Rabu, 22 Juli 2026
  • beranda
  • kontak
  • layanan
  • beriklan
  • privasi
  • perihal
WartakitaID
  • 🏚️
  • ALAM
  • WARTA
    • PEMBELAJARAN
    • HUKUM
    • NUSANTARA
    • OLAHRAGA
    • TEKNOLOGI
    • KULINER
    • OTOMOTIF
    • SEPAK BOLA
    • #CEKFAKTA
  • GAYA
  • MAKASSAR
  • TEKNOLOGI
  • KONTAK
    • Mari Bermitra
    • Tentang Wartakita
    • Tim Redaksi
    • Kebijakan Privasi
    • TRAKTIR KOPI
No Result
View All Result
WartakitaID
  • 🏚️
  • ALAM
  • WARTA
    • PEMBELAJARAN
    • HUKUM
    • NUSANTARA
    • OLAHRAGA
    • TEKNOLOGI
    • KULINER
    • OTOMOTIF
    • SEPAK BOLA
    • #CEKFAKTA
  • GAYA
  • MAKASSAR
  • TEKNOLOGI
  • KONTAK
    • Mari Bermitra
    • Tentang Wartakita
    • Tim Redaksi
    • Kebijakan Privasi
    • TRAKTIR KOPI
No Result
View All Result
WartakitaID
No Result
View All Result
Home Opini

Esai Ramadan #11: Maghfirah dan Sunyinya Nurani Sang Sopir

by A. Burhany
28/02/2026
in Opini
Reading Time: 5 mins read
A A
utama-11

Sepuluh hari pertama Ramadan kita habiskan untuk melihat ke dalam—meruntuhkan ego, menjaga kejujuran di ruang-ruang sunyi, memeriksa lidah dan keberanian kita menerima kebenaran, sekaligus berkata jujur walau pahit akibatnya pada diri sendiri. Lalu kita mulai melihat ke luar—ke pasar hukum, ke cermin yang dibawa rakyat, ke hubris yang menghuni gedung-gedung tinggi dan kita yang masih menuhankan diri.

Hari ini kita memasuki fase 10 hari kedua Ramadan: Maghfirah. Ampunan.

Semasa tinggal di Bandung antara 2010 hingga 2013, angkot adalah kendaraan umum yang saya gunakan sehari-hari—dan sering menjadi penumpang terakhir. Dengan bahasa Sunda yang kaku dan campur aduk, kerap berbincang dengan sopir-sopir angkot tentang banyak hal: dari perseteruan suporter Persib dan Persija, harga cabe, sambel jengkol, pilpres, pemilu, pilkada, hingga relokasi dan revitalisasi sari item.

Esai kali ini saya ingin meminjam sudut pandang sang sopir—berbagi kisah tentang ampunan dari kursi kemudi.

***

Tanganku masih mencengkeram kemudi ini dengan kaku. Di depanku, jalanan memanjang seperti nasib bangsa yang tak kunjung terang. Saya adalah sopir di bus yang kalian tumpangi—sebuah armada besar bernama PO Bus Parpol. Kalian naik dengan harapan sampai ke tujuan bernama “Keadilan, Kemajuan, Kesejahteraan”.

Namun saya sering memutar rute ke jalan-jalan tikus demi mengejar setoran untuk pemilik perusahaan, atau sekadar barter ban serep di pasar hukum yang tempo hari kita bicarakan.

Di masjid-masjid dan baliho-baliho pinggir jalan, wajah rekan-rekan saya terpampang rapi dengan senyum paling santun. Mereka bicara tentang pintu maaf yang terbuka lebar. Tapi sebagai sesama sopir, saya tahu satu rahasia pahit: ampunan bukanlah tombol reset yang bisa ditekan hanya dengan sujud yang lama atau sedekah yang banyak tak lupa ditempeli foto wajah saya.

Ampunan memiliki syarat mutlak—sebuah logika if and only if yang tak bisa ditawar.

Pertama, saya harus mengakui bahwa saya telah sengaja mengerem mendadak hingga kalian terbentur. Kedua, saya harus turun dari kursi kemudi, menatap mata kalian satu per satu di bangku belakang, dan memohon maaf atas rute palsu yang saya ambil. Dan ketiga—yang paling mustahil—kalian harus memaafkan saya.

Tanpa tiga syarat itu, ampunan Tuhan hanyalah imajinasi yang saya ciptakan untuk menenangkan diri sendiri. Dan tidak akan pernah sampai ke tahap diampuni yang indikasinya jelas: terhalang dari melakukan kesalahan yang sama.

***

Selama ini, kami para pengambil kebijakan dan pengawal kebijakan memperlakukan kalian bukan sebagai daulat penumpang, melainkan sebagai barang bawaan di bagasi. Kalian hanya dibutuhkan saat musim bayar tiket—Pemilu—setelah itu kalian adalah statistik yang berisik. Kami mematikan suara nurani kami agar bisa tidur nyenyak di atas penderitaan kalian.

Ada yang bilang neraka adalah api yang membakar kulit. Bagi saya, setelah bertahun-tahun memegang kemudi ini, neraka memiliki bentuk yang lebih mengerikan: nurani yang bisu.

Ketika saya melihat anak sekolah di pelosok Ngada tak punya pena dan buku tulis, dan hati saya tidak lagi berdesir—itulah neraka. Ketika saya melihat hukum dan jabatan diperjualbelikan seperti onderdil bekas, dan saya merasa itu wajar—itulah neraka. Dan ketika nurani itu benar-benar berhenti mengusik, ketika saya sudah merasa benar dalam kejahatan yang saya lakukan—maka itulah dasar neraka yang paling dalam.

***

Di fase Maghfirah ini, saya tidak ingin hanya meminta ampun kepada Langit.

Saya ingin meminta ampun kepada lantai. Kepada aspal yang saya lalui dengan angkuh, kepada penumpang yang saya telantarkan di terminal antah-berantah, kepada kejujuran yang saya gadaikan demi mahar politik.

BACA JUGA:

Penutup Esai Ramadan #30: Satu Hal Saja

Kementerian ESDM Pastikan Keandalan Pasokan Listrik Sulawesi Jelang Ramadan & Idul Fitri 1447 H

Esai Ramadan #29: Menuai Hujan dan Residu yang Tersisa

Ramadan 2026: Hari ini 17 Maret berapa Ramadan?

Esai Ramadan #28: Azan dan Kepulangan yang Sejati

Sopir yang baik bukan dia yang paling lihai berkelit dari kemacetan. Ia adalah dia yang berani mengakui ketika salah jalan—ketika ia membahayakan penumpang yang membayarnya dan mempercayakan nyawanya padanya.

***

Saya menyadari ini bukan pengakuan yang mudah ditulis. Jauh lebih mudah berdiri di mimbar dan bicara tentang ampunan daripada duduk di bangku penumpang sendiri dan merasakan seperti apa rasanya ditipu oleh sopir yang tersenyum.

Tapi Ramadan mengajarkan satu hal yang tidak bisa saya hindari: ampunan yang sejati selalu dimulai dari yang paling dekat—dari cermin, bukan dari langit. Sebelum saya meminta langit memaafkan saya, saya harus turun lebih dulu. Turun dari kursi kemudi yang terlalu lama saya duduki dengan nyaman.

***

Esai Ramadan #11: Maghfirah dan Sunyinya Nurani Sang Sopir - image 1

Bagi kalian para penumpang—jangan biarkan kami tidur nyenyak dalam ampunan palsu. Teruslah mengetuk kaca spion kami. Teruslah bersuara dari bangku belakang. Sebab jika kalian berhenti bersuara dan kami berhenti merasa, bus ini tidak sedang menuju ke mana-mana yang baik. Kita sedang meluncur bersama menuju kesunyian hati nurani yang paling mematikan.

***

Hari ke-11 ini adalah tentang keberanian menatap cermin—bukan cermin yang dibawa rakyat seperti kemarin, melainkan cermin yang harus kita angkat sendiri dengan tangan kita yang gemetar.

Sebelum saya meminta Tuhan memaafkan saya, saya harus bertanya lebih dulu: bisakah saya memaafkan diri saya sendiri yang telah menjadi sopir yang buruk bagi kalian? Bisakah saya meyakinkan diri sendiri dan penumpang, bahwa tujuan yang kita tuju bukan harapan palsu yang diperbaharui setiap lima tahun?

Selamat memasuki fase ampunan yang jujur. Jangan hanya membersihkan sajadah—bersihkanlah jalanan yang kita lalui.

Add wartakita.id as a preferred source on Google

Tags: ampunan pejabat publikberbuka puasaesai politik ramadanesai Ramadanmakna maghfirah ramadanmakna niat puasametafora sopir busniat puasa Ramadannurani yang matipemimpin minta maafPO Bus ParpolRamadanRamadan 2026spiritualitas puasasyarat taubat pemimpin
Share17Tweet11Send

ARTIKEL TERKAIT

ekonom-1a

Bongkar Mesin “Ekonomi Zombie”: Cetak Biru Penyelamatan Kelas Menengah dari Meja Pengambil Kebijakan

11/06/2026
ekonomi-1-jpg

Mengapa Ekonomi Kita Belum Ambruk? Membedah “Ekonomi Zombie” dan Ilusi Ketahanan Kelas Menengah

11/06/2026
pesta-babi

Kontroversi Film “Pesta Babi”: Narasi Pembangunan, Hak Adat Papua, dan Lingkaran Kekuasaan

12/05/2026
Prof-Dr-H-Umar-Shihab-BW

Selamat Jalan, Pak Umar

23/03/2026
utama-30

Penutup Esai Ramadan #30: Satu Hal Saja

19/03/2026
utama-29

Esai Ramadan #29: Menuai Hujan dan Residu yang Tersisa

18/03/2026
sisipan-28

Esai Ramadan #28: Azan dan Kepulangan yang Sejati

17/03/2026
utama-27

Esai Ramadan #27: Jelang Perpisahan dengan Tamu yang Memuliakan

16/03/2026

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

I agree to the Terms & Conditions and Privacy Policy.

TERPOPULER-SEPEKAN

  • featured 1_tn1

    Tren Hijab 2025-2026: 25+ Gaya Fashion Muslim Kekinian

    259 shares
    Share 104 Tweet 65
  • 7 Ide Potongan Rambut Pria dengan Aksen Garis (Line Up) Keren

    74 shares
    Share 30 Tweet 19
  • PTUN Bandung Perintahkan Gubernur Jabar Pecat Bupati Bogor, Ada Apa?

    29 shares
    Share 12 Tweet 7
  • Toyota New Hilux Hadir Lebih Gahar: Mesin 1GD 2.8L Ungguli Generasi Sebelumnya, Siap Taklukkan Medan Sulsel

    22 shares
    Share 9 Tweet 6
  • 5 Rekomendasi Potongan Rambut Pria saat Melamar Kerja, Rapi, Simpel dan Stylish

    493 shares
    Share 197 Tweet 123
  • Agen Subsidi Desa Tetap Aman: Kopdes Merah Putih Jadi Penyalur Utama Barang Subsidi dan Bantuan Pemerintah

    21 shares
    Share 8 Tweet 5
  • Kode CMD Untuk Mempercepat Kinerja Laptop

    695 shares
    Share 278 Tweet 174
  • APBN 2026: Mengurai Mitos Ketergantungan Pajak, Menelisik Jalan Kemakmuran Berkelanjutan

    179 shares
    Share 72 Tweet 45
  • Toyota Luncurkan New Hilux di Palopo

    17 shares
    Share 7 Tweet 4
  • Hacker Gunakan AI Claude Code untuk Serangan Otonomus

    32 shares
    Share 13 Tweet 8
wartakita-id-buku-saku-bencana-bnpb_cr

Unduh Buku Saku “SIAGA BENCANA” dari BNPB

02/11/2023

Buku saku siaga bencana ini tidak menjamin keselamatan Anda. Namun, memberikan pedoman secara umum untuk kesiapsiagaan.

Read moreDetails

WARTAKITA

1766621435-7-gadget-traveling-wajib-bawa-buat-liburan-nataru-anti-lowbat.jpg
Gadget

7 Gadget Traveling Wajib Bawa Buat Liburan Nataru (Anti Lowbat)

25/12/2025
insta360-go-3s-780x470.jpg
Gadget

Insta360 GO 3S Hadir dengan Video 4K dan Dukungan Apple Find My

25/07/2024
vespa sprint atau primavera_wartakita.id
Otomotif

Vespa Primavera vs. Sprint 2025: Dua Jiwa, Satu Mesin, Pilihan Anda?

30/11/2025
1763889026-rahasia-kulit-glowing-di-rumah-spa-mandiri-perawatan-diri.jpg
Fashion & Kecantikan

Rahasia Kulit Glowing di Rumah: Spa Mandiri & Perawatan Diri untuk Beauty Besties

23/11/2025
ilustrasi pria berketombe
Gaya Hidup

Rambut Rontok Parah? Kenali Penyebab dan Solusi Alami

24/11/2025
hidup sehat dan seimbang_cr_tn1
Gaya Hidup

Keseimbangan Hidup Optimal: Menjaga Kesehatan dari Dalam dan Luar

24/11/2025
img-1764775654-b12300608d9039ae
Otomotif

Modifikasi Vespa Matic: 10 Aksesoris ‘Proper’ Budget Pelajar-Sultan

04/12/2025
img-1764777491-e442ac7fe1f792b9
Gaya Hidup

Parfum Lokal Wangi Sultan: Mirip Niche Eropa, Harga Murah!

04/12/2025
crew-cut-fade_tn
Gaya Hidup

Aroma yang Tak Terlupakan: Rahasia Kepercayaan Diri Pria Modern

02/12/2025
parfum untuk jomblo_wartakita.id
Fashion & Kecantikan

Bosan Jomblo atau Hubungan Terasa Hambar? Pikat dengan 4 Parfum “Date Night” Menggoda Ini

29/11/2025
merawat-aki-mobil-dimusim-hujan-2_cr
Otomotif

Ancaman Mogok Akibat Aki Lemah di Musim Hujan: Kenapa Perawatan Mandiri Mobil LCGC Jadi Krusial?

16/11/2025
Ini 4 Serum Ajaib Wajib Punya untuk Melindungi Rambut dari Panas_wartakita.id
Fashion & Kecantikan

Rahasia Kilau Rambut Jisoo Bukan Cuma Alat Mahal! 4 “Serum Ajaib” Wajib Punya untuk Lindungi Rambut dari Panas

29/11/2025
tips-keselamatan
Alam dan Lingkungan Hidup

Tips Keselamatan Saat Gempa Bumi

23/12/2023

Gempa bumi tidak seperti kejadian alam lainnya yang masih bisa diprediksi jauh-jauh hari dengan lebih akurat.

Read moreDetails
  • beranda
  • kontak
  • layanan
  • beriklan
  • privasi
  • perihal

©2021 wartakita media

  • Login
No Result
View All Result
  • 🏚️
  • ALAM
  • WARTA
    • PEMBELAJARAN
    • HUKUM
    • NUSANTARA
    • OLAHRAGA
    • TEKNOLOGI
    • KULINER
    • OTOMOTIF
    • SEPAK BOLA
    • #CEKFAKTA
  • GAYA
  • MAKASSAR
  • TEKNOLOGI
  • KONTAK
    • Mari Bermitra
    • Tentang Wartakita
    • Tim Redaksi
    • Kebijakan Privasi
    • TRAKTIR KOPI

©2021 wartakita media

wartakita.id menggunakan cookies tanpa mengorbankan privasi pengunjung.