Pemberitahuan pencopotan Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa melalui telepon menuai kritik tajam dari analis komunikasi politik. Langkah ini dinilai tidak pantas, tidak etis, dan mengabaikan protokoler birokrasi yang seharusnya dijunjung tinggi dalam sebuah pemerintahan.
Kritik Terhadap Metode Pemberhentian Mendadak
Analis komunikasi politik Universitas Padjadjaran, Kunto Adi Wibowo, dengan tegas menyatakan bahwa pemberhentian Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa melalui pemberitahuan telepon adalah tindakan yang tidak pantas dan melanggar etika. Menurut Kunto, keputusan mendadak seperti ini menyiratkan adanya masalah krusial yang tidak dapat diselesaikan secara internal, sehingga necessitating pergantian menteri.
Beliau menekankan bahwa proses pergantian pejabat setingkat menteri seharusnya melalui jalur protokoler yang jelas dan sesuai dengan tatanan birokrasi, meskipun menteri merupakan pembantu presiden. Kunto menyarankan adanya rapat kabinet rutin untuk mengumumkan pergantian tersebut, atau setidaknya pemanggilan khusus untuk berdiskusi dan memberikan penjelasan kepada publik mengenai alasan di balik reshuffle, serta harapan bagi menteri yang baru.
Cara tersebut, menurut Kunto, akan menciptakan transisi yang lebih mulus di kementerian, sekaligus bentuk penghormatan kepada menteri yang akan diganti, serta hak publik untuk mengetahui latar belakang pergantian tersebut. Pengalaman saya sebagai jurnalis senior kerap menyaksikan bagaimana komunikasi yang transparan dalam perubahan kepemimpinan dapat meminimalisir gejolak dan spekulasi.
Dugaan Motif Tegas dan Penguatan Citra
Kunto Adi Wibowo menduga, metode pencopotan menteri melalui telepon dan secara mendadak ini dilakukan Presiden untuk membangun citra tegas di hadapan para pembantunya. Hal ini berpotensi menimbulkan kekhawatiran di kalangan menteri lain mengenai kemungkinan dipecat kapan saja.
Menghindari Ketidaknyamanan Personal dan Membangun Persepsi Publik
Lebih lanjut, Kunto mengemukakan bahwa Presiden mungkin memilih pendekatan ini untuk menghindari ketidaknyamanan personal saat harus menyampaikan niat penggantian secara langsung. Selain itu, cara ini dinilai lebih mudah dilakukan dan memungkinkan Presiden untuk memperkuat persepsi publik bahwa ia adalah pemimpin yang tegas.
Ini juga menjadi pesan kuat bagi para pembantunya bahwa Presiden memegang kendali penuh atas kekuasaan. Fenomena ini, kata Kunto, dapat menjelaskan mengapa Presiden cenderung menolak pengunduran diri menteri dan memilih untuk melakukan penggantian di tengah masa jabatan.
Mengurangi Spekulasi Publik
Kunto berpendapat bahwa kepatuhan terhadap birokrasi dalam proses pergantian menteri dapat meminimalisir spekulasi publik mengenai alasan sebenarnya di balik pemecatan. Sebaliknya, metode pemberitahuan telepon yang terkesan dingin dan tanpa kompromi justru memicu berbagai prasangka di ruang publik.
Pesan Ekonomi Melalui Pergantian Menteri
Di sisi lain, penggantian Purbaya Yudhi Sadewa juga dapat diinterpretasikan sebagai upaya Presiden untuk mengirimkan sinyal perbaikan kondisi ekonomi. Dengan mengganti Purbaya, yang dianggap gagal menjaga stabilitas ekonomi, Presiden seolah menunjukkan harapan untuk pemulihan ekonomi di masa mendatang.
Dampak Kecemasan bagi Menteri Lain
Namun demikian, strategi ini berpotensi menciptakan kecemasan baru bagi menteri-menteri lainnya, yang kini sadar bahwa mereka bisa saja dihubungi oleh Sekretaris Kabinet atau Menteri Sekretaris Negara kapan saja untuk menerima pemberitahuan serupa.
Melimpahkan Tanggung Jawab Ekonomi
Kunto menilai, Presiden Prabowo tampaknya ingin melepaskan tanggung jawab atas anjloknya perekonomian Indonesia, dengan mengaitkannya pada kegagalan pengelolaan oleh Menteri Keuangan sebelumnya. Meskipun, Purbaya sendiri hanya menjalankan perintah Presiden. Secara politik, ini bisa diartikan sebagai upaya melimpahkan seluruh permasalahan ekonomi kepada menteri yang dipecat.
Padahal, Kunto menegaskan, memburuknya kondisi perekonomian tidak semata-mata disebabkan oleh Kementerian Keuangan. Beban tersebut seharusnya tidak hanya ditanggung oleh seorang menteri keuangan.
Pengakuan Purbaya Yudhi Sadewa
Purbaya Yudhi Sadewa tercatat menjabat sebagai Menteri Keuangan selama 1 tahun dan 6 hari, menjadikannya menteri keuangan dengan masa jabatan terpendek sejak era Reformasi. Ia membenarkan bahwa pesan pemberhentiannya disampaikan oleh Menteri Sekretaris Negara, Prasetyo Hadi, melalui telepon pada Senin, 14 September 2026, saat dirinya sedang mengikuti rapat dengan Dewan Perwakilan Daerah (DPD).
Bukan Hasil Pertemuan Sebelumnya
Purbaya menepis anggapan bahwa pemberitahuan pencopotannya telah disampaikan sejak pekan lalu saat ia bertemu dengan Presiden Prabowo. Ia menjelaskan bahwa pertemuan tersebut membahas isu-isu lain yang tidak berkaitan dengan penggantian posisinya.
Syukur dan Rencana Masa Pensiun
Menariknya, Purbaya mengaku bersyukur atas kesempatan untuk melepaskan jabatannya sebagai Menteri Keuangan. Ia menyatakan keinginannya untuk menghabiskan masa pensiun dengan melakukan hobi memancing di belakang rumahnya, bahkan sambil merenungkan alasan di balik pemecatannya dengan sedikit nada humor.
Kontributor: MA. Untung
Penyunting: Budi S.























