Ketegangan geopolitik global yang dipicu oleh eskalasi konflik antara Amerika Serikat dan Iran telah memberikan tekanan signifikan terhadap nilai tukar rupiah. Mata uang Garuda sempat menyentuh rekor terlemahnya di angka Rp17.300 per dolar Amerika Serikat, mencerminkan tingginya ketidakpastian ekonomi dunia.
Dampak Eskalasi Konflik AS-Iran terhadap Ekonomi Global
- Pemicu utama ketidakpastian global adalah memanasnya perang antara AS dan Iran, yang diprediksi berlangsung jangka panjang dan berpotensi memperburuk prospek ekonomi dunia.
- Gangguan pada jalur logistik global, terutama pasca penutupan Selat Hormuz, dan lonjakan harga minyak dunia diperkirakan meningkatkan inflasi global dari 4,1% menjadi 4,2%.
- Pertumbuhan ekonomi dunia diproyeksikan melambat dari 3,1% menjadi 3% dari perkiraan semula akibat dampak perang.
- Sektor keuangan global juga terdampak, menyempitkan ruang pelonggaran moneter. The Fed Fund Rate diperkirakan akan dipertahankan hingga akhir tahun.
- Lonjakan belanja pertahanan AS berkontribusi pada pelebaran defisit dan peningkatan imbal hasil obligasi, mendorong apresiasi dolar AS dan Indeks Dolar (DXY).
Rupiah Mengalami Pelemahan, Namun Relatif Terjaga
Dalam situasi ini, dolar AS menguat signifikan, mendorong indeks Dolar (DXY) mendekati level 100. Akibatnya, rupiah sempat menembus Rp17.300 per dolar AS. Meskipun demikian, Direktur Departemen Kebijakan Ekonomi dan Moneter (DKEM) Bank Indonesia (BI), Juli Budi Winantya, menegaskan bahwa pelemahan rupiah masih relatif lebih baik dibandingkan mata uang negara lain. Berdasarkan data Refinitiv, rupiah berhasil mengakhiri perdagangan pada hari itu di zona hijau dengan apresiasi sebesar 0,52%, ditutup pada level Rp17.190 per dolar AS, kembali berada di bawah level psikologis Rp17.200.
Strategi Bank Indonesia dalam Menghadapi Gejolak
Menanggapi gejolak nilai tukar, Bank Indonesia mengambil langkah strategis dengan mempertahankan suku bunga acuan BI-Rate pada level 4,75%. Langkah ini diambil untuk menjaga stabilitas moneter di tengah ketidakpastian global. Selain itu, BI terus memperkuat kebijakan stabilisasi nilai tukar rupiah melalui berbagai instrumen, termasuk:
- Intervensi di pasar off-shore (melalui NDF) dan pasar domestik (melalui pasar spot, DNDF, serta pembelian Surat Berharga Negara/SBN di pasar sekunder).
- Penguatan kebijakan transaksi pasar valas untuk mendukung upaya stabilisasi.
- Optimalisasi instrumen moneter seperti Sertifikat Rupiah Bank Indonesia (SRBI). Per tanggal 21 April 2026, total outstanding SRBI tercatat sebesar Rp885,41 triliun, dengan kepemilikan nonresiden mencapai Rp165,98 triliun (18,75%).
Proyeksi Ekonomi Nasional Tetap Kuat
Di tengah tantangan global yang meningkat, BI meyakinkan bahwa fondasi ekonomi nasional tetap kuat. Proyeksi pertumbuhan ekonomi pada tahun 2026 diperkirakan berada di kisaran 4,9%-5,7%. Inflasi juga diprediksi tetap terjaga di angka 2,5% plus minus 1%. Kekuatan ekonomi nasional ini didukung oleh beberapa faktor fundamental:
- Konsumsi rumah tangga yang stabil dan resilien.
- Neraca perdagangan yang terus mencatat surplus, menunjukkan daya saing ekspor Indonesia.
- Cadangan devisa yang memadai untuk menahan guncangan eksternal.























