Minggu, 11 Oktober 2026
  • beranda
  • kontak
  • layanan
  • beriklan
  • privasi
  • perihal
WartakitaID
  • 🏚️
  • ALAM
  • WARTA
    • PEMBELAJARAN
    • HUKUM
    • NUSANTARA
    • OLAHRAGA
    • TEKNOLOGI
    • KULINER
    • OTOMOTIF
    • SEPAK BOLA
    • #CEKFAKTA
  • GAYA
  • MAKASSAR
  • TEKNOLOGI
  • KONTAK
    • Mari Bermitra
    • Tentang Wartakita
    • Tim Redaksi
    • Kebijakan Privasi
    • TRAKTIR KOPI
No Result
View All Result
WartakitaID
  • 🏚️
  • ALAM
  • WARTA
    • PEMBELAJARAN
    • HUKUM
    • NUSANTARA
    • OLAHRAGA
    • TEKNOLOGI
    • KULINER
    • OTOMOTIF
    • SEPAK BOLA
    • #CEKFAKTA
  • GAYA
  • MAKASSAR
  • TEKNOLOGI
  • KONTAK
    • Mari Bermitra
    • Tentang Wartakita
    • Tim Redaksi
    • Kebijakan Privasi
    • TRAKTIR KOPI
No Result
View All Result
WartakitaID
No Result
View All Result
Home Opini

Esai Ramadan #9: Pasar Hukum dan Cermin yang Dibawa Rakyat

by A. Burhany
26/02/2026
in Opini
Reading Time: 5 mins read
A A
sisipan-9

BACA JUGA:

Penutup Esai Ramadan #30: Satu Hal Saja

Kementerian ESDM Pastikan Keandalan Pasokan Listrik Sulawesi Jelang Ramadan & Idul Fitri 1447 H

Esai Ramadan #29: Menuai Hujan dan Residu yang Tersisa

Ramadan 2026: Hari ini 17 Maret berapa Ramadan?

Esai Ramadan #28: Azan dan Kepulangan yang Sejati

Pekan pertama Ramadan kita habiskan untuk melihat ke dalam. Kita belajar mengecilkan ego, menghuni waktu, menjaga kejujuran di ruang-ruang yang tidak ada saksinya. Lalu kemarin, sambil berpuasa, kita mulai melihat ke luar—memeriksa lidah dan keberanian kita untuk mengatakan yang benar meskipun berduri.

Hari ini, masih ke luar, saya ingin berbagi sesuatu yang lebih personal. Sebuah refleksi dari dalam sistem itu sendiri—rangkuman diskusi-diskusi ringan dengan beberapa profesi yang dianggap penting oleh negara: dari pemuka agama, petinggi kepolisian, militer, jaksa, hingga wakil rakyat.

Belasan tahun silam, beberapa kali kami dipertemukan di restoran yang sama. Berbekal karung-karung kegelisahan masing-masing, jadilah semacam klub diskusi informal—“Grumpy Club”, klub diskusi para penggerutu.

Kami berbuka puasa bersama beberapa kali di sana. Dan saya kira, tanpa kami sadari, itu adalah salah satu Ramadan yang paling jujur dalam hidup saya—karena lapar kami bukan hanya soal perut, tapi soal sistem yang kami lihat runtuh dari dalam.

***

Bayangkan Anda duduk di kursi empuk di kantor ber-AC, dengan tanda jabatan yang membuat orang menaruh hormat. Di atas meja Anda menumpuk berkas-berkas yang di dalamnya terdapat nasib ribuan orang. Tapi bagi sebagian besar penghuni gedung-gedung tinggi itu, berkas tersebut bukan berisi manusia—ia hanyalah angka statistik yang perlu diolah demi target laporan dan indeks KIP.

Selama bertahun-tahun, saya hidup dalam sebuah pasar yang riuh—bukan pasar tradisional yang menjajakan sayuran, melainkan pasar hukum. Di sini, pasal-pasal memiliki label harga. Ada harga berupa materi, ada pula mata uang yang lebih licin: barter kasus, barter jatah, barter loyalitas politik.

Seorang kenalan lama, seorang petinggi yang akhirnya memilih pensiun dini, pernah berbisik sebelum ia tiada: “Saya tidak sanggup lagi melihat kebenaran dikemas dalam plastik kiloan, lalu ditimbang dengan koin emas.”

Ucapannya seketika membuat klub diskusi kami hening.

“Bapak tidak salah jika memilih mundur dengan pensiun dini,” ucap seorang kawan berhati-hati, menunggu mantan petinggi kenalan kami selesai menyeruput minumannya. Ia seorang perintis gerakan dakwah tablig, yang pernah dipenjara oleh ayahnya sendiri—seorang jaksa—di zaman orde baru, ketika semua gerakan dengan mudah diberi label kanan atau kiri.

“Setidaknya Bapak sudah berusaha mengubahnya. Mundur adalah pilihan sehat sebelum Bapak yang diubah sistem. Dan sedihnya, itu terjadi di hampir semua lini, termasuk keagamaan.”

“Negeri ini gamang berkepanjangan,” jawab sang petinggi, setelah diam cukup lama. “Para pendiri bangsa nekad memproklamirkan negara republik, negara kesatuan, sementara mental kita masih feodal—lengkap dengan mindset kasta di semua bidang dan profesi. Founding father optimistis bahwa mindset kita akan mengikuti visi mereka yang jauh ke depan. Nyatanya tidak.

Nota dinas dan katabelece yang saya terima dari banyak kasus menunjukkan itu. Kepala dinas punya anak dan istri. Kapolres, Dandim, Bupati, Rektor, Gubernur, anggota dewan sampai presiden. Hampir semua jabatan dipandang memiliki kerabat biologis—kita belum mampu memisahkan antara jabatan dan manusia yang sedang menjabat. Jabatan masih dianggap kelas atau kasta, bukan fungsi dan tanggung jawab. Karena itu, selain pasal, jabatan dan status juga ada pasarnya, ada harganya.”

Di Jakarta, sebatang pena bisa dengan mudah mencairkan dana miliaran. Di tempat-tempat yang jauh, pena yang sama terasa sangat berat hanya untuk sekadar memberikan hak pendidikan bagi anak-anak miskin. Inilah patologi birokrasi kita: sangat presisi dalam melakukan kesalahan, sangat efisien dalam menciptakan ketimpangan.

Bagi birokrasi, satu anak yang mati kelaparan hanyalah pengurangan angka desimal. Bagi ibu sang anak, itu adalah kiamat.

***

Esai Ramadan #9: Pasar Hukum dan Cermin yang Dibawa Rakyat - image 1

Saya melihat sesuatu yang ganjil namun indah dari balik jendela kantor saya—yang akan segera saya tinggalkan begitu pensiun dini saya disetujui.

Ramadan adalah momen di mana rakyat memutuskan untuk berhenti berharap terlalu banyak pada pena dan meja-meja kekuasaan, dan mulai menolong sesamanya sendiri. Dapur rakyat dinyalakan secara mandiri. Tetangga berbagi takjil tanpa menunggu instruksi dinas sosial. Mereka yang punya kelebihan diam-diam membayarkan utang warung mereka yang kekurangan—tanpa dokumentasi, tanpa validasi, tanpa anggaran yang perlu dipertanggungjawabkan ke atasan.

Inilah puasa yang paling murni: memberi tanpa menunggu siapa pun mengizinkan.

Dan gerakan sederhana ini, tanpa mereka sadari, adalah cermin yang sedang disodorkan tepat ke wajah kami para pengambil kebijakan.

Setiap bungkus nasi yang Anda berikan tanpa pamrih adalah tamparan bagi kami yang sering baru bergerak jika ada anggarannya. Setiap kedermawanan anonim di gang-gang sempit adalah kritik pedas bagi hukum yang punya pasar dan punya pembeli.

Puasa saya hari ini terasa berat bukan karena haus. Tapi karena malu.

Malu karena rakyat telah menjadi pelindung bagi sesamanya melalui solidaritas yang tulus, sementara sistem yang seharusnya melayani mereka sibuk berdagang.

Mungkin inilah perjumpaan yang sesungguhnya di bulan suci ini—bukan di atas sajadah yang eksklusif, melainkan di persimpangan antara nurani dan realitas. Bahwa jika negara gagal menjadi pelindung, solidaritas rakyat adalah benteng terakhir. Dan benteng itu, ternyata, tidak pernah benar-benar runtuh.

Hari ini, jika Anda memberi bantuan kepada sesama, ketahuilah bahwa Anda tidak hanya sedang mengejar pahala. Anda sedang menyalakan cahaya yang memaksa kami, para penghuni gedung tinggi, untuk menatap kembali bayangan retak di cermin kami sendiri.

Selamat menolong. Selamat memberikan refleksi.

Rekomendasikan Wartakita.id
Tags: berbuka puasabirokrasi korupesai Ramadanesai sosial politikmakna niat puasaniat puasa Ramadanpasar hukum IndonesiaRamadanRamadan 2026Refleksi keadilan hukumsedekah takjilsolidaritas rakyat Ramadanspiritualitas puasa
Share16Tweet10Send

ARTIKEL TERKAIT

Esai Ramadan #9: Pasar Hukum dan Cermin yang Dibawa Rakyat - Featured

Maulid, Karhutla, dan Kemarahan Publik: Ironi Moral Tanpa Amanah

25/08/2026
Esai Ramadan #9: Pasar Hukum dan Cermin yang Dibawa Rakyat - Featured

Skenario Reformasi: Senjata Coretax 2026 dan Jalan Terang Menuju Pertumbuhan 6%

28/07/2026
Esai Ramadan #9: Pasar Hukum dan Cermin yang Dibawa Rakyat - Featured

Skenario Status Quo: Bayang-Bayang Utang Rp10.000 T dan Ancaman Permanen Middle-Income Trap

28/07/2026
Esai Ramadan #9: Pasar Hukum dan Cermin yang Dibawa Rakyat - Featured

Trajektori 2026-2031: Menuju Indonesia Emas atau Terjebak Krisis Permanen?

28/07/2026
Esai Ramadan #9: Pasar Hukum dan Cermin yang Dibawa Rakyat - Featured

Selamatkan APBN 2026: Redefinisi Anggaran Pendidikan 20% dan Ketegasan BPI Danantara

28/07/2026
Esai Ramadan #9: Pasar Hukum dan Cermin yang Dibawa Rakyat - Featured

Paradoks Desentralisasi 2026: Mengapa Anggaran Daerah Dipangkas demi Program Populis Pusat?

28/07/2026
Esai Ramadan #9: Pasar Hukum dan Cermin yang Dibawa Rakyat - Featured

Siklus Anggaran Politis dan Korupsi Rp279 Triliun: Saat Uang Rakyat Jadi Ongkos ‘Elit’ yang Hidup dalam Siklus 5 Tahunan

28/07/2026
Esai Ramadan #9: Pasar Hukum dan Cermin yang Dibawa Rakyat - Featured

Kualitas Layanan Publik Stagnan: Mengurai Korupsi, Siklus Politis, dan Absennya Keadilan Pajak

28/07/2026

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

I agree to the Terms & Conditions and Privacy Policy.

TERPOPULER-SEPEKAN

  • wisata dan tradisi nyekar di pulau libukang palopo

    Wisata Dan Tradisi Nyekar Di Pulau Libukang Palopo

    500 shares
    Share 200 Tweet 125
  • Kalla Toyota Palopo Sukses Rebut Hati Komunitas Lewat “Padel with Toyota Hybrid”

    66 shares
    Share 26 Tweet 17
  • Ole Romeny Rayakan Kemenangan Timnas Indonesia dengan Jersey Marselino

    29 shares
    Share 12 Tweet 7
  • Gibran Rakabuming Raka Terganjal Syarat Pendidikan untuk Pilpres 2029

    24 shares
    Share 10 Tweet 6
  • BMKG: Peringatan Dini Cuaca Besok 11-12 Oktober 2026, Hujan Lebat di Sejumlah Wilayah

    22 shares
    Share 9 Tweet 6
  • Kejati Kaltara Ungkap Dugaan Korupsi Kredit Investasi Rp759,4 Miliar di Bank Digital Milik Negara

    22 shares
    Share 9 Tweet 6
  • Hoaks: Prabowo Beri Hadiah Rp 5 Triliun dan Mobil untuk Timnas

    22 shares
    Share 9 Tweet 6
  • Ribuan Warga Mataram Sambut Meriah Bintang MotoGP dalam Riders Parade

    20 shares
    Share 8 Tweet 5
  • DJP Siapkan Strategi Cari Basis Pajak Baru Antisipasi Kenaikan PTKP

    20 shares
    Share 8 Tweet 5
  • Punya Gadget Nganggur? Bisa Tukar Tambah dengan Galaxy Z Fold8 Serie

    19 shares
    Share 8 Tweet 5
wartakita-id-buku-saku-bencana-bnpb_cr

Unduh Buku Saku “SIAGA BENCANA” dari BNPB

02/11/2023

Buku saku siaga bencana ini tidak menjamin keselamatan Anda. Namun, memberikan pedoman secara umum untuk kesiapsiagaan.

Read moreDetails

WARTAKITA

img 1764471350 26f1c112a772ad44.jpg
Fashion & Kecantikan

Azzaro The Most Wanted: Parfum Pria yang Memikat dengan Aroma Melenakan

14/12/2025
skincare kulit kering 2 e1766181785188.jpg
Fashion & Kecantikan

7 Jurus Pilih Pelembap Bikin Glowing Sehat

20/12/2025
1763287827_Smoothing-vs-Rebonding-vs-Keratin-Mana-yang-Terbaik-untuk-Rambutmu.jpg
Fashion & Kecantikan

Smoothing vs Rebonding vs Keratin: Mana yang Terbaik untuk Rambutmu?

16/11/2025
Hacker-Gunakan-AI-Claude-Code-untuk-Serangan-Otonomus-–-Repiw.jpg
Gadget

Hacker Gunakan AI Claude Code untuk Serangan Otonomus

14/11/2025
Ini 4 Serum Ajaib Wajib Punya untuk Melindungi Rambut dari Panas_wartakita.id
Fashion & Kecantikan

Rahasia Kilau Rambut Jisoo Bukan Cuma Alat Mahal! 4 “Serum Ajaib” Wajib Punya untuk Lindungi Rambut dari Panas

29/11/2025
img-1764777491-e442ac7fe1f792b9
Gaya Hidup

Parfum Lokal Wangi Sultan: Mirip Niche Eropa, Harga Murah!

04/12/2025
featured 1_tn1
Fashion & Kecantikan

Tren Hijab 2025-2026: 25+ Gaya Fashion Muslim Kekinian

14/11/2025
vespa gts supertech
Otomotif

Update Harga OTR & Simulasi Kredit Vespa Matic 2025: Dari LX 125 hingga GTS 300 Super Tech

29/11/2025
menari bersama misteri nara saluna
Gaya Hidup

Merasa Tertinggal dari Teman Seusiamu? Mari Berdamai dengan “Garis Waktu” Hidup yang Tak Terduga

29/11/2025
vespa sprint atau primavera_wartakita.id
Otomotif

Vespa Primavera vs. Sprint 2025: Dua Jiwa, Satu Mesin, Pilihan Anda?

30/11/2025
4 rekomendasi parfum anti gerah dan tahan lama di cuaca indonesia_wartakita.id
Fashion & Kecantikan

Parfum Mahal Tapi Cepat Hilang Kena Keringat? 4 Rekomendasi Parfum “Anti-Gerah” Tahan Lama di Cuaca Indonesia

30/11/2025
1766621435-7-gadget-traveling-wajib-bawa-buat-liburan-nataru-anti-lowbat.jpg
Gadget

7 Gadget Traveling Wajib Bawa Buat Liburan Nataru (Anti Lowbat)

25/12/2025
tips-keselamatan
Alam dan Lingkungan Hidup

Tips Keselamatan Saat Gempa Bumi

23/12/2023

Gempa bumi tidak seperti kejadian alam lainnya yang masih bisa diprediksi jauh-jauh hari dengan lebih akurat.

Read moreDetails
  • beranda
  • kontak
  • layanan
  • beriklan
  • privasi
  • perihal

©2021 wartakita media

  • Login
No Result
View All Result
  • 🏚️
  • ALAM
  • WARTA
    • PEMBELAJARAN
    • HUKUM
    • NUSANTARA
    • OLAHRAGA
    • TEKNOLOGI
    • KULINER
    • OTOMOTIF
    • SEPAK BOLA
    • #CEKFAKTA
  • GAYA
  • MAKASSAR
  • TEKNOLOGI
  • KONTAK
    • Mari Bermitra
    • Tentang Wartakita
    • Tim Redaksi
    • Kebijakan Privasi
    • TRAKTIR KOPI

©2021 wartakita media

wartakita.id menggunakan cookies tanpa mengorbankan privasi pengunjung.