Ketegangan di jalur perairan strategis Selat Hormuz kembali memanas seiring Iran merilis daftar tuntutan tegas kepada Amerika Serikat. Kepala Keamanan Nasional Iran, Mohammad Bagher Zolghadr, menekankan bahwa pemenuhan syarat-syarat ini mutlak diperlukan sebelum Iran bersedia membuka kembali akses vital tersebut.
Lima Tuntutan Krusial Iran untuk Pembukaan Selat Hormuz
Dalam sebuah pernyataan yang dipublikasikan oleh media pemerintah Iran pada Minggu, 9 Agustus 2026, Zolghadr, yang juga merangkap sebagai sekretaris Dewan Keamanan Nasional Tertinggi, menggarisbawahi lima poin utama yang merepresentasikan aspirasi mendalam rakyat Iran:
- Pencabutan Blokade Angkatan Laut AS: Iran secara tegas menuntut diakhirinya seluruh kebijakan blokade laut yang diberlakukan oleh Amerika Serikat di kawasan strategis tersebut.
- Penarikan Pasukan Militer: Tuntutan kedua adalah penarikan penuh seluruh pasukan militer Amerika Serikat dari area yang relevan dengan sengketa ini.
- Pengakhiran Perang Secara Permanen: Iran mendesak penghentian total dan definitif atas segala bentuk konflik, permusuhan, atau tindakan perang apa pun yang melibatkan pihak-pihak terkait.
- Kompensasi atas Kerugian: Amerika Serikat diminta untuk memberikan ganti rugi finansial yang memadai kepada Iran atas segala kerugian yang diderita akibat eskalasi konflik sebelumnya.
- Pencairan Aset yang Dibekukan: Iran menuntut agar seluruh aset negara mereka yang saat ini berada di bawah pembekuan oleh Amerika Serikat segera dicairkan dan dikembalikan.
Zolghadr menegaskan, “Ini adalah tuntutan rakyat Iran, yang telah mereka suarakan dengan lantang selama 160 hari kehadiran mereka yang teguh di lapangan dan di jalanan.” Ia menambahkan dengan nada tegas, “Selama Amerika tidak memperbaiki perilakunya, Selat Hormuz tidak akan dibuka kembali.” Pernyataan ini menyiratkan bahwa Iran melihat tindakan AS sebagai penyebab utama ketegangan dan blokade.
Perkembangan Diplomasi dan Peran Oman
Di tengah tuntutan tersebut, geliat diplomasi internasional terus berlanjut. Pada Sabtu, 8 Agustus, Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi, mengumumkan kemajuan signifikan dalam negosiasi dengan Kesultanan Oman mengenai pengelolaan Selat Hormuz. Namun, Araghchi menekankan bahwa pembukaan kembali selat ini tetap bergantung pada terpenuhinya kondisi-kondisi yang diajukan Iran, termasuk perbaikan atas apa yang disebutnya sebagai pelanggaran nota kesepahaman oleh AS pada bulan Juni lalu.
Kementerian Luar Negeri Oman menyambut baik perundingan tersebut, menggambarkannya sebagai langkah yang positif dan konstruktif menuju stabilitas kawasan. Sementara itu, laporan dari lembaga penyiaran negara Iran, Islamic Republic of Iran Broadcasting (IRIB), pada Jumat, 7 Agustus, menyebutkan bahwa mayoritas anggota parlemen Iran telah memberikan persetujuan awal terhadap kerangka perjanjian dengan Oman. Meskipun demikian, persetujuan akhir dan detail implementasinya masih menunggu proses selanjutnya.
Add wartakita.id as a preferred source on Google























