Jumat, 17 April 2026
  • beranda
  • kontak
  • layanan
  • beriklan
  • privasi
  • perihal
WartakitaID
  • 🏠
  • ALAM
  • WARTA
    • PEMBELAJARAN
    • HUKUM
    • NUSANTARA
    • OLAHRAGA
    • TEKNOLOGI
    • KULINER
    • OTOMOTIF
    • SEPAK BOLA
    • #CEKFAKTA
  • GAYA
  • MAKASSAR
  • TEKNOLOGI
  • KONTAK
    • Mari Bermitra
    • Tentang Wartakita
    • Tim Redaksi
    • Kebijakan Privasi
    • TRAKTIR KOPI
No Result
View All Result
WartakitaID
  • 🏠
  • ALAM
  • WARTA
    • PEMBELAJARAN
    • HUKUM
    • NUSANTARA
    • OLAHRAGA
    • TEKNOLOGI
    • KULINER
    • OTOMOTIF
    • SEPAK BOLA
    • #CEKFAKTA
  • GAYA
  • MAKASSAR
  • TEKNOLOGI
  • KONTAK
    • Mari Bermitra
    • Tentang Wartakita
    • Tim Redaksi
    • Kebijakan Privasi
    • TRAKTIR KOPI
No Result
View All Result
WartakitaID
No Result
View All Result
Home Opini

Esai Ramadan #9: Pasar Hukum dan Cermin yang Dibawa Rakyat

by A. Burhany
26/02/2026
in Opini
Reading Time: 5 mins read
A A
Esai Ramadan #9: Pasar Hukum dan Cermin yang Dibawa Rakyat - Featured

Pekan pertama Ramadan kita habiskan untuk melihat ke dalam. Kita belajar mengecilkan ego, menghuni waktu, menjaga kejujuran di ruang-ruang yang tidak ada saksinya. Lalu kemarin, sambil berpuasa, kita mulai melihat ke luar—memeriksa lidah dan keberanian kita untuk mengatakan yang benar meskipun berduri.

Hari ini, masih ke luar, saya ingin berbagi sesuatu yang lebih personal. Sebuah refleksi dari dalam sistem itu sendiri—rangkuman diskusi-diskusi ringan dengan beberapa profesi yang dianggap penting oleh negara: dari pemuka agama, petinggi kepolisian, militer, jaksa, hingga wakil rakyat.

Belasan tahun silam, beberapa kali kami dipertemukan di restoran yang sama. Berbekal karung-karung kegelisahan masing-masing, jadilah semacam klub diskusi informal—“Grumpy Club”, klub diskusi para penggerutu.

Kami berbuka puasa bersama beberapa kali di sana. Dan saya kira, tanpa kami sadari, itu adalah salah satu Ramadan yang paling jujur dalam hidup saya—karena lapar kami bukan hanya soal perut, tapi soal sistem yang kami lihat runtuh dari dalam.

***

Bayangkan Anda duduk di kursi empuk di kantor ber-AC, dengan tanda jabatan yang membuat orang menaruh hormat. Di atas meja Anda menumpuk berkas-berkas yang di dalamnya terdapat nasib ribuan orang. Tapi bagi sebagian besar penghuni gedung-gedung tinggi itu, berkas tersebut bukan berisi manusia—ia hanyalah angka statistik yang perlu diolah demi target laporan dan indeks KIP.

Selama bertahun-tahun, saya hidup dalam sebuah pasar yang riuh—bukan pasar tradisional yang menjajakan sayuran, melainkan pasar hukum. Di sini, pasal-pasal memiliki label harga. Ada harga berupa materi, ada pula mata uang yang lebih licin: barter kasus, barter jatah, barter loyalitas politik.

Seorang kenalan lama, seorang petinggi yang akhirnya memilih pensiun dini, pernah berbisik sebelum ia tiada: “Saya tidak sanggup lagi melihat kebenaran dikemas dalam plastik kiloan, lalu ditimbang dengan koin emas.”

Ucapannya seketika membuat klub diskusi kami hening.

“Bapak tidak salah jika memilih mundur dengan pensiun dini,” ucap seorang kawan berhati-hati, menunggu mantan petinggi kenalan kami selesai menyeruput minumannya. Ia seorang perintis gerakan dakwah tablig, yang pernah dipenjara oleh ayahnya sendiri—seorang jaksa—di zaman orde baru, ketika semua gerakan dengan mudah diberi label kanan atau kiri.

“Setidaknya Bapak sudah berusaha mengubahnya. Mundur adalah pilihan sehat sebelum Bapak yang diubah sistem. Dan sedihnya, itu terjadi di hampir semua lini, termasuk keagamaan.”

“Negeri ini gamang berkepanjangan,” jawab sang petinggi, setelah diam cukup lama. “Para pendiri bangsa nekad memproklamirkan negara republik, negara kesatuan, sementara mental kita masih feodal—lengkap dengan mindset kasta di semua bidang dan profesi. Founding father optimistis bahwa mindset kita akan mengikuti visi mereka yang jauh ke depan. Nyatanya tidak.

Nota dinas dan katabelece yang saya terima dari banyak kasus menunjukkan itu. Kepala dinas punya anak dan istri. Kapolres, Dandim, Bupati, Rektor, Gubernur, anggota dewan sampai presiden. Hampir semua jabatan dipandang memiliki kerabat biologis—kita belum mampu memisahkan antara jabatan dan manusia yang sedang menjabat. Jabatan masih dianggap kelas atau kasta, bukan fungsi dan tanggung jawab. Karena itu, selain pasal, jabatan dan status juga ada pasarnya, ada harganya.”

Di Jakarta, sebatang pena bisa dengan mudah mencairkan dana miliaran. Di tempat-tempat yang jauh, pena yang sama terasa sangat berat hanya untuk sekadar memberikan hak pendidikan bagi anak-anak miskin. Inilah patologi birokrasi kita: sangat presisi dalam melakukan kesalahan, sangat efisien dalam menciptakan ketimpangan.

Bagi birokrasi, satu anak yang mati kelaparan hanyalah pengurangan angka desimal. Bagi ibu sang anak, itu adalah kiamat.

***

Esai Ramadan #9: Pasar Hukum dan Cermin yang Dibawa Rakyat - image 1

Saya melihat sesuatu yang ganjil namun indah dari balik jendela kantor saya—yang akan segera saya tinggalkan begitu pensiun dini saya disetujui.

BACA JUGA:

Penutup Esai Ramadan #30: Satu Hal Saja

Kementerian ESDM Pastikan Keandalan Pasokan Listrik Sulawesi Jelang Ramadan & Idul Fitri 1447 H

Esai Ramadan #29: Menuai Hujan dan Residu yang Tersisa

Ramadan 2026: Hari ini 17 Maret berapa Ramadan?

Esai Ramadan #28: Azan dan Kepulangan yang Sejati

Ramadan adalah momen di mana rakyat memutuskan untuk berhenti berharap terlalu banyak pada pena dan meja-meja kekuasaan, dan mulai menolong sesamanya sendiri. Dapur rakyat dinyalakan secara mandiri. Tetangga berbagi takjil tanpa menunggu instruksi dinas sosial. Mereka yang punya kelebihan diam-diam membayarkan utang warung mereka yang kekurangan—tanpa dokumentasi, tanpa validasi, tanpa anggaran yang perlu dipertanggungjawabkan ke atasan.

Inilah puasa yang paling murni: memberi tanpa menunggu siapa pun mengizinkan.

Dan gerakan sederhana ini, tanpa mereka sadari, adalah cermin yang sedang disodorkan tepat ke wajah kami para pengambil kebijakan.

Setiap bungkus nasi yang Anda berikan tanpa pamrih adalah tamparan bagi kami yang sering baru bergerak jika ada anggarannya. Setiap kedermawanan anonim di gang-gang sempit adalah kritik pedas bagi hukum yang punya pasar dan punya pembeli.

Puasa saya hari ini terasa berat bukan karena haus. Tapi karena malu.

Malu karena rakyat telah menjadi pelindung bagi sesamanya melalui solidaritas yang tulus, sementara sistem yang seharusnya melayani mereka sibuk berdagang.

Mungkin inilah perjumpaan yang sesungguhnya di bulan suci ini—bukan di atas sajadah yang eksklusif, melainkan di persimpangan antara nurani dan realitas. Bahwa jika negara gagal menjadi pelindung, solidaritas rakyat adalah benteng terakhir. Dan benteng itu, ternyata, tidak pernah benar-benar runtuh.

Hari ini, jika Anda memberi bantuan kepada sesama, ketahuilah bahwa Anda tidak hanya sedang mengejar pahala. Anda sedang menyalakan cahaya yang memaksa kami, para penghuni gedung tinggi, untuk menatap kembali bayangan retak di cermin kami sendiri.

Selamat menolong. Selamat memberikan refleksi.

Tags: berbuka puasabirokrasi korupesai Ramadanesai sosial politikmakna niat puasaniat puasa Ramadanpasar hukum IndonesiaRamadanRamadan 2026Refleksi keadilan hukumsedekah takjilsolidaritas rakyat Ramadanspiritualitas puasa
Share11Tweet7Send
Diskon Referral 20% Cloud Professional Hostinger Diskon Referral 20% Cloud Professional Hostinger Diskon Referral 20% Cloud Professional Hostinger

ARTIKEL TERKAIT

Esai Ramadan #9: Pasar Hukum dan Cermin yang Dibawa Rakyat - Featured

Selamat Jalan, Pak Umar

23/03/2026
Esai Ramadan #9: Pasar Hukum dan Cermin yang Dibawa Rakyat - Featured

Penutup Esai Ramadan #30: Satu Hal Saja

19/03/2026
Esai Ramadan #9: Pasar Hukum dan Cermin yang Dibawa Rakyat - Featured

Esai Ramadan #29: Menuai Hujan dan Residu yang Tersisa

18/03/2026
Esai Ramadan #9: Pasar Hukum dan Cermin yang Dibawa Rakyat - Featured

Esai Ramadan #28: Azan dan Kepulangan yang Sejati

17/03/2026
Esai Ramadan #9: Pasar Hukum dan Cermin yang Dibawa Rakyat - Featured

Esai Ramadan #27: Jelang Perpisahan dengan Tamu yang Memuliakan

16/03/2026
Esai Ramadan #9: Pasar Hukum dan Cermin yang Dibawa Rakyat - Featured

Esai Ramadan #26: Zakat yang Melampaui Angka

14/03/2026
Esai Ramadan #9: Pasar Hukum dan Cermin yang Dibawa Rakyat - Featured

Esai Ramadan #25: Pulang ke Fitrah dan Laundry Pakaian Jiwa

14/03/2026
Esai Ramadan #9: Pasar Hukum dan Cermin yang Dibawa Rakyat - Featured

Esai Ramadan #24: Oase di Tengah Gurun dan Rahasia Rasa Cukup

13/03/2026

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

I agree to the Terms & Conditions and Privacy Policy.

TERPOPULER-SEPEKAN

  • Esai Ramadan #9: Pasar Hukum dan Cermin yang Dibawa Rakyat - Featured

    Trik Makeup Tipis & Natural untuk Sekolah Anti Razia Guru

    20 shares
    Share 8 Tweet 5
  • Sorotan Anggaran: Kontroversi Pengadaan Ribuan Motor Listrik Badan Gizi Nasional

    23 shares
    Share 9 Tweet 6
  • Chat Pelecehan Seksual 16 Mahasiswa Hukum UI: Analisis Mendalam dan Tindakan Fakultas

    18 shares
    Share 7 Tweet 5
  • Potong Rambut Sendiri di Rumah Anti Gagal: Panduan Lengkap ala Beauty Bestie!

    17 shares
    Share 7 Tweet 4
  • BMKG Kembali Keluarkan Peringatan Dini Cuaca Ekstrem di Sulawesi Selatan

    26 shares
    Share 10 Tweet 7
  • Tragedi di Makassar: Judi Online dan Miras Picu Aksi Brutal, Sepupu Tewas, Istri Luka Parah

    16 shares
    Share 6 Tweet 4
  • Tutorial Retouch Smoothing Rambut Yang Sering Smoothing

    531 shares
    Share 212 Tweet 133
  • Dispar Makassar Gandeng Astindo Perkenalkan Potensi Wisata di Jatim

    36 shares
    Share 14 Tweet 9
  • Sudah Dapat Video Anu? Jangan Sebarkan!

    19 shares
    Share 8 Tweet 5
  • Ratusan Ribu Peserta Ikut Jalan Sehat HUT Ke-409 Kota Makassar

    18 shares
    Share 7 Tweet 5
Esai Ramadan #9: Pasar Hukum dan Cermin yang Dibawa Rakyat - Featured

Unduh Buku Saku “SIAGA BENCANA” dari BNPB

02/11/2023

Buku saku siaga bencana ini tidak menjamin keselamatan Anda. Namun, memberikan pedoman secara umum untuk kesiapsiagaan.

Read moreDetails

WARTAKITA

Esai Ramadan #9: Pasar Hukum dan Cermin yang Dibawa Rakyat - Featured
Gaya Hidup

Jeda di Tengah Badai: Tiga Kompas Batin untuk Mengarungi Gelombang Hidup

20/11/2025
Esai Ramadan #9: Pasar Hukum dan Cermin yang Dibawa Rakyat - Featured
Gaya Hidup

Aroma yang Tak Terlupakan: Rahasia Kepercayaan Diri Pria Modern

02/12/2025
Esai Ramadan #9: Pasar Hukum dan Cermin yang Dibawa Rakyat - Featured
Otomotif

Seni Merawat Vespa Matic: Bebaskan Gredek, Nikmati Perjalanan Halus

06/12/2025
Esai Ramadan #9: Pasar Hukum dan Cermin yang Dibawa Rakyat - Featured
Gadget

Hacker Gunakan AI Claude Code untuk Serangan Otonomus

14/11/2025
menari bersama misteri nara saluna
Gaya Hidup

Merasa Tertinggal dari Teman Seusiamu? Mari Berdamai dengan “Garis Waktu” Hidup yang Tak Terduga

29/11/2025
Esai Ramadan #9: Pasar Hukum dan Cermin yang Dibawa Rakyat - Featured
Gadget

7 Gadget Traveling Wajib Bawa Buat Liburan Nataru (Anti Lowbat)

25/12/2025
Esai Ramadan #9: Pasar Hukum dan Cermin yang Dibawa Rakyat - Featured
Otomotif

Bukan Sekadar Skuter: Panduan Memilih Vespa Impian Anda di Tahun 2026

23/11/2025
img 1764471350 26f1c112a772ad44.jpg
Fashion & Kecantikan

Azzaro The Most Wanted: Parfum Pria yang Memikat dengan Aroma Melenakan

14/12/2025
Esai Ramadan #9: Pasar Hukum dan Cermin yang Dibawa Rakyat - Featured
Fashion & Kecantikan

Tren Hijab 2025-2026: 25+ Gaya Fashion Muslim Kekinian

14/11/2025
Esai Ramadan #9: Pasar Hukum dan Cermin yang Dibawa Rakyat - Featured
Fashion & Kecantikan

Ingin Rambut ‘Badai’ ala Jisoo Tapi Budget Terbatas? Ini 3 Alternatif Hair Styler Canggih Mulai 300 Ribuan!

29/11/2025
Esai Ramadan #9: Pasar Hukum dan Cermin yang Dibawa Rakyat - Featured
Gaya Hidup

Keseimbangan Hidup Optimal: Menjaga Kesehatan dari Dalam dan Luar

24/11/2025
Esai Ramadan #9: Pasar Hukum dan Cermin yang Dibawa Rakyat - Featured
Fashion & Kecantikan

Bosan Jomblo atau Hubungan Terasa Hambar? Pikat dengan 4 Parfum “Date Night” Menggoda Ini

29/11/2025
Esai Ramadan #9: Pasar Hukum dan Cermin yang Dibawa Rakyat - Featured
Alam dan Lingkungan Hidup

Tips Keselamatan Saat Gempa Bumi

23/12/2023

Gempa bumi tidak seperti kejadian alam lainnya yang masih bisa diprediksi jauh-jauh hari dengan lebih akurat.

Read moreDetails
  • beranda
  • kontak
  • layanan
  • beriklan
  • privasi
  • perihal

©2021 wartakita media

  • Login
No Result
View All Result
  • 🏠
  • ALAM
  • WARTA
    • PEMBELAJARAN
    • HUKUM
    • NUSANTARA
    • OLAHRAGA
    • TEKNOLOGI
    • KULINER
    • OTOMOTIF
    • SEPAK BOLA
    • #CEKFAKTA
  • GAYA
  • MAKASSAR
  • TEKNOLOGI
  • KONTAK
    • Mari Bermitra
    • Tentang Wartakita
    • Tim Redaksi
    • Kebijakan Privasi
    • TRAKTIR KOPI

©2021 wartakita media

wartakita.id menggunakan cookies tanpa mengorbankan privasi pengunjung.