Lanskap persaingan kecerdasan buatan (AI) global kini telah memasuki fase krusial, bergeser dari adu canggih model semata menjadi uji kecepatan integrasi teknologi ke dalam kehidupan masyarakat dan dunia usaha. Dalam arena ini, Tiongkok menunjukkan agresivitas yang patut diperhitungkan, menyamai bahkan melampaui langkah Amerika Serikat.
Pergeseran Paradigma Persaingan AI: Dari Model ke Ekosistem
Sementara Amerika Serikat masih bergulat dengan perdebatan sengit mengenai potensi dampak AI terhadap lapangan kerja, keamanan data, dan etika, Tiongkok justru bergerak pragmatis. Teknologi AI di negeri tirai bambu telah meresap cepat ke dalam aktivitas sehari-hari, mulai dari pemesanan transportasi, pembelian makanan, hingga bantuan administrasi dan layanan kesehatan.
Adopsi Massal AI di Tiongkok: Bukti Nyata di Lapangan
Fenomena ini tergambar jelas dari antusiasme warga Tiongkok yang rela mengantre panjang di kantor perusahaan internet seluler di Beijing, sekadar untuk memasang asisten AI “agentic” bernama OpenClaw di laptop mereka. Di Shenzhen, insinyur pun turut membantu masyarakat dalam pengoperasian teknologi serupa. Inisiatif ini mencerminkan pandangan masyarakat Tiongkok yang kini melihat AI bukan lagi sebagai eksperimen, melainkan sebagai alat produktivitas harian yang esensial.
Sun Lei, seorang manajer sumber daya manusia, mengungkapkan kekhawatirannya untuk tertinggal teknologi, berharap OpenClaw dapat mempermudah proses rekrutmen. Data dari China Internet Network Information Center memperkuat gambaran ini, menunjukkan lebih dari 600 juta warga Tiongkok telah menggunakan AI generatif hingga Desember 2025, sebuah peningkatan drastis 142 persen dari tahun sebelumnya. Penggunaan token mingguan model AI Tiongkok yang melampaui model AS, seperti yang dicatat oleh OpenRouter, semakin menegaskan intensitas adopsi teknologi ini.
Penerapan AI secara luas dalam kehidupan sehari-hari tidak bisa dihindari. Sama seperti kereta kuda yang akhirnya digantikan kereta api, ini pasti akan terjadi.
Jason Tong, seorang pensiunan insinyur teknologi informasi di Shanghai, adalah salah satu contoh nyata pengguna aktif. Ia memanfaatkan chatbot AI seperti Doubao dan Kimi untuk berbagai kebutuhan, bahkan menggunakan layanan pemantauan gula darah berbasis AI untuk saran kesehatan personal yang cepat. Pandangannya tentang AI yang tak terhindarkan mencerminkan sentimen yang berkembang.
Peran Krusial Perusahaan Teknologi Tiongkok
Perkembangan pesat ini tak lepas dari peran vital perusahaan teknologi raksasa Tiongkok seperti Tencent, Alibaba, dan Baidu. Mereka secara proaktif mengintegrasikan AI ke dalam ekosistem digital mereka. Tencent, misalnya, telah menyematkan OpenClaw ke WeChat, aplikasi serbaguna yang sangat populer di Tiongkok, sementara Alibaba mengintegrasikan AI berbasis agen ke dalam sistem operasionalnya.
Lizzi Lee, peneliti ekonomi dan teknologi dari Asia Society Policy Institute, menekankan pergeseran fundamental ini. “Persaingan AI jelas sedang bergeser dari model menuju ekosistem,” ujarnya. Ia menambahkan bahwa pengguna di Tiongkok bertindak sebagai “penguji langsung dalam skala besar” yang secara nyata mempercepat pengembangan AI di lapangan.
OpenClaw: Inovasi Austria yang Berkembang Pesat di Tiongkok
Meskipun OpenClaw dikembangkan oleh pengembang perangkat lunak asal Austria, Peter Steinberger, dampaknya di Tiongkok sangat signifikan. Kemampuannya menyelesaikan tugas kompleks secara otomatis menjadikannya alat yang sangat diminati. Zhao Yikang, seorang mahasiswa dari Makau, menggunakan AI untuk membuat materi promosi hingga mengelola akun media sosial, bahkan ia telah meminta AI membuat situs web perusahaan fotografi yang sedang disiapkannya, sebuah proses yang memakan waktu kurang dari 10 menit dengan biaya minimal.
Menyempitnya Kesenjangan Teknologi AI
Terlepas dari hambatan berupa pembatasan ekspor cip canggih dari AS, para analis menilai kesenjangan teknologi AI antara kedua negara semakin menyempit. Laporan Stanford University Institute for Human-Centered AI bahkan menyatakan bahwa jarak performa model AI papan atas AS dan Tiongkok “secara efektif telah tertutup.” Kepala analis Omdia, Lian Jye Su, optimistis bahwa Tiongkok akan segera bertransformasi dari pengikut menjadi inovator yang sejajar dengan AS dalam persaingan AI global.























