Eksperimen antariksa seringkali melibatkan organisme yang tak terduga. Pada awal 1990-an, NASA mengejutkan banyak pihak dengan mengirimkan ribuan ubur-ubur ke orbit, sebuah misi yang menyimpan alasan ilmiah mendalam terkait pemahaman kita tentang kehidupan dan gravitasi.
Mengapa Ubur-Ubur Menjadi Subjek Eksperimen Luar Angkasa NASA?
Keputusan NASA untuk melibatkan ubur-ubur dalam penelitian antariksa bukan tanpa pertimbangan ilmiah yang matang. Organisme laut yang tampak sederhana ini dipilih karena memiliki karakteristik biologis unik yang memungkinkan para ilmuwan mengeksplorasi fenomena gravitasi dan adaptasi organisme di lingkungan ekstrem.
1. Meneliti Sistem Keseimbangan Tubuh Makhluk Hidup
Salah satu motivasi utama NASA adalah memahami bagaimana makhluk hidup menavigasi orientasi ruang tanpa adanya gravitasi. Manusia mengandalkan struktur berbasis kalsium di telinga dalam untuk menjaga keseimbangan. Ubur-ubur, meski lebih sederhana, memiliki mekanisme serupa. Dalam fase medusa, mereka membentuk kristal kalsium sulfat bernama statolith yang berfungsi sebagai sensor gravitasi, mengarahkan sinyal ke sistem saraf.
2. Menguji Perkembangan Organisme dalam Mikrogravitasi
Eksperimen pada tahun 1991 ini melibatkan pengiriman sekitar 2.500 polip ubur-ubur ke orbit menggunakan pesawat ulang-alik Columbia. Tujuannya adalah untuk mengamati apakah sistem sensor gravitasi organisme dapat berkembang secara normal di luar angkasa. Selama sembilan hari misi, polip-polip ini dipercepat pertumbuhannya di wadah air laut buatan. Hasilnya mencengangkan, populasi ubur-ubur melonjak hingga sekitar 60.000 individu, memberikan data berharga untuk menilai perkembangan biologis dalam mikrogravitasi.
3. Membandingkan Ubur-Ubur Luar Angkasa dan Bumi
Setelah kembali ke Bumi, ubur-ubur hasil eksperimen dibandingkan dengan kelompok kontrol yang tumbuh di Bumi. Secara morfologi, sebagian besar ubur-ubur luar angkasa sangat mirip dengan rekan mereka di Bumi, tanpa perbedaan signifikan pada jumlah tentakel atau struktur tubuh. Namun, perbedaan muncul saat mereka berenang di lingkungan gravitasi normal. Banyak ubur-ubur antariksa menunjukkan pola renang yang tidak stabil dan kesulitan orientasi, menyiratkan gangguan mirip vertigo akibat perkembangan sistem keseimbangan di mikrogravitasi.
4. Memahami Potensi Kelahiran di Ruang Angkasa
Penelitian ubur-ubur ini memiliki implikasi besar untuk masa depan eksplorasi manusia. Jika manusia suatu saat hidup di koloni antariksa, memahami kelahiran dan perkembangan di lingkungan mikrogravitasi menjadi krusial. Sistem keseimbangan manusia sangat bergantung pada gravitasi selama perkembangan. Kesulitan adaptasi ubur-ubur pasca-mikrogravitasi memunculkan dugaan bahwa manusia yang lahir di luar angkasa mungkin menghadapi tantangan serupa saat kembali ke Bumi.
5. Faktor Kemudahan Penelitian Ubur-Ubur di Luar Angkasa
Selain sistem sensor gravitasinya yang relevan, ubur-ubur dipilih karena relatif mudah dikelola di luar angkasa. Mereka dapat bertahan hidup dalam wadah air laut buatan dengan sistem otomatis, mengurangi kebutuhan perawatan intensif. Kemampuan reproduksi aseksual pada tahap polip memungkinkan populasi berkembang pesat. Siklus hidup mereka yang singkat juga memungkinkan pengamatan perubahan biologis dalam periode misi yang relatif singkat. Kombinasi karakteristik biologis dan kemudahan perawatan menjadikan ubur-ubur kandidat ideal untuk eksperimen mikrogravitasi.
Penelitian tentang bagaimana organisme bereaksi terhadap lingkungan tanpa gravitasi terus berlanjut. Dengan membandingkan organisme bersistem biologis sederhana namun relevan dengan manusia, para ilmuwan membuka jalan pemahaman yang lebih luas tentang kehidupan di luar angkasa, termasuk eksperimen unik seperti pengiriman ubur-ubur oleh NASA.
Referensi:
“Jellyfish in Space: A Case Study of Microgravity”. The Average Scientist. Diakses Maret 2026.
“NASA officials sent over 2,000 baby jellyfish into space. Tens of thousands more came back to Earth”. BBC Wildlife. Diakses Maret 2026.
“‘Pulsing Abnormalities’: In The 1990s, NASA Sent 2,000 Jellyfish To Space. 60,000 Came Back.”. IFL Science. Diakses Maret 2026.























