Kualitas udara di Sulawesi Selatan dilaporkan mengalami penurunan signifikan akibat dampak asap kebakaran lahan dan hutan (Karhutla). Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Wilayah IV Makassar telah mengonfirmasi kondisi ini, mengimbau masyarakat untuk mengambil langkah pencegahan.
Perubahan Kualitas Udara Akibat Sebaran Asap Karhutla
Pantauan BMKG menunjukkan adanya pergeseran kualitas udara di Stasiun Klimatologi (Staklim) BMKG Maros dari batas sedang menjadi tidak sehat. Fenomena ini erat kaitannya dengan pergerakan arah angin yang membawa partikel asap dari titik-titik kebakaran.
Analisis Arah Angin dan Potensi Masuknya Asap
Menurut Prakirawan BMKG IV Makassar, Asriani Idrus, analisis peta angin menunjukkan adanya dinamika arah angin yang memengaruhi penyebaran asap. Awalnya, asap terdeteksi bergerak dominan dari arah timur. Namun, data dari Automatic Weather Station (AWS) BMKG Paotere mengindikasikan adanya dominasi angin dari arah barat.
Dalam beberapa hari terakhir, angin yang membawa kabut asap terpantau bergerak dari barat daya hingga barat laut. Meskipun demikian, arah angin ini seringkali bersifat fluktuatif, berubah-ubah antara timur dan barat. Asriani menjelaskan bahwa angin yang berembus dari barat pada dini hari hingga menjelang siang berpotensi membawa udara kotor dan partikel asap dari kebakaran lahan dan hutan menuju wilayah Sulawesi Selatan. Kondisi udara ini kemudian cenderung berangsur normal pada siang hingga sore hari ketika angin timur kembali dominan.
Faktor Penyebab Menurunnya Kualitas Udara
Asap menjadi faktor utama di balik penurunan kualitas udara yang teramati. BMKG mengidentifikasi bahwa asap kiriman tidak hanya berasal dari kebakaran di wilayah Sulawesi sendiri, tetapi juga dapat terbawa dari Kalimantan bagian selatan, serta wilayah Papua dan Maluku. Ketika angin bertiup dari timur, asap dari Papua dan Maluku berpotensi masuk. Sebaliknya, jika arah angin bergeser ke barat, asap dari Kalimantan yang lokasinya lebih dekat memiliki potensi yang lebih besar untuk terhirup oleh masyarakat Sulsel.
BMKG terus melakukan pemantauan intensif terhadap prakiraan cuaca dan pergerakan angin dalam kurun waktu 24 hingga 72 jam ke depan. Namun, perlu dipahami bahwa kualitas udara dapat berubah sewaktu-waktu seiring dengan pergerakan arah angin yang membawa asap dari berbagai titik pantau yang masih menunjukkan adanya paparan asap kuat di wilayah Sulawesi dan sekitarnya.
Pengaruh Suhu Panas dan Indikator Baru BMKG
Selain ancaman asap, faktor lain yang turut berkontribusi terhadap kondisi cuaca yang dirasakan adalah suhu panas yang masih melanda Kota Makassar dan wilayah sekitarnya. Selama periode musim kemarau, suhu udara di Sulawesi Selatan umumnya berkisar antara 30 hingga 35 derajat Celsius. Menariknya, BMKG kini telah mengadopsi metode pengukuran suhu udara yang dirasakan oleh tubuh manusia. Metode baru ini lebih komprehensif, menggabungkan beberapa parameter cuaca seperti arah angin, suhu udara aktual, tingkat kelembaban, dan radiasi matahari untuk memberikan gambaran yang lebih akurat mengenai panas yang dirasakan.
Imbauan BMKG untuk Perlindungan Diri dan Kesehatan Masyarakat
Menyikapi kondisi kualitas udara yang memburuk dan berlanjutnya suhu panas, BMKG dengan tegas mengimbau seluruh masyarakat di Sulawesi Selatan untuk mengambil langkah-langkah perlindungan diri demi menjaga kesehatan pernapasan dan menghindari risiko gangguan kesehatan lainnya:
- Menggunakan masker: Sangat disarankan untuk selalu menggunakan masker saat beraktivitas di luar ruangan. Masker berfungsi sebagai pelindung utama bagi saluran pernapasan dari partikel-partikel halus yang terbawa oleh asap.
- Mengenakan pakaian yang tidak menyerap panas: Pemilihan pakaian yang tepat juga penting. Menggunakan pakaian yang tidak mudah menyerap panas dapat membantu tubuh tetap merasa nyaman dan mengurangi risiko terjadinya masalah kesehatan terkait suhu tinggi.
Sebelumnya, data Indeks Kualitas Udara (AQI) yang dirilis BMKG pada pukul 10.25 WITA sempat menunjukkan kualitas udara di Makassar berada pada level sedang dengan konsentrasi PM 2.5 mencapai 71 µg/m³, yang dikategorikan sebagai tingkat tidak sehat. Pemantauan secara berkala dan berkelanjutan terus dilakukan oleh BMKG guna memberikan informasi terkini dan akurat kepada masyarakat, sehingga langkah mitigasi dapat diambil secara efektif.
Kontributor: H. Gunadi
Penyunting: MA. Untung























