Badan Gizi Nasional (BGN) mengumumkan perubahan strategis untuk Program Makan Bergizi Gratis (MBG) di tahun 2026. Fokus utama tidak lagi pada jumlah penerima yang masif, melainkan pada peningkatan kualitas penyajian dan penargetan yang lebih tepat sasaran, terutama bagi kelompok yang paling membutuhkan.
- Program Makan Bergizi Gratis (MBG) 2026 akan bergeser dari kuantitas ke kualitas pelaksanaan.
- Presiden Prabowo Subianto telah menerima laporan mengenai perubahan prioritas ini dari BGN.
- Penargetan ulang penerima manfaat akan dilakukan, mengalihkan fokus dari sekolah yang dianggap mampu secara ekonomi ke daerah 3T (tertinggal, terdepan, terluar).
- Program akan lebih difokuskan pada tiga kelompok utama: ibu hamil, ibu menyusui, dan balita (kelompok 3B).
- Intervensi gizi akan diperkuat sejak dini, mulai dari kandungan hingga jenjang Sekolah Dasar (SD).
- Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) wajib melayani kelompok 3B, dengan sanksi suspend bagi yang gagal.
- Kebijakan baru ini diklaim telah menunjukkan hasil positif dengan penambahan jutaan penerima manfaat dari kelompok 3B.
Perubahan Paradigma: Dari Kuantitas Menuju Kualitas Pelaksanaan MBG 2026
Kepala Badan Gizi Nasional (BGN), Nanik S Deyang, secara tegas menyatakan bahwa kebijakan pelaksanaan Program Makan Bergizi Gratis (MBG) di tahun 2026 akan mengalami pergeseran prioritas yang signifikan. Berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya yang cenderung mengejar target kuantitas penerima manfaat mencapai 82,9 juta orang, BGN kini akan lebih menitikberatkan pada peningkatan kualitas pelaksanaan program.
Nanik S Deyang menjelaskan bahwa rencana perubahan ini telah dilaporkan langsung kepada Presiden Prabowo Subianto. “Kemarin kami bertiga dipanggil Presiden dan kami sudah menyampaikan ke beliau, tahun 2026 ini mohon bapak kami tidak mengejar kuantitas, kami akan perbaiki kualitas,” ujar Nanik dalam konferensi pers di kantor BGN, Jakarta Pusat, Kamis (4/6). Ia menambahkan, “Sehingga, bisa jadi kami tidak akan mengejar ke 82 juta (penerima), tapi bagaimana dapur-dapur ini sehat, memberikan makan yang bergizi.”
Refocusing Penerima Manfaat dan Penguatan Daerah 3T
Selain fokus pada peningkatan kualitas asupan gizi, BGN juga berencana untuk melakukan refocusing terhadap siapa saja yang berhak menerima manfaat dari program MBG. Tujuannya adalah agar alokasi anggaran program menjadi lebih tepat sasaran dan efektif.
Evaluasi akan dilakukan terhadap sekolah-sekolah yang dinilai sudah memiliki kemampuan ekonomi yang memadai. “Kalau ada sekolah-sekolah yang mahal, kita tanya apakah masih perlu MBG?” ujar Nanik. Kebutuhan sekolah-sekolah tersebut akan ditinjau ulang, dan prioritas akan dialihkan ke daerah-daerah dengan kategori 3T (tertinggal, terdepan, dan terluar). “Nah ini yang kita alihkan ke 3T. Jadi bisa saja sebetulnya penerima manfaatnya bertambah, tapi tambahannya ini sebetulnya mengurangi dari yang tidak fokus selama ini,” jelas Nanik lebih lanjut.
Penargetan Kritis pada Kelompok 3B: Ibu Hamil, Ibu Menyusui, dan Balita
Program MBG 2026 akan memberikan perhatian khusus dan penguatan pada kelompok 3B, yaitu ibu hamil (bumil), ibu menyusui (busui), dan balita. Keputusan strategis ini diambil setelah BGN melakukan diskusi mendalam dengan berbagai pakar, termasuk dokter anak dan ahli gizi.
Menurut pandangan para pakar, periode kehamilan hingga usia dini anak merupakan fase kritis untuk intervensi gizi. Efektivitas intervensi gizi paling optimal terjadi mulai dari kandungan bulan pertama hingga usia 9 tahun atau setidaknya sampai jenjang Sekolah Dasar (SD). Dengan demikian, BGN mengarahkan program MBG untuk memperkuat upaya intervensi gizi pada kelompok usia rentan ini.
Kewajiban Satuan Pelayanan dan Hasil Awal yang Menjanjikan
Sebagai implementasi dari kebijakan baru yang berfokus pada kelompok 3B, BGN telah mewajibkan setiap Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) untuk memprioritaskan pelayanan kepada ibu hamil, ibu menyusui, dan balita. Kegagalan dalam melaksanakan kewajiban ini akan berujung pada sanksi suspend terhadap satuan pelayanan tersebut.
Nanik S Deyang mengungkapkan bahwa kebijakan baru yang mulai diterapkan ini telah menunjukkan hasil positif dalam beberapa pekan terakhir. Terjadi penambahan sekitar 22 juta penerima manfaat yang secara spesifik masuk dalam kategori kelompok 3B, menandakan bahwa refocusing program berjalan sesuai arah yang diharapkan.























