih untuk benar-benar melihat, bukan sekadar merapikan penampilan—kita juga sedang membaca pesan yang sama.


Hari ini, mari kita berhenti sejenak dari kebisingan kritik. Mari kita berlatih untuk benar-benar melihat—ke luar, pada wajah-wajah asing yang menunggu untuk diakui kemanusiaannya. Dan ke dalam, pada wajah kita sendiri yang menunggu untuk jujur diakui kekurangannya.

Selamat memulai perjalanan ke dalam. Mari kita temukan Tuhan di tempat yang paling tidak terduga: dalam ketulusan kita mencintai orang-orang yang tak punya arti apa-apa bagi kepentingan kita—dan dalam keberanian kita menatap wajah kita sendiri tanpa berpaling.

Add wartakita.id as a preferred source on Google

Tags: berbuka puasaempati sosial ramadanesai RamadanEsai Ramadan 2026esai ramadan hari 15esombongan spiritualFilsafat Wajahkritik dirimakna niat puasamemanusiakan manusiamencari wajah tuhanMuhasabahmuhasabah diri pertengahan ramadanniat puasa RamadanRamadanRamadan 2026refleksi cermin dirispiritualitas puasaTitik Tengah Ramadan
Share18Tweet12Send

ARTIKEL TERKAIT

Esai Ramadan #15: Mencari Wajah Tuhan dalam Wajah Asing - Featured

Skenario Reformasi: Senjata Coretax 2026 dan Jalan Terang Menuju Pertumbuhan 6%

28/07/2026
Esai Ramadan #15: Mencari Wajah Tuhan dalam Wajah Asing - Featured

Skenario Status Quo: Bayang-Bayang Utang Rp10.000 T dan Ancaman Permanen Middle-Income Trap

28/07/2026
Esai Ramadan #15: Mencari Wajah Tuhan dalam Wajah Asing - Featured

Trajektori 2026-2031: Menuju Indonesia Emas atau Terjebak Krisis Permanen?

28/07/2026
Esai Ramadan #15: Mencari Wajah Tuhan dalam Wajah Asing - Featured

Selamatkan APBN 2026: Redefinisi Anggaran Pendidikan 20% dan Ketegasan BPI Danantara

28/07/2026
Esai Ramadan #15: Mencari Wajah Tuhan dalam Wajah Asing - Featured

Paradoks Desentralisasi 2026: Mengapa Anggaran Daerah Dipangkas demi Program Populis Pusat?

28/07/2026
Esai Ramadan #15: Mencari Wajah Tuhan dalam Wajah Asing - Featured

Siklus Anggaran Politis dan Korupsi Rp279 Triliun: Saat Uang Rakyat Jadi Ongkos ‘Elit’ yang Hidup dalam Siklus 5 Tahunan

28/07/2026
Esai Ramadan #15: Mencari Wajah Tuhan dalam Wajah Asing - Featured

Kualitas Layanan Publik Stagnan: Mengurai Korupsi, Siklus Politis, dan Absennya Keadilan Pajak

28/07/2026
Esai Ramadan #15: Mencari Wajah Tuhan dalam Wajah Asing - Featured

Pendarahan Cukai Rp60 Triliun: Siapa yang Diuntungkan dari Sindikat Rokok Ilegal?

27/07/2026

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

I agree to the Terms & Conditions and Privacy Policy.

TERPOPULER-SEPEKAN

  • wisata dan tradisi nyekar di pulau libukang palopo

    Wisata Dan Tradisi Nyekar Di Pulau Libukang Palopo

    364 shares
    Share 146 Tweet 91
  • Malaysia & Indonesia Blokir Grok AI: Respons Cepat atas Ancaman Deepfake Seksual dan Langkah xAI Terkini

    42 shares
    Share 17 Tweet 11
  • “Pejabat Anti-Kritik” dalam Data: Membedah Garis Batas Antara Masukan, Hinaan, dan Ancaman Pidana

    49 shares
    Share 20 Tweet 12
  • Usai Dilantik, Mahyudin Pantau Langsung War Room Kota Makassar

    31 shares
    Share 12 Tweet 8
  • Makassar Kembali Jadi Pilot Project Program ‘Deklarasi Panti Sosial Bermutu’ oleh Kemensos, Bukti Kolaborasi Sukses

    40 shares
    Share 16 Tweet 10
  • Parfum Lokal Wangi Mewah, Harga Terjangkau!

    42 shares
    Share 17 Tweet 11
  • Benteng Aman Para Pencari Selamat: Saat Kritik dan Perbedaan Pendapat Dilindas Atas Nama Stabilitas

    75 shares
    Share 30 Tweet 19
  • Aksi Lingkungan dan Sosial Gerakan Rakyat Sulsel: 100 Bibit Pohon dan Ratusan Takjil Jelang HUT Pertama

    52 shares
    Share 21 Tweet 13
  • Jebakan Bunga Utang Rp599 Triliun: Mengapa SBN Mematikan Akses Kredit Swasta dan UMKM?

    30 shares
    Share 12 Tweet 8
  • Gempa M7,6 Guncang Sulawesi Utara & Halmahera Utara: Kronologi, Dampak, dan Respons Pemerintah

    46 shares
    Share 18 Tweet 12
wartakita-id-buku-saku-bencana-bnpb_cr

Unduh Buku Saku “SIAGA BENCANA” dari BNPB

02/11/2023

Buku saku siaga bencana ini tidak menjamin keselamatan Anda. Namun, memberikan pedoman secara umum untuk kesiapsiagaan.

Read moreDetails

WARTAKITA

4 rekomendasi parfum anti gerah dan tahan lama di cuaca indonesia_wartakita.id
Fashion & Kecantikan

Parfum Mahal Tapi Cepat Hilang Kena Keringat? 4 Rekomendasi Parfum “Anti-Gerah” Tahan Lama di Cuaca Indonesia

30/11/2025
parfum di tempat kerja_wartakita.id
Fashion & Kecantikan

Ingin Dihormati di Kantor? Ini 4 “Power Scent” Pria & Wanita yang Bikin Aura Anda Seperti CEO

29/11/2025
merawat-aki-mobil-dimusim-hujan-2_cr
Otomotif

Ancaman Mogok Akibat Aki Lemah di Musim Hujan: Kenapa Perawatan Mandiri Mobil LCGC Jadi Krusial?

16/11/2025
Ini 4 Serum Ajaib Wajib Punya untuk Melindungi Rambut dari Panas_wartakita.id
Fashion & Kecantikan

Rahasia Kilau Rambut Jisoo Bukan Cuma Alat Mahal! 4 “Serum Ajaib” Wajib Punya untuk Lindungi Rambut dari Panas

29/11/2025
ilustrasi pria berketombe
Gaya Hidup

Rambut Rontok Parah? Kenali Penyebab dan Solusi Alami

24/11/2025
featured 1_tn1
Fashion & Kecantikan

Tren Hijab 2025-2026: 25+ Gaya Fashion Muslim Kekinian

14/11/2025
img 1764471350 26f1c112a772ad44.jpg
Fashion & Kecantikan

Azzaro The Most Wanted: Parfum Pria yang Memikat dengan Aroma Melenakan

14/12/2025
1763889026-rahasia-kulit-glowing-di-rumah-spa-mandiri-perawatan-diri.jpg
Fashion & Kecantikan

Rahasia Kulit Glowing di Rumah: Spa Mandiri & Perawatan Diri untuk Beauty Besties

23/11/2025
5 Kebiasaan Buruk WFH_cr_tn1
Gaya Hidup

Ancaman Senyap di Meja Kerja: Hindari 5 Kebiasaan Buruk WFH Ini Demi Kesehatan Anda

21/11/2025
1763287827_Smoothing-vs-Rebonding-vs-Keratin-Mana-yang-Terbaik-untuk-Rambutmu.jpg
Fashion & Kecantikan

Smoothing vs Rebonding vs Keratin: Mana yang Terbaik untuk Rambutmu?

16/11/2025
insta360-go-3s-780x470.jpg
Gadget

Insta360 GO 3S Hadir dengan Video 4K dan Dukungan Apple Find My

25/07/2024
vespa sprint atau primavera_wartakita.id
Otomotif

Vespa Primavera vs. Sprint 2025: Dua Jiwa, Satu Mesin, Pilihan Anda?

30/11/2025
tips-keselamatan
Alam dan Lingkungan Hidup

Tips Keselamatan Saat Gempa Bumi

23/12/2023

Gempa bumi tidak seperti kejadian alam lainnya yang masih bisa diprediksi jauh-jauh hari dengan lebih akurat.

Read moreDetails
  • beranda
  • kontak
  • layanan
  • beriklan
  • privasi
  • perihal

©2021 wartakita media

  • Login
No Result
View All Result
  • 🏚️
  • ALAM
  • WARTA
    • PEMBELAJARAN
    • HUKUM
    • NUSANTARA
    • OLAHRAGA
    • TEKNOLOGI
    • KULINER
    • OTOMOTIF
    • SEPAK BOLA
    • #CEKFAKTA
  • GAYA
  • MAKASSAR
  • TEKNOLOGI
  • KONTAK
    • Mari Bermitra
    • Tentang Wartakita
    • Tim Redaksi
    • Kebijakan Privasi
    • TRAKTIR KOPI

©2021 wartakita media

wartakita.id menggunakan cookies tanpa mengorbankan privasi pengunjung.