Bank Dunia kembali membunyikan lonceng peringatan serius mengenai kondisi kelas menengah di Indonesia. Meskipun proyeksi pertumbuhan ekonomi nasional tetap stabil, tantangan fundamental terkait kualitas pekerjaan dan stagnasi pendapatan riil mengancam perluasan dan stabilitas kelompok demografis krusial ini.
- Bank Dunia menyoroti pelemahan kualitas lapangan kerja dan penurunan upah riil pekerja berkeahlian menengah hingga tinggi sebagai risiko domestik utama.
- Kondisi ini membatasi kemampuan rumah tangga untuk meningkatkan konsumsi dan menghambat mobilitas ekonomi menuju kelas menengah yang lebih kuat.
- Tren penurunan upah riil pekerja terampil secara signifikan telah mengurangi proporsi kelas menengah di Indonesia, sementara pekerja berkeahlian rendah mengalami kenaikan.
- Terbatasnya penciptaan lapangan kerja formal berkualitas mendorong lulusan berpendidikan tinggi beralih ke sektor informal dengan perlindungan dan potensi pendapatan lebih rendah.
Bank Dunia: ‘Alarm’ Ancaman Nyata bagi Kelas Menengah Indonesia
Laporan Indonesia Economic Prospects edisi Juni 2026 dari Bank Dunia menyajikan gambaran yang mengkhawatirkan bagi salah satu pilar ekonomi Indonesia, yaitu kelas menengah. Lembaga global ini menilai bahwa meskipun pertumbuhan ekonomi Indonesia diprediksi bertahan di kisaran 5% dalam beberapa tahun mendatang, kualitas pekerjaan yang tersedia dan perkembangan pendapatan riil masyarakat masih menjadi tantangan serius yang dapat menghambat perluasan serta penguatan kelompok kelas menengah.
Bank Dunia secara tegas menyatakan bahwa risiko domestik, jika tidak ditangani, berpotensi memperparah tekanan eksternal yang tengah dihadapi perekonomian Indonesia. Salah satu risiko paling signifikan yang menjadi perhatian adalah lemahnya kualitas lapangan kerja serta menurunnya upah riil yang dialami oleh pekerja dengan keahlian menengah hingga tinggi. Fenomena ini, menurut Bank Dunia, memiliki dampak langsung pada kemampuan rumah tangga untuk meningkatkan daya beli (konsumsi) dan pada akhirnya menghambat mobilitas ekonomi masyarakat untuk naik kelas menjadi kelompok menengah yang lebih mapan.
Kualitas pekerjaan yang lemah serta penurunan upah riil di kalangan pekerja berkeahlian menengah dan tinggi juga dapat membatasi konsumsi rumah tangga dan menghambat perluasan kelas menengah. Bank Dunia mengidentifikasi tren penurunan upah riil ini sebagai salah satu faktor utama yang mempercepat penyusutan proporsi kelas menengah di Indonesia.
Data Menunjukkan Penurunan Upah Riil Pekerja Terampil
Laporan tersebut menyajikan data yang mencengangkan. Selama periode 2018 hingga 2025, upah riil pekerja berkeahlian menengah tercatat mengalami penurunan sekitar 1% setiap tahunnya. Situasi lebih buruk dialami oleh pekerja berkeahlian tinggi, dengan penurunan upah riil mencapai sekitar 2% per tahun.
Penurunan yang signifikan pada kedua kelompok pekerja terampil ini secara agregat ikut menekan tren upah secara keseluruhan. Berdasarkan pertumbuhan tahunan gabungan (compound annual growth rate/CAGR) dari median upah riil, terjadi penurunan sekitar 0,5% per tahun. Situasi ini kontras dengan pekerja berkeahlian rendah, yang justru menunjukkan tren positif. Kelompok ini mencatat kenaikan upah rata-rata sekitar 1,7% per tahun. Perbedaan tren yang mencolok ini secara bertahap mengurangi proporsi pekerja yang dapat dikategorikan sebagai kelas menengah.
Dampak Nyata: Susutnya Porsi Kelas Menengah
Akibat tekanan dari penurunan upah riil pekerja terampil dan perbedaan pertumbuhan pendapatan yang timpang, porsi pekerja kelas menengah di Indonesia dilaporkan mengalami penyusutan drastis. Dari angka 14,5% pada tahun 2018, proporsi ini anjlok menjadi hanya 7,1% pada tahun 2025.
Lapangan Kerja Formal Berkualitas Terbatas, Lulusan Terserap ke Sektor Informal
Bank Dunia menggarisbawahi bahwa masalah utama di balik fenomena ini adalah terbatasnya penciptaan lapangan kerja formal yang berkualitas. Kondisi ini memaksa semakin banyak pekerja yang memiliki pendidikan tinggi, termasuk lulusan perguruan tinggi, untuk beralih ke sektor informal.
Data Bank Dunia menunjukkan pergeseran yang signifikan. Porsi lulusan perguruan tinggi yang bekerja di sektor formal bergaji mengalami penurunan dari 74,1% pada tahun 2018 menjadi 67,8% pada tahun 2025. Sementara itu, lulusan pendidikan menengah atas juga mengalami penurunan hampir 7 poin persentase dalam pekerjaan formal bergaji selama periode yang sama. Meskipun demikian, perlu dicatat bahwa sebagian lulusan perguruan tinggi masih mampu menyasar kelompok pekerjaan informal tingkat atas, dengan proporsi yang meningkat dari 6,7% pada 2018 menjadi 8,9% pada 2025. Namun, pekerja dengan tingkat pendidikan lebih rendah tidak memiliki alternatif serupa dan sebagian besar terpaksa terserap ke pekerjaan informal tingkat bawah.
Pembalikan Pola Pembangunan Kesejahteraan
Menurut Bank Dunia, fenomena ini menandakan sebuah pembalikan dari pola pembangunan yang selama ini berlaku. Secara umum, pendidikan yang lebih tinggi diharapkan dapat meningkatkan peluang memperoleh pekerjaan formal yang lebih baik dan pendapatan yang lebih tinggi. Namun, saat ini, lemahnya permintaan tenaga kerja dari dunia usaha menyebabkan banyak pekerja terdidik terpaksa menerima pekerjaan yang tidak sesuai dengan tingkat keterampilan yang mereka miliki.
Lebih jauh, Bank Dunia menilai bahwa meningkatnya penyerapan tenaga kerja terdidik ke sektor informal berpotensi menekan kesejahteraan jangka panjang. Pekerjaan informal umumnya menawarkan tingkat keamanan kerja yang lebih rendah, perlindungan sosial yang terbatas, serta peluang peningkatan pendapatan yang lebih kecil dibandingkan pekerjaan formal.
Pola ini sejalan dengan semakin tergerusnya upah kelas menengah dan stagnasi perekrutan tenaga kerja di sektor jasa bernilai tambah tinggi. Pernyataan ini menegaskan bahwa tren negatif yang terjadi pada kelas menengah dan sektor jasa bernilai tambah tinggi merupakan indikator kesehatan ekonomi yang perlu mendapat perhatian serius dari pemerintah dan pemangku kepentingan lainnya.























