Minggu, 9 Agustus 2026
  • beranda
  • kontak
  • layanan
  • beriklan
  • privasi
  • perihal
WartakitaID
  • 🏚️
  • ALAM
  • WARTA
    • PEMBELAJARAN
    • HUKUM
    • NUSANTARA
    • OLAHRAGA
    • TEKNOLOGI
    • KULINER
    • OTOMOTIF
    • SEPAK BOLA
    • #CEKFAKTA
  • GAYA
  • MAKASSAR
  • TEKNOLOGI
  • KONTAK
    • Mari Bermitra
    • Tentang Wartakita
    • Tim Redaksi
    • Kebijakan Privasi
    • TRAKTIR KOPI
No Result
View All Result
WartakitaID
  • 🏚️
  • ALAM
  • WARTA
    • PEMBELAJARAN
    • HUKUM
    • NUSANTARA
    • OLAHRAGA
    • TEKNOLOGI
    • KULINER
    • OTOMOTIF
    • SEPAK BOLA
    • #CEKFAKTA
  • GAYA
  • MAKASSAR
  • TEKNOLOGI
  • KONTAK
    • Mari Bermitra
    • Tentang Wartakita
    • Tim Redaksi
    • Kebijakan Privasi
    • TRAKTIR KOPI
No Result
View All Result
WartakitaID
No Result
View All Result
Home Opini

Esai Ramadan #14: Mengapa Jurang Antara Sajadah dan Integritas Kita Masih Lebar?

by A. Burhany
04/03/2026
in Opini
Reading Time: 5 mins read
A A
utama-14

Tiga belas hari ini kita telah memeriksa banyak hal—ego, waktu, kejujuran dalam sunyi, lidah yang perlu berani, sistem yang busuk dari dalam, ampunan yang memiliki syarat, solusi yang terlalu sederhana untuk ego kita. Hari ini kita sampai pada esai terakhir fase Maghfirah, penutup sepuluh hari kedua Ramadan yang didedikasikan untuk ampunan.

Dan saya ingin menutupnya dengan pertanyaan yang paling mendasar dari semuanya. Bukan tentang sistem. Bukan tentang birokrasi. Tapi tentang kita sendiri—dan jarak antara siapa kita di atas sajadah dengan siapa kita setelah salam diucapkan.


Kita adalah bangsa yang sangat rajin.

Lihatlah betapa penuhnya saf-saf masjid kita, betapa riuhnya media sosial dengan kutipan-kutipan suci, betapa disiplinnya kita menjalankan ritual lima waktu. Keajegan untuk bersujud di tengah kesibukan adalah bentuk ketaatan yang tidak terbantahkan—dan itu patut dihormati.

Tetapi jelang penghujung fase Maghfirah ini, kita harus berani bertanya dengan jujur: apakah kita baru sebatas rajin, atau kita sudah benar-benar mendirikan salat?


Esai Ramadan #14: Mengapa Jurang Antara Sajadah dan Integritas Kita Masih Lebar? - image 1

Ada jurang yang menganga lebar di negeri ini—jurang antara panjangnya sujud dan tegaknya integritas. Tingkat religiusitas kita sangat tinggi, namun indeks persepsi korupsi kita sering jalan di tempat, bahkan merosot.

Bagaimana mungkin sebuah masyarakat yang dahi-dahinya rajin menyentuh bumi, tangannya masih begitu ringan mengambil yang bukan haknya?

Jawabannya mungkin terletak pada cara kita memahami batas. Kita sering menganggap salat sebagai jeda dari kehidupan dunia—masuk ke ruang suci saat takbir, kembali ke rimba saat salam. Kita memisahkan dua dunia itu dengan garis yang tegas, dan merasa tidak ada yang salah dengan pemisahan itu.


Dan di sinilah pertanyaan yang paling tidak nyaman itu akhirnya datang, di hari ke-14 ini, setelah dua minggu puasa:

Apakah satu bulan menahan diri ini—menahan makan, menahan minum, menahan nafsu yang paling fisik—benar-benar berhasil membuat kita memegang kendali atas nafsu-nafsu yang lain di sebelas bulan sesudahnya?

Atau Ramadan hanya menjadi reset tahunan yang nyaman—semacam spa spiritual yang membuat kita merasa bersih, sebelum kita kembali mengotori yang sama persis?

Saya tidak punya jawaban yang memuaskan untuk pertanyaan ini. Yang saya punya hanya data pribadi yang tidak terlalu membanggakan: berapa kali Ramadan sudah saya jalani, dan berapa banyak yang benar-benar mengubah sesuatu yang permanen di dalam diri saya—bukan hanya selama tiga puluh hari, tapi di bulan-bulan sesudahnya, saat tidak ada lagi lapar yang membantu.

Kalau jujur: tidak sebanyak yang seharusnya.


Padahal ada kearifan yang mengatakan: salat yang sesungguhnya justru baru dimulai tepat setelah salam diucapkan.

Salam ke kanan dan ke kiri bukan sekadar penutup ritual. Ia adalah pernyataan keberangkatan—janji bahwa keselamatan dan kekhusyukan yang kita rasakan di atas sajadah akan kita bawa ke pasar, ke kantor birokrasi, ke ruang-ruang rapat pengambilan kebijakan. Jika setelah salam kita kembali menjadi serigala bagi sesama, maka salat kita barulah gerakan fisik yang melelahkan.

Saya teringat kisah seorang pemuda yang memacu kudanya dengan gagah. Orang-orang melihatnya sedang berkuda. Tapi seorang guru yang bijak berkata: “Kenyataannya, dia sedang salat.”

Karena setiap tarikan napasnya, setiap keputusannya, setiap tujuannya dilakukan dalam kesadaran penuh akan kehadiran Tuhan. Ia tidak berada di atas sajadah, tapi seluruh hidupnya adalah sajadah. Ia tidak sedang rukuk secara fisik, tapi jiwanya selalu merunduk di hadapan kebenaran.

BACA JUGA:

Penutup Esai Ramadan #30: Satu Hal Saja

Kementerian ESDM Pastikan Keandalan Pasokan Listrik Sulawesi Jelang Ramadan & Idul Fitri 1447 H

Esai Ramadan #29: Menuai Hujan dan Residu yang Tersisa

Ramadan 2026: Hari ini 17 Maret berapa Ramadan?

Esai Ramadan #28: Azan dan Kepulangan yang Sejati

Inilah integritas: ketika tidak ada lagi pemisahan antara saat beribadah dan saat bekerja. Dan inilah jawaban atas pertanyaan tadi—bukan jawaban yang mudah, tapi jawaban yang jujur: Ramadan bekerja bukan karena ia membersihkan kita selama tiga puluh hari, melainkan karena ia mengajarkan kita cara hidup yang seharusnya kita jalani tiga ratus enam puluh lima hari.


Bagi kawan-kawan yang tidak menjalankan salat, nilai ini tetap universal. Integritas adalah konsistensi. Apakah prinsip moral yang kita agungkan di ruang diskusi tetap kita pegang saat kita sedang sendirian memegang pena kekuasaan—di ruang-ruang gelap yang tidak ada saksinya, seperti yang kita bicarakan di hari ketujuh?


Puasa empat belas hari ini seharusnya sudah cukup mengajarkan satu hal: bahwa lapar yang sejati bukan hanya tentang menahan makan. Ia tentang menahan diri dari segala kepalsuan—kepalsuan citra, kepalsuan ampunan, kepalsuan kesalehan yang berhenti di pintu masjid.

Tuhan tidak butuh sujud kita jika sujud itu tidak membuat kita malu untuk berbohong. Tuhan tidak butuh lapar kita jika lapar itu tidak membuat kita mampu merasakan penderitaan rakyat di pelosok yang terabaikan.

Maghfirah tidak akan benar-benar sampai kepada mereka yang merasa sudah selesai berurusan dengan Tuhan di dalam masjid, namun tetap menjadi sumber bencana bagi sesama di luar masjid.


Besok kita memasuki fase ketiga dan terakhir Ramadan: Itqun minan nar—pembebasan dari api neraka. Tapi pembebasan itu tidak akan datang sebagai hadiah atas kerajinan ritual kita. Ia hanya bisa datang jika kita membawa keluar dari masjid apa yang kita temukan di dalamnya.

Hari ini, mari kita lipat sajadah dengan kesadaran baru—dan dengan kejujuran bahwa kita belum selalu berhasil membawanya keluar. Kesadaran itu sendiri, saya percaya, adalah awal dari perubahan yang lebih nyata dan lebih tahan lama dari sekadar resolusi tahunan.

Mari kita bawa kekhusyukan itu ke dalam setiap lembar kuitansi yang kita tanda tangani, ke dalam setiap kata yang kita ucapkan pada bawahan, ke dalam setiap kebijakan yang kita ambil. Bukan sebagai beban, melainkan sebagai perpanjangan dari doa yang belum selesai.

Sebab ukuran kesalehan kita bukanlah seberapa sering kita berada di baris terdepan salat berjemaah—melainkan seberapa jujur kita berdiri di baris terdepan dalam membela kebenaran dan keadilan, di hari-hari yang tidak ada yang melihat dan tidak ada yang menghitung.

Selamat mendirikan salat di luar sajadah.

Add wartakita.id as a preferred source on Google

Tags: bahaya merasa paling benarberbuka puasaesai Ramadanesai refleksi ramadan hari 12hubungan puasa dan perangkonflik global ramadankritik dirimakna niat puasamakna puasa menahan egoniat puasa RamadanRamadanRamadan 2026spiritualitas puasa
Share14Tweet9Send

ARTIKEL TERKAIT

Esai Ramadan #14: Mengapa Jurang Antara Sajadah dan Integritas Kita Masih Lebar? - Featured

Skenario Reformasi: Senjata Coretax 2026 dan Jalan Terang Menuju Pertumbuhan 6%

28/07/2026
Esai Ramadan #14: Mengapa Jurang Antara Sajadah dan Integritas Kita Masih Lebar? - Featured

Skenario Status Quo: Bayang-Bayang Utang Rp10.000 T dan Ancaman Permanen Middle-Income Trap

28/07/2026
Esai Ramadan #14: Mengapa Jurang Antara Sajadah dan Integritas Kita Masih Lebar? - Featured

Trajektori 2026-2031: Menuju Indonesia Emas atau Terjebak Krisis Permanen?

28/07/2026
Esai Ramadan #14: Mengapa Jurang Antara Sajadah dan Integritas Kita Masih Lebar? - Featured

Selamatkan APBN 2026: Redefinisi Anggaran Pendidikan 20% dan Ketegasan BPI Danantara

28/07/2026
Esai Ramadan #14: Mengapa Jurang Antara Sajadah dan Integritas Kita Masih Lebar? - Featured

Paradoks Desentralisasi 2026: Mengapa Anggaran Daerah Dipangkas demi Program Populis Pusat?

28/07/2026
Esai Ramadan #14: Mengapa Jurang Antara Sajadah dan Integritas Kita Masih Lebar? - Featured

Siklus Anggaran Politis dan Korupsi Rp279 Triliun: Saat Uang Rakyat Jadi Ongkos ‘Elit’ yang Hidup dalam Siklus 5 Tahunan

28/07/2026
Esai Ramadan #14: Mengapa Jurang Antara Sajadah dan Integritas Kita Masih Lebar? - Featured

Kualitas Layanan Publik Stagnan: Mengurai Korupsi, Siklus Politis, dan Absennya Keadilan Pajak

28/07/2026
Esai Ramadan #14: Mengapa Jurang Antara Sajadah dan Integritas Kita Masih Lebar? - Featured

Pendarahan Cukai Rp60 Triliun: Siapa yang Diuntungkan dari Sindikat Rokok Ilegal?

27/07/2026

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

I agree to the Terms & Conditions and Privacy Policy.

TERPOPULER-SEPEKAN

  • wisata dan tradisi nyekar di pulau libukang palopo

    Wisata Dan Tradisi Nyekar Di Pulau Libukang Palopo

    389 shares
    Share 156 Tweet 97
  • Usai Dilantik, Mahyudin Pantau Langsung War Room Kota Makassar

    31 shares
    Share 12 Tweet 8
  • Makassar Kembali Jadi Pilot Project Program ‘Deklarasi Panti Sosial Bermutu’ oleh Kemensos, Bukti Kolaborasi Sukses

    40 shares
    Share 16 Tweet 10
  • Malaysia & Indonesia Blokir Grok AI: Respons Cepat atas Ancaman Deepfake Seksual dan Langkah xAI Terkini

    42 shares
    Share 17 Tweet 11
  • AI Gempur Lapangan Kerja, Jurusan Ini Justru Makin Moncer

    47 shares
    Share 19 Tweet 12
  • Benteng Aman Para Pencari Selamat: Saat Kritik dan Perbedaan Pendapat Dilindas Atas Nama Stabilitas

    75 shares
    Share 30 Tweet 19
  • Trajektori 2026-2031: Menuju Indonesia Emas atau Terjebak Krisis Permanen?

    26 shares
    Share 10 Tweet 7
  • Aksi Lingkungan dan Sosial Gerakan Rakyat Sulsel: 100 Bibit Pohon dan Ratusan Takjil Jelang HUT Pertama

    52 shares
    Share 21 Tweet 13
  • Pakai Serum Udah Berbulan-bulan Tapi Wajah Tetap Kusam & Breakout? Duh, Jangan-Jangan Kamu Melakukan 6 Kesalahan Fatal Ini, Bestie!

    29 shares
    Share 12 Tweet 7
  • Psikologi di Balik Game Gacha: Mekanisme Adiktif dan Ekonomi Virtualnya

    50 shares
    Share 20 Tweet 13
wartakita-id-buku-saku-bencana-bnpb_cr

Unduh Buku Saku “SIAGA BENCANA” dari BNPB

02/11/2023

Buku saku siaga bencana ini tidak menjamin keselamatan Anda. Namun, memberikan pedoman secara umum untuk kesiapsiagaan.

Read moreDetails

WARTAKITA

img-1764777491-e442ac7fe1f792b9
Gaya Hidup

Parfum Lokal Wangi Sultan: Mirip Niche Eropa, Harga Murah!

04/12/2025
parfum di tempat kerja_wartakita.id
Fashion & Kecantikan

Ingin Dihormati di Kantor? Ini 4 “Power Scent” Pria & Wanita yang Bikin Aura Anda Seperti CEO

29/11/2025
1763889026-rahasia-kulit-glowing-di-rumah-spa-mandiri-perawatan-diri.jpg
Fashion & Kecantikan

Rahasia Kulit Glowing di Rumah: Spa Mandiri & Perawatan Diri untuk Beauty Besties

23/11/2025
Ini 4 Serum Ajaib Wajib Punya untuk Melindungi Rambut dari Panas_wartakita.id
Fashion & Kecantikan

Rahasia Kilau Rambut Jisoo Bukan Cuma Alat Mahal! 4 “Serum Ajaib” Wajib Punya untuk Lindungi Rambut dari Panas

29/11/2025
parfum untuk jomblo_wartakita.id
Fashion & Kecantikan

Bosan Jomblo atau Hubungan Terasa Hambar? Pikat dengan 4 Parfum “Date Night” Menggoda Ini

29/11/2025
Jisoo+Dyson
Gadget

Jisoo BLACKPINK dan Dyson: Rahasia Rambut Sehat Berkilau

21/11/2025
vespa gts supertech
Otomotif

Update Harga OTR & Simulasi Kredit Vespa Matic 2025: Dari LX 125 hingga GTS 300 Super Tech

29/11/2025
Seni Merawat Vespa Matic_wartakita.id
Otomotif

Seni Merawat Vespa Matic: Bebaskan Gredek, Nikmati Perjalanan Halus

06/12/2025
3 kompas batin wartakita_tn1
Gaya Hidup

Jeda di Tengah Badai: Tiga Kompas Batin untuk Mengarungi Gelombang Hidup

20/11/2025
img-1764775654-b12300608d9039ae
Otomotif

Modifikasi Vespa Matic: 10 Aksesoris ‘Proper’ Budget Pelajar-Sultan

04/12/2025
1763287827_Smoothing-vs-Rebonding-vs-Keratin-Mana-yang-Terbaik-untuk-Rambutmu.jpg
Fashion & Kecantikan

Smoothing vs Rebonding vs Keratin: Mana yang Terbaik untuk Rambutmu?

16/11/2025
vespa 2026_cr_tn1
Otomotif

Bukan Sekadar Skuter: Panduan Memilih Vespa Impian Anda di Tahun 2026

23/11/2025
tips-keselamatan
Alam dan Lingkungan Hidup

Tips Keselamatan Saat Gempa Bumi

23/12/2023

Gempa bumi tidak seperti kejadian alam lainnya yang masih bisa diprediksi jauh-jauh hari dengan lebih akurat.

Read moreDetails
  • beranda
  • kontak
  • layanan
  • beriklan
  • privasi
  • perihal

©2021 wartakita media

  • Login
No Result
View All Result
  • 🏚️
  • ALAM
  • WARTA
    • PEMBELAJARAN
    • HUKUM
    • NUSANTARA
    • OLAHRAGA
    • TEKNOLOGI
    • KULINER
    • OTOMOTIF
    • SEPAK BOLA
    • #CEKFAKTA
  • GAYA
  • MAKASSAR
  • TEKNOLOGI
  • KONTAK
    • Mari Bermitra
    • Tentang Wartakita
    • Tim Redaksi
    • Kebijakan Privasi
    • TRAKTIR KOPI

©2021 wartakita media

wartakita.id menggunakan cookies tanpa mengorbankan privasi pengunjung.