Selasa, 22 September 2026
  • beranda
  • kontak
  • layanan
  • beriklan
  • privasi
  • perihal
WartakitaID
  • 🏚️
  • ALAM
  • WARTA
    • PEMBELAJARAN
    • HUKUM
    • NUSANTARA
    • OLAHRAGA
    • TEKNOLOGI
    • KULINER
    • OTOMOTIF
    • SEPAK BOLA
    • #CEKFAKTA
  • GAYA
  • MAKASSAR
  • TEKNOLOGI
  • KONTAK
    • Mari Bermitra
    • Tentang Wartakita
    • Tim Redaksi
    • Kebijakan Privasi
    • TRAKTIR KOPI
No Result
View All Result
WartakitaID
  • 🏚️
  • ALAM
  • WARTA
    • PEMBELAJARAN
    • HUKUM
    • NUSANTARA
    • OLAHRAGA
    • TEKNOLOGI
    • KULINER
    • OTOMOTIF
    • SEPAK BOLA
    • #CEKFAKTA
  • GAYA
  • MAKASSAR
  • TEKNOLOGI
  • KONTAK
    • Mari Bermitra
    • Tentang Wartakita
    • Tim Redaksi
    • Kebijakan Privasi
    • TRAKTIR KOPI
No Result
View All Result
WartakitaID
No Result
View All Result
Home Opini

Esai Ramadan #8: Berhala Etiket dan Sopan Santun

by A. Burhany
25/02/2026
in Opini
Reading Time: 4 mins read
A A
sisipan-8

BACA JUGA:

Penutup Esai Ramadan #30: Satu Hal Saja

Kementerian ESDM Pastikan Keandalan Pasokan Listrik Sulawesi Jelang Ramadan & Idul Fitri 1447 H

Esai Ramadan #29: Menuai Hujan dan Residu yang Tersisa

Ramadan 2026: Hari ini 17 Maret berapa Ramadan?

Esai Ramadan #28: Azan dan Kepulangan yang Sejati

Tujuh esai pertama Ramadan mengajarkan diri saya (dan semoga juga pembaca) tentang ruang dalam—tentang ego yang perlu dikecilkan, waktu yang perlu dihuni, dan rahasia yang perlu dijaga. Kita belajar menjadi sunyi, menjadi kecil, menjadi jujur di hadapan diri sendiri.

Tapi kesunyian yang sejati tidak selalu berarti diam.

“Kezaliman akan terus ada bukan karena banyaknya orang jahat, tapi karena diamnya orang-orang baik.”

Kalimat itu secara luas dikaitkan dengan Ali bin Abi Thalib. Dan saya tidak bisa membacanya tanpa merasa sedikit tidak nyaman—karena saya tahu, lebih sering dari yang ingin saya akui, saya adalah orang baik yang memilih diam.

Mengaku sebagai orang baik saja sudah membuat saya tidak nyaman.

Ketidaknyamanan yang baru bisa teredam ketika saya mengasosiasikan “orang baik” yang dimaksud adalah orang yang mengetahui keburukan—tetapi juga memiliki potensi melakukan keburukan yang dilihatnya.

Saya pernah bertanya kepada seorang arif tentang sebuah pertanyaan yang lama mengganjal: ketika bencana datang dan disebut sebagai “hukuman dari Tuhan”, mengapa ia tidak pandang bulu? Mengapa yang terkena bukan hanya mereka yang berbuat salah, tapi juga orang-orang baik di sekitarnya?

Jawabannya tidak mudah ditelan: “Karena orang-orang baik tersebut tidak menunaikan kewajibannya ketika melihat kemungkaran. Pertama, ubah dengan tanganmu—dengan aksi, merangkul keburukan agar menjadi bagian dari kebaikan, tidak harus konfrontatif atau represif. Kedua, ingatkan dengan lisan dan tulisan, dengan cara dan bahasa yang baik—sebab diam masih lebih baik daripada mengingatkan tapi membuat orang tersinggung. Ketiga, doakan agar para pelaku keburukan menyadari kesalahannya dan mulai melakukan perbaikan. Tiga hal itulah yang membedakan orang baik dari orang jahat ketika berhadapan dengan keburukan.”

Dan mungkin itulah yang sedang kita coba lakukan di sini—paling tidak, menunaikan tingkatan kedua dari tiga kewajiban itu.

Di minggu kedua ini, lapar kita mulai berubah bentuk. Ia bukan lagi sekadar urusan perut—ia mulai merambat ke lidah. Dan di sinilah Ramadan menyodorkan tantangan yang lebih rumit: bukan hanya menahan apa yang masuk, tapi memeriksa apa yang keluar.

Di sekolah dan mimbar-mimbar, kita sering diajarkan bahwa puasa lidah adalah tentang diam, atau setidaknya tentang bicara yang manis-manis saja. Tapi ada sisi lain dari lidah yang jarang kita bicarakan—kemampuannya untuk menelan kebenaran mentah, tanpa dilapisi pemanis sopan santun atau etiket.

Esai Ramadan #8: Berhala Etiket dan Sopan Santun - image 1

Kebenaran sering kali seperti buah kedondong. Daging buahnya mungkin kecut-asam-segar, tapi intinya adalah biji yang permukaannya dipenuhi serat berduri tajam. Mengunyahnya adalah seni. Menelannya adalah penderitaan.

Di negeri ini, kita memiliki kegemaran yang ganjil: kita lebih suka memuja kulit buah yang mulus daripada membedah isinya. Kita hidup dalam budaya yang mendewakan etiket—sopan santun—dan sering mengubur hidup-hidup etika, yakni kebenaran itu sendiri.

Lihatlah bagaimana panggung publik kita dikelola.

Pejabat yang bicara dengan nada lembut, tertata, penuh tata krama. Pemuka agama yang menyelipkan doa-doa indah di setiap jeda kalimat. Kemasan mereka begitu sempurna sehingga sulit dibantah. Siapa yang tega menuduh orang se-santun itu sedang merancang kebijakan yang mematikan nyawa rakyat atas nama stabilitas atau mungkin demi PSN? Siapa yang berani menyangka di balik jubah dan seragam yang rapi itu tersimpan niat yang sedang menggerogoti daulat rakyat?

Kita sebagai publik sering menjadi hakim yang rabun. Kita lebih mudah naik pitam mendengar seorang komika seperti Pandji Pragiwaksono yang bicara meledak-ledak dalam pertunjukannya, daripada marah melihat birokrat yang dengan senyum paling sopan menandatangani kebijakan yang memiskinkan jutaan orang. Kita menganggap kata-kata kasar sebagai dosa besar, namun menganggap kebijakan yang kasar sebagai prosedur administrasi yang wajar.

Kita lebih memuja kemasan daripada isi. Kita lebih takut pada ketidaksopanan daripada ketidakbenaran.

Inilah berhala yang perlu kita periksa di minggu kedua Ramadan ini.

Puasa lidah bukan berarti membalut kebohongan dengan kata-kata manis. Justru sebaliknya—puasa lidah adalah latihan untuk berani mengatakan yang benar, meskipun ia berduri seperti biji kedondong. Jika kita hanya diam demi menjaga sopan santun saat melihat ketidakadilan, maka diam kita bukanlah ibadah. Itu pengkhianatan.

Puasa seharusnya membuat kita lebih sensitif terhadap kebenaran, bukan membuat kita mati rasa karena terlalu sibuk menjaga citra kesalehan formal.

Kebenaran akan tetap menjadi benar, tak peduli seberapa kasar ia diucapkan. Dan kebohongan akan tetap menjadi racun, tak peduli seberapa santun ia dikemas dalam pidato-pidato berwibawa.

Hari ini, mari kita periksa kembali lidah kita. Apakah kita sedang berpuasa untuk membersihkan jiwa, atau hanya sedang memoles topeng agar terlihat sopan di mata manusia? Jangan-jangan selama ini kita hanya berani menelan janji-janji manis yang melenakan, tapi langsung memuntahkan kebenaran hanya karena ia terasa tajam di tenggorokan.

Selamat menelan kejujuran dan kebenaran, sepahit dan setajam apa pun itu—dengan tangan, dengan lisan, dan dengan doa yang tidak pernah berhenti.

Rekomendasikan Wartakita.id
Tags: berbuka puasaesai Ramadanmakna niat puasaniat puasa RamadanRamadanRamadan 2026spiritualitas puasa
Share20Tweet13Send

ARTIKEL TERKAIT

Esai Ramadan #8: Berhala Etiket dan Sopan Santun - Featured

Maulid, Karhutla, dan Kemarahan Publik: Ironi Moral Tanpa Amanah

25/08/2026
Esai Ramadan #8: Berhala Etiket dan Sopan Santun - Featured

Skenario Reformasi: Senjata Coretax 2026 dan Jalan Terang Menuju Pertumbuhan 6%

28/07/2026
Esai Ramadan #8: Berhala Etiket dan Sopan Santun - Featured

Skenario Status Quo: Bayang-Bayang Utang Rp10.000 T dan Ancaman Permanen Middle-Income Trap

28/07/2026
Esai Ramadan #8: Berhala Etiket dan Sopan Santun - Featured

Trajektori 2026-2031: Menuju Indonesia Emas atau Terjebak Krisis Permanen?

28/07/2026
Esai Ramadan #8: Berhala Etiket dan Sopan Santun - Featured

Selamatkan APBN 2026: Redefinisi Anggaran Pendidikan 20% dan Ketegasan BPI Danantara

28/07/2026
Esai Ramadan #8: Berhala Etiket dan Sopan Santun - Featured

Paradoks Desentralisasi 2026: Mengapa Anggaran Daerah Dipangkas demi Program Populis Pusat?

28/07/2026
Esai Ramadan #8: Berhala Etiket dan Sopan Santun - Featured

Siklus Anggaran Politis dan Korupsi Rp279 Triliun: Saat Uang Rakyat Jadi Ongkos ‘Elit’ yang Hidup dalam Siklus 5 Tahunan

28/07/2026
Esai Ramadan #8: Berhala Etiket dan Sopan Santun - Featured

Kualitas Layanan Publik Stagnan: Mengurai Korupsi, Siklus Politis, dan Absennya Keadilan Pajak

28/07/2026

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

I agree to the Terms & Conditions and Privacy Policy.

TERPOPULER-SEPEKAN

  • wisata dan tradisi nyekar di pulau libukang palopo

    Wisata Dan Tradisi Nyekar Di Pulau Libukang Palopo

    187 shares
    Share 75 Tweet 47
  • Misteri Telur Mata Sapi di Gunung Anak Krakatau: Penjelasan Ilmiah Fenomena Unik

    30 shares
    Share 12 Tweet 8
  • Kode CMD Untuk Mempercepat Kinerja Laptop

    797 shares
    Share 319 Tweet 199
  • AXA Financial Indonesia Perkuat Perlindungan Berbasis Syariah dengan Peluncuran AXA Sharia Life Insurance

    19 shares
    Share 8 Tweet 5
  • Grab Akuisisi Atome Financial: Langkah Strategis Perkuat Ekosistem Layanan Keuangan Indonesia

    18 shares
    Share 7 Tweet 5
  • Teras Perwira 2026: Grab & OVO Finansial Bekali Ribuan Mitra UMKM di 10 Kota

    16 shares
    Share 6 Tweet 4
  • Reshuffle Mendadak Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa: Analisis Mendalam Politik dan Anggaran

    18 shares
    Share 7 Tweet 5
  • BMKG Makassar Ingatkan Warga Sulsel: Waspada Cuaca Ekstrem, Angin Kencang, dan Udara Panas di September 2026

    18 shares
    Share 7 Tweet 5
  • Strategi Multidimensi Melawan Dampak Kebakaran Hutan & Lahan di Kalimantan: Respons Komprehensif Melampaui Krisis Asap

    15 shares
    Share 6 Tweet 4
  • Pemecatan Menteri Lewat Telepon: Sorotan Analis Komunikasi Politik Unpad Terhadap Etika Birokrasi

    15 shares
    Share 6 Tweet 4
wartakita-id-buku-saku-bencana-bnpb_cr

Unduh Buku Saku “SIAGA BENCANA” dari BNPB

02/11/2023

Buku saku siaga bencana ini tidak menjamin keselamatan Anda. Namun, memberikan pedoman secara umum untuk kesiapsiagaan.

Read moreDetails

WARTAKITA

vespa 2026_cr_tn1
Otomotif

Bukan Sekadar Skuter: Panduan Memilih Vespa Impian Anda di Tahun 2026

23/11/2025
1763287827_Smoothing-vs-Rebonding-vs-Keratin-Mana-yang-Terbaik-untuk-Rambutmu.jpg
Fashion & Kecantikan

Smoothing vs Rebonding vs Keratin: Mana yang Terbaik untuk Rambutmu?

16/11/2025
Seni Merawat Vespa Matic_wartakita.id
Otomotif

Seni Merawat Vespa Matic: Bebaskan Gredek, Nikmati Perjalanan Halus

06/12/2025
parfum di tempat kerja_wartakita.id
Fashion & Kecantikan

Ingin Dihormati di Kantor? Ini 4 “Power Scent” Pria & Wanita yang Bikin Aura Anda Seperti CEO

29/11/2025
1763889026-rahasia-kulit-glowing-di-rumah-spa-mandiri-perawatan-diri.jpg
Fashion & Kecantikan

Rahasia Kulit Glowing di Rumah: Spa Mandiri & Perawatan Diri untuk Beauty Besties

23/11/2025
Jisoo+Dyson
Gadget

Jisoo BLACKPINK dan Dyson: Rahasia Rambut Sehat Berkilau

21/11/2025
featured 1_tn1
Fashion & Kecantikan

Tren Hijab 2025-2026: 25+ Gaya Fashion Muslim Kekinian

14/11/2025
parfum untuk jomblo_wartakita.id
Fashion & Kecantikan

Bosan Jomblo atau Hubungan Terasa Hambar? Pikat dengan 4 Parfum “Date Night” Menggoda Ini

29/11/2025
1766621435-7-gadget-traveling-wajib-bawa-buat-liburan-nataru-anti-lowbat.jpg
Gadget

7 Gadget Traveling Wajib Bawa Buat Liburan Nataru (Anti Lowbat)

25/12/2025
img-1764775654-b12300608d9039ae
Otomotif

Modifikasi Vespa Matic: 10 Aksesoris ‘Proper’ Budget Pelajar-Sultan

04/12/2025
skincare kulit kering 2 e1766181785188.jpg
Fashion & Kecantikan

7 Jurus Pilih Pelembap Bikin Glowing Sehat

20/12/2025
merawat-aki-mobil-dimusim-hujan-2_cr
Otomotif

Ancaman Mogok Akibat Aki Lemah di Musim Hujan: Kenapa Perawatan Mandiri Mobil LCGC Jadi Krusial?

16/11/2025
tips-keselamatan
Alam dan Lingkungan Hidup

Tips Keselamatan Saat Gempa Bumi

23/12/2023

Gempa bumi tidak seperti kejadian alam lainnya yang masih bisa diprediksi jauh-jauh hari dengan lebih akurat.

Read moreDetails
  • beranda
  • kontak
  • layanan
  • beriklan
  • privasi
  • perihal

©2021 wartakita media

  • Login
No Result
View All Result
  • 🏚️
  • ALAM
  • WARTA
    • PEMBELAJARAN
    • HUKUM
    • NUSANTARA
    • OLAHRAGA
    • TEKNOLOGI
    • KULINER
    • OTOMOTIF
    • SEPAK BOLA
    • #CEKFAKTA
  • GAYA
  • MAKASSAR
  • TEKNOLOGI
  • KONTAK
    • Mari Bermitra
    • Tentang Wartakita
    • Tim Redaksi
    • Kebijakan Privasi
    • TRAKTIR KOPI

©2021 wartakita media

wartakita.id menggunakan cookies tanpa mengorbankan privasi pengunjung.