Kamis, 23 April 2026
  • beranda
  • kontak
  • layanan
  • beriklan
  • privasi
  • perihal
WartakitaID
  • 🏠
  • ALAM
  • WARTA
    • PEMBELAJARAN
    • HUKUM
    • NUSANTARA
    • OLAHRAGA
    • TEKNOLOGI
    • KULINER
    • OTOMOTIF
    • SEPAK BOLA
    • #CEKFAKTA
  • GAYA
  • MAKASSAR
  • TEKNOLOGI
  • KONTAK
    • Mari Bermitra
    • Tentang Wartakita
    • Tim Redaksi
    • Kebijakan Privasi
    • TRAKTIR KOPI
No Result
View All Result
WartakitaID
  • 🏠
  • ALAM
  • WARTA
    • PEMBELAJARAN
    • HUKUM
    • NUSANTARA
    • OLAHRAGA
    • TEKNOLOGI
    • KULINER
    • OTOMOTIF
    • SEPAK BOLA
    • #CEKFAKTA
  • GAYA
  • MAKASSAR
  • TEKNOLOGI
  • KONTAK
    • Mari Bermitra
    • Tentang Wartakita
    • Tim Redaksi
    • Kebijakan Privasi
    • TRAKTIR KOPI
No Result
View All Result
WartakitaID
No Result
View All Result
Home Arsip 2015-2018

Menjunjung dan Memikul

Uluada terdiri dari dua kata, "Ulu" yang berarti utama, kepala, adiluhung, "Ada" atau ade' berarti kata, yang pernah diikrarkan atau dikatakan.

by A. Burhany
01/03/2017
in Arsip 2015-2018, Opini
Reading Time: 7 mins read
A A
Menjunjung dan Memikul - Arsip

Gulungan serat daun lontar dengan aksara Lontara khas suku Bugis-Makassar

Kemarin menemukan buku langka. Fotokopian tulisan yang diketik dengan mesin ketik konvensional. Nama penulisnya A.A. Punagi, diterbitkan (diperbanyak dengan mesin fotokopi tepatnya) oleh Yayasan Kebudayaan Sulawesi Selatan di tahun 1983.

Dua buku karya penulis terdaftar di katalog perpustakaan nasional Australia. Buku langka karena sulit menemukan orang yang mau berbaik hati menerjemahkan huruf lontar dari serat lontar arsip kerajaan Gowa, Bone dan kerajaan lain di Sulawesi Selatan ke huruf latin, lengkap dengan terjemahan dan tafsiran oleh penulisnya.

Sampai artikel ini ditulis, telah membaca ulang buku tersebut hingga dua kali dan masih memberikan kesan yang sama, sejarah memang berulang. Pesan-pesan dalam Uluade atau Ulukanayya masih aktual di masa sekarang, utamanya tentang pemimpin dan rakyat dalam sebuah bangsa dan kerajaan.

Tentang Pemimpin
Bukunya di beri judul “Uluada”. Uluada terdiri dari dua kata, “Ulu” yang berarti utama, kepala, adiluhung, “Ada” atau ade’ berarti kata, yang pernah diikrarkan atau dikatakan. “Uluada” dalam bahasa Makassar disebut “Ulukanayya” makna dan artinya sama dengan Uluada dalam bahasa Bugis atau Bone.

Uluada umumnya tidak dituliskan, orang-orang terdahulu benar-benar meletakkan kehormatan diri, keluarga dan kaumnya pada lisan. Setiap ucapan yang dianggap sebagai “Uluada” kalaupun dicatat dalam lontar, bukan sebagai bukti yang berkekuatan hukum seperti di jaman sekarang, melainkan sekedar arsip oleh pihak-pihak yang mengikrarkan “Uluada”.

Uluada yang telah diikrarkan otomatis menjadi aturan dan hukum yang mengikat, untuk ikatan yang sifatnya penting, seperti perjanjian damai antara kerajaan Bone dan Gowa diikuti dengan sumpah siap menanggung sanksi berat bila melanggar kesepakatan ikrar Uluada.

Ulukanayya atau Uluada yang terkenal antara kerajaan Bone dan kerajaan Gowa, adalah “ULUKANAYA (ULUADE) RI TAMALATE”, antara raja Gowa yang bergelar “TUMAPARISI KALLONNA” Raja Gowa ke IX (arti gelarnya: raja yang lehernya sakit) dengan “LA ULIYO BOTE’E”, Raja Bone ke VI. Ulukana ini diikrarkan sekitar abad XVI, sesuai dengan masa bertakhta La Uliyo Bote’E  (1543 – 1568 Masehi).

Isi Uluade-nya sungguh mulia, jauh dari bayangan kelak Aru Palakka dan Sultan Hasanuddin bisa berseteru diadu kolonial Belanda. Dalam bahasa Bugis sebagai berikut: “Narekka engka perikna Bone, Maddaungngi tasie naola Mangkase, Narekko engka perikna Gowa, makkumpellek buleu naola to Bone.”

Artinya oleh A.A. Punagi: “Sekiranya orang Bone mengalami kesukaran maka membentang luaslah lautan itu diarungi orang Makassar menuju Bone untuk membantu, dan sekiranya orang Makassar mengalami kesukaran, maka ratalah gunung-gunung dilalui orang Bone menuju Makassar untuk membantu.”

Ulukanayya Ri Tamalate terdiri dari empat butir, butir terakhir ditutup dengan sanksi yang akan diterima oleh kedua kerajaan dan keturunannya jika melanggar perjanjian perdamaian yang telah disepakati, dalam bahasa Bugis ditulis: “Nigi-nigi temmarengngerang ri ada torioloe, mareppai urikku kurinna, lowak-lowakna. Padai itello ri addampessangnge ri batue tanana.”

“Barangsiapa yang tidak mengindahkan akan perkataan (ikrar, uluade, ulukana) orang-orang terdahulu, maka pecah berantakanlah periuk-belanganya, negerinya mengalami kehancuran bagaikan sebutir telur yang dihempaskan ke atas batu.”

Uluade di atas gambaran bagaimana raja-raja terdahulu membangun tata negara, sistem pemerintahan dan sistem kemasyarakatan hanya dengan lisan atau ucapan yang menjadi undang-undang, pemimpin menjaga lurusnya niat sejak dari dalam hati, hingga terucap dan menjadi laku. Ucapan raja menjadi hukum tak tertulis  juga dikenal di kesultanan Yogyakarta dan kerajaan Inggris Raya.

Monarkis di kerajaan Bone dan Gowa berdasarkan permusyawaratan, tidak murni turun dari bapak ke anak, dan tidak membuka kesempatan seluas yang diberikan oleh sistem demokrasi, yang memungkinkan semua orang yang memiliki hak dipilih untuk diamanahi tanggung jawab memimpin.

Keturunan bangsawan tidak serta merta mewarisi tahta, masih ada para patih dan arif yang mewakili rakyat akan menentukan siapa dari keturunan dan kerabat sang raja yang akan diangkat menjadi raja berikutnya, berdasarkan kompetensi atau kecakapan.

Sistem demokrasi bukan sistem yang buruk, seandainya terpisah antara tugas kepemimpinan dan tugas kepemerintahan atau administratur. Kekuatan modal yang mau diakui atau tidak, telah menjadi faktor penentu kemenangan dalam pesta demokrasi, memungkinkan pemilik modal menaruh pion yang akan mewakili kepentingannya dalam sebuah sistem kenegaraan atau kekuasaan.

Namun bila terpisah antara tugas memimpin dan tugas administratur, kendali pemerintahan masih bisa diharapkan berpihak pada pemilik suara atau rakyat, bukan pada pemilik modal, minimal berimbang dengan adanya pemimpin negara di samping pemimpin pemerintahan.

Sementara dalam sistem kerajaan kekuatan modal tak serta merta mampu membeli keterpihakan kebijakan istana hanya dengan mengirim upeti kepada seorang raja, selain kekuatan modal terbesar biasanya juga milik istana, bukan pihak luar.

Tergabungnya amanah dan tanggung jawab antara pemimpin negara dan pemimpin pemerintahan bukan mustahil mampu dilakukan oleh seseorang yang terpilih melalui sistem demokrasi. Walau dari yang sudah-sudah, masih terjadi tumpang tindih menjalankan dua amanah sekaligus dan dibuat sibuk oleh pemilik modal yang ikut berperan dalam kemenangannya saat pemilihan, mengabaikan pemberi amanah sesungguhnya, para rakyat.

BACA JUGA:

Belajar dari Venezuela: Jangan Sampai Jari Kelingking Kita Jadi Pemicu Kebangkrutan Negara

Qurban dan Keberanian Melepaskan yang Kita Cintai

Perayaan Hari Pers Nasional 2024: Menjelajahi Era Baru Pers, Pewarta Warga dan Kecerdasan Buatan

Ketika Udara Bersih Harus Diperjuangkan

Belikan Anak-Anak Komputer, Informatika Nanti Jadi Kebutuhan Manusia Keempat

Bila terpisah antara pemimpin negara dan pemimpin pemerintahan, keriuhan opera sabun dan intrik kekuatan-kekuatan politik tidak akan mengganggu program dan sistem pemerintahan yang dibentuk dari, demi dan untuk rakyat.

Kalaupun tetap menjadi satu kepemimpinan dan sistem, maka sebaiknya para politikus mulai menyadari diri, penjahatnya bukanlah mereka yang berbeda partai, ideologi atau agama yang masih bangsa sendiri, tetapi diri mereka sendiri yang ‘mau’ mengambil tanggung jawan mewujudkan keadilan dan kesejahteraan untuk masyarakat dan rakyat banyak, yang masih jauh untuk bisa disebut tercapai.

Mengartikan kembali melawan bangsa sendiri bukan melawan orangnya, tapi melawan dengan membuka ruang dialog terhadap sudut pandang, cita-cita, dan ideologi, bagaimana mencapai tujuan bersama. Melawan bangsa sendiri seperti melawan keburukan diri sendiri. Memperbaiki kebiasaan buruk tidak harus sampai memotong anggota tubuh sendiri. Berarti bersama-sama menyingkirkan penghalang dan mengobati penyakit yang membuat bangsa ini terus terpuruk.

Tentang Rakyat
Enaknya menjadi rakyat atau raja sesungguhnya, rakyat tidak pernah salah. Bila sebuah negeri sengsara, rakyat tidak akan disalahkan, mesti kesalahan para pemimpin atau rajanya, padahal para pemimpin adalah gambaran rakyat mereka yang pimpin.

Tidak demikian yang tertulis dalam Uluade, dimana rakyat dan pemimpin di masa lalu saling bergantian menjadi cahaya dan bayangan. Rakyat dan pemimpin tidak ada yang manja dan dimanjakan, tidak ada yang sambat dan berpangku tangan.

Kondisi tersebut tergambar dari Ulukana antara ‘Tomanurung’ atau yang diyakini mengemban amanah dari langit untuk menjadi raja dengan Kasuwiyang Salapanga (patih yang berjumlah sembilan orang) yang mewakili rakyat jelata, saat menemui Tomanurung untuk membawa hasil mufakat mereka, siapa yang akan diangkat menjadi raja.

“Bertahtalah engkau, dan kami para patih beserta rakyat tunduk dan patuh. Kalau kami menjunjung maka kami tidak memikul; kalau kami memikul maka kami tidak menjunjung.”

Penulis A.A. Punagi menafsirkan ikrar tersebut sebagai tuntutan para patih yang mewakili rakyat, agar tomanurung yang telah diangkat menjadi raja, harus berlaku adil.

Ada nuansa lebih luas yang terbawa dengan kondisi aktual saat ini pada dua kata kerja yang digunakan oleh sembilan patih yang saling menjadi syarat, “menjunjung” dan “memikul” saat mereka berikrar mewakili rakyat.

Sesuatu yang dijunjung tinggi, pastilah sesuatu yang dipuja. Sedangkan sesuatu yang dipikul, mesti sesuatu yang berat atau membebani.

Kondisi kontras tergambar pada dua keadaan tersebut. Ketika rakyat menjunjung tentu masalah kesejahteraan telah selesai diatur oleh sang raja, namun saat rakyat memikul, ada masalah dengan keadilan dan kesejahteraan yang dikelola oleh sang raja dan mereka siap membantu.

Menggelitik pikiran, mengapa patih yang sembilan tidak menggunakan kalimat: “Bila kami tidak menjunjung, maka kami akan mengeritik, memaki dan merundung (bully).”

Rakyat di masa lalu jauh lebih arif menghadapi permasalahan bangsanya. Mereka memilih memikul menyelesaikan beban bersama agar mampu menjunjung raja dan bangsa mereka dengan kesejahteraan, keadilan, dan kejayaan, ketimbang menjadi oportunistis dan pragmatis di daerah abu-abu antara “menjunjung” dan “memikul”. Kondisi yang jamak saat ini.

Terkagum bagaimana ‘chemistry’ dan semangat para raja dan rakyat di masa lalu bisa menyatu sedemikian kuat hanya dengan Uluade atau Ulukana, dengan saling mempercayai lisan.

Jauh sebelum proklamator Soekarno menyebut perjuangan penerusnya lebih berat karena harus melawan bangsa sendiri, mereka telah selesai memaknai melawan bangsa sendiri bukan person, bukan pembawa pesan, tapi menyelesaikan masalah dalam tubuh diri, golongan, partai, dan bangsa sendiri.

Tags: OpiniTepekur
Share25Tweet16Send
Diskon Referral 20% Cloud Professional Hostinger Diskon Referral 20% Cloud Professional Hostinger Diskon Referral 20% Cloud Professional Hostinger

ARTIKEL TERKAIT

Menjunjung dan Memikul - Featured

Selamat Jalan, Pak Umar

23/03/2026
Menjunjung dan Memikul - Featured

Penutup Esai Ramadan #30: Satu Hal Saja

19/03/2026
Menjunjung dan Memikul - Featured

Esai Ramadan #29: Menuai Hujan dan Residu yang Tersisa

18/03/2026
Menjunjung dan Memikul - Featured

Esai Ramadan #28: Azan dan Kepulangan yang Sejati

17/03/2026
Menjunjung dan Memikul - Featured

Esai Ramadan #27: Jelang Perpisahan dengan Tamu yang Memuliakan

16/03/2026
Menjunjung dan Memikul - Featured

Esai Ramadan #26: Zakat yang Melampaui Angka

14/03/2026
Menjunjung dan Memikul - Featured

Esai Ramadan #25: Pulang ke Fitrah dan Laundry Pakaian Jiwa

14/03/2026
Menjunjung dan Memikul - Featured

Esai Ramadan #24: Oase di Tengah Gurun dan Rahasia Rasa Cukup

13/03/2026

TERPOPULER-SEPEKAN

  • Menjunjung dan Memikul - Featured

    Kode CMD Untuk Mempercepat Kinerja Laptop

    584 shares
    Share 234 Tweet 146
  • Stadion Barombong Makassar: Miliar Rupiah Terbengkalai Akibat Lahan yang Tak Kunjung Tuntas

    18 shares
    Share 7 Tweet 5
  • Prediksi Bayern Munchen vs Atletico Madrid 4 Mei 2016

    33 shares
    Share 13 Tweet 8
  • Indonesia Diguncang Rangkaian Gempa M5+ dalam 48 Jam, BMKG Tegaskan Tak Berpotensi Tsunami

    16 shares
    Share 6 Tweet 4
  • PKL Makassar Diberdayakan: Akses Kredit Usaha Rakyat Jadi Kunci Penataan Ekonomi Baru

    16 shares
    Share 6 Tweet 4
  • Gempa 7,7 Magnitudo Guncang Jepang Timur Laut: Kronologi, Evakuasi Massal, dan Peringatan Tsunami

    16 shares
    Share 6 Tweet 4
  • Pete-pete Laut Makassar: Konektivitas Baru untuk Pulau, Beroperasi Mei-Juni 2026

    16 shares
    Share 6 Tweet 4
  • Taro Waterpark CitraLand Tallasa City: Sensasi Petualangan Air Terbaru untuk Keluarga Makassar

    16 shares
    Share 6 Tweet 4
  • Tes Keseimbangan Sederhana: Kunci Menjaga Kesehatan dan Memprediksi Umur Panjang

    16 shares
    Share 6 Tweet 4
  • 16 Model Rambut Pria yang Terbukti Disukai Wanita, Keren dan Stylish! (Update 2026)

    85 shares
    Share 34 Tweet 21
Menjunjung dan Memikul - Featured

Unduh Buku Saku “SIAGA BENCANA” dari BNPB

02/11/2023

Buku saku siaga bencana ini tidak menjamin keselamatan Anda. Namun, memberikan pedoman secara umum untuk kesiapsiagaan.

Read moreDetails

WARTAKITA

Menjunjung dan Memikul - Featured
Gaya Hidup

Aroma yang Tak Terlupakan: Rahasia Kepercayaan Diri Pria Modern

02/12/2025
Menjunjung dan Memikul - Featured
Gadget

Labirin Pilihan Smartphone Modern: Dari Fotografi Hingga Gaming

15/11/2025
img 1764471350 26f1c112a772ad44.jpg
Fashion & Kecantikan

Azzaro The Most Wanted: Parfum Pria yang Memikat dengan Aroma Melenakan

14/12/2025
Menjunjung dan Memikul - Featured
Fashion & Kecantikan

Ingin Rambut ‘Badai’ ala Jisoo Tapi Budget Terbatas? Ini 3 Alternatif Hair Styler Canggih Mulai 300 Ribuan!

29/11/2025
Menjunjung dan Memikul - Featured
Fashion & Kecantikan

Ingin Dihormati di Kantor? Ini 4 “Power Scent” Pria & Wanita yang Bikin Aura Anda Seperti CEO

29/11/2025
Menjunjung dan Memikul - Featured
Otomotif

Ancaman Mogok Akibat Aki Lemah di Musim Hujan: Kenapa Perawatan Mandiri Mobil LCGC Jadi Krusial?

16/11/2025
Menjunjung dan Memikul - Featured
Gaya Hidup

Ancaman Senyap di Meja Kerja: Hindari 5 Kebiasaan Buruk WFH Ini Demi Kesehatan Anda

21/11/2025
Menjunjung dan Memikul - Featured
Fashion & Kecantikan

Smoothing vs Rebonding vs Keratin: Mana yang Terbaik untuk Rambutmu?

16/11/2025
Menjunjung dan Memikul - Featured
Otomotif

Bukan Sekadar Skuter: Panduan Memilih Vespa Impian Anda di Tahun 2026

23/11/2025
Menjunjung dan Memikul - Featured
Fashion & Kecantikan

Kenapa Parfum Anda Tidak Meninggalkan Kesan? (Dan Cara Mengatasinya)

16/11/2025
Menjunjung dan Memikul - Featured
Gaya Hidup

Keseimbangan Hidup Optimal: Menjaga Kesehatan dari Dalam dan Luar

24/11/2025
Menjunjung dan Memikul - Featured
Fashion & Kecantikan

Bosan Jomblo atau Hubungan Terasa Hambar? Pikat dengan 4 Parfum “Date Night” Menggoda Ini

29/11/2025
Menjunjung dan Memikul - Featured
Alam dan Lingkungan Hidup

Tips Keselamatan Saat Gempa Bumi

23/12/2023

Gempa bumi tidak seperti kejadian alam lainnya yang masih bisa diprediksi jauh-jauh hari dengan lebih akurat.

Read moreDetails
  • beranda
  • kontak
  • layanan
  • beriklan
  • privasi
  • perihal

©2021 wartakita media

  • Login
No Result
View All Result
  • 🏠
  • ALAM
  • WARTA
    • PEMBELAJARAN
    • HUKUM
    • NUSANTARA
    • OLAHRAGA
    • TEKNOLOGI
    • KULINER
    • OTOMOTIF
    • SEPAK BOLA
    • #CEKFAKTA
  • GAYA
  • MAKASSAR
  • TEKNOLOGI
  • KONTAK
    • Mari Bermitra
    • Tentang Wartakita
    • Tim Redaksi
    • Kebijakan Privasi
    • TRAKTIR KOPI

©2021 wartakita media

wartakita.id menggunakan cookies tanpa mengorbankan privasi pengunjung.