Perekonomian Sulawesi Selatan, khususnya wilayah Makassar dan sekitarnya, tengah menghadapi fenomena deflasi sebesar 0,18 persen pada awal Juli 2026. Angka ini tergolong signifikan dan memerlukan pemahaman mendalam mengenai akar penyebabnya.
Deflasi Awal Juli 2026: Melimpahnya Pasokan Komoditas Utama Jadi Pemicu
- Deflasi sebesar 0,18 persen (month to month) tercatat di Sulawesi Selatan pada awal Juli 2026.
- Penyebab utama adalah penurunan harga pada kelompok makanan, minuman, dan tembakau, didorong oleh melimpahnya panen sejumlah komoditas strategis.
- Meskipun deflasi bulanan, secara tahunan (year on year), Sulsel masih mencatatkan inflasi.
- Terdapat disparitas inflasi antar wilayah di Sulsel, dengan Luwu Timur mencatat inflasi tertinggi dan Palopo terendah.
Analisis Mendalam Penyebab Deflasi di Sulawesi Selatan
Menurut Ketua Tim Data Statistik BPS Sulsel, Prayitno, deflasi yang terjadi di provinsi ini sebagian besar disumbangkan oleh penurunan harga pada kelompok makanan, minuman, dan tembakau. Penurunan ini merupakan cerminan dari keberhasilan sektor pertanian dalam menghasilkan panen yang melimpah untuk berbagai komoditas penting.
Beberapa komoditas yang harganya terpantau mengalami penurunan antara lain:
- Tomat
- Cabai rawit
- Emas perhiasan (fenomena menarik yang patut dicermati sebagai indikator ekonomi non-staple)
- Bawang merah
- Daging ayam ras
- Telur ayam
- Cabai merah
- Jagung manis
- Cumi-cumi
- Kacang panjang
Prayitno menambahkan bahwa tren deflasi ini tidak hanya terjadi di Sulawesi Selatan, tetapi juga umum terjadi secara nasional pada periode yang sama. Namun, ia menekankan bahwa deflasi ini diimbangi oleh kenaikan harga pada 10 komoditas lain yang berperan sebagai penyeimbang. Komoditas-komoditas tersebut meliputi bensin, biaya akademi perguruan tinggi, beras, ikan layang, ikan teri, ikan cakalang, biaya taman kanak-kanak, sepeda motor, bawang putih, dan biaya sewa rumah.
Tren Tahunan dan Akumulasi Inflasi: Gambaran Ekonomi yang Lebih Luas
Berbeda dengan gambaran bulanan yang menunjukkan deflasi, tren deflasi di Sulsel ini tidak serta-merta berarti seluruh aspek ekonomi mengalami perlambatan. Secara tahunan (year on year/yoy) hingga Juli 2026, Sulawesi Selatan masih mencatatkan inflasi.
Hal ini didorong oleh kenaikan indeks harga pada hampir seluruh kelompok pengeluaran. Kelompok pengeluaran yang mengalami kenaikan tertinggi menunjukkan adanya pergeseran pola konsumsi dan biaya hidup di masyarakat, di antaranya:
- Perawatan pribadi dan jasa lainnya: Melonjak 9,78 persen.
- Penyediaan makanan dan minuman (restoran): Naik 3,42 persen.
- Transportasi: Mengalami peningkatan 3,15 persen.
Selain ketiga kelompok tersebut, kenaikan harga juga tercatat pada kelompok pendidikan (2,25 persen), makanan minuman dan tembakau (2,54 persen), perlengkapan rumah tangga (1,86 persen), informasi dan komunikasi (1,77 persen), rekreasi dan budaya (1,56 persen), kesehatan (1,33 persen), serta perumahan dan bahan bakar rumah tangga (1,21 persen).
Secara akumulasi tahun kalender (year to date/ytd) hingga Juli 2026, inflasi Sulawesi Selatan tercatat sebesar 2,36 persen. Angka ini memberikan gambaran yang lebih stabil mengenai perkembangan harga barang dan jasa secara keseluruhan dalam kurun waktu tersebut.
Disparitas Wilayah: Perbedaan Dinamika Harga di Antar Kabupaten/Kota
Data Badan Pusat Statistik juga menyoroti adanya disparitas harga antar wilayah di Sulawesi Selatan. Perbedaan ini mencerminkan dinamika ekonomi lokal yang unik di setiap daerah.
- Kabupaten Luwu Timur mencatat inflasi tertinggi sebesar 3,50 persen, dengan Indeks Harga Konsumen (IHK) 113,54.
- Sebaliknya, Kota Palopo menunjukkan tingkat inflasi terendah sebesar 1,48 persen, dengan IHK 110,40.
Perbedaan ini penting untuk dicermati oleh pemerintah daerah dan pemangku kepentingan lainnya dalam merumuskan kebijakan ekonomi yang tepat sasaran dan sesuai dengan kondisi spesifik di masing-masing wilayah.
Kontributor: MA. Untung
Penyunting: H. Gunadi
Add wartakita.id as a preferred source on Google























