Rabu, 1 Juli 2026
  • beranda
  • kontak
  • layanan
  • beriklan
  • privasi
  • perihal
WartakitaID
  • 🏚️
  • ALAM
  • WARTA
    • PEMBELAJARAN
    • HUKUM
    • NUSANTARA
    • OLAHRAGA
    • TEKNOLOGI
    • KULINER
    • OTOMOTIF
    • SEPAK BOLA
    • #CEKFAKTA
  • GAYA
  • MAKASSAR
  • TEKNOLOGI
  • KONTAK
    • Mari Bermitra
    • Tentang Wartakita
    • Tim Redaksi
    • Kebijakan Privasi
    • TRAKTIR KOPI
No Result
View All Result
WartakitaID
  • 🏚️
  • ALAM
  • WARTA
    • PEMBELAJARAN
    • HUKUM
    • NUSANTARA
    • OLAHRAGA
    • TEKNOLOGI
    • KULINER
    • OTOMOTIF
    • SEPAK BOLA
    • #CEKFAKTA
  • GAYA
  • MAKASSAR
  • TEKNOLOGI
  • KONTAK
    • Mari Bermitra
    • Tentang Wartakita
    • Tim Redaksi
    • Kebijakan Privasi
    • TRAKTIR KOPI
No Result
View All Result
WartakitaID
No Result
View All Result
Home Alam dan Lingkungan Hidup

Bantargebang: Proyek Energi dari Sampah dan Ancaman Bom Waktu Gas Metana

by Pewarta Warga
22/05/2026
in Alam dan Lingkungan Hidup
Reading Time: 5 mins read
A A
img-1779401590-74b4579c94a29fb3

TPA Bantargebang, fasilitas kelolaan sampah raksasa, kini menjadi sorotan ganda: sebagai sumber potensi energi terbarukan sekaligus bom waktu gas metana yang kian mendesak penanganan. Proyek waste-to-energy (WtE) terus digalakkan, namun bayang-bayang ancaman lingkungan dan sosial masih membayang.

Potensi Energi dan Proyek Waste-to-Energy

Luas mencapai 110,3 hektare, Tempat Pemrosesan Akhir Sampah (TPST) Bantargebang telah lama menjadi lokasi pembuangan akhir bagi jutaan ton sampah Ibu Kota. Sejak 2020, sebuah Pembangkit Listrik Tenaga Sampah (PLTSa) skala kecil telah beroperasi di sana. Fasilitas ini, hasil kolaborasi antara Pemerintah Provinsi DKI Jakarta dan Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), menggunakan teknologi termal untuk mengubah sampah menjadi listrik. Kementerian Pekerjaan Umum, melalui Ditjen Cipta Karya, berperan dalam tahap pre-treatment untuk menyaring sampah yang tidak dapat dibakar.

PLTSa ini mampu mengolah 100 ton sampah per hari dan menghasilkan sekitar 700 kWh listrik. Dengan capacity factor 95%, operasionalnya tergolong stabil dan konsisten, didukung oleh tim ahli dan tenaga terampil. Biaya operasionalnya diperkirakan mencapai Rp500.000 per ton sampah.

Namun, rencana pengembangan proyek waste-to-energy (WtE) di Bantargebang terus digencarkan. Pemerintah Provinsi DKI Jakarta telah mengalokasikan dua lokasi potensial untuk pengembangan skala besar kepada Badan Pengelola Investasi Dana Nusantara (Danantara). Salah satu lokasi yang diajukan berada di area TPST Bantargebang, meskipun lahannya bukan milik pemerintah melainkan pihak swasta. Kepala Dinas Lingkungan Hidup DKI Jakarta, Dudi Gardesi Asikin, memastikan bahwa lahan tersebut dapat digunakan untuk pengolahan sampah dan menjamin ketersediaannya.

World Cup 2026

Fasilitas WtE yang akan dibangun ini dipastikan berbeda dan bukan sekadar pengembangan dari pilot project PLTSa yang sudah ada. Proyek kolaborasi dengan Danantara ini semakin intensif digalakkan, terutama setelah insiden longsoran sampah di Bantargebang pada 8 April lalu yang merenggut belasan korban jiwa. Musibah tersebut menjadi pengingat keras akan kondisi TPST Bantargebang yang telah melewati batas daya tampungnya.

Menteri Koordinator Bidang Pangan, Zulkifli Hasan, pernah menyatakan harapannya agar kejadian serupa tidak terulang dengan adanya proyek WtE di Bantargebang. Selain di Bantargebang, proyek WtE juga direncanakan akan dibangun di Tanjung Kamal Muara, Jakarta Utara. Kedua fasilitas ini diperkirakan mampu mengelola total 3.000 ton sampah per hari, baik sampah baru maupun sampah lama yang menumpuk.

Pelibatan Pemulung dalam Pengelolaan Sampah

Di tengah geliat proyek pengelolaan sampah menjadi energi, isu pelibatan para pemulung menjadi poin krusial yang disuarakan oleh Andi, perwakilan dari Ikatan Pemulung Indonesia (IPI). Ia menyayangkan minimnya keterlibatan pemulung dalam program-program pemerintah, baik itu yang berbasis refuse derived fuel maupun PLTSa.

“Jangan bikin pemulung baru yang punya ijazah,” tegas Andi, menyiratkan harapan agar program pemerintah tidak justru menggusur mata pencaharian masyarakat informal ini. IPI terus berupaya menyampaikan pandangannya kepada pemerintah agar pemulung dapat dilibatkan secara konstruktif. Menurutnya, para pekerja informal ini siap mendukung program pemerintah asalkan dilibatkan dengan baik, misalnya dengan menyerahkan sampah yang belum diolah untuk mereka kelola terlebih dahulu.

Unit Pengelola TPST Bantargebang belakangan ini mulai mengajak diskusi para pemulung untuk menggalang dukungan program pemerintah, termasuk pengelolaan sampah menjadi energi listrik. Namun, Andi menyampaikan bahwa hingga kini belum ada kesepakatan yang benar-benar menguntungkan bagi kedua belah pihak. Ia merasa bahwa niat Pemprov DKI Jakarta cenderung untuk meniadakan peran pemulung, meskipun tidak diucapkan secara langsung.

Jika memang pemulung harus ditiadakan perannya, Andi menekankan pentingnya adanya pekerjaan baru sebagai bantalan ekonomi bagi masyarakat agar mata pencaharian mereka tidak hilang begitu saja.

Di sisi lain, Menteri Lingkungan Hidup/Kepala Badan Pengendalian Lingkungan Hidup, Jumhur Hidayat, menyatakan komitmennya untuk melibatkan para pemulung dalam proyek-proyek pengelolaan sampah, termasuk WtE. Ia berencana membicarakan hal ini langsung dengan para pemulung di Jakarta, bahkan telah berencana bertemu dengan 6.000 pemulung sebagai perwakilan.

“Pemulung kan tetap harus misah-misah (sampah), mungkin bisa dilibatkan di situ, tetap bekerja,” ujar Jumhur, mengindikasikan bahwa peran pemulung dalam memilah sampah akan tetap dibutuhkan.

World Cup 2026

Bantargebang sebagai ‘Bom Waktu’ Gas Metana

TPST Bantargebang kini menghadapi isu serius lainnya, yaitu sebagai penghasil gas metana terbesar kedua di dunia. Laporan dari tim riset Emmett Institute di University of California Los Angeles (UCLA) menempatkan Bantargebang di bawah TPA Campo de Mayo di Argentina dalam hal emisi metana.

Diperkirakan, Bantargebang akan menghasilkan sekitar 6,3 metrik ton gas metana setiap jam pada tahun 2025. Gas metana ini, yang berkontribusi signifikan terhadap peningkatan suhu bumi, berasal dari pembusukan sampah organik. Fakta ini sejalan dengan data Sistem Informasi Pengelolaan Sampah Nasional (SIPSN) Kementerian Lingkungan Hidup, yang menunjukkan bahwa sampah sisa makanan atau organik mendominasi total sampah di Indonesia dengan proporsi sekitar 39,36%.

Menurut Dosen Teknik Kimia Universitas Gadjah Mada, Hanifrahmawan Sudibyo, gas metana terbentuk ketika sampah organik dalam jumlah besar menumpuk dan menciptakan lingkungan ideal bagi aktivitas mikroorganisme anaerob. Gas ini dapat terlepas ke atmosfer jika tidak dikelola dengan baik.

Hanif menjelaskan bahwa metana secara alami merupakan bagian dari siklus karbon bumi. Namun, akumulasi limbah organik yang tidak terkelola optimal dapat menyebabkan produksi metana berlebihan. Potensi pemanasan global akibat metana jauh lebih tinggi dibandingkan karbon dioksida dalam jangka waktu tertentu, menjadikannya isu penting dalam pengendalian emisi gas rumah kaca.

Mengolah Metana Menjadi Energi dan Mencegah Emisi

Gas metana dari tempat pembuangan sampah seperti Bantargebang sebenarnya dapat diolah menjadi sumber energi. Prosesnya meliputi teknologi penangkapan gas metana, yang biasanya menggunakan jaringan pipa vertikal atau horizontal di area timbunan sampah untuk mengumpulkan gas.

Gas yang terkumpul tersebut kemudian dapat dialirkan ke unit pemurnian atau pembangkit listrik tenaga biogas. Untuk menekan timbulan gas metana, langkah krusialnya adalah memilah sampah dan mengurangi jumlah limbah organik yang masuk ke Tempat Pembuangan Akhir.

BACA JUGA:

Makassar Perkuat Pengelolaan TPA: Fokus pada Sistem Operasional dan Potensi Gas Metan

Pemkot Makassar Tawarkan Rp100 Juta: Warga Makassar, Ini Kriteria RT Pengelola Sampah Terbaik Anda!

Transformasi TPA Antang Makassar: Menuju Sistem Sanitary Landfill Modern yang Berkelanjutan

Pulau Sampah Muncul Lagi di Muara Angke: Pemprov DKI Bergerak Cepat Atasi 8,8 Ton Timbunan

Teror Api Misterius di Sleman: 56 Titik Muncul, Keluarga Agus Berjaga Siang Malam di Tengah Investigasi

“Peningkatan konsumsi masyarakat tanpa diimbangi pengelolaan limbah yang baik akan meningkatkan beban TPA, baik dari sisi kapasitas maupun potensi pembentukan gas metana,” ujar Hanif, menekankan pentingnya pengelolaan limbah yang beriringan dengan peningkatan konsumsi.


Bantargebang: Proyek Energi dari Sampah dan Ancaman Bom Waktu Gas Metana - image 3

Add wartakita.id as a preferred source on Google

Tags: BRINDKI Jakartaenergi terbarukangas metanalingkungan hiduppemulungpengelolaan sampahPLTSaTPA BantargebangWaste to Energy
Share8Tweet5Send
World Cup 2026

ARTIKEL TERKAIT

Bantargebang: Proyek Energi dari Sampah dan Ancaman Bom Waktu Gas Metana - Featured

Gempa Dahsyat Venezuela Tewaskan Ribuan Jiwa: Pelajaran Kesiapsiagaan Global dan Tantangan Bantuan

29/06/2026
Bantargebang: Proyek Energi dari Sampah dan Ancaman Bom Waktu Gas Metana - Featured

Gempa Dahsyat Guncang Dunia: Venezuela Porak-Poranda, Jepang & California Utara Rasakan Getaran Kuat

26/06/2026
palu-2026

Breaking News: Gempa Magnitudo 6,7 Guncang Palu Sulawesi Tengah, Warga Berhamburan Keluar Bangunan

16/06/2026
img-1780903855-dff0f1274153ee93

Gempa M 7,7 Filipina Selatan Picu Potensi Tsunami di Sejumlah Wilayah Indonesia: Analisis BMKG dan Imbauan Kewaspadaan

08/06/2026
img-1780819308-bb5714bba56c37ce

Pulau Sampah Muncul Lagi di Muara Angke: Pemprov DKI Bergerak Cepat Atasi 8,8 Ton Timbunan

07/06/2026
img-1780199595-12c953bfc18e5bd5

Teror Api Misterius di Sleman: 56 Titik Muncul, Keluarga Agus Berjaga Siang Malam di Tengah Investigasi

31/05/2026
img-1778606167-398caec29d9fea93

Pemandu Gunung Dukono Ungkap Penyesalan Mendalam

13/05/2026
img-1777716797-94815586975286ee

BMKG: Monsun Australia Menguat, Musim Kemarau Mulai Menyapa Sejumlah Wilayah Indonesia

02/05/2026

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

I agree to the Terms & Conditions and Privacy Policy.

TERPOPULER-SEPEKAN

  • Bantargebang: Proyek Energi dari Sampah dan Ancaman Bom Waktu Gas Metana - Featured

    Tiga Pelajar Unggulan Dinobatkan Duta Baca Pelajar Makassar 2026: Menggerakkan Literasi di Jantung Sulawesi Selatan

    49 shares
    Share 20 Tweet 12
  • Wisata Dan Tradisi Nyekar Di Pulau Libukang Palopo

    119 shares
    Share 48 Tweet 30
  • Tren Makeup dan Skincare Gen Z yang Wajib Kamu Tahu

    33 shares
    Share 13 Tweet 8
  • Anggaran Rp 30 Juta per Orang untuk Latihan Militer Calon Manajer Kopdes, Hasanuddin Usulkan Penghapusan

    18 shares
    Share 7 Tweet 5
  • Prabowo Soroti Arus Modal Keluar Rp51,8 Triliun, Fokus Bentuk Satgas Atasi Hambatan Investasi

    38 shares
    Share 15 Tweet 10
  • GitHub Copilot Workspace: Bukan Sekadar AI Pair Programmer, Tapi Revolusi Kolaborasi Kode Otonom

    16 shares
    Share 6 Tweet 4
  • Tiongkok Sumbang Rp 3,3 Miliar untuk Korban Sekolah Iran, Tuding AS-Israel

    49 shares
    Share 20 Tweet 12
  • 16 Model Rambut Pria yang Terbukti Disukai Wanita, Keren dan Stylish! (Update 2026)

    140 shares
    Share 56 Tweet 35
  • Kode CMD Untuk Mempercepat Kinerja Laptop

    673 shares
    Share 269 Tweet 168
  • 5 Rekomendasi Potongan Rambut Pria saat Melamar Kerja, Rapi, Simpel dan Stylish

    470 shares
    Share 188 Tweet 118
wartakita-id-buku-saku-bencana-bnpb_cr

Unduh Buku Saku “SIAGA BENCANA” dari BNPB

02/11/2023

Buku saku siaga bencana ini tidak menjamin keselamatan Anda. Namun, memberikan pedoman secara umum untuk kesiapsiagaan.

Read moreDetails

WARTAKITA

3 kompas batin wartakita_tn1
Gaya Hidup

Jeda di Tengah Badai: Tiga Kompas Batin untuk Mengarungi Gelombang Hidup

20/11/2025
Alternatif Hair Styler Canggih Mulai 300 Ribuan_wartakita.id
Fashion & Kecantikan

Ingin Rambut ‘Badai’ ala Jisoo Tapi Budget Terbatas? Ini 3 Alternatif Hair Styler Canggih Mulai 300 Ribuan!

29/11/2025
telegram-bot
Gadget

Labirin Pilihan Smartphone Modern: Dari Fotografi Hingga Gaming

15/11/2025
Mug CIVAGO dengan lapisan keramik & insulasi vakum tahan 12 jam 1-salwasalon
Gaya Hidup

Aroma Kopi Pagi Anda, Tetap Hangat Sempurna Hingga Siang

06/12/2025
Seni Merawat Vespa Matic_wartakita.id
Otomotif

Seni Merawat Vespa Matic: Bebaskan Gredek, Nikmati Perjalanan Halus

06/12/2025
img-1764777491-e442ac7fe1f792b9
Gaya Hidup

Parfum Lokal Wangi Sultan: Mirip Niche Eropa, Harga Murah!

04/12/2025
menari bersama misteri nara saluna
Gaya Hidup

Merasa Tertinggal dari Teman Seusiamu? Mari Berdamai dengan “Garis Waktu” Hidup yang Tak Terduga

29/11/2025
hidup sehat dan seimbang_cr_tn1
Gaya Hidup

Keseimbangan Hidup Optimal: Menjaga Kesehatan dari Dalam dan Luar

24/11/2025
Ini 4 Serum Ajaib Wajib Punya untuk Melindungi Rambut dari Panas_wartakita.id
Fashion & Kecantikan

Rahasia Kilau Rambut Jisoo Bukan Cuma Alat Mahal! 4 “Serum Ajaib” Wajib Punya untuk Lindungi Rambut dari Panas

29/11/2025
parfum dengan kharisma sejati 1_cr
Fashion & Kecantikan

Kenapa Parfum Anda Tidak Meninggalkan Kesan? (Dan Cara Mengatasinya)

16/11/2025
img-1764775654-b12300608d9039ae
Otomotif

Modifikasi Vespa Matic: 10 Aksesoris ‘Proper’ Budget Pelajar-Sultan

04/12/2025
1763889026-rahasia-kulit-glowing-di-rumah-spa-mandiri-perawatan-diri.jpg
Fashion & Kecantikan

Rahasia Kulit Glowing di Rumah: Spa Mandiri & Perawatan Diri untuk Beauty Besties

23/11/2025
tips-keselamatan
Alam dan Lingkungan Hidup

Tips Keselamatan Saat Gempa Bumi

23/12/2023

Gempa bumi tidak seperti kejadian alam lainnya yang masih bisa diprediksi jauh-jauh hari dengan lebih akurat.

Read moreDetails
  • beranda
  • kontak
  • layanan
  • beriklan
  • privasi
  • perihal

©2021 wartakita media

  • Login
No Result
View All Result
  • 🏚️
  • ALAM
  • WARTA
    • PEMBELAJARAN
    • HUKUM
    • NUSANTARA
    • OLAHRAGA
    • TEKNOLOGI
    • KULINER
    • OTOMOTIF
    • SEPAK BOLA
    • #CEKFAKTA
  • GAYA
  • MAKASSAR
  • TEKNOLOGI
  • KONTAK
    • Mari Bermitra
    • Tentang Wartakita
    • Tim Redaksi
    • Kebijakan Privasi
    • TRAKTIR KOPI

©2021 wartakita media

wartakita.id menggunakan cookies tanpa mengorbankan privasi pengunjung.