Kamis, 2 Juli 2026
  • beranda
  • kontak
  • layanan
  • beriklan
  • privasi
  • perihal
WartakitaID
  • 🏚️
  • ALAM
  • WARTA
    • PEMBELAJARAN
    • HUKUM
    • NUSANTARA
    • OLAHRAGA
    • TEKNOLOGI
    • KULINER
    • OTOMOTIF
    • SEPAK BOLA
    • #CEKFAKTA
  • GAYA
  • MAKASSAR
  • TEKNOLOGI
  • KONTAK
    • Mari Bermitra
    • Tentang Wartakita
    • Tim Redaksi
    • Kebijakan Privasi
    • TRAKTIR KOPI
No Result
View All Result
WartakitaID
  • 🏚️
  • ALAM
  • WARTA
    • PEMBELAJARAN
    • HUKUM
    • NUSANTARA
    • OLAHRAGA
    • TEKNOLOGI
    • KULINER
    • OTOMOTIF
    • SEPAK BOLA
    • #CEKFAKTA
  • GAYA
  • MAKASSAR
  • TEKNOLOGI
  • KONTAK
    • Mari Bermitra
    • Tentang Wartakita
    • Tim Redaksi
    • Kebijakan Privasi
    • TRAKTIR KOPI
No Result
View All Result
WartakitaID
No Result
View All Result
Home Opini

Esai Ramadan #8: Berhala Etiket dan Sopan Santun

by A. Burhany
25/02/2026
in Opini
Reading Time: 4 mins read
A A
sisipan-8

Tujuh esai pertama Ramadan mengajarkan diri saya (dan semoga juga pembaca) tentang ruang dalam—tentang ego yang perlu dikecilkan, waktu yang perlu dihuni, dan rahasia yang perlu dijaga. Kita belajar menjadi sunyi, menjadi kecil, menjadi jujur di hadapan diri sendiri.

Tapi kesunyian yang sejati tidak selalu berarti diam.

“Kezaliman akan terus ada bukan karena banyaknya orang jahat, tapi karena diamnya orang-orang baik.”

Kalimat itu secara luas dikaitkan dengan Ali bin Abi Thalib. Dan saya tidak bisa membacanya tanpa merasa sedikit tidak nyaman—karena saya tahu, lebih sering dari yang ingin saya akui, saya adalah orang baik yang memilih diam.

World Cup 2026

Mengaku sebagai orang baik saja sudah membuat saya tidak nyaman.

Ketidaknyamanan yang baru bisa teredam ketika saya mengasosiasikan “orang baik” yang dimaksud adalah orang yang mengetahui keburukan—tetapi juga memiliki potensi melakukan keburukan yang dilihatnya.

Saya pernah bertanya kepada seorang arif tentang sebuah pertanyaan yang lama mengganjal: ketika bencana datang dan disebut sebagai “hukuman dari Tuhan”, mengapa ia tidak pandang bulu? Mengapa yang terkena bukan hanya mereka yang berbuat salah, tapi juga orang-orang baik di sekitarnya?

Jawabannya tidak mudah ditelan: “Karena orang-orang baik tersebut tidak menunaikan kewajibannya ketika melihat kemungkaran. Pertama, ubah dengan tanganmu—dengan aksi, merangkul keburukan agar menjadi bagian dari kebaikan, tidak harus konfrontatif atau represif. Kedua, ingatkan dengan lisan dan tulisan, dengan cara dan bahasa yang baik—sebab diam masih lebih baik daripada mengingatkan tapi membuat orang tersinggung. Ketiga, doakan agar para pelaku keburukan menyadari kesalahannya dan mulai melakukan perbaikan. Tiga hal itulah yang membedakan orang baik dari orang jahat ketika berhadapan dengan keburukan.”

Dan mungkin itulah yang sedang kita coba lakukan di sini—paling tidak, menunaikan tingkatan kedua dari tiga kewajiban itu.

Di minggu kedua ini, lapar kita mulai berubah bentuk. Ia bukan lagi sekadar urusan perut—ia mulai merambat ke lidah. Dan di sinilah Ramadan menyodorkan tantangan yang lebih rumit: bukan hanya menahan apa yang masuk, tapi memeriksa apa yang keluar.

World Cup 2026

Di sekolah dan mimbar-mimbar, kita sering diajarkan bahwa puasa lidah adalah tentang diam, atau setidaknya tentang bicara yang manis-manis saja. Tapi ada sisi lain dari lidah yang jarang kita bicarakan—kemampuannya untuk menelan kebenaran mentah, tanpa dilapisi pemanis sopan santun atau etiket.

Esai Ramadan #8: Berhala Etiket dan Sopan Santun - image 3

Kebenaran sering kali seperti buah kedondong. Daging buahnya mungkin kecut-asam-segar, tapi intinya adalah biji yang permukaannya dipenuhi serat berduri tajam. Mengunyahnya adalah seni. Menelannya adalah penderitaan.

Di negeri ini, kita memiliki kegemaran yang ganjil: kita lebih suka memuja kulit buah yang mulus daripada membedah isinya. Kita hidup dalam budaya yang mendewakan etiket—sopan santun—dan sering mengubur hidup-hidup etika, yakni kebenaran itu sendiri.

Lihatlah bagaimana panggung publik kita dikelola.

Pejabat yang bicara dengan nada lembut, tertata, penuh tata krama. Pemuka agama yang menyelipkan doa-doa indah di setiap jeda kalimat. Kemasan mereka begitu sempurna sehingga sulit dibantah. Siapa yang tega menuduh orang se-santun itu sedang merancang kebijakan yang mematikan nyawa rakyat atas nama stabilitas atau mungkin demi PSN? Siapa yang berani menyangka di balik jubah dan seragam yang rapi itu tersimpan niat yang sedang menggerogoti daulat rakyat?

Kita sebagai publik sering menjadi hakim yang rabun. Kita lebih mudah naik pitam mendengar seorang komika seperti Pandji Pragiwaksono yang bicara meledak-ledak dalam pertunjukannya, daripada marah melihat birokrat yang dengan senyum paling sopan menandatangani kebijakan yang memiskinkan jutaan orang. Kita menganggap kata-kata kasar sebagai dosa besar, namun menganggap kebijakan yang kasar sebagai prosedur administrasi yang wajar.

Kita lebih memuja kemasan daripada isi. Kita lebih takut pada ketidaksopanan daripada ketidakbenaran.

BACA JUGA:

Penutup Esai Ramadan #30: Satu Hal Saja

Kementerian ESDM Pastikan Keandalan Pasokan Listrik Sulawesi Jelang Ramadan & Idul Fitri 1447 H

Esai Ramadan #29: Menuai Hujan dan Residu yang Tersisa

Ramadan 2026: Hari ini 17 Maret berapa Ramadan?

Esai Ramadan #28: Azan dan Kepulangan yang Sejati

Inilah berhala yang perlu kita periksa di minggu kedua Ramadan ini.

Puasa lidah bukan berarti membalut kebohongan dengan kata-kata manis. Justru sebaliknya—puasa lidah adalah latihan untuk berani mengatakan yang benar, meskipun ia berduri seperti biji kedondong. Jika kita hanya diam demi menjaga sopan santun saat melihat ketidakadilan, maka diam kita bukanlah ibadah. Itu pengkhianatan.

Puasa seharusnya membuat kita lebih sensitif terhadap kebenaran, bukan membuat kita mati rasa karena terlalu sibuk menjaga citra kesalehan formal.

Kebenaran akan tetap menjadi benar, tak peduli seberapa kasar ia diucapkan. Dan kebohongan akan tetap menjadi racun, tak peduli seberapa santun ia dikemas dalam pidato-pidato berwibawa.

Hari ini, mari kita periksa kembali lidah kita. Apakah kita sedang berpuasa untuk membersihkan jiwa, atau hanya sedang memoles topeng agar terlihat sopan di mata manusia? Jangan-jangan selama ini kita hanya berani menelan janji-janji manis yang melenakan, tapi langsung memuntahkan kebenaran hanya karena ia terasa tajam di tenggorokan.

Selamat menelan kejujuran dan kebenaran, sepahit dan setajam apa pun itu—dengan tangan, dengan lisan, dan dengan doa yang tidak pernah berhenti.

Add wartakita.id as a preferred source on Google

Tags: berbuka puasaesai Ramadanmakna niat puasaniat puasa RamadanRamadanRamadan 2026spiritualitas puasa
Share18Tweet12Send
World Cup 2026

ARTIKEL TERKAIT

ekonom-1a

Bongkar Mesin “Ekonomi Zombie”: Cetak Biru Penyelamatan Kelas Menengah dari Meja Pengambil Kebijakan

11/06/2026
ekonomi-1-jpg

Mengapa Ekonomi Kita Belum Ambruk? Membedah “Ekonomi Zombie” dan Ilusi Ketahanan Kelas Menengah

11/06/2026
pesta-babi

Kontroversi Film “Pesta Babi”: Narasi Pembangunan, Hak Adat Papua, dan Lingkaran Kekuasaan

12/05/2026
Prof-Dr-H-Umar-Shihab-BW

Selamat Jalan, Pak Umar

23/03/2026
utama-30

Penutup Esai Ramadan #30: Satu Hal Saja

19/03/2026
utama-29

Esai Ramadan #29: Menuai Hujan dan Residu yang Tersisa

18/03/2026
sisipan-28

Esai Ramadan #28: Azan dan Kepulangan yang Sejati

17/03/2026
utama-27

Esai Ramadan #27: Jelang Perpisahan dengan Tamu yang Memuliakan

16/03/2026

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

I agree to the Terms & Conditions and Privacy Policy.

TERPOPULER-SEPEKAN

  • Esai Ramadan #8: Berhala Etiket dan Sopan Santun - Featured

    Tiga Pelajar Unggulan Dinobatkan Duta Baca Pelajar Makassar 2026: Menggerakkan Literasi di Jantung Sulawesi Selatan

    49 shares
    Share 20 Tweet 12
  • Wisata Dan Tradisi Nyekar Di Pulau Libukang Palopo

    119 shares
    Share 48 Tweet 30
  • Anggaran Rp 30 Juta per Orang untuk Latihan Militer Calon Manajer Kopdes, Hasanuddin Usulkan Penghapusan

    22 shares
    Share 9 Tweet 6
  • Tren Makeup dan Skincare Gen Z yang Wajib Kamu Tahu

    34 shares
    Share 14 Tweet 9
  • Prabowo Soroti Arus Modal Keluar Rp51,8 Triliun, Fokus Bentuk Satgas Atasi Hambatan Investasi

    38 shares
    Share 15 Tweet 10
  • GitHub Copilot Workspace: Bukan Sekadar AI Pair Programmer, Tapi Revolusi Kolaborasi Kode Otonom

    16 shares
    Share 6 Tweet 4
  • 16 Model Rambut Pria yang Terbukti Disukai Wanita, Keren dan Stylish! (Update 2026)

    141 shares
    Share 56 Tweet 35
  • Kode CMD Untuk Mempercepat Kinerja Laptop

    673 shares
    Share 269 Tweet 168
  • Gempa Dahsyat Venezuela Tewaskan Ribuan Jiwa: Pelajaran Kesiapsiagaan Global dan Tantangan Bantuan

    15 shares
    Share 6 Tweet 4
  • Tragedi Latsarmil KDMP: Mengapa Bisnis Modern Butuh Adaptasi, Bukan Struktur Komando Militer

    15 shares
    Share 6 Tweet 4
wartakita-id-buku-saku-bencana-bnpb_cr

Unduh Buku Saku “SIAGA BENCANA” dari BNPB

02/11/2023

Buku saku siaga bencana ini tidak menjamin keselamatan Anda. Namun, memberikan pedoman secara umum untuk kesiapsiagaan.

Read moreDetails

WARTAKITA

img-1764775654-b12300608d9039ae
Otomotif

Modifikasi Vespa Matic: 10 Aksesoris ‘Proper’ Budget Pelajar-Sultan

04/12/2025
crew-cut-fade_tn
Gaya Hidup

Aroma yang Tak Terlupakan: Rahasia Kepercayaan Diri Pria Modern

02/12/2025
hidup sehat dan seimbang_cr_tn1
Gaya Hidup

Keseimbangan Hidup Optimal: Menjaga Kesehatan dari Dalam dan Luar

24/11/2025
1763889026-rahasia-kulit-glowing-di-rumah-spa-mandiri-perawatan-diri.jpg
Fashion & Kecantikan

Rahasia Kulit Glowing di Rumah: Spa Mandiri & Perawatan Diri untuk Beauty Besties

23/11/2025
Alternatif Hair Styler Canggih Mulai 300 Ribuan_wartakita.id
Fashion & Kecantikan

Ingin Rambut ‘Badai’ ala Jisoo Tapi Budget Terbatas? Ini 3 Alternatif Hair Styler Canggih Mulai 300 Ribuan!

29/11/2025
vespa 2026_cr_tn1
Otomotif

Bukan Sekadar Skuter: Panduan Memilih Vespa Impian Anda di Tahun 2026

23/11/2025
Seni Merawat Vespa Matic_wartakita.id
Otomotif

Seni Merawat Vespa Matic: Bebaskan Gredek, Nikmati Perjalanan Halus

06/12/2025
Jisoo+Dyson
Gadget

Jisoo BLACKPINK dan Dyson: Rahasia Rambut Sehat Berkilau

21/11/2025
Cara Hidup Anak Kost agar Lebih Tenang di Dapur dan Rumah_cr_tn1
Gaya Hidup

Cara agar Hidup Anak Kost Lebih Tenang di Dapur dan Rumah

22/11/2025
1766621435-7-gadget-traveling-wajib-bawa-buat-liburan-nataru-anti-lowbat.jpg
Gadget

7 Gadget Traveling Wajib Bawa Buat Liburan Nataru (Anti Lowbat)

25/12/2025
telegram-bot
Gadget

Labirin Pilihan Smartphone Modern: Dari Fotografi Hingga Gaming

15/11/2025
4 rekomendasi parfum anti gerah dan tahan lama di cuaca indonesia_wartakita.id
Fashion & Kecantikan

Parfum Mahal Tapi Cepat Hilang Kena Keringat? 4 Rekomendasi Parfum “Anti-Gerah” Tahan Lama di Cuaca Indonesia

30/11/2025
tips-keselamatan
Alam dan Lingkungan Hidup

Tips Keselamatan Saat Gempa Bumi

23/12/2023

Gempa bumi tidak seperti kejadian alam lainnya yang masih bisa diprediksi jauh-jauh hari dengan lebih akurat.

Read moreDetails
  • beranda
  • kontak
  • layanan
  • beriklan
  • privasi
  • perihal

©2021 wartakita media

  • Login
No Result
View All Result
  • 🏚️
  • ALAM
  • WARTA
    • PEMBELAJARAN
    • HUKUM
    • NUSANTARA
    • OLAHRAGA
    • TEKNOLOGI
    • KULINER
    • OTOMOTIF
    • SEPAK BOLA
    • #CEKFAKTA
  • GAYA
  • MAKASSAR
  • TEKNOLOGI
  • KONTAK
    • Mari Bermitra
    • Tentang Wartakita
    • Tim Redaksi
    • Kebijakan Privasi
    • TRAKTIR KOPI

©2021 wartakita media

wartakita.id menggunakan cookies tanpa mengorbankan privasi pengunjung.