Senin, 12 Oktober 2026
  • beranda
  • kontak
  • layanan
  • beriklan
  • privasi
  • perihal
WartakitaID
  • 🏚️
  • ALAM
  • WARTA
    • PEMBELAJARAN
    • HUKUM
    • NUSANTARA
    • OLAHRAGA
    • TEKNOLOGI
    • KULINER
    • OTOMOTIF
    • SEPAK BOLA
    • #CEKFAKTA
  • GAYA
  • MAKASSAR
  • TEKNOLOGI
  • KONTAK
    • Mari Bermitra
    • Tentang Wartakita
    • Tim Redaksi
    • Kebijakan Privasi
    • TRAKTIR KOPI
No Result
View All Result
WartakitaID
  • 🏚️
  • ALAM
  • WARTA
    • PEMBELAJARAN
    • HUKUM
    • NUSANTARA
    • OLAHRAGA
    • TEKNOLOGI
    • KULINER
    • OTOMOTIF
    • SEPAK BOLA
    • #CEKFAKTA
  • GAYA
  • MAKASSAR
  • TEKNOLOGI
  • KONTAK
    • Mari Bermitra
    • Tentang Wartakita
    • Tim Redaksi
    • Kebijakan Privasi
    • TRAKTIR KOPI
No Result
View All Result
WartakitaID
No Result
View All Result
Home Opini

Esai Ramadan #8: Berhala Etiket dan Sopan Santun

by A. Burhany
25/02/2026
in Opini
Reading Time: 4 mins read
A A
sisipan-8

BACA JUGA:

Penutup Esai Ramadan #30: Satu Hal Saja

Kementerian ESDM Pastikan Keandalan Pasokan Listrik Sulawesi Jelang Ramadan & Idul Fitri 1447 H

Esai Ramadan #29: Menuai Hujan dan Residu yang Tersisa

Ramadan 2026: Hari ini 17 Maret berapa Ramadan?

Esai Ramadan #28: Azan dan Kepulangan yang Sejati

Tujuh esai pertama Ramadan mengajarkan diri saya (dan semoga juga pembaca) tentang ruang dalam—tentang ego yang perlu dikecilkan, waktu yang perlu dihuni, dan rahasia yang perlu dijaga. Kita belajar menjadi sunyi, menjadi kecil, menjadi jujur di hadapan diri sendiri.

Tapi kesunyian yang sejati tidak selalu berarti diam.

“Kezaliman akan terus ada bukan karena banyaknya orang jahat, tapi karena diamnya orang-orang baik.”

Kalimat itu secara luas dikaitkan dengan Ali bin Abi Thalib. Dan saya tidak bisa membacanya tanpa merasa sedikit tidak nyaman—karena saya tahu, lebih sering dari yang ingin saya akui, saya adalah orang baik yang memilih diam.

Mengaku sebagai orang baik saja sudah membuat saya tidak nyaman.

Ketidaknyamanan yang baru bisa teredam ketika saya mengasosiasikan “orang baik” yang dimaksud adalah orang yang mengetahui keburukan—tetapi juga memiliki potensi melakukan keburukan yang dilihatnya.

Saya pernah bertanya kepada seorang arif tentang sebuah pertanyaan yang lama mengganjal: ketika bencana datang dan disebut sebagai “hukuman dari Tuhan”, mengapa ia tidak pandang bulu? Mengapa yang terkena bukan hanya mereka yang berbuat salah, tapi juga orang-orang baik di sekitarnya?

Jawabannya tidak mudah ditelan: “Karena orang-orang baik tersebut tidak menunaikan kewajibannya ketika melihat kemungkaran. Pertama, ubah dengan tanganmu—dengan aksi, merangkul keburukan agar menjadi bagian dari kebaikan, tidak harus konfrontatif atau represif. Kedua, ingatkan dengan lisan dan tulisan, dengan cara dan bahasa yang baik—sebab diam masih lebih baik daripada mengingatkan tapi membuat orang tersinggung. Ketiga, doakan agar para pelaku keburukan menyadari kesalahannya dan mulai melakukan perbaikan. Tiga hal itulah yang membedakan orang baik dari orang jahat ketika berhadapan dengan keburukan.”

Dan mungkin itulah yang sedang kita coba lakukan di sini—paling tidak, menunaikan tingkatan kedua dari tiga kewajiban itu.

Di minggu kedua ini, lapar kita mulai berubah bentuk. Ia bukan lagi sekadar urusan perut—ia mulai merambat ke lidah. Dan di sinilah Ramadan menyodorkan tantangan yang lebih rumit: bukan hanya menahan apa yang masuk, tapi memeriksa apa yang keluar.

Di sekolah dan mimbar-mimbar, kita sering diajarkan bahwa puasa lidah adalah tentang diam, atau setidaknya tentang bicara yang manis-manis saja. Tapi ada sisi lain dari lidah yang jarang kita bicarakan—kemampuannya untuk menelan kebenaran mentah, tanpa dilapisi pemanis sopan santun atau etiket.

Esai Ramadan #8: Berhala Etiket dan Sopan Santun - image 1

Kebenaran sering kali seperti buah kedondong. Daging buahnya mungkin kecut-asam-segar, tapi intinya adalah biji yang permukaannya dipenuhi serat berduri tajam. Mengunyahnya adalah seni. Menelannya adalah penderitaan.

Di negeri ini, kita memiliki kegemaran yang ganjil: kita lebih suka memuja kulit buah yang mulus daripada membedah isinya. Kita hidup dalam budaya yang mendewakan etiket—sopan santun—dan sering mengubur hidup-hidup etika, yakni kebenaran itu sendiri.

Lihatlah bagaimana panggung publik kita dikelola.

Pejabat yang bicara dengan nada lembut, tertata, penuh tata krama. Pemuka agama yang menyelipkan doa-doa indah di setiap jeda kalimat. Kemasan mereka begitu sempurna sehingga sulit dibantah. Siapa yang tega menuduh orang se-santun itu sedang merancang kebijakan yang mematikan nyawa rakyat atas nama stabilitas atau mungkin demi PSN? Siapa yang berani menyangka di balik jubah dan seragam yang rapi itu tersimpan niat yang sedang menggerogoti daulat rakyat?

Kita sebagai publik sering menjadi hakim yang rabun. Kita lebih mudah naik pitam mendengar seorang komika seperti Pandji Pragiwaksono yang bicara meledak-ledak dalam pertunjukannya, daripada marah melihat birokrat yang dengan senyum paling sopan menandatangani kebijakan yang memiskinkan jutaan orang. Kita menganggap kata-kata kasar sebagai dosa besar, namun menganggap kebijakan yang kasar sebagai prosedur administrasi yang wajar.

Kita lebih memuja kemasan daripada isi. Kita lebih takut pada ketidaksopanan daripada ketidakbenaran.

Inilah berhala yang perlu kita periksa di minggu kedua Ramadan ini.

Puasa lidah bukan berarti membalut kebohongan dengan kata-kata manis. Justru sebaliknya—puasa lidah adalah latihan untuk berani mengatakan yang benar, meskipun ia berduri seperti biji kedondong. Jika kita hanya diam demi menjaga sopan santun saat melihat ketidakadilan, maka diam kita bukanlah ibadah. Itu pengkhianatan.

Puasa seharusnya membuat kita lebih sensitif terhadap kebenaran, bukan membuat kita mati rasa karena terlalu sibuk menjaga citra kesalehan formal.

Kebenaran akan tetap menjadi benar, tak peduli seberapa kasar ia diucapkan. Dan kebohongan akan tetap menjadi racun, tak peduli seberapa santun ia dikemas dalam pidato-pidato berwibawa.

Hari ini, mari kita periksa kembali lidah kita. Apakah kita sedang berpuasa untuk membersihkan jiwa, atau hanya sedang memoles topeng agar terlihat sopan di mata manusia? Jangan-jangan selama ini kita hanya berani menelan janji-janji manis yang melenakan, tapi langsung memuntahkan kebenaran hanya karena ia terasa tajam di tenggorokan.

Selamat menelan kejujuran dan kebenaran, sepahit dan setajam apa pun itu—dengan tangan, dengan lisan, dan dengan doa yang tidak pernah berhenti.

Rekomendasikan Wartakita.id
Tags: berbuka puasaesai Ramadanmakna niat puasaniat puasa RamadanRamadanRamadan 2026spiritualitas puasa
Share20Tweet13Send

ARTIKEL TERKAIT

Esai Ramadan #8: Berhala Etiket dan Sopan Santun - Featured

Maulid, Karhutla, dan Kemarahan Publik: Ironi Moral Tanpa Amanah

25/08/2026
Esai Ramadan #8: Berhala Etiket dan Sopan Santun - Featured

Skenario Reformasi: Senjata Coretax 2026 dan Jalan Terang Menuju Pertumbuhan 6%

28/07/2026
Esai Ramadan #8: Berhala Etiket dan Sopan Santun - Featured

Skenario Status Quo: Bayang-Bayang Utang Rp10.000 T dan Ancaman Permanen Middle-Income Trap

28/07/2026
Esai Ramadan #8: Berhala Etiket dan Sopan Santun - Featured

Trajektori 2026-2031: Menuju Indonesia Emas atau Terjebak Krisis Permanen?

28/07/2026
Esai Ramadan #8: Berhala Etiket dan Sopan Santun - Featured

Selamatkan APBN 2026: Redefinisi Anggaran Pendidikan 20% dan Ketegasan BPI Danantara

28/07/2026
Esai Ramadan #8: Berhala Etiket dan Sopan Santun - Featured

Paradoks Desentralisasi 2026: Mengapa Anggaran Daerah Dipangkas demi Program Populis Pusat?

28/07/2026
Esai Ramadan #8: Berhala Etiket dan Sopan Santun - Featured

Siklus Anggaran Politis dan Korupsi Rp279 Triliun: Saat Uang Rakyat Jadi Ongkos ‘Elit’ yang Hidup dalam Siklus 5 Tahunan

28/07/2026
Esai Ramadan #8: Berhala Etiket dan Sopan Santun - Featured

Kualitas Layanan Publik Stagnan: Mengurai Korupsi, Siklus Politis, dan Absennya Keadilan Pajak

28/07/2026

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

I agree to the Terms & Conditions and Privacy Policy.

TERPOPULER-SEPEKAN

  • wisata dan tradisi nyekar di pulau libukang palopo

    Wisata Dan Tradisi Nyekar Di Pulau Libukang Palopo

    500 shares
    Share 200 Tweet 125
  • Kalla Toyota Palopo Sukses Rebut Hati Komunitas Lewat “Padel with Toyota Hybrid”

    102 shares
    Share 41 Tweet 26
  • Ole Romeny Rayakan Kemenangan Timnas Indonesia dengan Jersey Marselino

    29 shares
    Share 12 Tweet 7
  • Gibran Rakabuming Raka Terganjal Syarat Pendidikan untuk Pilpres 2029

    25 shares
    Share 10 Tweet 6
  • Hoaks: Prabowo Beri Hadiah Rp 5 Triliun dan Mobil untuk Timnas

    23 shares
    Share 9 Tweet 6
  • BMKG: Peringatan Dini Cuaca Besok 11-12 Oktober 2026, Hujan Lebat di Sejumlah Wilayah

    22 shares
    Share 9 Tweet 6
  • Kejati Kaltara Ungkap Dugaan Korupsi Kredit Investasi Rp759,4 Miliar di Bank Digital Milik Negara

    22 shares
    Share 9 Tweet 6
  • DJP Siapkan Strategi Cari Basis Pajak Baru Antisipasi Kenaikan PTKP

    21 shares
    Share 8 Tweet 5
  • Punya Gadget Nganggur? Bisa Tukar Tambah dengan Galaxy Z Fold8 Serie

    20 shares
    Share 8 Tweet 5
  • Peringatan Dini Cuaca BMKG 9-10 Oktober 2026, Ini Daftar Wilayah Terdampak

    20 shares
    Share 8 Tweet 5
wartakita-id-buku-saku-bencana-bnpb_cr

Unduh Buku Saku “SIAGA BENCANA” dari BNPB

02/11/2023

Buku saku siaga bencana ini tidak menjamin keselamatan Anda. Namun, memberikan pedoman secara umum untuk kesiapsiagaan.

Read moreDetails

WARTAKITA

crew-cut-fade_tn
Gaya Hidup

Aroma yang Tak Terlupakan: Rahasia Kepercayaan Diri Pria Modern

02/12/2025
1763889026-rahasia-kulit-glowing-di-rumah-spa-mandiri-perawatan-diri.jpg
Fashion & Kecantikan

Rahasia Kulit Glowing di Rumah: Spa Mandiri & Perawatan Diri untuk Beauty Besties

23/11/2025
merawat-aki-mobil-dimusim-hujan-2_cr
Otomotif

Ancaman Mogok Akibat Aki Lemah di Musim Hujan: Kenapa Perawatan Mandiri Mobil LCGC Jadi Krusial?

16/11/2025
vespa sprint atau primavera_wartakita.id
Otomotif

Vespa Primavera vs. Sprint 2025: Dua Jiwa, Satu Mesin, Pilihan Anda?

30/11/2025
Hacker-Gunakan-AI-Claude-Code-untuk-Serangan-Otonomus-–-Repiw.jpg
Gadget

Hacker Gunakan AI Claude Code untuk Serangan Otonomus

14/11/2025
vespa gts supertech
Otomotif

Update Harga OTR & Simulasi Kredit Vespa Matic 2025: Dari LX 125 hingga GTS 300 Super Tech

29/11/2025
3 kompas batin wartakita_tn1
Gaya Hidup

Jeda di Tengah Badai: Tiga Kompas Batin untuk Mengarungi Gelombang Hidup

20/11/2025
Cara Hidup Anak Kost agar Lebih Tenang di Dapur dan Rumah_cr_tn1
Gaya Hidup

Cara agar Hidup Anak Kost Lebih Tenang di Dapur dan Rumah

22/11/2025
parfum dengan kharisma sejati 1_cr
Fashion & Kecantikan

Kenapa Parfum Anda Tidak Meninggalkan Kesan? (Dan Cara Mengatasinya)

16/11/2025
insta360-go-3s-780x470.jpg
Gadget

Insta360 GO 3S Hadir dengan Video 4K dan Dukungan Apple Find My

25/07/2024
Mug CIVAGO dengan lapisan keramik & insulasi vakum tahan 12 jam 1-salwasalon
Gaya Hidup

Aroma Kopi Pagi Anda, Tetap Hangat Sempurna Hingga Siang

06/12/2025
vespa 2026_cr_tn1
Otomotif

Bukan Sekadar Skuter: Panduan Memilih Vespa Impian Anda di Tahun 2026

23/11/2025
tips-keselamatan
Alam dan Lingkungan Hidup

Tips Keselamatan Saat Gempa Bumi

23/12/2023

Gempa bumi tidak seperti kejadian alam lainnya yang masih bisa diprediksi jauh-jauh hari dengan lebih akurat.

Read moreDetails
  • beranda
  • kontak
  • layanan
  • beriklan
  • privasi
  • perihal

©2021 wartakita media

  • Login
No Result
View All Result
  • 🏚️
  • ALAM
  • WARTA
    • PEMBELAJARAN
    • HUKUM
    • NUSANTARA
    • OLAHRAGA
    • TEKNOLOGI
    • KULINER
    • OTOMOTIF
    • SEPAK BOLA
    • #CEKFAKTA
  • GAYA
  • MAKASSAR
  • TEKNOLOGI
  • KONTAK
    • Mari Bermitra
    • Tentang Wartakita
    • Tim Redaksi
    • Kebijakan Privasi
    • TRAKTIR KOPI

©2021 wartakita media

wartakita.id menggunakan cookies tanpa mengorbankan privasi pengunjung.