Sebuah insiden tragis mengguncang Stasiun Bekasi Timur pada Senin malam, 27 April, ketika Kereta Api (KA) Argo Bromo Anggrek bertabrakan dengan KRL Commuter Line. Kecelakaan ini merenggut nyawa 15 orang dan menyebabkan puluhan lainnya luka-luka, menyisakan kisah pilu perjuangan hidup.
- Kecelakaan melibatkan KA Argo Bromo Anggrek dan KRL Commuter Line di dekat Stasiun Bekasi Timur.
- 15 orang dilaporkan meninggal dunia akibat insiden ini.
- Salah satu korban, Endang Kuswati, berhasil diselamatkan setelah 10 jam terjepit di gerbong KRL.
- Proses evakuasi korban terjepit berlangsung dramatis dan memakan waktu berjam-jam.
Kronologi Maut di Stasiun Bekasi Timur
Peristiwa nahas ini berawal dari sebuah taksi bernama Green SM yang berhenti mendadak di tengah rel kereta api, tak jauh dari Stasiun Bekasi Timur. Tak lama kemudian, KRL yang melaju dari arah Cikarang menuju Jakarta menabrak taksi tersebut. Tabrakan ini menjadi pemicu tragis, mengakibatkan KRL tersebut terlempar dan bertabrakan dengan KA Argo Bromo Anggrek yang datang dari arah berlawanan.
Dampak Memilukan: 15 Nyawa Melayang
Hingga berita ini dikonfirmasi, total 15 korban meninggal dunia akibat kecelakaan kereta api yang menggemparkan ini. Sebagian besar korban telah berhasil diidentifikasi di RS Polri Jakarta Timur, dengan 10 di antaranya telah diserahkan kepada keluarga masing-masing untuk dimakamkan.
Kisah Perjuangan Endang Kuswati: 10 Jam dalam Jeruji Gerbong
Di tengah duka mendalam, muncul kisah dramatis Endang Kuswati (40), seorang penumpang yang harus berjuang mempertahankan hidupnya selama 10 jam setelah terjepit di dalam gerbong KRL. Sepupunya, Iqbal, menceritakan bagaimana Endang sempat menghubungi keluarga melalui telepon seluler sekitar pukul 22.00 WIB, menangis dan memohon pertolongan.
Keluarga Endang segera bergegas menuju Stasiun Bekasi Timur, namun informasi mengenai keberadaan dan kondisi Endang sangat minim. Hingga pukul 02.00 malam, keluarga masih gamang, belum ada kepastian apakah Endang masih di dalam gerbong atau sudah dibawa ke rumah sakit. Informasi definitif baru diterima jelang dini hari, mengindikasikan korban masih berada di dalam gerbong.
Melalui pemberitaan media, Iqbal akhirnya melihat foto Endang yang masih terjepit di dalam gerbong dalam kondisi lemas. Ia dilaporkan berada dalam situasi kritis sejak pukul 21.00 WIB dan telah mendapatkan bantuan oksigen. Proses evakuasi Endang yang berada di bagian belakang gerbong berjalan sangat lambat dan penuh tantangan.
Petugas baru berhasil mengevakuasi Endang sekitar pukul 07.00 WIB keesokan harinya. Ia segera dilarikan ke RSUD Bekasi untuk mendapatkan perawatan intensif. Kisah Endang menjadi pengingat akan betapa mengerikannya insiden tersebut dan dedikasi luar biasa para petugas penyelamat di lapangan.























