Masa depan kelistrikan Indonesia semakin cerah. Kombinasi pembangkit energi surya dengan sistem penyimpanan baterai kini menawarkan biaya produksi listrik yang lebih terjangkau dibandingkan energi fosil seperti batu bara dan gas alam, demikian terungkap dari laporan Badan Energi Terbarukan Internasional (IRENA).
Keunggulan Biaya Energi Surya Plus Baterai
Di wilayah dengan potensi sinar matahari tinggi, biaya produksi listrik yang stabil dan andal (firm levelised cost of electricity – Firm LCOE) dari pembangkit listrik tenaga surya yang dilengkapi penyimpanan baterai kini separuh lebih murah dibandingkan tahun 2020 yang masih melampaui US$100 per MWh. Sebagai perbandingan, biaya pembangkit listrik tenaga batu bara di China berkisar US$70-85 per MWh, sementara pembangkit listrik tenaga gas baru global masih di atas US$100 per MWh.
Faktor Penurunan Biaya
Fenomena penurunan biaya ini didorong oleh beberapa faktor utama:
- Penurunan Harga Komponen Kunci: Harga panel surya, turbin angin, dan baterai mengalami penurunan drastis secara bersamaan. Sejak 2010, total biaya instalasi panel surya turun 87 persen, tenaga angin darat turun 55 persen, dan biaya penyimpanan baterai merosot hingga 93 persen.
- Inovasi Teknologi: Kemajuan teknologi terus meningkatkan efisiensi dan skala produksi, yang secara langsung menurunkan biaya produksi per unit energi.
Proyeksi Masa Depan yang Menggiurkan
IRENA memprediksi tren positif ini akan terus berlanjut. Diperkirakan, pada tahun 2035, biaya listrik dari energi surya di lokasi dengan potensi terbaik akan menyentuh angka di bawah US$50 per MWh. Sementara itu, untuk kombinasi energi angin dengan penyimpanan baterai, biaya produksi listrik global diperkirakan akan turun menjadi US$49-75 per MWh pada tahun 2030.
Keandalan dan Stabilitas: Kunci untuk Kebutuhan Tinggi
Lebih dari sekadar biaya, kombinasi pembangkit listrik tenaga surya, angin, dan sistem penyimpanan baterai (Battery Energy Storage Systems – BESS) menawarkan keandalan dan stabilitas pasokan listrik yang berkelanjutan. Kemampuan ini menjadikannya solusi ideal untuk proyek-proyek yang membutuhkan listrik dalam jumlah besar dan konsisten.
“Pembangkit listrik tenaga surya (PV), angin, dan BESS di lokasi yang sama juga tepat untuk melayani sektor yang paling menuntut listrik, termasuk pusat data, AI, dan manufaktur canggih, yang membutuhkan daya berkualitas tinggi.” (Laporan IRENA)
Studi Kasus Global dan Implikasi untuk Indonesia
Kelayakan teknis dan komersial dari konsep ini telah dibuktikan oleh proyek-proyek skala besar di seluruh dunia. Salah satunya adalah kompleks Al-Dhafra di Uni Emirat Arab, yang akan menggabungkan pembangkit listrik tenaga surya (PV) 5,2 GW dengan penyimpanan baterai 19 GWh, menghasilkan listrik bersih 1 GW dengan perkiraan biaya US$70 per MWh. Di Amerika Serikat, praktik ini juga semakin umum, menunjukkan bagaimana sistem energi terbarukan hibrida mampu menyediakan layanan yang sebelumnya hanya bisa dipenuhi oleh pembangkit konvensional.
Bagi Indonesia, perkembangan ini membuka peluang besar untuk transisi energi yang lebih cepat dan ekonomis. Dengan kekayaan sumber daya surya dan potensi angin di berbagai wilayah, investasi pada teknologi ini dapat menjadi kunci untuk memenuhi kebutuhan listrik nasional yang terus meningkat, sekaligus mengurangi ketergantungan pada bahan bakar fosil yang semakin mahal dan berdampak pada lingkungan.























