Antrean panjang kendaraan yang mencari bahan bakar minyak (BBM) bersubsidi, khususnya solar, di Makassar kini mendapat perhatian serius dari Pemerintah Kota dan PT Pertamina. Langkah konkret diambil untuk memastikan kelancaran distribusi dan aktivitas masyarakat.
Evaluasi dan Solusi Penataan Antrean BBM Bersubsidi di Makassar
Wali Kota Makassar, Munafri Arifuddin, didampingi jajaran Pertamina Patra Niaga Regional Sulawesi, telah mengadakan pertemuan untuk merumuskan strategi penanganan antrean BBM bersubsidi. Fokus utama adalah mengatasi penumpukan kendaraan di Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum (SPBU) yang masih terpantau.
Kondisi Terkini dan Identifikasi Titik Masalah
Menurut Wali Kota Munafri Arifuddin, kondisi antrean BBM di Makassar secara umum menunjukkan perbaikan yang signifikan. Namun, ia mengakui masih ada beberapa titik SPBU yang memerlukan pengaturan lebih detail. Perhatian khusus diberikan pada SPBU yang melayani kendaraan besar seperti truk dan bus, karena mereka seringkali menjadi penyebab utama antrean panjang.
“Kondisi saat ini Alhamdulillah baik. Tapi masih ada beberapa hal yang harus kita atur lebih detail menyangkut masalah antrean pengisian bahan bakar solar,” ujar Munafri saat berkoordinasi dengan Executive General Manager Pertamina Patra Niaga Sulawesi, Deny Sukendar, di Makassar pada Rabu (23/9).
Tujuan Strategis: Kelancaran Distribusi dan Aktivitas Ekonomi Masyarakat
Pertemuan ini merupakan manifestasi komitmen Pemerintah Kota Makassar dalam memastikan penyaluran BBM bersubsidi berjalan optimal. Tujuannya adalah untuk mencegah antrean yang berpotensi mengganggu aktivitas masyarakat, kelancaran lalu lintas, serta menyeimbangkan distribusi BBM dengan kebutuhan transportasi publik dan denyut ekonomi kota.
Konsep Klaster dan Pengaturan Jam Operasional Khusus
Salah satu solusi konkret yang dibahas secara mendalam adalah penerapan konsep ‘klaster’ atau pengaturan jam operasional khusus untuk pengisian solar bagi kendaraan besar. Pendekatan ini dinilai krusial untuk menghindari penumpukan kendaraan berat pada jam-jam sibuk, terutama di SPBU yang berlokasi di area perkotaan padat atau memiliki akses jalan terbatas.
Munafri menjelaskan, “Kita berharap ada klaster yang dibangun untuk proses pengisian yang semaksimal mungkin tidak mengganggu pengguna jalan yang lain.” Ia menekankan bahwa pengaturan waktu khusus ini sangat relevan diterapkan, terutama untuk truk dan bus, agar mereka tidak mengantre pada waktu dan lokasi yang berpotensi menciptakan kemacetan.
Evaluasi Berkelanjutan dan Tindak Lanjut Teknis
Wali Kota Munafri menegaskan pentingnya evaluasi kebijakan yang dilakukan secara berkelanjutan, berdasarkan kondisi faktual di lapangan. Tujuannya agar setiap pengaturan distribusi BBM dapat berjalan efektif tanpa justru menghambat aktivitas masyarakat. Pemerintah Kota Makassar, bersama dengan Pertamina, akan segera menindaklanjuti hasil pembahasan ini dengan membuat pengaturan teknis spesifik di SPBU yang membutuhkan penanganan khusus.
Tanggung Jawab Bersama untuk Solusi Terbaik
Koordinasi lintas sektor ini diharapkan menjadi fondasi kuat untuk memastikan distribusi BBM bersubsidi tetap optimal. Lebih dari itu, inisiatif ini bertujuan untuk menjaga kelancaran lalu lintas dan keberlangsungan aktivitas ekonomi masyarakat Kota Makassar. Munafri menutup pernyataannya dengan menekankan, “Persoalan ini merupakan tanggung jawab kita bersama. Karena itu kita harus duduk bersama-sama mencari solusi terbaik.”
Kontributor: H. Gunadi
Penyunting: Budi S.























