Harga beras premium di sejumlah pasar tradisional dan ritel modern di Sulawesi Selatan mengalami lonjakan signifikan, mencapai 15% dibandingkan bulan sebelumnya. Kenaikan ini mulai dirasakan konsumen sejak awal September 2026.
Faktor Penyebab Kenaikan Harga
Berdasarkan data Dinas Pertanian Sulawesi Selatan, beberapa faktor berkontribusi terhadap kenaikan harga beras premium ini, antara lain:
- Berkurangnya pasokan dari sentra produksi akibat mundurnya musim panen
- Tingginya permintaan jelang persiapan akhir tahun dari sektor perhotelan dan katering
- Kenaikan biaya distribusi dan bahan bakar
- Stok cadangan beras nasional yang belum optimal setelah distribusi bansos
Dampak Terhadap Masyarakat
“Kami merasakan langsung dampaknya. Harga beras premium yang biasa kami beli Rp 14.000 per kilogram, kini sudah mencapai Rp 16.100,” ungkap Siti Rahma (42), ibu rumah tangga di kawasan Panakkukang, Makassar.
Pedagang pasar pun merasakan penurunan omzet. “Banyak pelanggan beralih ke beras medium karena harga premium sudah di luar jangkauan,” kata Haji Syarifuddin, pedagang beras di Pasar Butung.
Respons Pemerintah
Pemerintah Provinsi Sulawesi Selatan menyatakan akan menggelar operasi pasar murah di 24 kabupaten/kota mulai pekan depan. Bulog Divre Sulselbar juga memastikan ketersediaan beras stabilisasi pasokan dan harga (BSPH) di titik-titik distribusi strategis.
Poin-poin Penting
- Harga beras premium naik rata-rata 15% di Sulawesi Selatan
- Faktor utama: mundurnya musim panen dan tingginya permintaan akhir tahun
- Pemerintah akan gelar operasi pasar murah di 24 kabupaten/kota
- Masyarakat disarankan berbelanja secukupnya untuk mencegah kepanikan
Kerap Ditanyakan
Kapan harga beras akan kembali normal?
Dinas Pertanian memperkirakan harga akan berangsur stabil setelah panen raya Oktober-November 2026 berlangsung lancar.
Apakah ada program subsidi beras untuk masyarakat terdampak?
Ya, Bulog menyediakan beras BSPH seharga Rp 12.500/kg yang dapat diakses di kantor kelurahan dan pasar tradisional terdekat.
Kontributor: H. Gunadi
Editor: Tim Editor Wartakita dibantu AI.























