Esai Ramadan #15: Mencari Wajah Tuhan dalam Wajah Asing
Empat belas hari ini kita telah banyak menunjuk ke luar—ke pasar hukum, ke birokrasi yang gagal, ke berhala ijazah, ke...
Read moreDetailsEmpat belas hari ini kita telah banyak menunjuk ke luar—ke pasar hukum, ke birokrasi yang gagal, ke berhala ijazah, ke...
Read moreDetailsTiga belas hari ini kita telah memeriksa banyak hal—ego, waktu, kejujuran dalam sunyi, lidah yang perlu berani, sistem yang busuk...
Read moreDetailsEsai ke-11 kita bicara tentang ampunan yang memiliki syarat mutlak—bahwa tobat yang sejati menuntut pengakuan, perbaikan, dan keberanian menatap cermin....
Read moreDetailsPagi ini, di sela-sela sahur, saya membaca berita yang membuat suapan terakhir saya terasa berat untuk ditelan. Rudal-rudal sudah mulai...
Read moreDetailsSepuluh hari pertama Ramadan kita habiskan untuk melihat ke dalam—meruntuhkan ego, menjaga kejujuran di ruang-ruang sunyi, memeriksa lidah dan keberanian...
Read moreDetailsSaya pernah duduk berhadapan dengan seorang kawan ateis dalam diskusi yang panjang dan berasap. Dengan nada sarkastis yang cerdas, ia...
Read moreDetailsPekan pertama Ramadan kita habiskan untuk melihat ke dalam. Kita belajar mengecilkan ego, menghuni waktu, menjaga kejujuran di ruang-ruang yang...
Read moreDetailsTujuh esai pertama Ramadan mengajarkan diri saya (dan semoga juga pembaca) tentang ruang dalam—tentang ego yang perlu dikecilkan, waktu yang...
Read moreDetailsKita hidup di zaman yang terobsesi dengan kurasi dan dokumentasi. Nyaris tak ada bagian dari hidup yang tidak tersentuh lensa...
Read moreDetailsPernahkah Anda merasa bahwa Ramadan di kota besar terkadang terasa seperti simulasi? Kita bangun sahur di ruang makan yang hangat,...
Read moreDetailsDalam dunia infrastruktur IT, satu detik adalah keabadian. Kita bicara tentang latency, tentang kecepatan transfer data yang harus secepat kedipan...
Read moreDetailsAda jenis kesepian yang hanya bisa dirasakan oleh mereka yang bekerja jauh dari rumah—di kota Palu yang masih asing di...
Read moreDetailsDunia hari ini adalah panggung raksasa di mana semua orang ingin menjadi pemeran utama. Semua ingin menjadi pemenang pemilu dan...
Read moreDetailsDi Jakarta dan kota-kota besar lainnya tempat saya pernah menumpang hidup, kesunyian adalah barang mewah. Harganya jauh lebih mahal dari...
Read moreDetailsDi meja kerja saya, beberapa jam sebelum hilal resmi diumumkan, tumpukan pekerjaan masih berserakan. Sejak kemarin, di luar, di jalanan...
Read moreDetailsWartakita.id, MAKASSAR — Rabu, 7 Januari 2026, menjadi hari yang sibuk di depan kantor Komdigi. Bukan karena ada skandal korupsi...
Read moreDetails