Pandangan mantan Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengenai keterlibatan negara tersebut dalam konflik di Timur Tengah kembali mengemuka, menekankan bahwa AS seharusnya tidak pernah menjejakkan kaki di wilayah tersebut.
- Presiden Donald Trump menyatakan bahwa keterlibatan AS dalam perang di Timur Tengah, khususnya di Irak, merupakan sebuah kekeliruan fundamental.
- Ia berpendapat bahwa intervensi militer di Irak adalah keputusan yang sangat buruk dengan konsekuensi jangka panjang bagi Amerika Serikat.
- Trump juga menyinggung negosiasi yang sedang berlangsung dengan Iran, mengklaim serangan pembom B-2 AS pada Juni 2025 berhasil mencegah Iran memperoleh senjata nuklir.
- Meskipun demikian, ia menegaskan bahwa AS mengutamakan diplomasi dalam negosiasi dengan Iran, namun opsi militer tetap terbuka jika perundingan gagal.
Pandangan Trump: Keterlibatan di Timur Tengah Adalah Kesalahan Fundamental
Dalam sebuah wawancara eksklusif dengan Fox News, yang kemudian dikutip oleh AlJazeera pada Minggu (31/5), Donald Trump melontarkan pandangan tegasnya mengenai kebijakan luar negeri Amerika Serikat di Timur Tengah. Ia secara lugas menyatakan bahwa intervensi militer AS di wilayah tersebut merupakan sebuah kekeliruan strategis yang seharusnya dihindari sejak awal.
Fokus utama kritiknya tertuju pada keterlibatan AS dalam perang di Irak. Trump mengakui bahwa keterlibatan militer AS di negara itu di masa lalu adalah sebuah kesalahan besar yang membawa dampak panjang dan kompleks bagi Washington. “Kita melihat apa yang terjadi di Irak. Kita melakukan hal yang sangat buruk. Itu keputusan yang sangat bodoh. Seharusnya kita tidak berada di sana sejak awal,” ujar Trump, menyiratkan penyesalan mendalam atas kebijakan tersebut.
Trump dan Isu Nuklir Iran: Ancaman dan Diplomasi
Lebih lanjut, Trump mengaitkan pandangannya dengan situasi terkini terkait Iran. Ia berpendapat bahwa Amerika Serikat seharusnya tidak memiliki keterlibatan militer di Iran. Namun, dalam konteks yang berbeda, ia mengakui bahwa AS memang perlu mengambil tindakan terhadap Iran. Trump mengklaim bahwa serangan militer yang dilancarkan oleh pembom siluman B-2 milik AS terhadap tiga fasilitas nuklir Iran pada Juni 2025 adalah langkah yang krusial dan diperlukan untuk mencegah Teheran memperoleh senjata nuklir.
“Kita seharusnya tidak berada di Iran, tetapi Iran memiliki kemampuan,” tegas Trump. Ia menambahkan, “Jika kami tidak menyerang mereka dengan pembom B-2 saat itu, mereka akan memiliki senjata nuklir sekarang. Ceritanya akan sangat berbeda.” Menurutnya, keberadaan senjata nuklir di tangan Iran akan secara drastis mengubah keseimbangan kekuatan di kawasan Timur Tengah.
Negosiasi dengan Iran: Pendekatan Tanpa Terburu-buru
Saat ini, Amerika Serikat tengah terlibat dalam negosiasi dengan Iran untuk mengakhiri konflik yang dipicu oleh serangan gabungan AS dan Israel terhadap Iran pada Februari lalu. Meskipun pembicaraan tersebut belum mencapai kesepakatan final, Trump menyatakan bahwa ia tidak merasa terburu-buru untuk mencapai sebuah resolusi.
“Butuh waktu lama. Saya tidak terburu-buru,” ujarnya. Ia menjelaskan filosofi pendekatannya dalam negosiasi, “Kalau Anda terburu-buru, Anda tidak akan mendapatkan kesepakatan yang baik. Perlahan tapi pasti kami mendapatkan apa yang kami inginkan. Jika tidak mendapatkannya, kami akan mengakhirinya dengan cara yang berbeda.”
Trump menegaskan kembali komitmen AS terhadap jalur diplomatik, namun ia tidak menutup kemungkinan opsi militer jika perundingan menemui jalan buntu. “Kami akan membuat kesepakatan yang hebat. Jika tidak, kami akan kembali dan menyelesaikannya secara militer,” katanya.
Dalam wawancara yang sama, Trump juga mengklaim bahwa AS secara sengaja tidak menghancurkan seluruh struktur militer Iran selama konflik yang terjadi. “Militer mereka pada dasarnya kami biarkan karena kami menganggap mereka cukup moderat. Ada pihak lain yang tidak moderat. Mereka yang kami targetkan,” jelasnya.
Isu-isu utama yang masih menjadi pokok bahasan dalam negosiasi antara AS dan Iran meliputi masa depan program nuklir Iran dan upaya untuk membuka kembali Selat Hormuz. Jalur strategis ini memiliki peran vital, mengalirkan sekitar 20 persen pasokan minyak dunia.























