Belakangan baru tahu kalau almarhum Buya Kamba kampungnya di Minang, jauh setelah merasa akrab dengan tauziah dan esai-esai mendiang di internet. Baik dari saluran video resmi Maiyah, atau tulisannya di caknun.com keduanya memiliki ciri yang sama, terlihat sebesar kelereng sebelum dinikmati.
Namun, setelah terhidang luasnya menyelimuti cakrawala pembaca dan pendengarnya. Butuh semalaman sebelum mulai menulis ucapan selamat jalan ini yang semoga makin melapangkan sudut pandang, seperti keinginan mendiang lewat karya-karyanya.
Mendiang yang setia berdua Cak Nun membangun kesadaran umat muslim di Indonesia lewat Maiyahan, yang sebenarnya, Maiyah adalah ikhtiar membangun kesadaran umat manusia di tengah serbuan berlapis-lapis ketidaksadaran. Menjaga ruang pertemuan bagi mereka yang berkesadaran sama. Pertama kali menyadari, akhirnya, kami ternyata tengah berbincang dalam ruang kesadaran yang tidak mampu disusupi ketidaksadaran dengan beraneka kepentingan, ketika membaca esainya yang begitu ringkas.
“Jika kita mengenali peran diri, maka akan merestui pilihan-pilihan hidup kita. Mungkin kita bersungguh-sungguh memainkan peran hidup yang kita pilih karena memenuhi hasrat dan keinginan kita. Tapi sungguh mengecewakan jika kemudian pilihan hidup tidak memenuhi hasrat dan tidak sesuai dengan keinginan. Nah, apakah sesungguhnya peran yang menentukan pilihan atau pilihan yang menentukan peran? Kalau peran yang menentukan pilihan, maka takdir menentukan nasib. Jika pilihan yang menentukan peran, maka nasib menentukan takdir.”
Tulisan mendiang dimuat pada tanggal 31 Januari 2020 di caknun.com, hampir bersamaan selesainya satu adegan dialog dalam tulisan semi fiksi. Berpesan sama dengan esai mendiang Buya Kamba, tetapi kami belum mampu tanpa berpanjang lebar.
“Coba Bapak ikut pemilihan Walikota mengusung slogan kampanye Makassarku Tangkasa’, saya anak pejabat sekarang.” Seloroh Baso.
Sebelum pensiun, bapaknya berulang kali ditawari posisi basah. Kepala dinas, dirjen, sampai wakil rakyat di daerah dan pusat. Semua ia tolak.
“Mendiang ibumu tidak setuju. Kenapa bukan kau saja? Terlalu lama sesepuh bangsa seperti Bapak merasa paling tahu dan berhak atas masa depan bangsa, yang belum tentu sempat kami alami, yang sebenarnya hak dan kewajiban kalian para pemuda.”
“Banyak cara membangun kota, negeri ini hingga peradaban dunia. Jabatan wali kota, gubernur, presiden, dan lain-lain hanya sebagian kecil posisi dan fungsi, dari banyak struktur dengan fungsi serupa walau tanpa panggung, sorot lampu, kamera, dan tanpa bandar sponsor. Setelah biaya super besar yang dibutuhkan untuk berdiri di atas panggung politik, selanjutnya ada ongkos mengurusi panggung politik. Biaya bukan hanya uang, termasuk nyawa orang, hajat hidup dan kesejahteraan orang banyak, belum intrik dan drama politik yang tidak ada saat sepakat membuat struktur politik, demi kesejahteraan rakyat. Mereka yang memandang kekuasaan politik syarat menyejahterakan rakyat akan menjadikan kekuasaan sebagai cita-cita dan tujuan. Mereka yang benar-benar ingin membuat perubahan ke arah lebih baik tidak akan mensyaratkan posisi dan jabatan tertentu sebelum berbuat, karena mencita-citakan keadaan bukan jabatan. Kalaupun akhirnya menjabat, dipandang pelengkap menuntaskan cita-cita dan harapan.
Dulu mendiang Ibu tidak setuju saya masuk fakultas hukum. Bercita-cita menjadi praktisi hukum. Kata ibu, dari hakim, jaksa, pengacara, notaris, sampai polisi semua mulia, tetapi menjadikan profesi sebagai cita-cita, sama saja membatasi medan perjuangan menegakkan keadilan. Menurut Ibu, seharusnya cita-citaku menegakkan keadilan agar bisa lewat semua profesi. Begitu juga menjadi wali kota, gubernur, menteri, wakil rakyat sampai presiden seharusnya bukan cita-cita. Manfaat dari fungsi profesi dan jabatan tersebut yang seharusnya menjadi cita-cita.”
“Kekasihku merumitkan sesuatu untuk menyederhanakan. Perspektif ibumu kalau dipakai umat beragama memandang cita-cita dan tujuan memeluk agama masing-masing, alangkah damai dunia. Beragama karena ingin mengenal kebenaran bukan karena ingin dibenarkan. Orang tidak lagi mengedepankan agama masing-masing sebagai yang terbenar, karena akhirnya hanya Tuhan yang tahu setelah mati, tanpa kehilangan akidah masing-masing. Semua sibuk membagikan tanpa syarat kebaikan dan manfaat yang ia cita-citakan dengan agamanya, dan karena semua agama kepingin umatnya masuk surga, maka umat beragama berlomba-lomba membuat surga di bumi.”
Bapaknya yang menanggapi dari perspektif lebih luas pandangan mendiang istrinya, membuat Baso tersadar, betapa sepi malam-malamnya kini tanpa kawan yang saling memahami perasaan dan pikiran.
***
“Izinkan aku mati setelah mengenal-Mu Tuhan, bisiknya dalam doa. Dan sejak mengenal Tuhan, ia tak pernah mati.” – Jalaluddin Rumi.
Sabtu pagi (20/6), jenazah Syeikh Nursamad Kamba disemayamkan di rumah duka, di Kampung Dukuh, Kramat Jati, Jakarta Timur. Jemaah Maiyah dilaporkan berdatangan takziyah di rumah duka, membacakan tahlil, doa dan surat yasin di samping jenazah. Jenazah dimakamkan Sabtu sore di TPU Kampung Rambutan.
Sebagai informasi, Nursamad Kamba telah menulis sejumlah buku terutama di bidang, Tasawuf. Buku pertamanya adalah terjemahan Indonesia-Arab berjudul ‘Fatawa Majlis Al-Ulama Indunisi yang diterbitkan oleh CENSIS pada 1996.
Dia juga sempat berkolaborasi dengan Sujiwo Tejo untuk menyelesaikan bukunya yang berjudul Tuhan Maha Asyik 2.
Mengutip hadits riwayat Muslim no.2392, Dari Abu Hurairah, dia berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Dunia adalah penjara bagi orang beriman dan surga bagi orang kafir.”
Kini Buya telah dimerdekakan Tuhan dari penjara duniawi, berpulang menuju yang Sejati. Selamat jalan syekh, berbahagialah di sisi Kekasihmu.