Kamis, 4 Juni 2026
  • beranda
  • kontak
  • layanan
  • beriklan
  • privasi
  • perihal
WartakitaID
  • 🏠
  • ALAM
  • WARTA
    • PEMBELAJARAN
    • HUKUM
    • NUSANTARA
    • OLAHRAGA
    • TEKNOLOGI
    • KULINER
    • OTOMOTIF
    • SEPAK BOLA
    • #CEKFAKTA
  • GAYA
  • MAKASSAR
  • TEKNOLOGI
  • KONTAK
    • Mari Bermitra
    • Tentang Wartakita
    • Tim Redaksi
    • Kebijakan Privasi
    • TRAKTIR KOPI
No Result
View All Result
WartakitaID
  • 🏠
  • ALAM
  • WARTA
    • PEMBELAJARAN
    • HUKUM
    • NUSANTARA
    • OLAHRAGA
    • TEKNOLOGI
    • KULINER
    • OTOMOTIF
    • SEPAK BOLA
    • #CEKFAKTA
  • GAYA
  • MAKASSAR
  • TEKNOLOGI
  • KONTAK
    • Mari Bermitra
    • Tentang Wartakita
    • Tim Redaksi
    • Kebijakan Privasi
    • TRAKTIR KOPI
No Result
View All Result
WartakitaID
No Result
View All Result
Home Opini

Esai Ramadan #3: Lapar dan Matinya Sang Pusat Semesta

by A. Burhany
20/02/2026
in Opini
Reading Time: 3 mins read
A A
Esai Ramadan #3: Lapar dan Matinya Sang Pusat Semesta - Featured

Dunia hari ini adalah panggung raksasa di mana semua orang ingin menjadi pemeran utama. Semua ingin menjadi pemenang pemilu dan berkuasa. Hampir tak ada yang bersedia menjadi penonton, kru di balik layar, apalagi jadi pecundang.

Lewat layar persegi di genggaman, kita mudah terjebak dalam delusi halus bahwa kitalah pusat dari segalanya. Setiap jengkal hidup harus divalidasi. Setiap pikiran harus dipuji. Setiap “kemenangan” kecil ego harus dirayakan dengan gemuruh likes. Kita tidak lagi sekadar ingin dikenal—kita ingin diagungkan.

Kita telah menjadi pecandu. Bukan pecandu zat, melainkan pecandu pengakuan.

Di hari ketiga ini, lapar mulai bekerja lebih dalam.

Ia tidak lagi hanya menyentuh dinding lambung. Ia mulai mengetuk pintu ego kita yang angkuh.

Ada ironi yang indah dalam rasa lapar: Anda boleh punya sejuta pengikut di media sosial, atau jabatan yang membuat orang membungkuk saat Anda lewat—tapi saat rasa haus itu datang di pukul dua siang, ia tidak peduli siapa Anda.

Rasa haus tidak membaca bio Instagram. Ia adalah bahasa kemanusiaan yang paling dasar, yang menyamakan kita semua kembali ke titik nol: makhluk ringkih yang, ternyata, masih butuh makan dan minum untuk bertahan hidup.

Dan biaya bertahan hidup jauh lebih murah dari biaya membangun citra sebagai pusat semesta.

Mungkin benar bahwa ada orang-orang yang menempatkan dirinya sebagai matahari, sementara orang lain dianggap planet kecil yang wajib mengorbit. Mereka merasa dunia berhutang pada kenyamanan dan pemenuhan keinginan mereka.

Tapi dunia tidak pernah menandatangani kontrak itu.

Matahari tetap terbit dan terbenam. Musim tetap berganti. Takdir tetap bergulir sesuai sunnatullah—tanpa sedikit pun meminta izin pada ego kita.

Kita sering merasa sebagai sutradara kehidupan, pengatur hidup kita sendiri dan orang lain. Padahal kita hanyalah sebutir debu yang sedang belajar menumpang lewat.

Bagi saya, puasa di hari-hari awal ini adalah proses unlearning.

Kita sedang belajar memutus kecanduan terhadap sanjungan. Saat kita memilih untuk tidak makan meski tak ada yang melihat, kita sedang membuktikan pada diri sendiri bahwa kita tidak butuh tepuk tangan untuk melakukan hal yang benar. Kita sedang menghancurkan berhala yang paling sulit diruntuhkan: diri sendiri.

Lapar mengajarkan kita untuk kembali melihat ke bawah—ke tanah tempat kita berasal dan tempat kita akan kembali. Ia merobohkan sekat-sekat yang dibangun oleh kesombongan.

Bagaimana mungkin kita tetap merasa sebagai pusat semesta, jika untuk urusan menyambung nyawa saja kita bergantung pada setetes air yang bahkan tidak sanggup kita ciptakan sendiri?

Inilah bahasa empati yang sejati.

Bukan sekadar rasa kasihan melihat orang kelaparan. Empati dalam puasa adalah kerelaan untuk menjadi kecil—secara sadar, secara sengaja, tanpa penonton.

BACA JUGA:

Penutup Esai Ramadan #30: Satu Hal Saja

Kementerian ESDM Pastikan Keandalan Pasokan Listrik Sulawesi Jelang Ramadan & Idul Fitri 1447 H

Esai Ramadan #29: Menuai Hujan dan Residu yang Tersisa

Ramadan 2026: Hari ini 17 Maret berapa Ramadan?

Esai Ramadan #28: Azan dan Kepulangan yang Sejati

Ketika ego mengecil, ruang di dalam jiwa meluas. Dan di dalam ruang yang luas itulah kita baru bisa merasakan kehadiran orang lain—juga kehadiran Tuhan.

Kita tidak lagi melihat dunia melalui filter “apa untungnya bagi saya?”, melainkan melalui pertanyaan yang lebih lembut: “siapa yang bisa saya rangkul?”

Hari ini, mari kita nikmati rasa lapar ini bukan sebagai siksaan, tapi sebagai pembersih—pembersih sisa-sisa harga diri yang sudah terlalu lama menumpuk.

Mari kita rayakan matinya Sang Pusat Semesta di dalam diri kita, agar yang lahir kemudian adalah manusia yang lebih utuh, lebih sadar, lebih membumi.

Sebab kebahagiaan sejati tidak ditemukan dalam kemenangan ego. Ia ditemukan justru di momen ketika kita berhasil menanggalkan semua atribut itu—dan berdiri, dengan jujur dan ringan, di hadapan hidup.

Selamat menghancurkan berhala.

Tags: berbuka puasaesai Ramadanmakna niat puasaniat puasa RamadanRamadanRamadan 2026spiritualitas puasa
Share12Tweet8Send
Diskon Referral 20% Cloud Professional Hostinger Diskon Referral 20% Cloud Professional Hostinger Diskon Referral 20% Cloud Professional Hostinger

ARTIKEL TERKAIT

Esai Ramadan #3: Lapar dan Matinya Sang Pusat Semesta - Featured

Kontroversi Film “Pesta Babi”: Narasi Pembangunan, Hak Adat Papua, dan Lingkaran Kekuasaan

12/05/2026
Esai Ramadan #3: Lapar dan Matinya Sang Pusat Semesta - Featured

Selamat Jalan, Pak Umar

23/03/2026
Esai Ramadan #3: Lapar dan Matinya Sang Pusat Semesta - Featured

Penutup Esai Ramadan #30: Satu Hal Saja

19/03/2026
Esai Ramadan #3: Lapar dan Matinya Sang Pusat Semesta - Featured

Esai Ramadan #29: Menuai Hujan dan Residu yang Tersisa

18/03/2026
Esai Ramadan #3: Lapar dan Matinya Sang Pusat Semesta - Featured

Esai Ramadan #28: Azan dan Kepulangan yang Sejati

17/03/2026
Esai Ramadan #3: Lapar dan Matinya Sang Pusat Semesta - Featured

Esai Ramadan #27: Jelang Perpisahan dengan Tamu yang Memuliakan

16/03/2026
Esai Ramadan #3: Lapar dan Matinya Sang Pusat Semesta - Featured

Esai Ramadan #26: Zakat yang Melampaui Angka

14/03/2026
Esai Ramadan #3: Lapar dan Matinya Sang Pusat Semesta - Featured

Esai Ramadan #25: Pulang ke Fitrah dan Laundry Pakaian Jiwa

14/03/2026

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

I agree to the Terms & Conditions and Privacy Policy.

TERPOPULER-SEPEKAN

  • Esai Ramadan #3: Lapar dan Matinya Sang Pusat Semesta - Featured

    APBN 2026: Mengurai Mitos Ketergantungan Pajak, Menelisik Jalan Kemakmuran Berkelanjutan

    103 shares
    Share 41 Tweet 26
  • Kiai Padepokan Padang Ati Ditangkap: Nasib Ratusan Santriwati Menjadi Sorotan

    26 shares
    Share 10 Tweet 7
  • Gaji ke-13 2026: 2 Kategori ASN, TNI, Polri Dicoret dari Daftar Penerima

    24 shares
    Share 10 Tweet 6
  • Jambret Sadis Pelajar di Tamalate Dibekuk, Aksi Kejar-kejaran hingga Terseret Terekam

    21 shares
    Share 8 Tweet 5
  • Rupiah Tertekan di Level Rp 17.839, Dipicu Ketegangan Timur Tengah dan Data Inflasi Domestik

    21 shares
    Share 8 Tweet 5
  • Cara Mendapatkan Bantuan Hukum Gratis di Indonesia: Panduan Lengkap untuk Masyarakat Tidak Mampu

    127 shares
    Share 51 Tweet 32
  • Aturan Baru Devisa Hasil Ekspor Diterapkan: Rupiah Menguat Sementara, Evaluasi Jangka Panjang Ditunggu

    20 shares
    Share 8 Tweet 5
  • Makassar Half Marathon 2026 Sukses Besar: Gairahkan Ekonomi Lokal Hingga Triliunan Rupiah

    20 shares
    Share 8 Tweet 5
  • Brigadir Anton: Keterangan Lengkap Kronologi Mantan Polisi Todongkan Pistol dan Upaya Kabur dari Lapas Palangka Raya

    19 shares
    Share 8 Tweet 5
  • Perang Iran, AS-Israel Ciptakan Rezeki Nomplok Energi untuk Brasil

    19 shares
    Share 8 Tweet 5
Esai Ramadan #3: Lapar dan Matinya Sang Pusat Semesta - Featured

Unduh Buku Saku “SIAGA BENCANA” dari BNPB

02/11/2023

Buku saku siaga bencana ini tidak menjamin keselamatan Anda. Namun, memberikan pedoman secara umum untuk kesiapsiagaan.

Read moreDetails

WARTAKITA

Esai Ramadan #3: Lapar dan Matinya Sang Pusat Semesta - Featured
Otomotif

Ancaman Mogok Akibat Aki Lemah di Musim Hujan: Kenapa Perawatan Mandiri Mobil LCGC Jadi Krusial?

16/11/2025
Esai Ramadan #3: Lapar dan Matinya Sang Pusat Semesta - Featured
Otomotif

Seni Merawat Vespa Matic: Bebaskan Gredek, Nikmati Perjalanan Halus

06/12/2025
menari bersama misteri nara saluna
Gaya Hidup

Merasa Tertinggal dari Teman Seusiamu? Mari Berdamai dengan “Garis Waktu” Hidup yang Tak Terduga

29/11/2025
Esai Ramadan #3: Lapar dan Matinya Sang Pusat Semesta - Featured
Gadget

Labirin Pilihan Smartphone Modern: Dari Fotografi Hingga Gaming

15/11/2025
Esai Ramadan #3: Lapar dan Matinya Sang Pusat Semesta - Featured
Gadget

Jisoo BLACKPINK dan Dyson: Rahasia Rambut Sehat Berkilau

21/11/2025
Esai Ramadan #3: Lapar dan Matinya Sang Pusat Semesta - Featured
Otomotif

Modifikasi Vespa Matic: 10 Aksesoris ‘Proper’ Budget Pelajar-Sultan

04/12/2025
Esai Ramadan #3: Lapar dan Matinya Sang Pusat Semesta - Featured
Fashion & Kecantikan

Tren Hijab 2025-2026: 25+ Gaya Fashion Muslim Kekinian

14/11/2025
Esai Ramadan #3: Lapar dan Matinya Sang Pusat Semesta - Featured
Gaya Hidup

Keseimbangan Hidup Optimal: Menjaga Kesehatan dari Dalam dan Luar

24/11/2025
Esai Ramadan #3: Lapar dan Matinya Sang Pusat Semesta - Featured
Gaya Hidup

Rambut Rontok Parah? Kenali Penyebab dan Solusi Alami

24/11/2025
Esai Ramadan #3: Lapar dan Matinya Sang Pusat Semesta - Featured
Fashion & Kecantikan

Smoothing vs Rebonding vs Keratin: Mana yang Terbaik untuk Rambutmu?

16/11/2025
Esai Ramadan #3: Lapar dan Matinya Sang Pusat Semesta - Featured
Fashion & Kecantikan

Parfum Mahal Tapi Cepat Hilang Kena Keringat? 4 Rekomendasi Parfum “Anti-Gerah” Tahan Lama di Cuaca Indonesia

30/11/2025
Esai Ramadan #3: Lapar dan Matinya Sang Pusat Semesta - Featured
Fashion & Kecantikan

Ingin Dihormati di Kantor? Ini 4 “Power Scent” Pria & Wanita yang Bikin Aura Anda Seperti CEO

29/11/2025
Esai Ramadan #3: Lapar dan Matinya Sang Pusat Semesta - Featured
Alam dan Lingkungan Hidup

Tips Keselamatan Saat Gempa Bumi

23/12/2023

Gempa bumi tidak seperti kejadian alam lainnya yang masih bisa diprediksi jauh-jauh hari dengan lebih akurat.

Read moreDetails
  • beranda
  • kontak
  • layanan
  • beriklan
  • privasi
  • perihal

©2021 wartakita media

  • Login
No Result
View All Result
  • 🏠
  • ALAM
  • WARTA
    • PEMBELAJARAN
    • HUKUM
    • NUSANTARA
    • OLAHRAGA
    • TEKNOLOGI
    • KULINER
    • OTOMOTIF
    • SEPAK BOLA
    • #CEKFAKTA
  • GAYA
  • MAKASSAR
  • TEKNOLOGI
  • KONTAK
    • Mari Bermitra
    • Tentang Wartakita
    • Tim Redaksi
    • Kebijakan Privasi
    • TRAKTIR KOPI

©2021 wartakita media

wartakita.id menggunakan cookies tanpa mengorbankan privasi pengunjung.