Sembilan warga negara Indonesia (WNI) yang sempat ditahan oleh militer Israel dijadwalkan akan tiba di Tanah Air pada Minggu, 24 Mei 2026. Kepulangan mereka menandai akhir dari penahanan yang terjadi saat menjalankan misi kemanusiaan di kawasan Timur Tengah.
- Sembilan WNI akan tiba di Bandara Soekarno-Hatta, Tangerang, Banten pada Minggu sore.
- Mereka merupakan bagian dari misi kemanusiaan Global Sumud Flotilla (GSF) 2.0 menuju Jalur Gaza.
- Penahanan berlangsung pada Senin-Selasa (18-19/5/2026) waktu setempat, diikuti pembebasan pada Kamis (21/5/2026).
- Pemerintah Indonesia, melalui Kementerian Luar Negeri, mengonfirmasi pembebasan dan proses pemulangan.
- Para WNI sempat transit di Istanbul, Turki sebelum melanjutkan perjalanan ke Indonesia.
Proses Pemulangan Sembilan WNI yang Ditahan Israel
Setelah melewati proses penahanan oleh militer Israel, sembilan warga negara Indonesia (WNI) dipastikan akan tiba di Indonesia pada Minggu, 24 Mei 2026. Rencananya, seluruh WNI tersebut akan mendarat di Bandara Soekarno-Hatta, Tangerang, Banten pada Minggu sore, setelah menempuh perjalanan pemulangan dari kawasan Timur Tengah.
Kesembilan WNI yang terdiri dari para aktivis dan jurnalis ini, sebelumnya sempat ditahan oleh militer Israel. Penahanan tersebut terjadi ketika mereka tengah menjalankan misi kemanusiaan dalam rangka Global Sumud Flotilla (GSF) 2.0 yang bertujuan menuju Jalur Gaza. Peristiwa penangkapan berlangsung pada Senin hingga Selasa (18-19 Mei 2026) waktu setempat.
Beberapa hari berselang, tepatnya pada Kamis (21 Mei 2026), mereka berhasil dibebaskan. Pemerintah Indonesia, melalui Kementerian Luar Negeri (Kemlu RI), telah mengonfirmasi kabar pembebasan kesembilan WNI tersebut dan menyatakan bahwa mereka masih dalam proses pemulangan.
Setelah berhasil keluar dari wilayah Israel, para WNI ini dilaporkan menuju Istanbul, Turki. Dari sana, mereka akan melanjutkan perjalanan udara menuju Indonesia. Juru Bicara I Kementerian Luar Negeri Republik Indonesia (Kemlu RI), Yvonne Mewengkang, menginformasikan bahwa para WNI dijadwalkan terbang dari Istanbul, Turki.
“Para WNI dijadwalkan tiba hari Minggu sore,” ujar Yvonne pada Jumat (22 Mei 2026). Konfirmasi senada juga disampaikan oleh Juru Bicara II Kemlu RI, Vahd Nabyl Mulachela, yang menyatakan, “Sembilan WNI akan tiba pukul 15.30 WIB,” kepada Kompas.com pada Sabtu (23 Mei 2026).
Pemerintah Indonesia Mengawal Penuh Pemulangan WNI
Kementerian Luar Negeri RI menegaskan komitmennya untuk terus mengawal proses pemulangan kesembilan WNI hingga mereka tiba dengan selamat di tanah air. Menteri Luar Negeri RI, Sugiono, dalam konferensi pers pada Kamis malam, menyatakan, “Pemerintah Indonesia akan terus mengawal proses pemulangan ini hingga seluruh WNI tiba kembali ke Tanah Air dengan selamat.”
Atas insiden penangkapan yang dialami oleh para WNI tersebut, pemerintah Indonesia secara tegas mengecam perlakuan Israel terhadap para relawan selama masa penahanan. Kemlu RI, melalui Direktorat Perlindungan WNI, telah mengoptimalkan seluruh kanal diplomatik yang tersedia. Upaya ini mencakup koordinasi melalui KBRI Ankara, KBRI Kairo, KBRI Roma, KBRI Amman, dan KJRI Istanbul, serta menjaga komunikasi aktif dengan otoritas dan mitra internasional demi memastikan keselamatan dan percepatan pembebasan seluruh warga negara Indonesia.
Dalam konteks penangkapan ini, sembilan WNI yang merupakan bagian dari Global Sumud Flotilla (GSF) 2.0 telah tiba di Istanbul, Turki. Mereka ditangkap oleh militer Israel di perairan Siprus, Mediterania Timur, pada Senin (18 Mei 2026). Kedatangan mereka di Istanbul disambut langsung oleh Kepala Perwakilan Konsulat Jenderal Republik Indonesia (KJRI) Istanbul, Darianto Harsono.
DPR Minta Pendampingan Psikologis untuk Para WNI
Menanggapi kejadian yang menimpa sembilan WNI tersebut, anggota Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) RI meminta pemerintah untuk memberikan pendampingan psikologis yang komprehensif. Wakil Ketua Komisi I DPR RI, Dave Laksono, menilai bahwa pengalaman penangkapan dalam misi kemanusiaan tentu akan meninggalkan tekanan fisik dan psikologis yang tidak ringan bagi para WNI.
Oleh karena itu, Komisi I DPR RI mendorong pemerintah tidak hanya memastikan kepulangan mereka dengan aman, tetapi juga memberikan pendampingan psikologis yang memadai. “Pendampingan ini mencakup dukungan emosional, konseling profesional, serta pemulihan sosial agar para WNI dapat mengatasi trauma, memulihkan rasa aman, dan kembali menjalani kehidupan dengan penuh kepercayaan diri,” ucap Dave saat dihubungi pada Sabtu (23 Mei 2026).
Sebagai informasi tambahan, penangkapan terhadap aktivis dan jurnalis Indonesia ini terjadi saat kapal Global Sumud Flotilla berupaya menembus blokade Israel untuk menyalurkan bantuan kemanusiaan kepada warga Gaza. Namun, perahu-perahu mereka dibajak oleh militer Israel ketika sedang berlayar di perairan internasional dekat Siprus, berjarak sekitar 250 mil laut dari lepas pantai Gaza.
Saat kejadian, terdapat sembilan aktivis dan jurnalis yang ditangkap oleh Israel dari kapal-kapal Global Sumud Flotilla. Termasuk di antaranya adalah Andi Angga, delegasi dari Global Peace Convoy Indonesia (GPCI) bersama Rumah Zakat.
Berikut adalah daftar nama sembilan WNI yang ditangkap Israel:
- Andi Angga Prasadewa di Kapal Josef
- Rahendro Herubowo di Kapal Ozgurluk
- Andre Prasetyo Nugroho di Kapal Ozgurluk
- Thoudy Badai di Kapal Ozgurluk
- Bambang Noroyono (Abeng) di Kapal BoraLize
- Herman Budianto Sudarsono di Kapal Zapyro
- Ronggo Wirasanu di Kapal Zapyro
- Asad Aras Muhammad di Kapal Kasr-1
- Hendro Prasetyo di Kapal Kasr-1























