Jumat, 16 Oktober 2026
  • beranda
  • kontak
  • layanan
  • beriklan
  • privasi
  • perihal
WartakitaID
  • 🏚️
  • ALAM
  • WARTA
    • PEMBELAJARAN
    • HUKUM
    • NUSANTARA
    • OLAHRAGA
    • TEKNOLOGI
    • KULINER
    • OTOMOTIF
    • SEPAK BOLA
    • #CEKFAKTA
  • GAYA
  • MAKASSAR
  • TEKNOLOGI
  • KONTAK
    • Mari Bermitra
    • Tentang Wartakita
    • Tim Redaksi
    • Kebijakan Privasi
    • TRAKTIR KOPI
No Result
View All Result
WartakitaID
  • 🏚️
  • ALAM
  • WARTA
    • PEMBELAJARAN
    • HUKUM
    • NUSANTARA
    • OLAHRAGA
    • TEKNOLOGI
    • KULINER
    • OTOMOTIF
    • SEPAK BOLA
    • #CEKFAKTA
  • GAYA
  • MAKASSAR
  • TEKNOLOGI
  • KONTAK
    • Mari Bermitra
    • Tentang Wartakita
    • Tim Redaksi
    • Kebijakan Privasi
    • TRAKTIR KOPI
No Result
View All Result
WartakitaID
No Result
View All Result
Home Opini

Esai Ramadan #16: Autofagi Jiwa

by A. Burhany
08/03/2026
in Opini
Reading Time: 4 mins read
A A
utama-16

Jelang paruh ketiga, rasa haus bukan lagi tamu asing yang mengejutkan—ia sudah menjadi penghuni tetap di tenggorokan kita sejak fajar hingga senja. Kita sudah hafal bentuknya, sudah tahu kapan ia paling keras mengetuk.

Tapi ada sesuatu yang menarik yang terjadi di balik rasa tidak nyaman itu. Sesuatu yang diam-diam sedang bekerja di dalam tubuh kita tanpa kita minta.


Beberapa tahun terakhir, setiap Ramadan saya lebih banyak menghabiskannya dengan tidur di rumah. Bangun hanya di waktu salat, lalu kembali tidur. Sedapat mungkin, menghindari aktivitas luar ruang sebelum berbuka puasa.

Saya tidak akan berdalih dengan dalil yang sanadnya lemah: “Tidurnya orang puasa adalah ibadah.” Saya juga tidak akan menggunakan tugas terjaga sepanjang malam menemani Ayah yang sedang bed-rest sebagai pembenaran.

Saya melakukannya dengan sadar, karena berhutang jam istirahat yang cukup bagi tubuh, jiwa, dan pikiran di bulan-bulan selain Ramadan—dengan ber-hibernasi. Seperti beruang di musim dingin.

Saya melakukan ini dengan kesadaran penuh bahwa ia adalah kemewahan yang tidak akan selamanya tersedia. Belum ada yang menunggu sahur saya siapkan. Belum ada anak yang demam di tengah malam puasa. Belum ada tanggung jawab yang membuat tidur siang menjadi sesuatu yang harus diminta izin.

Maka saya tidur—dengan rasa syukur yang aneh, karena tahu bahwa fase hidup ini tidak akan terulang. Dan dalam tidur yang panjang itu, tanpa saya rencanakan, tubuh saya sedang bekerja.


Sains modern menyebutnya autofagi.

Dalam kondisi kelaparan yang terkendali, tubuh kita tidak menyerah—ia justru semakin cerdas. Sel-sel kita mulai mengidentifikasi sel-sel yang rusak, protein yang cacat, bahkan bakal sel kanker yang selama ini menumpang hidup secara cuma-cuma—lalu menjadikannya sumber energi. Tubuh kita, secara harfiah, sedang memakan penyakitnya sendiri untuk mempertahankan kehidupan yang sehat.

Saya selalu menemukan sesuatu yang mengharukan dalam fakta ini. Bahwa di momen kita merasa paling lemah—perut kosong, tenggorokan kering—tubuh kita justru sedang melakukan salah satu pekerjaan paling canggih yang bisa ia lakukan.

Dan saya bertanya-tanya: apakah jiwa kita bekerja dengan cara yang sama?


Jika tubuh melakukan autofagi terhadap sel kanker, mungkin jiwa yang berpuasa pun sedang melakukan sesuatu yang serupa—perlahan melahap sel-sel ego yang telah lama menjadi parasit.

Rasa haus akan validasi yang tidak pernah terpuaskan. Dendam yang mengakar dan ikut makan dari dalam. Syahwat untuk selalu menang sendiri.

Tapi berbeda dengan autofagi fisik yang bekerja tanpa kita sadari, autofagi jiwa membutuhkan satu syarat: kita harus berhenti memberi makan sel-sel parasit itu.

Sel kanker ego tumbuh subur dari satu sumber: perhatian. Setiap kali kita memeriksa berapa orang yang menyukai pendapat kita, kita sedang menyuapi sel itu. Setiap kali kita memutar ulang percakapan yang menyakitkan dan membayangkan respons yang lebih menang, kita sedang memperpanjang umurnya. Setiap kali kita membandingkan pencapaian kita dengan orang lain—ke atas dengan iri, ke bawah dengan lega—kita sedang memberinya makan.

Puasa, dalam konteks jiwa, adalah keputusan untuk berhenti menyuapi. Bukan dengan cara heroik yang dramatis—tapi dengan cara yang paling sederhana: membiarkan rasa lapar itu ada tanpa langsung mengisi, membiarkan kekosongan itu duduk tanpa langsung melarikan diri.

Dan dalam kekosongan yang cukup panjang itu, jiwa mulai bekerja seperti tubuh: mencari sumber energi dari dalam. Memakan yang tidak lagi berguna. Memurnikan yang tersisa.


Saat tenaga fisik melemah, ada sesuatu yang justru menguat di dalam—sebuah kejernihan yang hanya bisa muncul ketika kebisingan sudah cukup sunyi.

BACA JUGA:

Penutup Esai Ramadan #30: Satu Hal Saja

Kementerian ESDM Pastikan Keandalan Pasokan Listrik Sulawesi Jelang Ramadan & Idul Fitri 1447 H

Esai Ramadan #29: Menuai Hujan dan Residu yang Tersisa

Ramadan 2026: Hari ini 17 Maret berapa Ramadan?

Esai Ramadan #28: Azan dan Kepulangan yang Sejati

Ini mungkin sebabnya haus adalah ibadah, bukan sekadar ujian.

Haus adalah proses pengosongan. Dan ruang yang kosong, secara hukum alam, akan selalu menarik sesuatu untuk mengisinya. Jika kita mengosongkan diri dari makanan dan minuman, kita sedang menciptakan ruang—dan apa yang masuk mengisi ruang itu tergantung pada ke mana kita mengarahkan kerinduan kita.

Kerinduan adalah anatomi pencarian. Kita merasa haus karena kita sedang diingatkan bahwa kita tidak lengkap—dan ketidaklengkapan itu, ternyata, adalah pintu yang paling jujur.


Hari ini, saat lidah terasa kelu dan perut mulai melilit, saya tidak ingin mengajak kita untuk mengeluh atau untuk bersabar dengan cara yang heroik. Saya hanya ingin kita duduk sebentar dengan rasa haus itu—tanpa langsung mengalihkannya ke layar ponsel, tanpa langsung membunuhnya dengan kesibukan.

Rasakan saja ia sebentar. Biarkan ia bicara.

Karena mungkin itulah yang sedang ia coba katakan: bahwa kita masih memiliki kapasitas untuk berubah. Bahwa kita masih bisa didesain ulang. Bahwa rasa tidak lengkap ini bukan tanda kelemahan—ia adalah tanda bahwa kita masih hidup dan masih bergerak menuju sesuatu.

Selamat menikmati proses penyembuhan ini. Biarkan lapar kita menjadi doa, dan biarkan haus kita menjadi jalan pulang.

Rekomendasikan Wartakita.id
Tags: berbuka puasaesai Ramadanfilosofi tidur saat puasaintrospeksi diri pertengahan puasamakna lapar dan haus puasamakna niat puasameruntuhkan ego ramadanniat puasa Ramadanpenyembuhan spiritual puasaRamadanRamadan 2026spiritualitas puasa
Share16Tweet10Send

ARTIKEL TERKAIT

Esai Ramadan #16: Autofagi Jiwa - Featured

Maulid, Karhutla, dan Kemarahan Publik: Ironi Moral Tanpa Amanah

25/08/2026
Esai Ramadan #16: Autofagi Jiwa - Featured

Skenario Reformasi: Senjata Coretax 2026 dan Jalan Terang Menuju Pertumbuhan 6%

28/07/2026
Esai Ramadan #16: Autofagi Jiwa - Featured

Skenario Status Quo: Bayang-Bayang Utang Rp10.000 T dan Ancaman Permanen Middle-Income Trap

28/07/2026
Esai Ramadan #16: Autofagi Jiwa - Featured

Trajektori 2026-2031: Menuju Indonesia Emas atau Terjebak Krisis Permanen?

28/07/2026
Esai Ramadan #16: Autofagi Jiwa - Featured

Selamatkan APBN 2026: Redefinisi Anggaran Pendidikan 20% dan Ketegasan BPI Danantara

28/07/2026
Esai Ramadan #16: Autofagi Jiwa - Featured

Paradoks Desentralisasi 2026: Mengapa Anggaran Daerah Dipangkas demi Program Populis Pusat?

28/07/2026
Esai Ramadan #16: Autofagi Jiwa - Featured

Siklus Anggaran Politis dan Korupsi Rp279 Triliun: Saat Uang Rakyat Jadi Ongkos ‘Elit’ yang Hidup dalam Siklus 5 Tahunan

28/07/2026
Esai Ramadan #16: Autofagi Jiwa - Featured

Kualitas Layanan Publik Stagnan: Mengurai Korupsi, Siklus Politis, dan Absennya Keadilan Pajak

28/07/2026

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

I agree to the Terms & Conditions and Privacy Policy.

TERPOPULER-SEPEKAN

  • Esai Ramadan #16: Autofagi Jiwa - Featured

    Kalla Toyota Palopo Sukses Rebut Hati Komunitas Lewat “Padel with Toyota Hybrid”

    110 shares
    Share 44 Tweet 28
  • Kode CMD Untuk Mempercepat Kinerja Laptop

    845 shares
    Share 338 Tweet 211
  • BMKG: Peringatan Dini Cuaca Besok 11-12 Oktober 2026, Hujan Lebat di Sejumlah Wilayah

    24 shares
    Share 10 Tweet 6
  • Kualitas Udara Sulsel Masih Tidak Sehat, BMKG Prediksi Perbaikan 15 Oktober

    20 shares
    Share 8 Tweet 5
  • Pemerintah Jaga Harga Solar dan Pertalite Meski Kenaikan Minyak Dunia

    19 shares
    Share 8 Tweet 5
  • Siswi SMP di Sidrap Sulsel Korban Perundungan 10 Temannya, Ortu Laporkan Polisi

    19 shares
    Share 8 Tweet 5
  • 90 Persen Orang dengan Depresi di Indonesia Belum Terjangkau Pengobatan

    19 shares
    Share 8 Tweet 5
  • Letkol Arman Ditahan Mabes TNI, Rumah Dinasnya Diduga Jadi Markas Judi Online

    19 shares
    Share 8 Tweet 5
  • Komisi I DPR Ingatkan TNI: Usut Tuntas Kasus Rumah Dinas Jadi Markas Judol

    19 shares
    Share 8 Tweet 5
  • Pemerintah Rilis Tarif Cek Kesehatan Haji, Pengetatan Syarat Kesehatan Jemaah

    19 shares
    Share 8 Tweet 5
wartakita-id-buku-saku-bencana-bnpb_cr

Unduh Buku Saku “SIAGA BENCANA” dari BNPB

02/11/2023

Buku saku siaga bencana ini tidak menjamin keselamatan Anda. Namun, memberikan pedoman secara umum untuk kesiapsiagaan.

Read moreDetails

WARTAKITA

parfum untuk jomblo_wartakita.id
Fashion & Kecantikan

Bosan Jomblo atau Hubungan Terasa Hambar? Pikat dengan 4 Parfum “Date Night” Menggoda Ini

29/11/2025
merawat-aki-mobil-dimusim-hujan-2_cr
Otomotif

Ancaman Mogok Akibat Aki Lemah di Musim Hujan: Kenapa Perawatan Mandiri Mobil LCGC Jadi Krusial?

16/11/2025
menari bersama misteri nara saluna
Gaya Hidup

Merasa Tertinggal dari Teman Seusiamu? Mari Berdamai dengan “Garis Waktu” Hidup yang Tak Terduga

29/11/2025
Jisoo+Dyson
Gadget

Jisoo BLACKPINK dan Dyson: Rahasia Rambut Sehat Berkilau

21/11/2025
1766621435-7-gadget-traveling-wajib-bawa-buat-liburan-nataru-anti-lowbat.jpg
Gadget

7 Gadget Traveling Wajib Bawa Buat Liburan Nataru (Anti Lowbat)

25/12/2025
Alternatif Hair Styler Canggih Mulai 300 Ribuan_wartakita.id
Fashion & Kecantikan

Ingin Rambut ‘Badai’ ala Jisoo Tapi Budget Terbatas? Ini 3 Alternatif Hair Styler Canggih Mulai 300 Ribuan!

29/11/2025
crew-cut-fade_tn
Gaya Hidup

Aroma yang Tak Terlupakan: Rahasia Kepercayaan Diri Pria Modern

02/12/2025
Cara Hidup Anak Kost agar Lebih Tenang di Dapur dan Rumah_cr_tn1
Gaya Hidup

Cara agar Hidup Anak Kost Lebih Tenang di Dapur dan Rumah

22/11/2025
1763287827_Smoothing-vs-Rebonding-vs-Keratin-Mana-yang-Terbaik-untuk-Rambutmu.jpg
Fashion & Kecantikan

Smoothing vs Rebonding vs Keratin: Mana yang Terbaik untuk Rambutmu?

16/11/2025
img-1764775654-b12300608d9039ae
Otomotif

Modifikasi Vespa Matic: 10 Aksesoris ‘Proper’ Budget Pelajar-Sultan

04/12/2025
4 rekomendasi parfum anti gerah dan tahan lama di cuaca indonesia_wartakita.id
Fashion & Kecantikan

Parfum Mahal Tapi Cepat Hilang Kena Keringat? 4 Rekomendasi Parfum “Anti-Gerah” Tahan Lama di Cuaca Indonesia

30/11/2025
hidup sehat dan seimbang_cr_tn1
Gaya Hidup

Keseimbangan Hidup Optimal: Menjaga Kesehatan dari Dalam dan Luar

24/11/2025
tips-keselamatan
Alam dan Lingkungan Hidup

Tips Keselamatan Saat Gempa Bumi

23/12/2023

Gempa bumi tidak seperti kejadian alam lainnya yang masih bisa diprediksi jauh-jauh hari dengan lebih akurat.

Read moreDetails
  • beranda
  • kontak
  • layanan
  • beriklan
  • privasi
  • perihal

©2021 wartakita media

  • Login
No Result
View All Result
  • 🏚️
  • ALAM
  • WARTA
    • PEMBELAJARAN
    • HUKUM
    • NUSANTARA
    • OLAHRAGA
    • TEKNOLOGI
    • KULINER
    • OTOMOTIF
    • SEPAK BOLA
    • #CEKFAKTA
  • GAYA
  • MAKASSAR
  • TEKNOLOGI
  • KONTAK
    • Mari Bermitra
    • Tentang Wartakita
    • Tim Redaksi
    • Kebijakan Privasi
    • TRAKTIR KOPI

©2021 wartakita media

wartakita.id menggunakan cookies tanpa mengorbankan privasi pengunjung.