Universitas Hasanuddin (Unhas) mengambil langkah strategis dengan menggandeng institusi terkemuka dari Tiongkok, Shanghai Ocean University dan Guangdong Ocean University, guna memajukan teknologi kelautan berkelanjutan. Kolaborasi lintas negara ini diresmikan melalui forum internasional yang didedikasikan untuk peningkatan kapasitas sumber daya manusia dan inovasi.
- Kemitraan Unhas dengan universitas Tiongkok fokus pada pengembangan teknologi kelautan berkelanjutan.
- Forum internasional menjadi wadah pertukaran pengetahuan dan pengalaman antara akademisi, peneliti, dan profesional.
- Teknologi marine ranching menjadi fokus utama untuk pengelolaan sumber daya laut yang berkelanjutan dan mitigasi perubahan iklim.
- Kolaborasi ini membuka peluang pengembangan riset bersama dan penguatan kompetensi mahasiswa Unhas.
Perkuat Teknologi Kelautan Berkelanjutan Lewat Forum Internasional
Kemitraan strategis antara Universitas Hasanuddin (Unhas) dan dua institusi unggulan dari Tiongkok, yakni Shanghai Ocean University dan Guangdong Ocean University, telah dibuka secara resmi. Kolaborasi ini bertujuan untuk meningkatkan kapasitas dan inovasi dalam pengembangan teknologi kelautan berkelanjutan. Wujud nyata dari kerja sama ini adalah penyelenggaraan forum internasional yang mengusung tema “Talent Cultivation and Technical Personnel Training Course: China-Indonesia Marine Ranching Technology”.
Forum ini dirancang untuk menjadi platform kolaboratif yang efektif, menyatukan para akademisi, peneliti, mahasiswa, dan praktisi profesional dari Indonesia dan Tiongkok. Tujuannya jelas: mendorong pertukaran gagasan segar, meningkatkan kualitas sumber daya manusia yang bergerak di sektor kelautan, serta merumuskan solusi-solusi inovatif untuk pengelolaan ekosistem laut yang lebih lestari.
Pengalaman Langsung Teknologi Marine Ranching Menjadi Kunci
Menurut Prof. Mukti Zainuddin, Wakil Dekan Bidang Kemitraan, Riset, Inovasi dan Alumni Fakultas Ilmu Kelautan dan Perikanan (FIKP) Unhas, forum ini menawarkan kesempatan unik bagi para peserta untuk mendapatkan pengalaman langsung mengenai penerapan teknologi marine ranching. Beliau menekankan krusialnya teknologi ini dalam mendukung komunitas global dalam upaya pengelolaan sumber daya laut yang berkelanjutan, sekaligus melindungi ekosistem dari ancaman perubahan iklim yang semakin nyata.
“Melalui kegiatan ini kita mendapatkan pengalaman langsung mengenai teknologi marine ranching yang dapat mendukung komunitas global dalam pengelolaan sumber daya laut secara berkelanjutan,” ujar Prof. Mukti. Ia menambahkan, “Kita dapat membangun sistem pengelolaan laut yang lebih baik. Teknologi ranching merupakan salah satu pendekatan untuk menjaga keberlanjutan sumber daya laut, sekaligus melindungi ekosistem dari dampak perubahan iklim.”
Pandangan senada diungkapkan oleh Prof. Weijie Ni, Vice President Shanghai Ocean University. Beliau mengapresiasi forum ini sebagai arena vital untuk pertukaran ilmu pengetahuan dan praktik terbaik. Lebih lanjut, Prof. Weijie Ni melihat adanya potensi besar untuk pengembangan riset kolaboratif dan pemanfaatan teknologi kelautan yang mampu memberikan manfaat signifikan bagi pengelolaan sumber daya laut global.
“Shanghai Ocean University merasa sangat senang dapat bekerja sama dengan Unhas. Kami berharap dapat memberikan pengalaman terbaik, memperluas pertukaran pengetahuan, serta bersama-sama membangun inovasi teknologi kelautan yang bermanfaat bagi masyarakat global,” jelas Prof. Weijie Ni.
Dampak Nyata bagi Pengembangan Mahasiswa dan Jaringan Internasional
Ansariadi, Direktur Kemitraan Unhas, menyoroti arti penting forum ini dalam mendongkrak kompetensi mahasiswa dan seluruh sivitas akademika Unhas. Program ini secara spesifik melibatkan mahasiswa dari berbagai jenjang pendidikan, memberikan mereka kesempatan emas untuk terlibat langsung dalam diskusi dan pembelajaran teknologi kelautan terkini.
“Kami sangat senang mahasiswa dapat bergabung dalam kegiatan ini. Banyak hal yang dapat diperoleh, terutama pengetahuan dan pengalaman terkait teknologi kelautan. Materi yang diberikan para ahli dari China diharapkan mampu memberikan manfaat nyata bagi pengembangan kompetensi mahasiswa,” ungkap Ansariadi.
Lebih jauh, Ansariadi menyuarakan harapannya agar forum ini dapat menjadi jembatan bagi mahasiswa Unhas untuk menimba pengalaman internasional yang lebih luas. Selain itu, ia juga berharap terbukanya berbagai peluang untuk studi lanjut dan terbangunnya jaringan akademik yang kokoh dengan institusi-institusi mitra di Tiongkok.
Kontributor: M. Ridham
Penyunting: RR. Nur
Add wartakita.id as a preferred source on Google























