Senin, 12 Oktober 2026
  • beranda
  • kontak
  • layanan
  • beriklan
  • privasi
  • perihal
WartakitaID
  • 🏚️
  • ALAM
  • WARTA
    • PEMBELAJARAN
    • HUKUM
    • NUSANTARA
    • OLAHRAGA
    • TEKNOLOGI
    • KULINER
    • OTOMOTIF
    • SEPAK BOLA
    • #CEKFAKTA
  • GAYA
  • MAKASSAR
  • TEKNOLOGI
  • KONTAK
    • Mari Bermitra
    • Tentang Wartakita
    • Tim Redaksi
    • Kebijakan Privasi
    • TRAKTIR KOPI
No Result
View All Result
WartakitaID
  • 🏚️
  • ALAM
  • WARTA
    • PEMBELAJARAN
    • HUKUM
    • NUSANTARA
    • OLAHRAGA
    • TEKNOLOGI
    • KULINER
    • OTOMOTIF
    • SEPAK BOLA
    • #CEKFAKTA
  • GAYA
  • MAKASSAR
  • TEKNOLOGI
  • KONTAK
    • Mari Bermitra
    • Tentang Wartakita
    • Tim Redaksi
    • Kebijakan Privasi
    • TRAKTIR KOPI
No Result
View All Result
WartakitaID
No Result
View All Result
Home Alam dan Lingkungan Hidup

Bantargebang: Proyek Energi dari Sampah dan Ancaman Bom Waktu Gas Metana

by Pewarta Warga
22/05/2026
in Alam dan Lingkungan Hidup
Reading Time: 5 mins read
A A
img-1779401590-74b4579c94a29fb3

BACA JUGA:

Mengapa Cuaca Panas Membuat Kita Mudah Marah? Penjelasan Ilmiah dari Wartakita.id

Leonardo DiCaprio Angkat Bicara: Karhutla Indonesia Ancaman Nyata bagi Satwa Liar dan Iklim

Mikroplastik Ancam Perairan Sulawesi Selatan: Dampak Lingkungan dan Solusi Terpadu

3 Bulan DLH Makassar Terapkan Kebijakan Pilah Sampah, Edukasi Tanpa Sanksi

DKI Jakarta Perluas Transportasi Gratis untuk 21 Golongan Mulai 2027

TPA Bantargebang, fasilitas kelolaan sampah raksasa, kini menjadi sorotan ganda: sebagai sumber potensi energi terbarukan sekaligus bom waktu gas metana yang kian mendesak penanganan. Proyek waste-to-energy (WtE) terus digalakkan, namun bayang-bayang ancaman lingkungan dan sosial masih membayang.

Potensi Energi dan Proyek Waste-to-Energy

Luas mencapai 110,3 hektare, Tempat Pemrosesan Akhir Sampah (TPST) Bantargebang telah lama menjadi lokasi pembuangan akhir bagi jutaan ton sampah Ibu Kota. Sejak 2020, sebuah Pembangkit Listrik Tenaga Sampah (PLTSa) skala kecil telah beroperasi di sana. Fasilitas ini, hasil kolaborasi antara Pemerintah Provinsi DKI Jakarta dan Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), menggunakan teknologi termal untuk mengubah sampah menjadi listrik. Kementerian Pekerjaan Umum, melalui Ditjen Cipta Karya, berperan dalam tahap pre-treatment untuk menyaring sampah yang tidak dapat dibakar.

PLTSa ini mampu mengolah 100 ton sampah per hari dan menghasilkan sekitar 700 kWh listrik. Dengan capacity factor 95%, operasionalnya tergolong stabil dan konsisten, didukung oleh tim ahli dan tenaga terampil. Biaya operasionalnya diperkirakan mencapai Rp500.000 per ton sampah.

Namun, rencana pengembangan proyek waste-to-energy (WtE) di Bantargebang terus digencarkan. Pemerintah Provinsi DKI Jakarta telah mengalokasikan dua lokasi potensial untuk pengembangan skala besar kepada Badan Pengelola Investasi Dana Nusantara (Danantara). Salah satu lokasi yang diajukan berada di area TPST Bantargebang, meskipun lahannya bukan milik pemerintah melainkan pihak swasta. Kepala Dinas Lingkungan Hidup DKI Jakarta, Dudi Gardesi Asikin, memastikan bahwa lahan tersebut dapat digunakan untuk pengolahan sampah dan menjamin ketersediaannya.

Fasilitas WtE yang akan dibangun ini dipastikan berbeda dan bukan sekadar pengembangan dari pilot project PLTSa yang sudah ada. Proyek kolaborasi dengan Danantara ini semakin intensif digalakkan, terutama setelah insiden longsoran sampah di Bantargebang pada 8 April lalu yang merenggut belasan korban jiwa. Musibah tersebut menjadi pengingat keras akan kondisi TPST Bantargebang yang telah melewati batas daya tampungnya.

Menteri Koordinator Bidang Pangan, Zulkifli Hasan, pernah menyatakan harapannya agar kejadian serupa tidak terulang dengan adanya proyek WtE di Bantargebang. Selain di Bantargebang, proyek WtE juga direncanakan akan dibangun di Tanjung Kamal Muara, Jakarta Utara. Kedua fasilitas ini diperkirakan mampu mengelola total 3.000 ton sampah per hari, baik sampah baru maupun sampah lama yang menumpuk.

Pelibatan Pemulung dalam Pengelolaan Sampah

Di tengah geliat proyek pengelolaan sampah menjadi energi, isu pelibatan para pemulung menjadi poin krusial yang disuarakan oleh Andi, perwakilan dari Ikatan Pemulung Indonesia (IPI). Ia menyayangkan minimnya keterlibatan pemulung dalam program-program pemerintah, baik itu yang berbasis refuse derived fuel maupun PLTSa.

“Jangan bikin pemulung baru yang punya ijazah,” tegas Andi, menyiratkan harapan agar program pemerintah tidak justru menggusur mata pencaharian masyarakat informal ini. IPI terus berupaya menyampaikan pandangannya kepada pemerintah agar pemulung dapat dilibatkan secara konstruktif. Menurutnya, para pekerja informal ini siap mendukung program pemerintah asalkan dilibatkan dengan baik, misalnya dengan menyerahkan sampah yang belum diolah untuk mereka kelola terlebih dahulu.

Unit Pengelola TPST Bantargebang belakangan ini mulai mengajak diskusi para pemulung untuk menggalang dukungan program pemerintah, termasuk pengelolaan sampah menjadi energi listrik. Namun, Andi menyampaikan bahwa hingga kini belum ada kesepakatan yang benar-benar menguntungkan bagi kedua belah pihak. Ia merasa bahwa niat Pemprov DKI Jakarta cenderung untuk meniadakan peran pemulung, meskipun tidak diucapkan secara langsung.

Jika memang pemulung harus ditiadakan perannya, Andi menekankan pentingnya adanya pekerjaan baru sebagai bantalan ekonomi bagi masyarakat agar mata pencaharian mereka tidak hilang begitu saja.

Di sisi lain, Menteri Lingkungan Hidup/Kepala Badan Pengendalian Lingkungan Hidup, Jumhur Hidayat, menyatakan komitmennya untuk melibatkan para pemulung dalam proyek-proyek pengelolaan sampah, termasuk WtE. Ia berencana membicarakan hal ini langsung dengan para pemulung di Jakarta, bahkan telah berencana bertemu dengan 6.000 pemulung sebagai perwakilan.

“Pemulung kan tetap harus misah-misah (sampah), mungkin bisa dilibatkan di situ, tetap bekerja,” ujar Jumhur, mengindikasikan bahwa peran pemulung dalam memilah sampah akan tetap dibutuhkan.

Bantargebang sebagai ‘Bom Waktu’ Gas Metana

TPST Bantargebang kini menghadapi isu serius lainnya, yaitu sebagai penghasil gas metana terbesar kedua di dunia. Laporan dari tim riset Emmett Institute di University of California Los Angeles (UCLA) menempatkan Bantargebang di bawah TPA Campo de Mayo di Argentina dalam hal emisi metana.

Diperkirakan, Bantargebang akan menghasilkan sekitar 6,3 metrik ton gas metana setiap jam pada tahun 2025. Gas metana ini, yang berkontribusi signifikan terhadap peningkatan suhu bumi, berasal dari pembusukan sampah organik. Fakta ini sejalan dengan data Sistem Informasi Pengelolaan Sampah Nasional (SIPSN) Kementerian Lingkungan Hidup, yang menunjukkan bahwa sampah sisa makanan atau organik mendominasi total sampah di Indonesia dengan proporsi sekitar 39,36%.

Menurut Dosen Teknik Kimia Universitas Gadjah Mada, Hanifrahmawan Sudibyo, gas metana terbentuk ketika sampah organik dalam jumlah besar menumpuk dan menciptakan lingkungan ideal bagi aktivitas mikroorganisme anaerob. Gas ini dapat terlepas ke atmosfer jika tidak dikelola dengan baik.

Hanif menjelaskan bahwa metana secara alami merupakan bagian dari siklus karbon bumi. Namun, akumulasi limbah organik yang tidak terkelola optimal dapat menyebabkan produksi metana berlebihan. Potensi pemanasan global akibat metana jauh lebih tinggi dibandingkan karbon dioksida dalam jangka waktu tertentu, menjadikannya isu penting dalam pengendalian emisi gas rumah kaca.

Mengolah Metana Menjadi Energi dan Mencegah Emisi

Gas metana dari tempat pembuangan sampah seperti Bantargebang sebenarnya dapat diolah menjadi sumber energi. Prosesnya meliputi teknologi penangkapan gas metana, yang biasanya menggunakan jaringan pipa vertikal atau horizontal di area timbunan sampah untuk mengumpulkan gas.

Gas yang terkumpul tersebut kemudian dapat dialirkan ke unit pemurnian atau pembangkit listrik tenaga biogas. Untuk menekan timbulan gas metana, langkah krusialnya adalah memilah sampah dan mengurangi jumlah limbah organik yang masuk ke Tempat Pembuangan Akhir.

“Peningkatan konsumsi masyarakat tanpa diimbangi pengelolaan limbah yang baik akan meningkatkan beban TPA, baik dari sisi kapasitas maupun potensi pembentukan gas metana,” ujar Hanif, menekankan pentingnya pengelolaan limbah yang beriringan dengan peningkatan konsumsi.


Bantargebang: Proyek Energi dari Sampah dan Ancaman Bom Waktu Gas Metana - image 1

Rekomendasikan Wartakita.id
Tags: BRINDKI Jakartaenergi terbarukangas metanalingkungan hiduppemulungpengelolaan sampahPLTSaTPA BantargebangWaste to Energy
Share11Tweet7Send

ARTIKEL TERKAIT

RR. Nur, standing in a hot, sunny environment with a frown and sweat on her forehead, in a tropical setting with palm trees and a sandy beach in the background, illustrating the discomfort and irritab

Mengapa Cuaca Panas Membuat Kita Mudah Marah? Penjelasan Ilmiah dari Wartakita.id

12/10/2026
Seorang wanita muda duduk di depan komputer, tampak berpikir. Layar komputer menampilkan percakapan dengan ChatGPT tentang masalah kesehatan mental. Latar belakang menampilkan pemandangan kota modern

Curhat Kesehatan Mental Melalui ChatGPT: Aman atau Berbahaya?

11/10/2026
Seorang meteorologis berdiri di depan layar besar yang menampilkan peringatan cuaca berat untuk wilayah tertentu pada 11-12 Oktober 2026. Di latar belakang, peta menunjukkan area yang berpotensi terke

BMKG: Peringatan Dini Cuaca Besok 11-12 Oktober 2026, Hujan Lebat di Sejumlah Wilayah

10/10/2026
Bantargebang: Proyek Energi dari Sampah dan Ancaman Bom Waktu Gas Metana - Featured

Status Darurat Bencana Kekeringan dan Karhutla di Sidrap Diperpanjang Hingga 2026: Ancaman Berkelanjutan dan Langkah Penanganan

09/10/2026
Pemandangan jurnalistik profesional di Cirebon, dengan langit biru cerah berawan putih sedikit, matahari bersinar terang, dan indikator suhu di dashboard mobil menunjukkan 32°C. Gambar menangkap jalan

Prakiraan Cuaca Cirebon Hari Ini: Suhu Mencapai 32°C, Perhatikan Antisipasi Panas

09/10/2026
A professional foto jurnalistik menunjukkan langit dramatis dengan awan cumulonimbus yang membentuk, asap tebal di udara, dan awan tinggi atau gelombang udara yang terlihat. Pemandangan ini disetel pa

Waspadai Awan Cumulonimbus, Asap, dan Gelombang Tinggi di Cuaca Besok, 9 Oktober 2026

09/10/2026
Dapur rumah tangga yang rapi dengan berbagai produk dan wadah zero-waste yang rapih disusun. Terlihat filter kopi yang bisa digunakan berkali-kali, tas kain, dan botol kaca. Di latar belakang, dapur y

Panduan Praktis Memulai Gaya Hidup Zero Waste dari Dapur Rumah Tangga

08/10/2026
Seorang meteorologis BMKG sedang memberikan presentasi tentang peringatan dini cuaca di sebuah konferensi pers. Peta di depannya menunjukkan wilayah-wilayah yang terdampak dengan tanda-tanda berbeda,

Peringatan Dini Cuaca BMKG 9-10 Oktober 2026, Ini Daftar Wilayah Terdampak

08/10/2026

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

I agree to the Terms & Conditions and Privacy Policy.

TERPOPULER-SEPEKAN

  • Bantargebang: Proyek Energi dari Sampah dan Ancaman Bom Waktu Gas Metana - Featured

    Kalla Toyota Palopo Sukses Rebut Hati Komunitas Lewat “Padel with Toyota Hybrid”

    108 shares
    Share 43 Tweet 27
  • Wisata Dan Tradisi Nyekar Di Pulau Libukang Palopo

    500 shares
    Share 200 Tweet 125
  • Ole Romeny Rayakan Kemenangan Timnas Indonesia dengan Jersey Marselino

    29 shares
    Share 12 Tweet 7
  • Gibran Rakabuming Raka Terganjal Syarat Pendidikan untuk Pilpres 2029

    25 shares
    Share 10 Tweet 6
  • Kejati Kaltara Ungkap Dugaan Korupsi Kredit Investasi Rp759,4 Miliar di Bank Digital Milik Negara

    23 shares
    Share 9 Tweet 6
  • Hoaks: Prabowo Beri Hadiah Rp 5 Triliun dan Mobil untuk Timnas

    23 shares
    Share 9 Tweet 6
  • BMKG: Peringatan Dini Cuaca Besok 11-12 Oktober 2026, Hujan Lebat di Sejumlah Wilayah

    22 shares
    Share 9 Tweet 6
  • DJP Siapkan Strategi Cari Basis Pajak Baru Antisipasi Kenaikan PTKP

    21 shares
    Share 8 Tweet 5
  • Punya Gadget Nganggur? Bisa Tukar Tambah dengan Galaxy Z Fold8 Serie

    20 shares
    Share 8 Tweet 5
  • Peringatan Dini Cuaca BMKG 9-10 Oktober 2026, Ini Daftar Wilayah Terdampak

    20 shares
    Share 8 Tweet 5
wartakita-id-buku-saku-bencana-bnpb_cr

Unduh Buku Saku “SIAGA BENCANA” dari BNPB

02/11/2023

Buku saku siaga bencana ini tidak menjamin keselamatan Anda. Namun, memberikan pedoman secara umum untuk kesiapsiagaan.

Read moreDetails

WARTAKITA

Seni Merawat Vespa Matic_wartakita.id
Otomotif

Seni Merawat Vespa Matic: Bebaskan Gredek, Nikmati Perjalanan Halus

06/12/2025
menari bersama misteri nara saluna
Gaya Hidup

Merasa Tertinggal dari Teman Seusiamu? Mari Berdamai dengan “Garis Waktu” Hidup yang Tak Terduga

29/11/2025
insta360-go-3s-780x470.jpg
Gadget

Insta360 GO 3S Hadir dengan Video 4K dan Dukungan Apple Find My

25/07/2024
ilustrasi pria berketombe
Gaya Hidup

Rambut Rontok Parah? Kenali Penyebab dan Solusi Alami

24/11/2025
vespa sprint atau primavera_wartakita.id
Otomotif

Vespa Primavera vs. Sprint 2025: Dua Jiwa, Satu Mesin, Pilihan Anda?

30/11/2025
Ini 4 Serum Ajaib Wajib Punya untuk Melindungi Rambut dari Panas_wartakita.id
Fashion & Kecantikan

Rahasia Kilau Rambut Jisoo Bukan Cuma Alat Mahal! 4 “Serum Ajaib” Wajib Punya untuk Lindungi Rambut dari Panas

29/11/2025
parfum dengan kharisma sejati 1_cr
Fashion & Kecantikan

Kenapa Parfum Anda Tidak Meninggalkan Kesan? (Dan Cara Mengatasinya)

16/11/2025
Jisoo+Dyson
Gadget

Jisoo BLACKPINK dan Dyson: Rahasia Rambut Sehat Berkilau

21/11/2025
vespa gts supertech
Otomotif

Update Harga OTR & Simulasi Kredit Vespa Matic 2025: Dari LX 125 hingga GTS 300 Super Tech

29/11/2025
skincare kulit kering 2 e1766181785188.jpg
Fashion & Kecantikan

7 Jurus Pilih Pelembap Bikin Glowing Sehat

20/12/2025
hidup sehat dan seimbang_cr_tn1
Gaya Hidup

Keseimbangan Hidup Optimal: Menjaga Kesehatan dari Dalam dan Luar

24/11/2025
1763287827_Smoothing-vs-Rebonding-vs-Keratin-Mana-yang-Terbaik-untuk-Rambutmu.jpg
Fashion & Kecantikan

Smoothing vs Rebonding vs Keratin: Mana yang Terbaik untuk Rambutmu?

16/11/2025
tips-keselamatan
Alam dan Lingkungan Hidup

Tips Keselamatan Saat Gempa Bumi

23/12/2023

Gempa bumi tidak seperti kejadian alam lainnya yang masih bisa diprediksi jauh-jauh hari dengan lebih akurat.

Read moreDetails
  • beranda
  • kontak
  • layanan
  • beriklan
  • privasi
  • perihal

©2021 wartakita media

  • Login
No Result
View All Result
  • 🏚️
  • ALAM
  • WARTA
    • PEMBELAJARAN
    • HUKUM
    • NUSANTARA
    • OLAHRAGA
    • TEKNOLOGI
    • KULINER
    • OTOMOTIF
    • SEPAK BOLA
    • #CEKFAKTA
  • GAYA
  • MAKASSAR
  • TEKNOLOGI
  • KONTAK
    • Mari Bermitra
    • Tentang Wartakita
    • Tim Redaksi
    • Kebijakan Privasi
    • TRAKTIR KOPI

©2021 wartakita media

wartakita.id menggunakan cookies tanpa mengorbankan privasi pengunjung.