Tragedi pendakian Gunung Dukono di Halmahera Utara merenggut nyawa dua warga negara Singapura dan meninggalkan luka mendalam bagi pemandu lokal, Reza. Ia tak pernah menyangka ritual pendakian yang seharusnya menjadi pengalaman tak terlupakan berubah menjadi mimpi buruk akibat erupsi tiba-tiba yang mematikan.
Detik-detik Mencekam Erupsi Gunung Dukono
Pada Jumat (08/05) lalu, Reza, 35 tahun, memandu 20 orang, termasuk sembilan warga negara asing, menuju puncak Gunung Dukono. Rombongan tiba di Desa Mamuya pada Kamis (07/05) dan melanjutkan perjalanan ke titik pendakian. Malam itu, tidak ada tanda-tanda aktivitas vulkanik yang mencurigakan. “Sangat tenang,” ujar Reza, merujuk pada kondisi kawah yang terpantau melalui drone pagi harinya.
Pendakian dimulai pukul 05.30 WIT, dan rombongan tiba di dekat puncak sekitar pukul 07.20 WIT. Reza mengizinkan rombongan untuk naik lebih dekat dengan syarat tidak berlama-lama. Namun, tepat pukul 07.41 WIT, hanya berselang satu menit setelah pemantauan drone terakhirnya, Gunung Dukono meletus dahsyat.
Dua Letusan Susul-menyusul dan Material Vulkanik
Menurut Reza, terjadi dua letusan dalam selang waktu kurang dari satu menit. Letusan pertama masih mengeluarkan asap, diikuti oleh letusan susulan yang memuntahkan material vulkanik dalam jumlah besar. Para pendaki seketika berhamburan turun mencari keselamatan.
“Begitu mereka berhamburan lari ke bawah, saya dekatkan drone untuk melihat apakah ada yang tertinggal atau enggak. Ternyata ada satu orang yang terkapar di atas, dekat puncak,” ungkap Reza.
Tragedi Penyelamatan yang Berakhir Pilu
Korban pertama diketahui bernama Shahin Muhrez bin Abdul Hamid, warga negara Singapura. Pendaki lain, Timothy Heng, sempat turun namun memutuskan kembali untuk menolong Shahin. Reza pun berlari menyusul Timothy untuk membantu evakuasi.
Keduanya berusaha menyeret tubuh Shahin menuruni jalur pendakian di tengah hujan batu vulkanik. Namun, saat mencoba mengubah jalur, kawah kembali memuntahkan sebuah batu besar berdiameter sekitar dua meter. “Saya sudah teriak ‘stone’, tapi Timo balik dan hanya sepersekian detik dia langsung memeluk Shahin,” tutur Reza dengan nada getir.
Reza menyaksikan batu besar itu menghantam tubuh kedua rekannya dengan keras. “Kena semuanya, kepala, badan, seluruhnya, karena batunya besar,” katanya.
Keinginan Meminta Maaf
Saksi mata langsung dari kejadian itu, Reza, mengaku sempat membeku menyaksikan dua orang yang dikenalnya selama perjalanan terhimpit batu. Ia baru tersadar saat mendengar teriakan memanggil namanya, lalu segera mengabari grup mapala dan keluarganya.
Di tengah kekacauan tersebut, satu peserta lain, Angel Krishela Pradita, asal Ternate, juga dinyatakan hilang dan jasadnya baru ditemukan pada Sabtu (09/05). Jasad Timothy dan Shahin berhasil dievakuasi pada Minggu (10/05).
Reza mengungkapkan penyesalannya yang mendalam. “Ini kejadian pertama yang saya alami dan saya merasa sangat bersalah kepada korban dan keluarga korban,” ujarnya.
“Saya rasanya pengin ke sana, sujud di kaki orang tuanya korban. Saya ingin minta maaf.”
Berbagai skenario penyesalan terlintas di benaknya. “Seandainya kemarin kita enggak naik, seandainya kemarin saya enggak terima [pekerjaan ini], seandainya Dukono bukan tujuan terakhir,” katanya.
Proses Hukum dan Latar Belakang Pendakian
Setelah operasi pencarian dihentikan sementara pada Jumat malam (08/05), Reza langsung menjalani pemeriksaan polisi. Ia dan timnya belum diizinkan meninggalkan Tobelo, Halmahera Utara, sambil menunggu proses penyelidikan lebih lanjut.
Kasat Reskrim Polres Halmahera Utara, Iptu Rinaldi Anwar, mengonfirmasi adanya pemeriksaan intensif terhadap dua orang berinisial MRS dan JA yang terafiliasi dengan akun promosi pendakian. Kapolres Halmahera Utara, AKBP Erlichson Pasaribu, menegaskan tidak akan menoleransi kelalaian yang berujung hilangnya nyawa wisatawan dan berjanji mengusut tuntas semua pihak yang terlibat.
Ketidaktahuan Terhadap Peringatan Erupsi
Reza mengaku tidak mengetahui adanya pemberitahuan penutupan Gunung Dukono sejak 17 April. Ia baru mengetahuinya setelah kejadian. “Informasi penutupan tanggal 17 April itu saya enggak dapat. Bahkan dari mereka yang notabene warga Mamuya,” ujarnya.
Ia juga menambahkan bahwa meskipun status Gunung Dukono saat itu ‘Waspada’ (Level 2), praktik pendakian gunung di Indonesia seringkali tetap diizinkan, bahkan pada level serupa seperti Gunung Rinjani.























