Sebuah kapal tanker milik perusahaan Uni Emirat Arab (UEA), ADNOC, dilaporkan menjadi sasaran serangan militer Iran saat melintasi jalur perairan vital Selat Hormuz pada Jumat (7/8) waktu setempat. Insiden ini sontak memicu gelombang kecaman keras dari UEA dan Arab Saudi, yang secara tegas menilai tindakan Iran sebagai pelanggaran berat terhadap perjanjian internasional dan hukum maritim global.
- Insiden: Kapal tanker milik ADNOC (UEA) diserang militer Iran.
- Lokasi: Selat Hormuz, jalur pelayaran strategis global.
- Waktu: Jumat (7/8) waktu setempat.
- Tuduhan: Pelanggaran perjanjian internasional dan Resolusi Dewan Keamanan PBB Nomor 2817 oleh Iran.
- Dampak: Ancaman terhadap stabilitas regional, keamanan energi global, dan kebebasan navigasi.
- Respons: Kecaman keras dan tuntutan penghentian dari UEA dan Arab Saudi.
Kronologi dan Detail Serangan Kapal Tanker
Peristiwa yang terjadi pada Jumat (7/8) ini melibatkan kapal tanker yang beroperasi di bawah bendera Uni Emirat Arab. Sumber pelaporan mengindikasikan bahwa kapal tersebut ditembak dan menjadi sasaran penyerangan militer yang dilakukan oleh Iran saat berada di perairan internasional Selat Hormuz. Kementerian Luar Negeri UEA merinci bahwa tindakan ini merupakan pelanggaran terhadap perjanjian internasional dan Resolusi Dewan Keamanan PBB Nomor 2817. Resolusi tersebut secara spesifik menekankan pentingnya kebebasan navigasi dan menolak segala bentuk penargetan terhadap kapal-kapal komersial.
Pernyataan Resmi UEA: Pembajakan dan Ancaman Stabilitas Regional
Kementerian Luar Negeri Uni Emirat Arab melalui pernyataan resminya menegaskan bahwa penargetan pelayaran komersial, serta penggunaan Selat Hormuz sebagai instrumen tekanan atau pemerasan ekonomi, merupakan tindakan pembajakan yang dilakukan oleh Garda Revolusi Iran. UEA menekankan bahwa agresi semacam ini menimbulkan ancaman langsung dan signifikan terhadap stabilitas kawasan, kesejahteraan penduduknya, serta keamanan pasokan energi global. Lebih lanjut, UEA menggarisbawahi bahwa serangan ini merupakan pelanggaran terang-terangan terhadap prinsip-prinsip yang diatur dalam Resolusi Dewan Keamanan PBB Nomor 2817.
Respons Arab Saudi: Kecaman Keras dan Tuntutan Penghentian Segera
Menyikapi insiden ini, Kerajaan Arab Saudi tidak tinggal diam. Melalui Kementerian Luar Negerinya, Arab Saudi menyuarakan kemarahan yang mendalam, menilai tindakan Iran telah secara serius mengancam keamanan dan keselamatan pelayaran maritim internasional, serta stabilitas pasokan energi global. Arab Saudi menyatakan bahwa Kerajaan memandang Iran bertanggung jawab penuh atas segala konsekuensi yang timbul dari agresi yang terus dilakukannya ini. Kerajaan secara tegas menuntut agar Iran segera menghentikan seluruh pelanggaran tersebut demi menjaga perdamaian, stabilitas, dan keselamatan kawasan. Arab Saudi menyampaikan kecaman dan penolakan keras atas serangan tersebut, menganggapnya sebagai pelanggaran berat terhadap hukum internasional. Selain itu, Kerajaan menegaskan kembali solidaritas penuhnya dengan negara sahabat Uni Emirat Arab serta dukungan penuh terhadap segala langkah yang akan diambil UEA untuk menjaga kedaulatan dan sumber dayanya.
Insiden ini kembali menyoroti eskalasi ketegangan yang kerap terjadi di Selat Hormuz, sebuah jalur pelayaran yang sangat vital bagi kelancaran perdagangan minyak global. Dinamika di kawasan ini terus menjadi perhatian utama komunitas internasional.
Add wartakita.id as a preferred source on Google























