Minggu, 9 Agustus 2026
  • beranda
  • kontak
  • layanan
  • beriklan
  • privasi
  • perihal
WartakitaID
  • 🏚️
  • ALAM
  • WARTA
    • PEMBELAJARAN
    • HUKUM
    • NUSANTARA
    • OLAHRAGA
    • TEKNOLOGI
    • KULINER
    • OTOMOTIF
    • SEPAK BOLA
    • #CEKFAKTA
  • GAYA
  • MAKASSAR
  • TEKNOLOGI
  • KONTAK
    • Mari Bermitra
    • Tentang Wartakita
    • Tim Redaksi
    • Kebijakan Privasi
    • TRAKTIR KOPI
No Result
View All Result
WartakitaID
  • 🏚️
  • ALAM
  • WARTA
    • PEMBELAJARAN
    • HUKUM
    • NUSANTARA
    • OLAHRAGA
    • TEKNOLOGI
    • KULINER
    • OTOMOTIF
    • SEPAK BOLA
    • #CEKFAKTA
  • GAYA
  • MAKASSAR
  • TEKNOLOGI
  • KONTAK
    • Mari Bermitra
    • Tentang Wartakita
    • Tim Redaksi
    • Kebijakan Privasi
    • TRAKTIR KOPI
No Result
View All Result
WartakitaID
No Result
View All Result
Home Opini

Esai Ramadan #12: Bagaimana Memperbaiki Dunia Tanpa Menghancurkannya?

by A. Burhany
01/03/2026
in Opini
Reading Time: 5 mins read
A A
utama-12-png

Pagi ini, di sela-sela sahur, saya membaca berita yang membuat suapan terakhir saya terasa berat untuk ditelan.

Rudal-rudal sudah mulai bergerak. AS, Israel, Iran. Nama-nama yang sudah lama mengorbit dalam tegangan, kini akhirnya saling bertumbukan. Di luar jendela saya, langit masih gelap dan sunyi. Tapi di sana—di wilayah yang jaraknya ribuan kilometer namun terasa seperti di dada—langit sedang disobek oleh sesuatu yang manusia buat atas nama sesuatu yang lebih besar dari manusia.

Saya menutup ponsel. Melanjutkan sahur. Dan duduk dengan satu pertanyaan yang tidak mudah pergi: apa hubungan semua ini dengan puasa saya hari ini?

Sebelum menjawab pertanyaan itu, saya ingin mengajak kita mundur jauh—lebih jauh dari berita hari ini, lebih jauh dari agama mana pun, lebih jauh dari sejarah yang tercatat.

Sebelum ada kitab suci, sebelum ada nabi, sebelum manusia mengenal nama Tuhan dalam bahasa apa pun—konflik sudah ada. Manusia purba berkelahi bukan karena berbeda keyakinan. Mereka berkelahi karena lapar, karena takut, karena ingin bertahan hidup.

Naluri itu sederhana dan jujur: kumpulkan sebanyak mungkin, berserikat dengan yang berkepentingan sama, bangun identitas komunal, lalu—jika perlu—dominasi yang lain sebelum mereka mendominasi kita.

Ini bukan kejahatan. Ini adalah kondisi manusia yang paling purba. Dan agama lahir justru untuk menjawab kecemasan yang melahirkan nafsu itu—untuk mengingatkan bahwa ada sesuatu yang lebih besar dari perut yang lapar dan ego yang takut.

Tapi kemudian terjadi sesuatu yang tidak sepenuhnya kita antisipasi.

Agama memberi darah baru pada nafsu yang lama.

Tiba-tiba, mendominasi bukan lagi sekadar naluri hewani—ia menjadi kewajiban ilahiah. Perang bukan lagi tentang tanah atau sumber daya semata—ia menjadi tentang takdir yang harus digenapi, nubuat yang harus terwujud, kebenaran yang harus dimenangkan atas nama langit.

Dan di sinilah sebuah ayat yang sudah ribuan tahun ditulis terasa seperti baru ditulis kemarin:

“Janganlah kalian berbuat kerusakan di muka bumi.”

Mereka menjawab: “Kami hanyalah orang-orang yang melakukan perbaikan.”

Ketahuilah, merekalah sesungguhnya yang berbuat kerusakan—tapi mereka tidak menyadarinya.

Tidak ada perusak yang merasa dirinya perusak. Semua merasa sedang menjalankan misi suci. Semua pihak dalam konflik yang sedang merobek langit hari ini punya versi ilahiahnya masing-masing—tanah yang dijanjikan, musuh yang harus dilenyapkan, takdir yang harus digenapi. Semua merasa dijustifikasi. Tidak ada yang merasa sedang berbuat kerusakan.

Manusia begitu sibuk memaksakan takdir dan memonopoli kebenaran ilahiah, sementara selama takdir itu belum terwujud, nasib kemanusiaan ada di tangan manusia itu sendiri. Bom yang jatuh tidak diperintahkan langit. Ia diperintahkan oleh manusia yang mengklaim berbicara atas nama langit.

Di titik ini, saya bisa saja berhenti dan menulis esai yang nyaman tentang: mengutuk para pemimpin yang mengebom kota-kota, menyerukan perdamaian, lalu menutup dengan doa yang indah.

Tapi saya sudah berjanji pada diri sendiri—dan pada Anda, kawan seperjalanan yang sudah bersama saya dua belas hari ini—untuk tidak menulis esai yang nyaman.

BACA JUGA:

Penutup Esai Ramadan #30: Satu Hal Saja

Kementerian ESDM Pastikan Keandalan Pasokan Listrik Sulawesi Jelang Ramadan & Idul Fitri 1447 H

Esai Ramadan #29: Menuai Hujan dan Residu yang Tersisa

Ramadan 2026: Hari ini 17 Maret berapa Ramadan?

Esai Ramadan #28: Azan dan Kepulangan yang Sejati

Karena ada pertanyaan yang lebih mengganggu: di mana saya juga melakukan hal yang sama, dalam skala yang lebih kecil dan lebih sunyi?

Di mana saya juga merasa sedang “memperbaiki” sesuatu, padahal sedang merusaknya? Di mana saya juga mengklaim legitimasi—entah legitimasi jabatan, ijazah, atau kesalehan—untuk membenarkan sesuatu yang sebenarnya hanyalah nafsu purba yang sudah berganti kostum?

Kekerasan tidak selalu berbunyi seperti rudal. Kadang ia berbentuk kebijakan yang ditandatangani dengan senyum paling santun. Kadang ia berbentuk diam yang memilih tidak melihat. Kadang ia berbentuk kata-kata yang kita pilih dengan sangat hati-hati agar terdengar bijak, sementara tujuannya adalah memenangkan argumen, bukan menemukan kebenaran.

Kita—yang selama bertahun-tahun duduk di kursi empuk dengan berkas-berkas nasib ribuan orang di atas meja—tidak bisa mengutuk pemimpin yang mengebom Gaza atau Teheran sambil lupa bahwa kita sendiri pernah menandatangani kebijakan yang membombardir harapan rakyat di Ngada, dengan cara yang jauh lebih sunyi dan jauh lebih sopan.

Ada sebuah pepatah yang dulu terasa klise bagi saya, tapi kini terasa semakin berat maknanya:

Dulu saya merasa hebat, karena itu saya ingin mengubah dunia. Sekarang saya paham, mengapa dengan mengubah diri sendiri, kita sudah ikut mengubah dunia menjadi lebih baik.

Ini bukan kekalahan. Ini bukan pasrah pada ketidakadilan. Ini adalah perjalanan dari hubris ke kerendahan hati—perjalanan yang sudah kita bicarakan sejak hari pertama, dan yang ternyata jauh lebih panjang dan lebih berat dari yang kita bayangkan.

Orang yang benar-benar kecil di hadapan Yang Maha Besar tidak akan punya energi untuk merasa paling benar. Ia akan terlalu sibuk memeriksa dirinya sendiri. Dan mungkin—hanya mungkin—jika lebih banyak manusia melakukan perjalanan itu, tidak akan ada cukup bahan bakar untuk perang yang mengklaim langit sebagai sponsornya.

Kita tidak bisa menghentikan rudal yang sudah bergerak di sana. Ini adalah kenyataan yang menyakitkan dan harus kita terima dengan jujur.

Tapi hari ini, untuk beberapa jam lagi sebelum Magrib, kita bisa melakukan satu hal yang ternyata jauh lebih radikal dari yang kita kira: menahan diri. Menahan nafsu untuk merasa paling benar. Menahan keinginan untuk memaksakan takdir versi kita kepada orang lain. Menahan dorongan untuk mengklaim langit sebagai pembenar bagi ego kita yang sedang lapar.

Bukan karena kita lemah. Tapi karena kita sudah cukup paham bahwa nafsu yang tidak dikenali—nafsu purba yang sudah ada sebelum agama lahir, dan yang kadang bersembunyi di balik jubah agama itu sendiri—adalah awal dari semua kerusakan. Baik yang berbunyi seperti bom di langit malam, maupun yang sunyi seperti hati nurani yang perlahan berhenti berdesir.

Puasa, pada akhirnya, adalah latihan paling sederhana untuk perjalanan yang paling berat itu. Kita tidak mengubah dunia dengan mengerem nafsu makan selama beberapa jam. Tapi kita sedang berlatih untuk mengenal nafsu itu—mengenalinya, menatapnya, dan memilih untuk tidak menurutinya.

Dan pengenalan itu, saya percaya, adalah benih dari segalanya.

Selamat berpuasa dari nafsu yang paling berbahaya: nafsu untuk merasa paling benar.

Add wartakita.id as a preferred source on Google

Tags: bahaya merasa paling benarberbuka puasaesai Ramadanesai refleksi ramadan hari 12hubungan puasa dan perangkonflik global ramadanmakna niat puasamakna puasa menahan egoniat puasa RamadanRamadanRamadan 2026spiritualitas puasa
Share13Tweet8Send

ARTIKEL TERKAIT

Esai Ramadan #12: Bagaimana Memperbaiki Dunia Tanpa Menghancurkannya? - Featured

Skenario Reformasi: Senjata Coretax 2026 dan Jalan Terang Menuju Pertumbuhan 6%

28/07/2026
Esai Ramadan #12: Bagaimana Memperbaiki Dunia Tanpa Menghancurkannya? - Featured

Skenario Status Quo: Bayang-Bayang Utang Rp10.000 T dan Ancaman Permanen Middle-Income Trap

28/07/2026
Esai Ramadan #12: Bagaimana Memperbaiki Dunia Tanpa Menghancurkannya? - Featured

Trajektori 2026-2031: Menuju Indonesia Emas atau Terjebak Krisis Permanen?

28/07/2026
Esai Ramadan #12: Bagaimana Memperbaiki Dunia Tanpa Menghancurkannya? - Featured

Selamatkan APBN 2026: Redefinisi Anggaran Pendidikan 20% dan Ketegasan BPI Danantara

28/07/2026
Esai Ramadan #12: Bagaimana Memperbaiki Dunia Tanpa Menghancurkannya? - Featured

Paradoks Desentralisasi 2026: Mengapa Anggaran Daerah Dipangkas demi Program Populis Pusat?

28/07/2026
Esai Ramadan #12: Bagaimana Memperbaiki Dunia Tanpa Menghancurkannya? - Featured

Siklus Anggaran Politis dan Korupsi Rp279 Triliun: Saat Uang Rakyat Jadi Ongkos ‘Elit’ yang Hidup dalam Siklus 5 Tahunan

28/07/2026
Esai Ramadan #12: Bagaimana Memperbaiki Dunia Tanpa Menghancurkannya? - Featured

Kualitas Layanan Publik Stagnan: Mengurai Korupsi, Siklus Politis, dan Absennya Keadilan Pajak

28/07/2026
Esai Ramadan #12: Bagaimana Memperbaiki Dunia Tanpa Menghancurkannya? - Featured

Pendarahan Cukai Rp60 Triliun: Siapa yang Diuntungkan dari Sindikat Rokok Ilegal?

27/07/2026

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

I agree to the Terms & Conditions and Privacy Policy.

TERPOPULER-SEPEKAN

  • wisata dan tradisi nyekar di pulau libukang palopo

    Wisata Dan Tradisi Nyekar Di Pulau Libukang Palopo

    389 shares
    Share 156 Tweet 97
  • Usai Dilantik, Mahyudin Pantau Langsung War Room Kota Makassar

    31 shares
    Share 12 Tweet 8
  • Makassar Kembali Jadi Pilot Project Program ‘Deklarasi Panti Sosial Bermutu’ oleh Kemensos, Bukti Kolaborasi Sukses

    40 shares
    Share 16 Tweet 10
  • Malaysia & Indonesia Blokir Grok AI: Respons Cepat atas Ancaman Deepfake Seksual dan Langkah xAI Terkini

    42 shares
    Share 17 Tweet 11
  • AI Gempur Lapangan Kerja, Jurusan Ini Justru Makin Moncer

    47 shares
    Share 19 Tweet 12
  • Benteng Aman Para Pencari Selamat: Saat Kritik dan Perbedaan Pendapat Dilindas Atas Nama Stabilitas

    75 shares
    Share 30 Tweet 19
  • Trajektori 2026-2031: Menuju Indonesia Emas atau Terjebak Krisis Permanen?

    26 shares
    Share 10 Tweet 7
  • Aksi Lingkungan dan Sosial Gerakan Rakyat Sulsel: 100 Bibit Pohon dan Ratusan Takjil Jelang HUT Pertama

    52 shares
    Share 21 Tweet 13
  • Pakai Serum Udah Berbulan-bulan Tapi Wajah Tetap Kusam & Breakout? Duh, Jangan-Jangan Kamu Melakukan 6 Kesalahan Fatal Ini, Bestie!

    29 shares
    Share 12 Tweet 7
  • Psikologi di Balik Game Gacha: Mekanisme Adiktif dan Ekonomi Virtualnya

    50 shares
    Share 20 Tweet 13
wartakita-id-buku-saku-bencana-bnpb_cr

Unduh Buku Saku “SIAGA BENCANA” dari BNPB

02/11/2023

Buku saku siaga bencana ini tidak menjamin keselamatan Anda. Namun, memberikan pedoman secara umum untuk kesiapsiagaan.

Read moreDetails

WARTAKITA

Hacker-Gunakan-AI-Claude-Code-untuk-Serangan-Otonomus-–-Repiw.jpg
Gadget

Hacker Gunakan AI Claude Code untuk Serangan Otonomus

14/11/2025
img-1764775654-b12300608d9039ae
Otomotif

Modifikasi Vespa Matic: 10 Aksesoris ‘Proper’ Budget Pelajar-Sultan

04/12/2025
menari bersama misteri nara saluna
Gaya Hidup

Merasa Tertinggal dari Teman Seusiamu? Mari Berdamai dengan “Garis Waktu” Hidup yang Tak Terduga

29/11/2025
parfum dengan kharisma sejati 1_cr
Fashion & Kecantikan

Kenapa Parfum Anda Tidak Meninggalkan Kesan? (Dan Cara Mengatasinya)

16/11/2025
Mug CIVAGO dengan lapisan keramik & insulasi vakum tahan 12 jam 1-salwasalon
Gaya Hidup

Aroma Kopi Pagi Anda, Tetap Hangat Sempurna Hingga Siang

06/12/2025
crew-cut-fade_tn
Gaya Hidup

Aroma yang Tak Terlupakan: Rahasia Kepercayaan Diri Pria Modern

02/12/2025
Alternatif Hair Styler Canggih Mulai 300 Ribuan_wartakita.id
Fashion & Kecantikan

Ingin Rambut ‘Badai’ ala Jisoo Tapi Budget Terbatas? Ini 3 Alternatif Hair Styler Canggih Mulai 300 Ribuan!

29/11/2025
1763889026-rahasia-kulit-glowing-di-rumah-spa-mandiri-perawatan-diri.jpg
Fashion & Kecantikan

Rahasia Kulit Glowing di Rumah: Spa Mandiri & Perawatan Diri untuk Beauty Besties

23/11/2025
featured 1_tn1
Fashion & Kecantikan

Tren Hijab 2025-2026: 25+ Gaya Fashion Muslim Kekinian

14/11/2025
4 rekomendasi parfum anti gerah dan tahan lama di cuaca indonesia_wartakita.id
Fashion & Kecantikan

Parfum Mahal Tapi Cepat Hilang Kena Keringat? 4 Rekomendasi Parfum “Anti-Gerah” Tahan Lama di Cuaca Indonesia

30/11/2025
Jisoo+Dyson
Gadget

Jisoo BLACKPINK dan Dyson: Rahasia Rambut Sehat Berkilau

21/11/2025
parfum untuk jomblo_wartakita.id
Fashion & Kecantikan

Bosan Jomblo atau Hubungan Terasa Hambar? Pikat dengan 4 Parfum “Date Night” Menggoda Ini

29/11/2025
tips-keselamatan
Alam dan Lingkungan Hidup

Tips Keselamatan Saat Gempa Bumi

23/12/2023

Gempa bumi tidak seperti kejadian alam lainnya yang masih bisa diprediksi jauh-jauh hari dengan lebih akurat.

Read moreDetails
  • beranda
  • kontak
  • layanan
  • beriklan
  • privasi
  • perihal

©2021 wartakita media

  • Login
No Result
View All Result
  • 🏚️
  • ALAM
  • WARTA
    • PEMBELAJARAN
    • HUKUM
    • NUSANTARA
    • OLAHRAGA
    • TEKNOLOGI
    • KULINER
    • OTOMOTIF
    • SEPAK BOLA
    • #CEKFAKTA
  • GAYA
  • MAKASSAR
  • TEKNOLOGI
  • KONTAK
    • Mari Bermitra
    • Tentang Wartakita
    • Tim Redaksi
    • Kebijakan Privasi
    • TRAKTIR KOPI

©2021 wartakita media

wartakita.id menggunakan cookies tanpa mengorbankan privasi pengunjung.