Wartakita.id, Makassar — Selama berabad-abad, lautan terbentang di Desa Ampekale, Kecamatan Bontoa, Kabupaten Maros, Sulawesi Selatan. Namun kini, ironisnya, lautan yang luas itu seolah mengejek, karena sumber air di daratan justru keruh dan asin, memaksa warganya berjuang mencari air bersih.
Intinya
- Kemarau berkepanjangan melumpuhkan akses air bersih di Maros.
- Warga terpaksa menggunakan air keruh dan asin akibat krisis tersebut.
- Inisiatif solutif dari komunitas mulai muncul untuk menangani masalah ini.
Kemarau Berkepanjangan, Krisis Air Bersih
Kabupaten Maros mengalami kemarau berkepanjangan yang telah memengaruhi akses air bersih di Desa Ampekale. Menurut data dari Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG), kondisi cuaca ekstrem ini terjadi sejak Januari 2026 hingga saat ini, yang menyebabkan krisis air bersih di beberapa desa, termasuk Ampekale.
Warga Desa Ampekale mengalami kesulitan mendapatkan sumber air bersih yang layak konsumsi. “Air dari mata air dan sumur sudah tidak bisa lagi diminum,” kata Andi , warga setempat, kepada Wartakita.id. “Kami terpaksa mencari air bersih ke tempat yang jauh atau membelinya dengan harga tinggi.”
Jejak Anggaran di Balik Proyek
Pemerintah Kabupaten Maros telah mengalokasikan anggaran sebesar Rp10 miliar untuk proyek pembangunan sistem air bersih dan sanitasi (PSABS) di Desa Ampekale. Namun, hingga saat ini, hanya 25% dari dana tersebut yang terpakai.
“Anggaran belum bisa habis karena masalah teknis dalam pelaksanaannya,” jelas Bupati Maros, Andi Rukmana , kepada Wartakita.id. “Kami memerlukan koordinasi yang lebih baik antarpihak terkait demi mengoptimalkan penggunaan dana.”
Pengelolaan air bersih di Desa Ampekale juga dibayangi oleh dilema ekologis. Air yang digunakan warga memiliki konsentrasi garam tinggi. Usaha untuk mendapatkan sumber air lain berarti harus menggali sumur lebih dalam atau membangun fasilitas desalinasi. Namun, biaya operasional untuk solusi-solusi tersebut sangat mahal.
“Sistem desalinasi baru bisa direalisasikan jika didukung dana dari pemerintah,” kata Siti Marita , seorang warga. “Namun, untuk menggali sumur yang lebih dalam, kami tidak memiliki sumber modal.”
Kerap Ditanyakan
T: Mengapa proyek PSABS belum berjalan optimal?
J: Proses pelaksanaan proyek masih menghadapi kendala teknis dan koordinasi yang kurang baik antarpihak terkait.
T: Apa solusi inovatif yang sudah dicoba oleh warga Ampekale?
J: Warga mencoba membangun sumur baru di tempat lain, namun menghadapi masalah teknis dan biaya operasional yang tinggi. Mereka juga berharap dukungan dana dari pemerintah untuk proyek desalinasi.
Kontributor: RR. Nur
Editor: Tim Editor Wartakita dibantu AI.























