Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) 2026 mencatat defisit Rp 240,1 triliun hingga akhir Maret, setara 0,93% terhadap Produk Domestik Bruto (PDB). Angka ini belum menyentuh ambang batas 1%.
APBN 2026 Alami Defisit Awal Tahun, Menteri Keuangan Tegaskan Masih Terkendali
- Defisit APBN 2026 per Maret 2026 mencapai Rp 240,1 triliun (0,93% PDB).
- Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menyatakan defisit masih dalam jalur terkendali dan sesuai desain APBN.
- Pertumbuhan ekonomi Kuartal I-2026 tercatat 5,61% YoY, melampaui kuartal sebelumnya dan di tengah ketidakpastian global.
- Realisasi pendapatan negara hingga Maret 2026 sebesar Rp 574,9 triliun (18,2% target), didominasi sektor perpajakan.
- Belanja negara mencapai Rp 815 triliun (21,2% pagu), lebih tinggi dari pendapatan negara.
Evaluasi Menteri Keuangan Terhadap Posisi Fiskal
Meskipun mengalami defisit pada awal tahun 2026, Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa memberikan pandangan optimis. Beliau menilai bahwa posisi fiskal Indonesia secara keseluruhan masih berada dalam koridor yang terkendali dan konsisten dengan kerangka APBN tahun berjalan. Purbaya Yudhi Sadewa dalam Konferensi Pers APBN Kita pada 5 Mei 2026, menyampaikan, “Hingga Maret 2026 APBN tumbuh ekspansif kalau dilihat, 2026 pendapatan negara tumbuh 10 persen angka April kepabeanan sudah positif. Surplus mencapai 240,1 defisit 0,93 persen dari PDB.”
Penegasan ini mengindikasikan bahwa kinerja APBN hingga triwulan pertama tahun 2026 dinilai tetap terjaga dan terukur, baik dari sisi mobilisasi pendapatan negara maupun alokasi belanja negara.
Pertumbuhan Ekonomi Kuartal I-2026 yang Menggembirakan
Selain memantau perkembangan APBN, Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa juga menyambut positif data pertumbuhan ekonomi yang dirilis oleh Badan Pusat Statistik (BPS) untuk Kuartal I-2026. Pertumbuhan ekonomi secara tahunan (Year on Year/YoY) tercatat sebesar 5,61 persen. Angka ini menunjukkan peningkatan yang signifikan dibandingkan dengan kuartal IV-2025 yang berada di angka 5,39 persen. Purbaya Yudhi Sadewa menyatakan rasa senangnya melihat capaian ini, terutama mengingat adanya gejolak ketidakpastian ekonomi global yang terus berlangsung.
Rincian Penerimaan dan Belanja Negara Hingga Akhir Maret 2026
Dalam catatan hingga akhir Maret 2026, realisasi pendapatan negara mencapai Rp 574,9 triliun. Angka ini setara dengan 18,2 persen dari total target yang ditetapkan dalam APBN. Kontributor utama penerimaan negara berasal dari sektor perpajakan, dengan total Rp 462,7 triliun atau 17,2 persen dari target. Lebih rinci lagi, penerimaan pajak non-minyak dan gas menyumbang Rp 394,8 triliun (16,7 persen dari target), sementara penerimaan dari kepabeanan dan cukai berhasil menghimpun dana sebesar Rp 67,9 triliun (20,2 persen dari target).
Di sisi lain, realisasi belanja negara tercatat lebih tinggi dibandingkan dengan total pendapatan negara yang masuk. Hingga akhir Maret 2026, belanja negara mencapai Rp 815 triliun, atau sekitar 21,2 persen dari pagu yang tersedia dalam APBN. Belanja ini terbagi menjadi belanja pemerintah pusat sebesar Rp 610,4 triliun (19,4 persen dari pagu) dan transfer ke daerah serta dana desa (TKDD) yang mencapai Rp 208,4 triliun (29,5 persen dari pagu).























