Senin, 24 Agustus 2026
  • beranda
  • kontak
  • layanan
  • beriklan
  • privasi
  • perihal
WartakitaID
  • 🏚️
  • ALAM
  • WARTA
    • PEMBELAJARAN
    • HUKUM
    • NUSANTARA
    • OLAHRAGA
    • TEKNOLOGI
    • KULINER
    • OTOMOTIF
    • SEPAK BOLA
    • #CEKFAKTA
  • GAYA
  • MAKASSAR
  • TEKNOLOGI
  • KONTAK
    • Mari Bermitra
    • Tentang Wartakita
    • Tim Redaksi
    • Kebijakan Privasi
    • TRAKTIR KOPI
No Result
View All Result
WartakitaID
  • 🏚️
  • ALAM
  • WARTA
    • PEMBELAJARAN
    • HUKUM
    • NUSANTARA
    • OLAHRAGA
    • TEKNOLOGI
    • KULINER
    • OTOMOTIF
    • SEPAK BOLA
    • #CEKFAKTA
  • GAYA
  • MAKASSAR
  • TEKNOLOGI
  • KONTAK
    • Mari Bermitra
    • Tentang Wartakita
    • Tim Redaksi
    • Kebijakan Privasi
    • TRAKTIR KOPI
No Result
View All Result
WartakitaID
No Result
View All Result
Home Opini

Esai Ramadan #13: Solusi yang Terlalu Sederhana untuk Ego Kita

by A. Burhany
03/03/2026
in Opini
Reading Time: 4 mins read
A A
utama-13

BACA JUGA:

Penutup Esai Ramadan #30: Satu Hal Saja

Kementerian ESDM Pastikan Keandalan Pasokan Listrik Sulawesi Jelang Ramadan & Idul Fitri 1447 H

Esai Ramadan #29: Menuai Hujan dan Residu yang Tersisa

Ramadan 2026: Hari ini 17 Maret berapa Ramadan?

Esai Ramadan #28: Azan dan Kepulangan yang Sejati

Esai ke-11 kita bicara tentang ampunan yang memiliki syarat mutlak—bahwa tobat yang sejati menuntut pengakuan, perbaikan, dan keberanian menatap cermin. Lalu kemarin, di hari ke-12 yang bersamaan dengan pecahnya konflik terbuka AS-Israel-Iran, kita belajar berpuasa dari nafsu yang paling berbahaya: nafsu merasa paling benar, dan keinginan memaksakan kebenaran versi masing-masing.

Rasa lapar dan haus siang tadi memperpanjang percakapan itu ke sebuah pertanyaan yang tidak mau pergi:

Jika solusi dari lapar dan haus selesai di saat berbuka dengan makan sepiring dan minum segelas—mengapa kita begitu sering memaksakan solusi lain untuk masalah-masalah yang sebenarnya tidak lebih rumit dari itu?


Di era AI yang makin cerdas, dengan pengetahuan yang semakin komprehensif, rasanya tidak ada lagi masalah teknis yang tidak punya solusi teknis.

Kita bisa menghitung distribusi pangan yang optimal. Kita bisa memodelkan kebijakan yang paling adil. Kita bisa merancang sistem yang meminimalkan kebocoran anggaran hingga beberapa desimal.

Tapi satu-satunya masalah yang belum—dan sepertinya tidak mau—dipecahkan bukan masalah teknis. Ia adalah masalah yang jawabannya sudah ada, sudah diketahui, sudah diucapkan berkali-kali dalam doa dan pidato dan kitab suci.

Masalah yang solusinya tidak membutuhkan kecerdasan buatan, tidak membutuhkan konsultan asing, tidak membutuhkan seminar internasional.

Ia hanya membutuhkan satu hal: keberanian untuk tidak memaksakan solusi versi kita sendiri.


Karena jika kita jujur, kita sebenarnya sudah tahu solusi dari hampir semua masalah besar yang kita hadapi.

Kita tahu bahwa korupsi selesai jika orang berhenti mengambil yang bukan haknya. Kita tahu bahwa konflik mereda jika pihak-pihak yang bertikai berhenti menyerang. Kita tahu bahwa ketimpangan berkurang jika mereka yang berlebih berhenti menumpuk. Kita tahu bahwa keadilan tegak jika hakim berhenti menjual pasal.

Solusinya sederhana. Bukan mudah—tapi sederhana.

Dan di sinilah ego kita masuk dan memperumit segalanya.


Ternyata, ego kita tidak suka solusi yang sederhana.

Solusi yang sederhana tidak membutuhkan kita. Ia tidak membutuhkan keahlian kita, jabatan kita, ijazah kita—berhala-berhala yang sudah kita bicarakan beberapa hari lalu—atau klaim langit kita. Dan manusia yang sudah terlanjur merasa penting, yang sudah membangun identitas di atas kompleksitas masalah yang ia kelola, sangat sulit menerima bahwa jawaban yang dicari ternyata tidak memerlukannya sama sekali.

Esai Ramadan #13: Solusi yang Terlalu Sederhana untuk Ego Kita - image 1

Maka kita memperumit. Kita menambah lapisan. Kita menciptakan prosedur, membentuk panitia, menggelar rapat koordinasi lintas kementerian. Bukan karena masalahnya memang kompleks—tapi karena kesederhanaan solusinya mengancam eksistensi kita sebagai orang yang dibutuhkan.

Lapar diselesaikan dengan makan. Tapi kita membangun industri diet, suplemen, aplikasi kalori, dan program detoks seharga jutaan rupiah—bukan karena lapar itu kompleks, tapi karena kita tidak tahan dengan jawaban yang terlalu sederhana untuk diberi label harga yang pantas.

Konflik diselesaikan dengan berhenti menyerang. Tapi kita membangun industri senjata, think tank geopolitik, dan teologi perang yang rumit—bukan karena konflik itu tidak bisa diselesaikan, tapi karena perdamaian tidak menghasilkan margin keuntungan yang cukup menarik bagi mereka yang hidup dari kompleksitas masalah orang lain.


Saya bicara ini sebagai seseorang yang pernah bertahun-tahun hidup di dalam mesin yang sama—mesin yang nafkahnya bergantung pada masalah yang tidak kunjung selesai.

Saya tahu persis bagaimana rasanya duduk di rapat musrembang yang membahas kemiskinan, menghasilkan rekomendasi yang tebal dan berwibawa, lalu pulang ke rumah yang nyaman dengan honor konsultasi yang cukup untuk membayar liburan akhir tahun.

Solusinya sudah kita tahu. Tapi kita memilih untuk terus membicarakannya daripada melakukannya—karena melakukannya tidak membutuhkan kita, sementara membicarakannya membuat kita merasa penting.


Dan di sinilah puasa hari ke-13 ini berbicara dengan cara yang paling langsung dan paling tidak bisa saya hindari.

Selama beberapa jam tadi, solusi dari lapar saya adalah menunggu Magrib. Tidak ada yang lebih canggih dari itu. Tidak ada strategi, tidak ada negosiasi, tidak ada konsultan yang perlu dibayar. Hanya menunggu—dan mempercayai bahwa waktunya akan tiba.

Dan ketika azan berkumandang, saya makan sepiring. Minum segelas. Selesai.

Kesederhanaan itu, ternyata, adalah bentuk kerendahan hati yang paling jujur. Menerima bahwa tidak semua solusi membutuhkan kita untuk menjadi pahlawannya. Bahwa kadang tugas kita bukan merancang solusi—tapi cukup berhenti menjadi bagian dari masalahnya.


Besok kita menutup fase Maghfirah. Dan pertanyaan yang akan kita bawa ke sana adalah pertanyaan yang paling dekat, paling personal, paling tidak bisa dihindari dengan teori mana pun:

Jika solusinya sesederhana itu—jika kita sudah tahu jawabannya, jika kita bahkan sudah mengucapkannya dalam doa lima kali sehari—mengapa jarak antara siapa kita di atas sajadah dan siapa kita setelah salam masih selebar itu?

Selamat berbuka. Selamat menerima bahwa terkadang, makan sepiring dan minum segelas sudah cukup.

Rekomendasikan Wartakita.id
Tags: berbuka puasaberbuka puasa sederhanaesai Ramadanesai ramadan hari ke 13industri masalahmakna niat puasamakna puasa menekan egomengapa birokrasi rumitniat puasa RamadanoverthinkingRamadanRamadan 2026solusi sederhana masalah egospiritualitas puasa
Share14Tweet9Send

ARTIKEL TERKAIT

Esai Ramadan #13: Solusi yang Terlalu Sederhana untuk Ego Kita - Featured

Skenario Reformasi: Senjata Coretax 2026 dan Jalan Terang Menuju Pertumbuhan 6%

28/07/2026
Esai Ramadan #13: Solusi yang Terlalu Sederhana untuk Ego Kita - Featured

Skenario Status Quo: Bayang-Bayang Utang Rp10.000 T dan Ancaman Permanen Middle-Income Trap

28/07/2026
Esai Ramadan #13: Solusi yang Terlalu Sederhana untuk Ego Kita - Featured

Trajektori 2026-2031: Menuju Indonesia Emas atau Terjebak Krisis Permanen?

28/07/2026
Esai Ramadan #13: Solusi yang Terlalu Sederhana untuk Ego Kita - Featured

Selamatkan APBN 2026: Redefinisi Anggaran Pendidikan 20% dan Ketegasan BPI Danantara

28/07/2026
Esai Ramadan #13: Solusi yang Terlalu Sederhana untuk Ego Kita - Featured

Paradoks Desentralisasi 2026: Mengapa Anggaran Daerah Dipangkas demi Program Populis Pusat?

28/07/2026
Esai Ramadan #13: Solusi yang Terlalu Sederhana untuk Ego Kita - Featured

Siklus Anggaran Politis dan Korupsi Rp279 Triliun: Saat Uang Rakyat Jadi Ongkos ‘Elit’ yang Hidup dalam Siklus 5 Tahunan

28/07/2026
Esai Ramadan #13: Solusi yang Terlalu Sederhana untuk Ego Kita - Featured

Kualitas Layanan Publik Stagnan: Mengurai Korupsi, Siklus Politis, dan Absennya Keadilan Pajak

28/07/2026
Esai Ramadan #13: Solusi yang Terlalu Sederhana untuk Ego Kita - Featured

Pendarahan Cukai Rp60 Triliun: Siapa yang Diuntungkan dari Sindikat Rokok Ilegal?

27/07/2026

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

I agree to the Terms & Conditions and Privacy Policy.

TERPOPULER-SEPEKAN

  • wisata dan tradisi nyekar di pulau libukang palopo

    Wisata Dan Tradisi Nyekar Di Pulau Libukang Palopo

    755 shares
    Share 302 Tweet 189
  • Gempa Bumi 15 Agustus 2026: M7,7 Guncang NTT, Ratusan Aftershock & Gempa M6,4 di Simalungun

    114 shares
    Share 46 Tweet 29
  • Gempa Magnitudo 7,7 Guncang Nagekeo NTT, BMKG Keluarkan Peringatan Dini Tsunami untuk NTT, NTB, Sulsel & Sultra

    73 shares
    Share 29 Tweet 18
  • 11 Gaya Rambut Pria Korea Terkini yang Bikin Wanita Jatuh Hati: Dijamin Keren Maksimal!

    43 shares
    Share 17 Tweet 11
  • 16 Model Rambut Pria yang Terbukti Disukai Wanita, Keren dan Stylish! (Update 2026)

    161 shares
    Share 64 Tweet 40
  • Pencapaian Dwelling Time Pelindo IV 2,5 Hari

    23 shares
    Share 9 Tweet 6
  • Kode CMD Untuk Mempercepat Kinerja Laptop

    737 shares
    Share 295 Tweet 184
  • APBN 2026: Mengurai Mitos Ketergantungan Pajak, Menelisik Jalan Kemakmuran Berkelanjutan

    209 shares
    Share 84 Tweet 52
  • Makassar Buka Festival Hari UMKM Nasional 2026: Kolaborasi Grab & CCEP Dorong Ekonomi Digital Lokal

    16 shares
    Share 6 Tweet 4
  • Rekrutmen CPNS 2027 Dibuka Awal Tahun: Peluang Emas Bagi Guru PPPK Naik Status

    16 shares
    Share 6 Tweet 4
wartakita-id-buku-saku-bencana-bnpb_cr

Unduh Buku Saku “SIAGA BENCANA” dari BNPB

02/11/2023

Buku saku siaga bencana ini tidak menjamin keselamatan Anda. Namun, memberikan pedoman secara umum untuk kesiapsiagaan.

Read moreDetails

WARTAKITA

Jisoo+Dyson
Gadget

Jisoo BLACKPINK dan Dyson: Rahasia Rambut Sehat Berkilau

21/11/2025
vespa sprint atau primavera_wartakita.id
Otomotif

Vespa Primavera vs. Sprint 2025: Dua Jiwa, Satu Mesin, Pilihan Anda?

30/11/2025
4 rekomendasi parfum anti gerah dan tahan lama di cuaca indonesia_wartakita.id
Fashion & Kecantikan

Parfum Mahal Tapi Cepat Hilang Kena Keringat? 4 Rekomendasi Parfum “Anti-Gerah” Tahan Lama di Cuaca Indonesia

30/11/2025
crew-cut-fade_tn
Gaya Hidup

Aroma yang Tak Terlupakan: Rahasia Kepercayaan Diri Pria Modern

02/12/2025
skincare kulit kering 2 e1766181785188.jpg
Fashion & Kecantikan

7 Jurus Pilih Pelembap Bikin Glowing Sehat

20/12/2025
img-1764777491-e442ac7fe1f792b9
Gaya Hidup

Parfum Lokal Wangi Sultan: Mirip Niche Eropa, Harga Murah!

04/12/2025
featured 1_tn1
Fashion & Kecantikan

Tren Hijab 2025-2026: 25+ Gaya Fashion Muslim Kekinian

14/11/2025
hidup sehat dan seimbang_cr_tn1
Gaya Hidup

Keseimbangan Hidup Optimal: Menjaga Kesehatan dari Dalam dan Luar

24/11/2025
telegram-bot
Gadget

Labirin Pilihan Smartphone Modern: Dari Fotografi Hingga Gaming

15/11/2025
ilustrasi pria berketombe
Gaya Hidup

Rambut Rontok Parah? Kenali Penyebab dan Solusi Alami

24/11/2025
menari bersama misteri nara saluna
Gaya Hidup

Merasa Tertinggal dari Teman Seusiamu? Mari Berdamai dengan “Garis Waktu” Hidup yang Tak Terduga

29/11/2025
Alternatif Hair Styler Canggih Mulai 300 Ribuan_wartakita.id
Fashion & Kecantikan

Ingin Rambut ‘Badai’ ala Jisoo Tapi Budget Terbatas? Ini 3 Alternatif Hair Styler Canggih Mulai 300 Ribuan!

29/11/2025
tips-keselamatan
Alam dan Lingkungan Hidup

Tips Keselamatan Saat Gempa Bumi

23/12/2023

Gempa bumi tidak seperti kejadian alam lainnya yang masih bisa diprediksi jauh-jauh hari dengan lebih akurat.

Read moreDetails
  • beranda
  • kontak
  • layanan
  • beriklan
  • privasi
  • perihal

©2021 wartakita media

  • Login
No Result
View All Result
  • 🏚️
  • ALAM
  • WARTA
    • PEMBELAJARAN
    • HUKUM
    • NUSANTARA
    • OLAHRAGA
    • TEKNOLOGI
    • KULINER
    • OTOMOTIF
    • SEPAK BOLA
    • #CEKFAKTA
  • GAYA
  • MAKASSAR
  • TEKNOLOGI
  • KONTAK
    • Mari Bermitra
    • Tentang Wartakita
    • Tim Redaksi
    • Kebijakan Privasi
    • TRAKTIR KOPI

©2021 wartakita media

wartakita.id menggunakan cookies tanpa mengorbankan privasi pengunjung.