Menyusul fenomena antrean panjang kendaraan yang sempat menghiasi sejumlah Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum (SPBU) di Makassar dan wilayah Sulawesi Selatan lainnya, Badan Pengatur Hilir Minyak dan Gas Bumi (BPH Migas) memberikan jaminan tegas mengenai ketersediaan dan pengendalian stok Bahan Bakar Minyak (BBM), baik subsidi maupun non-subsidi.
Evaluasi Mendalam dan Langkah Penanganan
Kepala BPH Migas, Wahyudi Anas, mengonfirmasi bahwa pihaknya telah proaktif melakukan serangkaian koordinasi intensif. Langkah ini melibatkan Pemerintah Daerah, PT Pertamina Patra Niaga, serta PT Pertamina Persero Kantor Pusat. Tujuannya adalah untuk melakukan evaluasi komprehensif terhadap mekanisme penyaluran BBM, khususnya Pertalite dan Biosolar, yang menjadi sorotan utama di Kota Makassar.
“Kami sudah melakukan koordinasi bersama pemerintah daerah, PT Pertamina Patra Niaga, dan PT Pertamina Persero Kantor Pusat untuk melakukan evaluasi terhadap layanan penyaluran BBM, khususnya Pertalite dan Biosolar, di Kota Makassar,” tegas Wahyudi Anas saat berada di SPBU 74.902.32 Jalan Perintis Kemerdekaan Makassar, Minggu.
Menanggapi antrean yang sempat mengular di SPBU se-Kota Makassar dan daerah lainnya di Sulsel, BPH Migas tidak tinggal diam. Sejak tanggal 7 September 2026, PT Pertamina telah mengimplementasikan berbagai perbaikan operasional untuk mengurai kendala yang dihadapi oleh pengguna roda dua maupun roda empat.
Strategi Penguatan Stok dan Optimalisasi Penyaluran
Berbagai strategi jitu telah diluncurkan guna memastikan kelancaran pasokan BBM:
- Penguatan Stok BBM: BPH Migas menjamin penguatan stok BBM di Fuel Terminal Pertamina. Ketersediaan saat ini rata-rata berada pada kisaran delapan hingga 14 hari, memastikan kebutuhan konsumen dapat terpenuhi dalam jangka waktu mendatang.
- Pengiriman Kontinu dan Terjadwal: Pasokan BBM, termasuk Biosolar, dijaga kelancarannya melalui pengiriman rutin via kapal dari kilang di Tuban dan Balikpapan. Jadwal pengiriman yang ketat, setiap dua hingga tiga hari sekali, memastikan stok selalu tersedia.
- Stok Biosolar yang Terjaga: Rata-rata stok Biosolar kini terpantau berkisar antara tujuh hingga 12 hari, menunjukkan manajemen stok yang efektif dan terkendali.
Peningkatan Kapasitas Operasional SPBU
Untuk menekan angka antrean di titik-titik krusial, BPH Migas dan Pertamina telah mengambil langkah progresif:
Peningkatan SPBU Operasional 24 Jam
Jumlah SPBU di Kota Makassar yang beroperasi penuh 24 jam telah ditingkatkan secara signifikan. Dari sebelumnya hanya 11 SPBU, kini melonjak menjadi 25 SPBU. Fasilitas ini tidak hanya diperbarui dengan nosel baru, tetapi juga diperkuat dengan penambahan tenaga operator, dipilih berdasarkan pemetaan area dengan dominasi antrean.
Penambahan Nosel dan Tenaga Operator
Selain itu, kolaborasi dengan sejumlah SPBU lainnya membuahkan hasil dengan penambahan jumlah nosel. Sebanyak 12 SPBU juga telah menambah jam operasional mereka, didukung oleh peningkatan jumlah tenaga operator. Sebagai ilustrasi, salah satu SPBU melaporkan peningkatan jumlah operator per sif dari delapan menjadi 30 orang untuk tiga sif operasional.
Dampak Peningkatan Konsumsi dan Solusi Armada Tangki
Wahyudi Anas mengemukakan bahwa lonjakan konsumsi Pertalite sempat mencapai sekitar 160 persen saat antrean memecah. Kenaikan signifikan ini terlihat dari 800 Kilo Liter (KL) konsumsi normal per hari, yang melonjak hingga 1.300 KL per hari. Untuk merespons dinamika konsumsi ini, armada mobil tangki juga diperkuat.
Penambahan Armada Mobil Tangki
Dari total 83 mobil tangki yang sebelumnya beroperasi, kini ditambahkan 25 unit, menjadikan total 108 mobil tangki yang siap mendistribusikan BBM secara bergantian. Dengan serangkaian upaya komprehensif ini, BPH Migas optimis antrean di SPBU yang sempat padat kini menunjukkan tren penurunan dan cenderung landai.
Kontributor: RR. Nur
Penyunting: Budi S.























