Masyarakat Indonesia patut mengetahui klarifikasi terbaru mengenai isu hantavirus menyusul perhatian publik terhadap wabah di kapal pesiar MV Hondius. Kementerian Kesehatan RI telah memberikan pernyataan resmi terkait potensi ancaman virus ini di tanah air.
- Dua kasus suspek hantavirus di Jakarta dan Yogyakarta dinyatakan negatif dan telah sembuh.
- Pemerintah Indonesia memiliki panduan skrining dan siap mengantisipasi penyebaran hantavirus varian Andes.
- Hantavirus bukanlah penyakit baru di Indonesia, dengan puluhan kasus suspek dan puluhan kasus positif dalam tiga tahun terakhir.
- Varian Andes berbahaya, namun jenis hantavirus di Indonesia umumnya menyebabkan demam berdarah dengan sindrom ginjal, bukan yang paling fatal.
- Pencegahan utama melibatkan pengurangan kontak dengan tikus dan peningkatan kewaspadaan masyarakat serta penguatan surveilans pemerintah.
Klarifikasi Kasus Hantavirus di Indonesia
Menyikapi kekhawatiran publik pasca-deteksinya hantavirus pada kapal pesiar MV Hondius yang berlayar dari Argentina, Kementerian Kesehatan Republik Indonesia memberikan kepastian. Kepala Biro Komunikasi dan Pelayanan Publik Kementerian Kesehatan, Aji Muhawarman, mengonfirmasi bahwa dua kasus suspek hantavirus yang sempat dilaporkan di Jakarta dan Yogyakarta telah dinyatakan negatif. Keduanya juga telah dinyatakan sembuh dan tidak memiliki riwayat perjalanan ke luar negeri.
“Hasil pemeriksaan menyatakan keduanya ‘negatif dan sudah dinyatakan sembuh,’” ungkap Aji Muhawarman dalam pesan pendek kepada BBC News Indonesia, Jumat (08/05).
Hantavirus di Indonesia: Bukan Penyakit Baru
Epidemiolog Masdalina Pane menjelaskan bahwa hantavirus sejatinya bukanlah penyakit baru di Indonesia. Dalam kurun waktu tiga tahun terakhir (2024-2026), tercatat lebih dari 250 kasus suspek hantavirus di Indonesia. Dari jumlah tersebut, 23 kasus dinyatakan positif terinfeksi hantavirus, dengan tiga di antaranya berujung pada kematian.
Kasus-kasus positif ini tersebar di sembilan provinsi, yaitu:
- Yogyakarta (6 kasus)
- Jakarta (6 kasus)
- Jawa Barat (5 kasus)
- Kalimantan Barat (1 kasus)
- Sumatera Barat (1 kasus)
- Banten (1 kasus)
- Sulawesi Utara (1 kasus)
- Nusa Tenggara Timur (1 kasus)
- Jawa Timur (1 kasus)
Potensi Penyebaran dan Bahaya Hantavirus Varian Andes
Perhatian global terhadap hantavirus meningkat tajam setelah wabah di kapal pesiar MV Hondius. Otoritas kesehatan berbagai negara, termasuk Singapura, berupaya melacak penumpang yang turun dari kapal tersebut untuk mencegah penyebaran lebih lanjut. Dua warga negara Singapura dilaporkan menjadi suspek setelah berada di kapal tersebut.
Badan Kesehatan Dunia (WHO) mengonfirmasi lima dari delapan kasus suspek di kapal MV Hondius, di mana tiga orang meninggal dunia, termasuk seorang perempuan Belanda berusia 69 tahun dan suaminya, serta seorang perempuan Jerman.
Menteri Kesehatan, Budi Gunadi Sadikin, menyatakan kesiapan pemerintah dalam mengantisipasi penyebaran hantavirus varian Andes, yang disebut masih terkonsentrasi di kapal pesiar tersebut. Ia juga menekankan bahwa Indonesia memiliki panduan skrining, termasuk potensi penggunaan rapid test atau reagen PCR, serupa dengan penanganan pandemi COVID-19.
Memahami Hantavirus
Hantavirus merupakan virus zoonosis yang secara alami menginfeksi hewan pengerat dan dapat menular ke manusia. Namun, tidak semua jenis hantavirus berbahaya bagi manusia. Menurut Masdalina Pane, jenis hantavirus yang paling virulen atau berbahaya umumnya ditemukan di kawasan Amerika Utara, Tengah, dan Selatan, termasuk varian Andes yang memiliki tingkat kematian cukup tinggi (sekitar 12%-60%).
Varian Andes memiliki karakteristik unik karena dapat menular dari manusia ke manusia melalui kontak langsung, seperti hubungan seksual, ciuman, atau melalui air susu ibu. Masa inkubasi virus ini berkisar antara 9 hingga 40 hari, dengan rata-rata muncul dalam 18 hari hingga tiga minggu.
Sementara itu, jenis hantavirus yang ditemukan di Indonesia, Asia, dan Eropa umumnya tidak sefatal varian Amerika. Namun, infeksi tetap bisa berakibat serius. Berdasarkan data kasus di Indonesia, tingkat fatalitas jenis hantavirus di sini diperkirakan berkisar antara 10%-15%.
Perbedaan Gejala dan Dampak
Masdalina Pane menjelaskan bahwa hantavirus yang ganas di Amerika Utara dan Selatan cenderung menyerang jantung, pembuluh darah, dan paru-paru. Sebaliknya, hantavirus yang umum di Asia, Eropa, termasuk Indonesia, lebih sering menyebabkan sindrom demam berdarah dengan kelainan fungsi ginjal.
Risiko Hantavirus Varian Andes Masuk ke Indonesia
Potensi masuknya hantavirus varian Andes ke Indonesia bergantung pada beberapa faktor. Keberadaan reservoir alami virus, yaitu jenis hewan pengerat tertentu, menjadi pertimbangan utama. Meskipun jenis tikus di Indonesia sedikit berbeda dengan di Amerika, karakteristik penularan varian Andes dari manusia ke manusia tetap membuka kemungkinan penyebarannya.
“Artinya, penularan hantavirus varian tersebut tidak selalu membutuhkan perantara tikus. Itu sebabnya, menurut dia, tetap ada kemungkinan virus ini masuk ke Indonesia melalui mobilitas manusia yang sulit dibatasi,” jelas Masdalina Pane.
Namun, ia menekankan bahwa penularan hantavirus varian Andes tidak semudah COVID-19. Virus ini umumnya membutuhkan kontak langsung yang signifikan untuk menular, berbeda dengan COVID-19 yang dapat menyebar melalui droplet di udara. Hal ini membuat penyebaran varian Andes relatif lebih terbatas.
Strategi Pencegahan dan Kesiapan Pemerintah
Peran Masyarakat dalam Pencegahan
Peningkatan kewaspadaan adalah kunci utama dalam mencegah penyebaran hantavirus. Masyarakat diimbau untuk mengurangi risiko kontak dengan tikus, yang merupakan pembawa utama virus. Menjaga kebersihan rumah, membersihkan sisa makanan, dan memastikan lingkungan bebas dari tikus menjadi langkah preventif yang krusial. Hantavirus dapat menular melalui air liur, urine, atau kotoran tikus yang mencemari lingkungan.
Perhatian juga perlu diberikan pada hewan pengerat lain, termasuk hewan peliharaan seperti hamster. Menjaga kesehatan hewan peliharaan sangat penting untuk mencegah penularan penyakit. Selain itu, menjaga daya tahan tubuh sangat disarankan, terutama bagi kelompok rentan seperti lansia atau individu dengan kondisi kesehatan tertentu.
Bagi individu yang melakukan kontak dengan orang yang baru kembali dari negara terjangkit hantavirus, meskipun tidak menunjukkan gejala, potensi infeksi tetap ada. Oleh karena itu, menjaga jarak dan membatasi kontak sementara dapat menjadi langkah pencegahan tambahan.
Penguatan Sistem Surveilans oleh Pemerintah
Epidemiolog Masdalina Pane menyarankan pemerintah untuk memperkuat sistem surveilans atau pemantauan terhadap hantavirus. Hal ini penting untuk mendeteksi dini dan memastikan diagnosis yang akurat bagi pasien yang menunjukkan gejala mengarah pada infeksi hantavirus, terutama bagi mereka yang baru datang dari wilayah berisiko.
Kesiapan Kementerian Kesehatan
Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin menegaskan bahwa Kementerian Kesehatan telah berkoordinasi dengan WHO terkait penyebaran hantavirus di kapal pesiar. Indonesia telah meminta panduan penanganan dan deteksi dini. Pemerintah telah menyiapkan perangkat skrining, termasuk opsi penggunaan rapid test atau reagen PCR, untuk mempercepat deteksi hantavirus.
“Yang kita lakukan adalah agar supaya skriningnya kita punya, apakah itu dalam bentuk rapid test kayak kita Covid dulu atau reagen yang digunakan di PCR,” ujar Menkes Budi Gunadi Sadikin.
Dengan infrastruktur pemeriksaan PCR yang sudah tersebar luas di berbagai daerah, Menkes optimis bahwa kapasitas laboratorium Indonesia saat ini lebih siap untuk mendeteksi virus ini dibandingkan sebelumnya.























