Kunjungan kenegaraan Presiden Amerika Serikat Donald Trump ke Beijing pada Mei 2016 menyisakan cerita menarik di balik layar. Bukan tentang kesepakatan diplomatik, melainkan perlakuan tegas pasukan pengawal presiden terhadap segala bentuk pemberian dari Tiongkok.
Perintah Tegas: Semua Barang Dibuang
Menurut laporan Koresponden New York Post untuk Gedung Putih, Emily Goodin, setiap barang yang diberikan oleh pejabat Tiongkok selama kunjungan tersebut tidak diizinkan dibawa kembali ke Amerika Serikat. Perintah ini diberlakukan secara ketat oleh Pasukan Pengawal Presiden AS (Secret Service), staf, dan pers yang menyertai rombongan.
Dalam unggahannya di akun X, Goodin menuturkan, “Sama sekali tidak boleh ada barang-barang dari China yang dibawa ke dalam pesawat,” ujar salah satu staf AS ketika delegasi bersiap meninggalkan Beijing pada Jumat, 15 Mei 2016. Semua benda yang diterima, mulai dari kartu pers, ponsel sekali pakai, hingga pin delegasi, dikumpulkan dan dibuang ke tempat sampah di dekat tangga pesawat sebelum seluruh rombongan naik ke Pesawat Air Force One.
“Semuanya dikumpulkan sebelum kami naik ke Pesawat Air Force One dan langsung dibuang ke tempat sampah di dekat tangga pesawat. Tidak ada barang satu pun dari China yang boleh masuk ke pesawat,” tulis Goodin.
Tim pers Gedung Putih pun membenarkan laporan tersebut, menegaskan bahwa ini adalah prosedur standar yang diberlakukan demi menjaga keamanan dan integritas barang yang dibawa kembali ke negara asal.
Ketegangan di Balik Layar: Kontras dengan Citra Publik
Di depan kamera, Presiden Trump dan Presiden Tiongkok Xi Jinping memang menampilkan citra keakraban dan keramahan selama pertemuan. Namun, di balik layar, hubungan antara tim keamanan dan pers AS dengan pihak Tiongkok tampak jauh lebih tegang. Hal ini terbukti dari beberapa insiden yang terjadi selama kunjungan tersebut.
Insiden Keamanan di Kuil Surga
Salah satu momen ketegangan terjadi saat pertemuan antara Trump dan Xi di Temple of Heaven (Kuil Surga). Seorang agen Secret Service sempat dilarang memasuki area pertemuan karena membawa senjata api. Padahal, membawa senjata adalah prosedur keamanan standar bagi agen yang mendampingi presiden AS, sebuah praktik yang umum di negara asalnya namun mungkin berbeda dengan protokol Tiongkok.
Hambatan saat Keberangkatan
Ketegangan memuncak saat waktu keberangkatan delegasi AS. Pejabat Tiongkok awalnya melarang tim pers untuk bergabung dengan iring-iringan mobil kepresidenan. Staf kepresidenan AS yang mendampingi pers terpaksa melakukan negosiasi dan bahkan “memaksa” masuk menerobos penjagaan keamanan agar para jurnalis dapat mengikuti rombongan sesuai jadwal.
Hal ini dilaporkan oleh media AS, The Hill, mengutip kesaksian para jurnalis yang berada di lokasi. Gesekan semacam ini bukanlah hal baru dalam kunjungan presiden AS ke Tiongkok. Insiden serupa pernah terjadi pada kunjungan mantan Presiden AS Barack Obama ke Hangzhou pada 2016 saat KTT G20, di mana staf AS dan Tiongkok terlibat adu mulut sengit mengenai jumlah delegasi AS yang diizinkan mendampingi Obama dalam ruang pertemuan dengan Presiden Xi.
Peristiwa ini secara gamblang menunjukkan bahwa di balik diplomasi tingkat tinggi, terdapat protokol keamanan dan operasional yang berbeda antar negara, yang terkadang menimbulkan friksi bahkan dalam momen-momen yang terlihat santai di depan publik.























