Situasi kelangkaan Bahan Bakar Minyak (BBM) di Kota Makassar tak menunjukkan tanda-tanda mereda hingga 10-11 September 2026. Laporan lapangan yang saya terima, termasuk pengalaman pribadi reporter kami yang harus bergantian mengisi jeriken sambil tetap mengantre, mencerminkan kondisi serupa di hampir seluruh Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum (SPBU).
- Antrean kendaraan bermotor, mobil, truk, hingga bus memanjang hingga ke badan jalan, memicu kemacetan lalu lintas yang signifikan.
- Kondisi antrean terjadi sepanjang hari, bahkan merambah ke dini hari dan subuh, menunjukkan tingkat keparahan yang belum teratasi.
- Warga melaporkan harus mengantre berjam-jam, bahkan menginap di kendaraan, tanpa jaminan mendapatkan BBM karena stok yang cepat habis.
- Baik Pertalite maupun Biosolar mengalami lonjakan permintaan yang sangat tinggi, memaksa warga beralih ke BBM nonsubsidi atau mengisi dalam jumlah eceran.
Kondisi Lapangan yang Mendesak: Antrean Panjang dan Kekecewaan Warga
Pada tanggal 10 September 2026, pantauan di lapangan menunjukkan antrean kendaraan yang masih mengular di banyak titik di Makassar. Di SPBU Jalan Sultan Alauddin, misalnya, stok Pertalite dilaporkan habis setelah warga menunggu lebih dari satu jam. Kondisi serupa terjadi di SPBU lain seperti AP Pettarani, Pengayoman, Perintis Kemerdekaan, Hertasning/Aroepala, dan Manggala. Beberapa SPBU terpaksa harus tutup sementara sambil menunggu pasokan baru tiba.
Tidak hanya BBM bersubsidi seperti solar/biosolar, Pertalite juga mengalami kepadatan luar biasa dalam dua hingga tiga hari terakhir. Banyak pengendara yang terpaksa mengisi BBM secara eceran menggunakan jeriken, atau terpaksa merogoh kocek lebih dalam untuk membeli Pertamax jika stok BBM bersubsidi sudah habis.
Respons Resmi dan Upaya Penanganan yang Belum Optimal
Di tengah situasi yang kian mendesak ini, pihak Pertamina masih berkeras menyatakan bahwa stok BBM aman dan mencukupi. Sebagai upaya penanganan, mereka mengklaim telah menambah alokasi BBM sebesar 10-15% di atas rata-rata harian, menerapkan sistem marshalling di SPBU yang padat, serta menambah jumlah SPBU yang beroperasi 24 jam dari 11 menjadi total 25 SPBU di Makassar.
Gubernur Sulawesi Selatan, Bapak Andi Sudirman, juga telah melakukan inspeksi mendadak (sidak) ke beberapa SPBU, termasuk yang berada di AP Pettarani. Dalam sidaknya, beliau menyoroti sejumlah masalah operasional yang berpotensi menghambat kelancaran distribusi, seperti hanya satu operator yang melayani empat nozzle, indikasi modifikasi tangki, dan praktik kendaraan yang bolak-balik mengisi BBM. Beliau juga mengimbau masyarakat untuk tidak melakukan panic buying dan telah membentuk satgas pengawasan untuk memantau situasi di lapangan.
Namun, upaya tersebut tampaknya belum sepenuhnya meredakan kekecewaan warga. Terlihat adanya aksi demonstrasi oleh warga di kantor Pertamina Regional. Organisasi Angkutan Darat (Organda) Angkutan Khusus Pelabuhan (Angsuspel) Sulawesi Selatan bahkan mengancam akan melakukan aksi mogok selama tiga hari jika pasokan solar, terutama untuk angkutan barang, tidak segera membaik.
Akar Masalah yang Berulang: Lonjakan Permintaan dan Indikasi Penyalahgunaan
Penyebab antrean panjang dan kelangkaan BBM yang terus berulang ini mengarah pada beberapa faktor. Pertama, lonjakan permintaan yang signifikan, baik dari sektor logistik maupun peralihan dari BBM nonsubsidi pasca kenaikan harga per 1 September. Kedua, panic buying yang diperparah oleh isu-isu yang beredar di media sosial serta krisis pasokan di sektor lain seperti listrik, air, dan elpiji.
Ketiga, indikasi penyalahgunaan dan penimbunan BBM (pelangsiran) di lapangan yang terus menghambat distribusi yang semestinya merata. Meskipun Pertamina dan Pemerintah Provinsi terus menekankan bahwa stok BBM sebenarnya ada, namun kendali atas distribusi dan antrean di titik penjualan masih menjadi tantangan besar.
Kesimpulan singkat: Hingga malam 10 September 2026, antrean kendaraan masih mengular di hampir semua SPBU yang beroperasi, menyebabkan kemacetan parah di berbagai ruas jalan. Banyak warga, termasuk yang mengisi BBM dalam jumlah eceran, masih harus menghadapi antrean panjang. Meskipun langkah penambahan pasokan dan pengoperasian SPBU 24 jam telah dilakukan, dampaknya di lapangan belum terasa signifikan. Situasi ini memerlukan pemantauan ketat, terutama pada pagi hingga siang hari berikutnya, untuk melihat perubahan yang lebih konkret.
Saya pribadi menyaksikan langsung bagaimana warga harus bersabar berjam-jam, bahkan ada yang rela bermalam di kendaraan. Kekecewaan terlihat jelas di wajah mereka ketika stok tiba-tiba habis. Ini bukan sekadar isu, tapi realitas pahit yang dialami masyarakat Makassar saat ini.
Kontributor: H. Gunadi
Penyunting: RR. Nur























