Minggu, 19 Juli 2026
  • beranda
  • kontak
  • layanan
  • beriklan
  • privasi
  • perihal
WartakitaID
  • 🏚️
  • ALAM
  • WARTA
    • PEMBELAJARAN
    • HUKUM
    • NUSANTARA
    • OLAHRAGA
    • TEKNOLOGI
    • KULINER
    • OTOMOTIF
    • SEPAK BOLA
    • #CEKFAKTA
  • GAYA
  • MAKASSAR
  • TEKNOLOGI
  • KONTAK
    • Mari Bermitra
    • Tentang Wartakita
    • Tim Redaksi
    • Kebijakan Privasi
    • TRAKTIR KOPI
No Result
View All Result
WartakitaID
  • 🏚️
  • ALAM
  • WARTA
    • PEMBELAJARAN
    • HUKUM
    • NUSANTARA
    • OLAHRAGA
    • TEKNOLOGI
    • KULINER
    • OTOMOTIF
    • SEPAK BOLA
    • #CEKFAKTA
  • GAYA
  • MAKASSAR
  • TEKNOLOGI
  • KONTAK
    • Mari Bermitra
    • Tentang Wartakita
    • Tim Redaksi
    • Kebijakan Privasi
    • TRAKTIR KOPI
No Result
View All Result
WartakitaID
No Result
View All Result
Home Opini

Esai Ramadan #13: Solusi yang Terlalu Sederhana untuk Ego Kita

by A. Burhany
03/03/2026
in Opini
Reading Time: 4 mins read
A A
utama-13

Esai ke-11 kita bicara tentang ampunan yang memiliki syarat mutlak—bahwa tobat yang sejati menuntut pengakuan, perbaikan, dan keberanian menatap cermin. Lalu kemarin, di hari ke-12 yang bersamaan dengan pecahnya konflik terbuka AS-Israel-Iran, kita belajar berpuasa dari nafsu yang paling berbahaya: nafsu merasa paling benar, dan keinginan memaksakan kebenaran versi masing-masing.

Rasa lapar dan haus siang tadi memperpanjang percakapan itu ke sebuah pertanyaan yang tidak mau pergi:

Jika solusi dari lapar dan haus selesai di saat berbuka dengan makan sepiring dan minum segelas—mengapa kita begitu sering memaksakan solusi lain untuk masalah-masalah yang sebenarnya tidak lebih rumit dari itu?


Di era AI yang makin cerdas, dengan pengetahuan yang semakin komprehensif, rasanya tidak ada lagi masalah teknis yang tidak punya solusi teknis.

Kita bisa menghitung distribusi pangan yang optimal. Kita bisa memodelkan kebijakan yang paling adil. Kita bisa merancang sistem yang meminimalkan kebocoran anggaran hingga beberapa desimal.

Tapi satu-satunya masalah yang belum—dan sepertinya tidak mau—dipecahkan bukan masalah teknis. Ia adalah masalah yang jawabannya sudah ada, sudah diketahui, sudah diucapkan berkali-kali dalam doa dan pidato dan kitab suci.

Masalah yang solusinya tidak membutuhkan kecerdasan buatan, tidak membutuhkan konsultan asing, tidak membutuhkan seminar internasional.

World Cup 2026

Ia hanya membutuhkan satu hal: keberanian untuk tidak memaksakan solusi versi kita sendiri.


Karena jika kita jujur, kita sebenarnya sudah tahu solusi dari hampir semua masalah besar yang kita hadapi.

Kita tahu bahwa korupsi selesai jika orang berhenti mengambil yang bukan haknya. Kita tahu bahwa konflik mereda jika pihak-pihak yang bertikai berhenti menyerang. Kita tahu bahwa ketimpangan berkurang jika mereka yang berlebih berhenti menumpuk. Kita tahu bahwa keadilan tegak jika hakim berhenti menjual pasal.

Solusinya sederhana. Bukan mudah—tapi sederhana.

Dan di sinilah ego kita masuk dan memperumit segalanya.


Ternyata, ego kita tidak suka solusi yang sederhana.

Solusi yang sederhana tidak membutuhkan kita. Ia tidak membutuhkan keahlian kita, jabatan kita, ijazah kita—berhala-berhala yang sudah kita bicarakan beberapa hari lalu—atau klaim langit kita. Dan manusia yang sudah terlanjur merasa penting, yang sudah membangun identitas di atas kompleksitas masalah yang ia kelola, sangat sulit menerima bahwa jawaban yang dicari ternyata tidak memerlukannya sama sekali.

Esai Ramadan #13: Solusi yang Terlalu Sederhana untuk Ego Kita - image 2

Maka kita memperumit. Kita menambah lapisan. Kita menciptakan prosedur, membentuk panitia, menggelar rapat koordinasi lintas kementerian. Bukan karena masalahnya memang kompleks—tapi karena kesederhanaan solusinya mengancam eksistensi kita sebagai orang yang dibutuhkan.

Lapar diselesaikan dengan makan. Tapi kita membangun industri diet, suplemen, aplikasi kalori, dan program detoks seharga jutaan rupiah—bukan karena lapar itu kompleks, tapi karena kita tidak tahan dengan jawaban yang terlalu sederhana untuk diberi label harga yang pantas.

Konflik diselesaikan dengan berhenti menyerang. Tapi kita membangun industri senjata, think tank geopolitik, dan teologi perang yang rumit—bukan karena konflik itu tidak bisa diselesaikan, tapi karena perdamaian tidak menghasilkan margin keuntungan yang cukup menarik bagi mereka yang hidup dari kompleksitas masalah orang lain.


Saya bicara ini sebagai seseorang yang pernah bertahun-tahun hidup di dalam mesin yang sama—mesin yang nafkahnya bergantung pada masalah yang tidak kunjung selesai.

BACA JUGA:

Penutup Esai Ramadan #30: Satu Hal Saja

Kementerian ESDM Pastikan Keandalan Pasokan Listrik Sulawesi Jelang Ramadan & Idul Fitri 1447 H

Esai Ramadan #29: Menuai Hujan dan Residu yang Tersisa

Ramadan 2026: Hari ini 17 Maret berapa Ramadan?

Esai Ramadan #28: Azan dan Kepulangan yang Sejati

Saya tahu persis bagaimana rasanya duduk di rapat musrembang yang membahas kemiskinan, menghasilkan rekomendasi yang tebal dan berwibawa, lalu pulang ke rumah yang nyaman dengan honor konsultasi yang cukup untuk membayar liburan akhir tahun.

Solusinya sudah kita tahu. Tapi kita memilih untuk terus membicarakannya daripada melakukannya—karena melakukannya tidak membutuhkan kita, sementara membicarakannya membuat kita merasa penting.


Dan di sinilah puasa hari ke-13 ini berbicara dengan cara yang paling langsung dan paling tidak bisa saya hindari.

Selama beberapa jam tadi, solusi dari lapar saya adalah menunggu Magrib. Tidak ada yang lebih canggih dari itu. Tidak ada strategi, tidak ada negosiasi, tidak ada konsultan yang perlu dibayar. Hanya menunggu—dan mempercayai bahwa waktunya akan tiba.

Dan ketika azan berkumandang, saya makan sepiring. Minum segelas. Selesai.

Kesederhanaan itu, ternyata, adalah bentuk kerendahan hati yang paling jujur. Menerima bahwa tidak semua solusi membutuhkan kita untuk menjadi pahlawannya. Bahwa kadang tugas kita bukan merancang solusi—tapi cukup berhenti menjadi bagian dari masalahnya.


Besok kita menutup fase Maghfirah. Dan pertanyaan yang akan kita bawa ke sana adalah pertanyaan yang paling dekat, paling personal, paling tidak bisa dihindari dengan teori mana pun:

Jika solusinya sesederhana itu—jika kita sudah tahu jawabannya, jika kita bahkan sudah mengucapkannya dalam doa lima kali sehari—mengapa jarak antara siapa kita di atas sajadah dan siapa kita setelah salam masih selebar itu?

Selamat berbuka. Selamat menerima bahwa terkadang, makan sepiring dan minum segelas sudah cukup.

Add wartakita.id as a preferred source on Google

Tags: berbuka puasaberbuka puasa sederhanaesai Ramadanesai ramadan hari ke 13industri masalahmakna niat puasamakna puasa menekan egomengapa birokrasi rumitniat puasa RamadanoverthinkingRamadanRamadan 2026solusi sederhana masalah egospiritualitas puasa
Share14Tweet9Send

ARTIKEL TERKAIT

ekonom-1a

Bongkar Mesin “Ekonomi Zombie”: Cetak Biru Penyelamatan Kelas Menengah dari Meja Pengambil Kebijakan

11/06/2026
ekonomi-1-jpg

Mengapa Ekonomi Kita Belum Ambruk? Membedah “Ekonomi Zombie” dan Ilusi Ketahanan Kelas Menengah

11/06/2026
pesta-babi

Kontroversi Film “Pesta Babi”: Narasi Pembangunan, Hak Adat Papua, dan Lingkaran Kekuasaan

12/05/2026
Prof-Dr-H-Umar-Shihab-BW

Selamat Jalan, Pak Umar

23/03/2026
utama-30

Penutup Esai Ramadan #30: Satu Hal Saja

19/03/2026
utama-29

Esai Ramadan #29: Menuai Hujan dan Residu yang Tersisa

18/03/2026
sisipan-28

Esai Ramadan #28: Azan dan Kepulangan yang Sejati

17/03/2026
utama-27

Esai Ramadan #27: Jelang Perpisahan dengan Tamu yang Memuliakan

16/03/2026

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

I agree to the Terms & Conditions and Privacy Policy.

TERPOPULER-SEPEKAN

  • featured 1_tn1

    Tren Hijab 2025-2026: 25+ Gaya Fashion Muslim Kekinian

    248 shares
    Share 99 Tweet 62
  • 7 Ide Potongan Rambut Pria dengan Aksen Garis (Line Up) Keren

    66 shares
    Share 26 Tweet 17
  • Pendidikan Anti-Korupsi di Sekolah: Membangun Generasi Jujur Sejak Usia Dini

    106 shares
    Share 42 Tweet 27
  • Agen Subsidi Desa Tetap Aman: Kopdes Merah Putih Jadi Penyalur Utama Barang Subsidi dan Bantuan Pemerintah

    19 shares
    Share 8 Tweet 5
  • APBN 2026: Mengurai Mitos Ketergantungan Pajak, Menelisik Jalan Kemakmuran Berkelanjutan

    174 shares
    Share 70 Tweet 44
  • Kode CMD Untuk Mempercepat Kinerja Laptop

    689 shares
    Share 276 Tweet 172
  • 5 Rekomendasi Potongan Rambut Pria saat Melamar Kerja, Rapi, Simpel dan Stylish

    486 shares
    Share 194 Tweet 122
  • Toyota New Hilux Hadir Lebih Gahar: Mesin 1GD 2.8L Ungguli Generasi Sebelumnya, Siap Taklukkan Medan Sulsel

    17 shares
    Share 7 Tweet 4
  • Toyota Luncurkan New Hilux di Palopo

    16 shares
    Share 6 Tweet 4
  • PTUN Bandung Perintahkan Gubernur Jabar Pecat Bupati Bogor, Ada Apa?

    16 shares
    Share 6 Tweet 4
wartakita-id-buku-saku-bencana-bnpb_cr

Unduh Buku Saku “SIAGA BENCANA” dari BNPB

02/11/2023

Buku saku siaga bencana ini tidak menjamin keselamatan Anda. Namun, memberikan pedoman secara umum untuk kesiapsiagaan.

Read moreDetails

WARTAKITA

Cara Hidup Anak Kost agar Lebih Tenang di Dapur dan Rumah_cr_tn1
Gaya Hidup

Cara agar Hidup Anak Kost Lebih Tenang di Dapur dan Rumah

22/11/2025
img-1764777491-e442ac7fe1f792b9
Gaya Hidup

Parfum Lokal Wangi Sultan: Mirip Niche Eropa, Harga Murah!

04/12/2025
Mug CIVAGO dengan lapisan keramik & insulasi vakum tahan 12 jam 1-salwasalon
Gaya Hidup

Aroma Kopi Pagi Anda, Tetap Hangat Sempurna Hingga Siang

06/12/2025
ilustrasi pria berketombe
Gaya Hidup

Rambut Rontok Parah? Kenali Penyebab dan Solusi Alami

24/11/2025
Seni Merawat Vespa Matic_wartakita.id
Otomotif

Seni Merawat Vespa Matic: Bebaskan Gredek, Nikmati Perjalanan Halus

06/12/2025
5 Kebiasaan Buruk WFH_cr_tn1
Gaya Hidup

Ancaman Senyap di Meja Kerja: Hindari 5 Kebiasaan Buruk WFH Ini Demi Kesehatan Anda

21/11/2025
telegram-bot
Gadget

Labirin Pilihan Smartphone Modern: Dari Fotografi Hingga Gaming

15/11/2025
vespa gts supertech
Otomotif

Update Harga OTR & Simulasi Kredit Vespa Matic 2025: Dari LX 125 hingga GTS 300 Super Tech

29/11/2025
vespa sprint atau primavera_wartakita.id
Otomotif

Vespa Primavera vs. Sprint 2025: Dua Jiwa, Satu Mesin, Pilihan Anda?

30/11/2025
parfum dengan kharisma sejati 1_cr
Fashion & Kecantikan

Kenapa Parfum Anda Tidak Meninggalkan Kesan? (Dan Cara Mengatasinya)

16/11/2025
img 1764471350 26f1c112a772ad44.jpg
Fashion & Kecantikan

Azzaro The Most Wanted: Parfum Pria yang Memikat dengan Aroma Melenakan

14/12/2025
Ini 4 Serum Ajaib Wajib Punya untuk Melindungi Rambut dari Panas_wartakita.id
Fashion & Kecantikan

Rahasia Kilau Rambut Jisoo Bukan Cuma Alat Mahal! 4 “Serum Ajaib” Wajib Punya untuk Lindungi Rambut dari Panas

29/11/2025
tips-keselamatan
Alam dan Lingkungan Hidup

Tips Keselamatan Saat Gempa Bumi

23/12/2023

Gempa bumi tidak seperti kejadian alam lainnya yang masih bisa diprediksi jauh-jauh hari dengan lebih akurat.

Read moreDetails
  • beranda
  • kontak
  • layanan
  • beriklan
  • privasi
  • perihal

©2021 wartakita media

  • Login
No Result
View All Result
  • 🏚️
  • ALAM
  • WARTA
    • PEMBELAJARAN
    • HUKUM
    • NUSANTARA
    • OLAHRAGA
    • TEKNOLOGI
    • KULINER
    • OTOMOTIF
    • SEPAK BOLA
    • #CEKFAKTA
  • GAYA
  • MAKASSAR
  • TEKNOLOGI
  • KONTAK
    • Mari Bermitra
    • Tentang Wartakita
    • Tim Redaksi
    • Kebijakan Privasi
    • TRAKTIR KOPI

©2021 wartakita media

wartakita.id menggunakan cookies tanpa mengorbankan privasi pengunjung.