Minggu, 11 Oktober 2026
  • beranda
  • kontak
  • layanan
  • beriklan
  • privasi
  • perihal
WartakitaID
  • 🏚️
  • ALAM
  • WARTA
    • PEMBELAJARAN
    • HUKUM
    • NUSANTARA
    • OLAHRAGA
    • TEKNOLOGI
    • KULINER
    • OTOMOTIF
    • SEPAK BOLA
    • #CEKFAKTA
  • GAYA
  • MAKASSAR
  • TEKNOLOGI
  • KONTAK
    • Mari Bermitra
    • Tentang Wartakita
    • Tim Redaksi
    • Kebijakan Privasi
    • TRAKTIR KOPI
No Result
View All Result
WartakitaID
  • 🏚️
  • ALAM
  • WARTA
    • PEMBELAJARAN
    • HUKUM
    • NUSANTARA
    • OLAHRAGA
    • TEKNOLOGI
    • KULINER
    • OTOMOTIF
    • SEPAK BOLA
    • #CEKFAKTA
  • GAYA
  • MAKASSAR
  • TEKNOLOGI
  • KONTAK
    • Mari Bermitra
    • Tentang Wartakita
    • Tim Redaksi
    • Kebijakan Privasi
    • TRAKTIR KOPI
No Result
View All Result
WartakitaID
No Result
View All Result
Home Opini

Esai Ramadan #17: Doa, antara Harapan dan Kepasrahan

by A. Burhany
08/03/2026
in Opini
Reading Time: 4 mins read
A A
sisipan-17

Pernahkah Anda merasa bahwa semakin keras Anda berdoa, semakin Anda tersesat dalam keinginan-keinginan Anda sendiri?

Saya pernah. Dan kerap masih. Dan saya rasa banyak dari kita pernah.


Doa sering kita bayangkan seperti garis lurus: dari mulut kita langsung menuju langit, membawa daftar permintaan yang mendesak. Dan tentu saja, dengan memperhatikan dan memenuhi sebanyak mungkin berbagai syarat dan ketentuan agar doa makbul dan dikabulkan.

Namun belakangan ini—di hari-hari yang tubuhnya mulai terasa lebih ringan dan pikirannya lebih sunyi—saya menyadari bahwa saya lebih sering mendikte ketimbang berdoa. Bahwa doa saya lebih menyerupai labirin daripada garis lurus.

Bukan jalan buntu ketika tidak terkabul, bukan jalan tol ketika terwujud. Labirin adalah jalan yang berliku menuju pusat. Di dalamnya, kita tidak sedang mencari jalan keluar; kita sedang mencari jalan ke dalam.


Di awal Ramadan, doa-doa saya masih riuh. Kesehatan, kelancaran rezeki, perubahan nasib bangsa—daftar panjang yang saya sodorkan ke langit dengan penuh keyakinan bahwa saya tahu apa yang saya butuhkan. Dan itu bukan hal yang salah. Harapan adalah mesin yang menggerakkan kita untuk terus mengetuk pintu.

Tapi mesin itu bisa membuat lelah jika kita tidak tahu kapan harus berhenti memompa.

Kita kecewa saat pesanan tak kunjung datang. Kita mulai mempertanyakan apakah doa kita didengar, atau apakah cara kita berdoa sudah benar, atau apakah kita layak untuk dikabulkan. Kita masuk lebih dalam ke labirin—dan di sanalah, diam-diam, sesuatu mulai bergeser.


Kepasrahan bukan menyerah kalah. Ia bukan sikap pasif seorang yang kehabisan cara. Kepasrahan adalah keberanian untuk berkata: “Inilah harapan saya, tapi Engkau tahu lebih baik dari saya tentang apa yang saya butuhkan.”

Perbedaannya halus tapi dalam. Harapan berkata, “Saya mau ini.” Kepasrahan berkata, “Saya percaya Engkau. Apa pun, selama itu mau-Mu, pasti lebih baik dari mauku.”

Katanya doa yang baik harus mendetil dan terperinci, lengkap 5W+1H-nya—semacam afirmasi, saya siap menerima atau menjadi seperti apa yang saya pinta. Walau belum tentu siap jika yang terjadi tidak harus sesuai keinginan.

Seiring waktu, perbedaan antara keinginan dan kebutuhan semakin jelas.


Dan di sanalah saya menemukan sesuatu yang tidak saya cari: bahwa doa bukan satu-satunya bahasa dalam percakapan ini.

Ada sebuah ungkapan yang baru belakangan ini saya pahami bukan sebagai kalimat motivasi, melainkan sebagai petunjuk arah yang sangat praktis: jika ingin berbicara kepada Tuhan, berdoalah. Jika ingin Tuhan berbicara kepadamu, mengajilah—bacalah Al-Quran.

Hari ini, 17 Ramadan, disepakati dalam banyak riwayat sebagai hari turunnya Al-Quran pertama kali. Sebuah momen di mana percakapan antara langit dan bumi dimulai—bukan dengan doa manusia yang naik ke atas, tapi dengan firman Tuhan yang turun ke bawah. Bukan manusia yang memulai. Tuhan yang memulai.

Selama bertahun-tahun, saya memperlakukan Al-Quran seperti saya memperlakukan doa: sebagai sesuatu yang saya baca untuk mendapatkan sesuatu—pahala, ketenangan, atau setidaknya perasaan bahwa saya sudah melakukan kewajiban. Saya berbicara, tapi tidak mendengar.

Baru belakangan ini saya mulai duduk dengan Al-Quran dengan cara yang berbeda—lebih lambat, lebih sering berhenti, lebih sering bertanya: apa yang sedang dikatakan kepada saya hari ini, bukan apa yang ingin saya dapatkan hari ini. Dan yang saya temukan mengejutkan: ayat yang sama yang sudah ratusan kali saya baca, tiba-tiba berbicara tentang sesuatu yang persis sedang saya hadapi. Seolah ia memang diturunkan hari itu, untuk saya, di titik hidup yang sedang saya jalani.

Mungkin itulah yang dimaksud dengan Tuhan yang berbicara: bukan suara dari langit, bukan mimpi yang dramatis—tapi satu ayat yang tiba-tiba terasa seperti nama kita disebut.

BACA JUGA:

Penutup Esai Ramadan #30: Satu Hal Saja

Kementerian ESDM Pastikan Keandalan Pasokan Listrik Sulawesi Jelang Ramadan & Idul Fitri 1447 H

Esai Ramadan #29: Menuai Hujan dan Residu yang Tersisa

Ramadan 2026: Hari ini 17 Maret berapa Ramadan?

Esai Ramadan #28: Azan dan Kepulangan yang Sejati


Yang menarik, setelah mulai mendengar dengan cara itu, doa saya mulai berubah sendiri—tanpa saya rencanakan. Ia mulai memendek. Tidak lagi panjang lebar menjelaskan kepada Tuhan apa yang seharusnya Ia lakukan. Kadang doa saya kini hanya berupa bisikan pendek sebelum tidur, atau napas panjang di antara dua sujud yang tidak sempat saya terjemahkan menjadi kata-kata.

Mungkin itu bukan kemunduran. Mungkin itulah yang dimaksud dengan semakin dalam.


Tuhan tidak selalu mengubah keadaan kita. Tapi Ia sering mengubah cara kita melihat keadaan itu. Dan perubahan kedua itu, saya temukan, jauh lebih bertahan lama.

Di pusat labirin ini, harapan dan kepasrahan tidak lagi saling bertarung. Keduanya melebur menjadi sesuatu yang lebih sederhana: keyakinan bahwa kita sedang ditemani—dalam keadaan apa pun, di tikungan mana pun.


Jangan takut tersesat di dalam labirin batin Anda sendiri.

Di ujungnya, Anda tidak akan menemukan dunia yang baru. Anda akan menemukan diri Anda yang baru—yang lebih tenang, lebih jujur, dan sudah tidak terlalu sibuk mengurus daftar permintaannya sendiri.

Selamat merayakan kesunyian di dalam labirin. Dan selamat mendengarkan—karena mungkin Tuhan sudah berbicara sejak lama, kita yang belum cukup diam untuk mendengarnya.

Rekomendasikan Wartakita.id
Tags: Al-Quran dan doabatin seperti labirinberbuka puasaesai Ramadanevolusi doamakna doa harapan kepasrahan ramadanmakna niat puasamendengarkan Tuhanniat puasa RamadanNuzulul Quran hari ke-17RamadanRamadan 2026spiritualitas puasatawakal total
Share20Tweet12Send

ARTIKEL TERKAIT

Esai Ramadan #17: Doa, antara Harapan dan Kepasrahan - Featured

Maulid, Karhutla, dan Kemarahan Publik: Ironi Moral Tanpa Amanah

25/08/2026
Esai Ramadan #17: Doa, antara Harapan dan Kepasrahan - Featured

Skenario Reformasi: Senjata Coretax 2026 dan Jalan Terang Menuju Pertumbuhan 6%

28/07/2026
Esai Ramadan #17: Doa, antara Harapan dan Kepasrahan - Featured

Skenario Status Quo: Bayang-Bayang Utang Rp10.000 T dan Ancaman Permanen Middle-Income Trap

28/07/2026
Esai Ramadan #17: Doa, antara Harapan dan Kepasrahan - Featured

Trajektori 2026-2031: Menuju Indonesia Emas atau Terjebak Krisis Permanen?

28/07/2026
Esai Ramadan #17: Doa, antara Harapan dan Kepasrahan - Featured

Selamatkan APBN 2026: Redefinisi Anggaran Pendidikan 20% dan Ketegasan BPI Danantara

28/07/2026
Esai Ramadan #17: Doa, antara Harapan dan Kepasrahan - Featured

Paradoks Desentralisasi 2026: Mengapa Anggaran Daerah Dipangkas demi Program Populis Pusat?

28/07/2026
Esai Ramadan #17: Doa, antara Harapan dan Kepasrahan - Featured

Siklus Anggaran Politis dan Korupsi Rp279 Triliun: Saat Uang Rakyat Jadi Ongkos ‘Elit’ yang Hidup dalam Siklus 5 Tahunan

28/07/2026
Esai Ramadan #17: Doa, antara Harapan dan Kepasrahan - Featured

Kualitas Layanan Publik Stagnan: Mengurai Korupsi, Siklus Politis, dan Absennya Keadilan Pajak

28/07/2026

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

I agree to the Terms & Conditions and Privacy Policy.

TERPOPULER-SEPEKAN

  • wisata dan tradisi nyekar di pulau libukang palopo

    Wisata Dan Tradisi Nyekar Di Pulau Libukang Palopo

    500 shares
    Share 200 Tweet 125
  • Kalla Toyota Palopo Sukses Rebut Hati Komunitas Lewat “Padel with Toyota Hybrid”

    35 shares
    Share 14 Tweet 9
  • Ole Romeny Rayakan Kemenangan Timnas Indonesia dengan Jersey Marselino

    29 shares
    Share 12 Tweet 7
  • Gibran Rakabuming Raka Terganjal Syarat Pendidikan untuk Pilpres 2029

    24 shares
    Share 10 Tweet 6
  • BMKG: Peringatan Dini Cuaca Besok 11-12 Oktober 2026, Hujan Lebat di Sejumlah Wilayah

    22 shares
    Share 9 Tweet 6
  • Kejati Kaltara Ungkap Dugaan Korupsi Kredit Investasi Rp759,4 Miliar di Bank Digital Milik Negara

    22 shares
    Share 9 Tweet 6
  • Hoaks: Prabowo Beri Hadiah Rp 5 Triliun dan Mobil untuk Timnas

    22 shares
    Share 9 Tweet 6
  • Ribuan Warga Mataram Sambut Meriah Bintang MotoGP dalam Riders Parade

    20 shares
    Share 8 Tweet 5
  • DJP Siapkan Strategi Cari Basis Pajak Baru Antisipasi Kenaikan PTKP

    20 shares
    Share 8 Tweet 5
  • Punya Gadget Nganggur? Bisa Tukar Tambah dengan Galaxy Z Fold8 Serie

    19 shares
    Share 8 Tweet 5
wartakita-id-buku-saku-bencana-bnpb_cr

Unduh Buku Saku “SIAGA BENCANA” dari BNPB

02/11/2023

Buku saku siaga bencana ini tidak menjamin keselamatan Anda. Namun, memberikan pedoman secara umum untuk kesiapsiagaan.

Read moreDetails

WARTAKITA

img-1764777491-e442ac7fe1f792b9
Gaya Hidup

Parfum Lokal Wangi Sultan: Mirip Niche Eropa, Harga Murah!

04/12/2025
1766621435-7-gadget-traveling-wajib-bawa-buat-liburan-nataru-anti-lowbat.jpg
Gadget

7 Gadget Traveling Wajib Bawa Buat Liburan Nataru (Anti Lowbat)

25/12/2025
telegram-bot
Gadget

Labirin Pilihan Smartphone Modern: Dari Fotografi Hingga Gaming

15/11/2025
Cara Hidup Anak Kost agar Lebih Tenang di Dapur dan Rumah_cr_tn1
Gaya Hidup

Cara agar Hidup Anak Kost Lebih Tenang di Dapur dan Rumah

22/11/2025
1763287827_Smoothing-vs-Rebonding-vs-Keratin-Mana-yang-Terbaik-untuk-Rambutmu.jpg
Fashion & Kecantikan

Smoothing vs Rebonding vs Keratin: Mana yang Terbaik untuk Rambutmu?

16/11/2025
vespa 2026_cr_tn1
Otomotif

Bukan Sekadar Skuter: Panduan Memilih Vespa Impian Anda di Tahun 2026

23/11/2025
Alternatif Hair Styler Canggih Mulai 300 Ribuan_wartakita.id
Fashion & Kecantikan

Ingin Rambut ‘Badai’ ala Jisoo Tapi Budget Terbatas? Ini 3 Alternatif Hair Styler Canggih Mulai 300 Ribuan!

29/11/2025
Hacker-Gunakan-AI-Claude-Code-untuk-Serangan-Otonomus-–-Repiw.jpg
Gadget

Hacker Gunakan AI Claude Code untuk Serangan Otonomus

14/11/2025
crew-cut-fade_tn
Gaya Hidup

Aroma yang Tak Terlupakan: Rahasia Kepercayaan Diri Pria Modern

02/12/2025
hidup sehat dan seimbang_cr_tn1
Gaya Hidup

Keseimbangan Hidup Optimal: Menjaga Kesehatan dari Dalam dan Luar

24/11/2025
featured 1_tn1
Fashion & Kecantikan

Tren Hijab 2025-2026: 25+ Gaya Fashion Muslim Kekinian

14/11/2025
3 kompas batin wartakita_tn1
Gaya Hidup

Jeda di Tengah Badai: Tiga Kompas Batin untuk Mengarungi Gelombang Hidup

20/11/2025
tips-keselamatan
Alam dan Lingkungan Hidup

Tips Keselamatan Saat Gempa Bumi

23/12/2023

Gempa bumi tidak seperti kejadian alam lainnya yang masih bisa diprediksi jauh-jauh hari dengan lebih akurat.

Read moreDetails
  • beranda
  • kontak
  • layanan
  • beriklan
  • privasi
  • perihal

©2021 wartakita media

  • Login
No Result
View All Result
  • 🏚️
  • ALAM
  • WARTA
    • PEMBELAJARAN
    • HUKUM
    • NUSANTARA
    • OLAHRAGA
    • TEKNOLOGI
    • KULINER
    • OTOMOTIF
    • SEPAK BOLA
    • #CEKFAKTA
  • GAYA
  • MAKASSAR
  • TEKNOLOGI
  • KONTAK
    • Mari Bermitra
    • Tentang Wartakita
    • Tim Redaksi
    • Kebijakan Privasi
    • TRAKTIR KOPI

©2021 wartakita media

wartakita.id menggunakan cookies tanpa mengorbankan privasi pengunjung.